7 Film Perjuangan Indonesia yang Wajib Ditonton saat Momen Kemerdekaan

Setiap tanggal 17 Agustus, masyarakat Indonesia memperingati Hari Kemerdekaan dengan berbagai cara, mulai dari upacara bendera, perlombaan khas Agustusan, hingga berkumpul bersama keluarga. Namun, ada cara lain yang tak kalah menarik untuk menghidupkan kembali semangat kemerdekaan: menonton film perjuangan Indonesia.

Film sejarah dan perjuangan tidak sekadar menghadirkan adegan peperangan. Di dalamnya terdapat kisah tentang keberanian, pengorbanan, persatuan, diplomasi, pengkhianatan, hingga perjuangan rakyat biasa dalam mempertahankan kebebasan.

Memasuki momen HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2026, pilihan film perjuangan Indonesia juga semakin menarik. Salah satu judul yang relatif paling baru adalah Perang Kota (2025), sementara film-film klasik seperti Tjoet Nja' Dhien tetap relevan untuk ditonton lintas generasi.

Berikut 7 film perjuangan Indonesia yang wajib ditonton saat momen kemerdekaan.

1. Perang Kota (2025)

Jika mencari film perjuangan Indonesia yang paling baru dalam daftar ini, Perang Kota menjadi pilihan utama.

Film arahan Mouly Surya ini berlatar Jakarta pada 1946, ketika Indonesia yang baru memproklamasikan kemerdekaannya masih menghadapi kekacauan dan ancaman kembalinya kekuatan kolonial. Lembaga Sensor Film mencatat film ini tayang di bioskop pada 30 April 2025 dengan durasi 118 menit. Pemeran utamanya antara lain Chicco Jerikho, Ariel Tatum, dan Jerome Kurnia.

Cerita berpusat pada Isa (Chicco Jerikho), seorang guru sekaligus veteran perang yang menjalankan misi perlawanan untuk mempertahankan kemerdekaan. Di tengah perjuangan tersebut, kehidupan rumah tangganya dengan Fatimah (Ariel Tatum) dan hubungannya dengan Hazil (Jerome Kurnia) ikut menjadi bagian penting cerita.

Menariknya, Perang Kota tidak hanya menampilkan pertempuran bersenjata. Film ini juga mengeksplorasi konflik ideologi, relasi kuasa, kehidupan masyarakat Jakarta pascakemerdekaan, dan persoalan manusia di tengah revolusi.

Kenapa wajib ditonton?

Karena film ini menawarkan sudut pandang yang lebih intim tentang revolusi: kemerdekaan tidak hanya diperjuangkan di medan perang, tetapi juga membawa konsekuensi besar bagi kehidupan pribadi masyarakat.

Cocok untuk: penonton dewasa yang menyukai drama sejarah dengan konflik psikologis dan politik. Catatan: Perang Kota mendapatkan klasifikasi usia 17 tahun ke atas dari LSF karena mengandung unsur kekerasan dan materi dewasa.

2. Kadet 1947 (2021)

Bagi yang ingin melihat keberanian anak-anak muda dalam mempertahankan kemerdekaan, Kadet 1947 merupakan salah satu pilihan terbaik.

Film yang disutradarai Rahabi Mandra dan Aldo Swastia ini terinspirasi dari peristiwa serangan udara pertama yang dilakukan para kadet atau calon penerbang Angkatan Udara Republik Indonesia pada 29 Juli 1947. Sasaran serangan berada di wilayah Semarang, Salatiga, dan Ambarawa.

Cerita mengikuti sejumlah kadet muda di pangkalan udara Maguwo, Yogyakarta. Mereka masih berstatus pelajar dan belum memperoleh kebebasan untuk menggunakan pesawat serta persenjataan. Namun, situasi perang membuat mereka terdorong untuk mengambil risiko demi membantu mempertahankan Republik.

Kekuatan utama Kadet 1947 terletak pada karakter anak muda yang tidak sempurna. Mereka memiliki rasa takut, ambisi, persahabatan, dan keinginan untuk membuktikan bahwa generasi muda juga mampu mengambil bagian dalam perjuangan.

Kenapa wajib ditonton?

Film ini relevan untuk generasi muda karena memperlihatkan bahwa usia bukan penghalang untuk berkontribusi bagi bangsa. Nilai yang bisa dipetik: keberanian, persahabatan, pengorbanan, dan rasa tanggung jawab.

3. Jenderal Soedirman (2015)

Jika ingin menyaksikan kisah perjuangan salah satu panglima besar Indonesia, Jenderal Soedirman wajib masuk daftar.

Film garapan Viva Westi ini mengambil latar Agresi Militer Belanda II pada 1948. Ketika Belanda menyerang Yogyakarta pada 19 Desember 1948 dan Soekarno-Hatta ditangkap, Jenderal Soedirman yang sedang sakit memilih bergerilya bersama pasukannya.

Perjuangan tersebut berlangsung selama berbulan-bulan. Dari dalam hutan, Soedirman berusaha menunjukkan bahwa Republik Indonesia belum menyerah dan pemerintahan Indonesia masih ada.

Kisah ini memperlihatkan bagaimana perang gerilya tidak hanya membutuhkan kekuatan senjata, tetapi juga ketahanan fisik, strategi, loyalitas pasukan, serta dukungan rakyat.

Kenapa wajib ditonton?

Film ini memberikan gambaran mengenai fase penting setelah Proklamasi: mempertahankan kemerdekaan ternyata sama beratnya dengan merebutnya. Nilai yang bisa dipetik: pantang menyerah, kepemimpinan, disiplin, dan keteguhan mempertahankan prinsip.

4. Merah Putih (2009)

Merah Putih merupakan film pertama dalam Trilogi Merdeka dan menjadi salah satu film perjuangan Indonesia yang cukup populer.

Film ini berlatar perjuangan mempertahankan kemerdekaan setelah Proklamasi, khususnya ketika Belanda kembali melakukan agresi pada 1947. Ceritanya mengikuti sekelompok pejuang dengan latar belakang yang berbeda-beda yang kemudian harus bekerja sama menghadapi musuh.

Salah satu daya tarik film ini adalah bagaimana perbedaan agama, suku, kelas sosial, dan karakter tidak menghalangi para tokohnya untuk berjuang bersama.

Tema persatuan tersebut menjadi sangat relevan ketika ditonton pada momen kemerdekaan. Indonesia sejak awal memang dibangun dari masyarakat yang beragam, sehingga perjuangan mempertahankan Republik juga melibatkan banyak kelompok.

Kenapa wajib ditonton?

Karena film ini mengingatkan bahwa kemerdekaan tidak diperjuangkan oleh satu kelompok saja. Nilai yang bisa dipetik: persatuan, toleransi, keberanian, dan rela berkorban. Bagi yang ingin melanjutkan ceritanya, Merah Putih merupakan bagian pertama dari trilogi yang berlanjut melalui Darah Garuda dan Hati Merdeka.

5. Battle of Surabaya (2015)

Tidak semua film perjuangan harus berupa drama perang live-action. Battle of Surabaya menawarkan pendekatan berbeda melalui animasi.

Film animasi produksi MSV Pictures ini mengambil latar Pertempuran Surabaya 10 November 1945 dan mengikuti Musa, seorang anak berusia 13 tahun yang bekerja sebagai penyemir sepatu sekaligus kurir bagi para pejuang. Ia harus mengantarkan pesan-pesan penting di tengah situasi perang.

Dengan durasi sekitar 99 menit, film ini menggunakan gaya animasi yang terinspirasi anime dan menghadirkan kisah perjuangan dari sudut pandang anak-anak dan masyarakat sipil.

Hal menarik lainnya adalah pesan kemanusiaannya. Film ini tidak semata-mata menggambarkan perang sebagai sesuatu yang heroik, tetapi juga memperlihatkan konsekuensi dan penderitaan yang ditimbulkannya.

Kenapa wajib ditonton?

Karena film ini dapat menjadi pilihan tontonan keluarga yang ingin mengenalkan sejarah perjuangan kepada penonton muda, dengan catatan tetap memperhatikan klasifikasi usia dan konteks sejarahnya. Nilai yang bisa dipetik: keberanian, pengorbanan, kemanusiaan, dan kecintaan terhadap tanah air.

6. Perburuan (2019)

Bagi pencinta karya sastra dan drama sejarah yang lebih intens, Perburuan bisa menjadi pilihan. Film yang disutradarai Richard Oh ini merupakan adaptasi novel Perburuan karya Pramoedya Ananta Toer. Ceritanya mengikuti Hardo, mantan prajurit PETA yang kembali ke Blora setelah kegagalan pemberontakan terhadap Jepang. Kepulangannya justru membuat dirinya kembali diburu.

Berbeda dengan film perang yang penuh adegan pertempuran, Perburuan lebih banyak membangun ketegangan melalui pelarian, pengkhianatan, konflik personal, dan pergulatan batin.

Latar waktunya juga menarik karena berada menjelang Proklamasi Kemerdekaan. Dengan demikian, penonton dapat melihat bahwa perjuangan menuju kemerdekaan tidak selalu berlangsung dalam bentuk pertempuran terbuka.

Kenapa wajib ditonton?

Karena film ini mengajak penonton melihat kemerdekaan dari perspektif manusia yang harus menghadapi ketakutan, pengkhianatan, kehilangan, dan pilihan sulit.

Nilai yang bisa dipetik: keberanian mengambil sikap, kesetiaan, kebebasan, dan konsekuensi dari sebuah perjuangan.

7. Tjoet Nja' Dhien (1988)

Daftar ini tidak lengkap tanpa memasukkan Tjoet Nja' Dhien, salah satu film perjuangan Indonesia paling penting yang pernah dibuat.

Film garapan Eros Djarot ini mengisahkan perjuangan Tjoet Nja' Dhien dalam melawan kolonialisme Belanda di Aceh. Film tersebut dikenal luas sebagai salah satu karya klasik perfilman Indonesia dan pada 1989 menjadi film Indonesia pertama yang ditayangkan di Festival Film Cannes.

Kekuatan film ini tidak hanya terletak pada kisah peperangan, tetapi juga pada karakter Tjoet Nja' Dhien sebagai sosok pemimpin yang tetap melawan meskipun menghadapi kehilangan, usia, kondisi fisik, dan tekanan yang semakin berat.

Film ini juga penting untuk memperluas pemahaman bahwa perjuangan melawan kolonialisme berlangsung jauh sebelum Proklamasi 1945. Perang Aceh menjadi salah satu bagian panjang dari sejarah perlawanan masyarakat Nusantara terhadap kekuasaan kolonial.

Kenapa wajib ditonton?

Karena film ini menghadirkan sosok pahlawan perempuan dengan karakter kuat sekaligus memperlihatkan besarnya pengorbanan dalam perjuangan melawan penjajahan. Nilai yang bisa dipetik: keteguhan, kepemimpinan, keberanian, dan pantang menyerah.

Urutan Nonton yang Cocok untuk Maraton 17 Agustus Kalau ingin membuat maraton film perjuangan Indonesia pada momen kemerdekaan, tujuh film tersebut bisa ditonton berdasarkan urutan sejarahnya:

  • Tjoet Nja' Dhien (1988) — perjuangan melawan Belanda dalam Perang Aceh.

  • Perburuan (2019) — situasi menjelang Proklamasi 1945 di bawah pendudukan Jepang.

  • Battle of Surabaya (2015) — perjuangan rakyat Surabaya pada 1945.

  • Merah Putih (2009) — perjuangan mempertahankan kemerdekaan pada 1947.

  • Kadet 1947 (2021) — serangan udara para kadet pada 1947.

  • Jenderal Soedirman (2015) — perang gerilya menghadapi Agresi Militer Belanda II pada 1948.

  • Perang Kota (2025) — kehidupan dan perlawanan di Jakarta pascakemerdekaan pada 1946.

Urutan ini tentu bukan urutan tahun pembuatan film, melainkan urutan latar sejarah agar perjalanan perjuangannya terasa lebih runtut.

Mengapa Film Perjuangan Cocok Ditonton saat 17 Agustus?

Menonton film perjuangan pada Hari Kemerdekaan bukan sekadar aktivitas hiburan. Film dapat menjadi pintu masuk untuk memahami sejarah melalui karakter dan konflik yang lebih mudah dicerna.

Kisah-kisah tersebut juga menunjukkan bahwa perjuangan kemerdekaan memiliki banyak bentuk. Ada yang berjuang melalui senjata, bergerilya di hutan, mengantarkan pesan rahasia, melakukan serangan udara, membangun persatuan, hingga bertahan secara mental di tengah tekanan.

Hal tersebut sejalan dengan upaya pemerintah pada 2026 yang kembali mendorong produksi film narasi kepahlawanan berlatar periode 1945–1950. Kementerian Kebudayaan meluncurkan program tersebut untuk mendorong lahirnya karya sinema yang mengangkat perjuangan mempertahankan kemerdekaan sekaligus memperkuat memori kolektif bangsa.

Menariknya, pada 2026 juga terdapat proyek film baru seperti Djamin Setia Selamanya, biopik tentang Pahlawan Nasional Djamin Ginting, yang dijadwalkan tayang pada 1 Oktober 2026. Artinya, film bertema sejarah perjuangan Indonesia masih terus berkembang dan menghadirkan tokoh maupun perspektif baru.

Jangan Lupa: Film Sejarah Bukan Buku Sejarah

Satu hal penting yang perlu diingat ketika menonton film perjuangan adalah film sejarah merupakan karya dramatik, bukan dokumentasi sejarah secara harfiah. Beberapa tokoh, dialog, hubungan antarkarakter, maupun urutan peristiwa dapat mengalami penyederhanaan atau dramatisasi untuk kebutuhan cerita. Karena itu, film sebaiknya menjadi titik awal untuk mengenal suatu peristiwa, kemudian dilengkapi dengan membaca buku sejarah, arsip, atau sumber dari lembaga terpercaya.

Dengan cara tersebut, kegiatan menonton film saat 17 Agustus bukan hanya membangkitkan rasa nasionalisme, tetapi juga dapat menjadi kesempatan untuk memahami sejarah Indonesia secara lebih kritis.

Posting Komentar untuk " 7 Film Perjuangan Indonesia yang Wajib Ditonton saat Momen Kemerdekaan"