Alasan Netflix Digugat Band Metal gegara KPop Demon Hunters

Jakarta — Netflix tengah menghadapi gugatan hukum dari band metal asal Seattle, Amerika Serikat, Demon Hunter, terkait penggunaan nama KPop Demon Hunters. Persoalan ini bukan karena isi film animasi tersebut, melainkan menyangkut dugaan pelanggaran merek dagang, persaingan tidak sehat, serta potensi kebingungan di kalangan konsumen.

Gugatan diajukan perusahaan yang menaungi Demon Hunter, Hyde Lane Inc., ke Pengadilan Distrik Amerika Serikat untuk Distrik Pusat California pada 18 Agustus 2026. Selain Netflix, promotor konser AEG Presents dan Netflix Studios juga tercantum sebagai pihak tergugat.

Nama "Demon Hunter" Sudah Dipakai Band Sejak 2000

Demon Hunter merupakan band metal yang dibentuk di Seattle pada 2000. Selama sekitar 25 tahun, grup tersebut telah membangun identitas sebagai band musik, merilis album, menjalani tur, serta menjual berbagai merchandise.

Dalam gugatan, pihak Demon Hunter menyatakan mereka telah memiliki perlindungan merek untuk berbagai aktivitas hiburan. Band tersebut menilai penggunaan nama KPop Demon Hunters oleh Netflix menjadi persoalan karena produk Netflix kini tidak hanya berupa film, tetapi telah berkembang ke musik, merchandise dan pertunjukan langsung.

Masalah Muncul Setelah Film Netflix Meledak

KPop Demon Hunters pertama kali dirilis Netflix pada Juni 2025. Film animasi tersebut bercerita tentang grup K-pop fiktif yang menjalani kehidupan sebagai pemburu iblis. Kesuksesan film kemudian berkembang jauh melampaui ekspektasi. KPop Demon Hunters menjadi salah satu, bahkan disebut sebagai film paling banyak ditonton dalam sejarah Netflix, sekaligus meraih penghargaan besar untuk animasi dan lagu. Popularitas tersebut membuat nama "KPop Demon Hunters" semakin dikenal secara global.

Bagi Demon Hunter, justru popularitas itulah yang memperbesar persoalan. Mereka menilai publik berpotensi mengira terdapat hubungan antara band metal Demon Hunter dengan waralaba Netflix.

Tur Konser Jadi Titik Perselisihan Utama

Salah satu hal yang paling disorot dalam gugatan adalah rencana Netflix bersama AEG Presents untuk mengembangkan pertunjukan langsung KPop Demon Hunters. Menurut Demon Hunter, penggunaan nama tersebut dalam kegiatan konser membuat potensi kebingungan menjadi jauh lebih besar karena keduanya sama-sama berkaitan dengan industri musik dan pertunjukan langsung.

Band tersebut bahkan menggambarkan adanya "hampir seluruhnya tumpang tindih" antara layanan yang mereka tawarkan dengan ekspansi Netflix ke musik, pertunjukan dan merchandise.

Ada Penonton yang Disebut Salah Membeli Tiket

Demon Hunter juga memasukkan contoh kebingungan konsumen sebagai bagian dari argumen mereka. Dalam dokumen gugatan, band tersebut mengklaim ada seseorang yang menghabiskan sekitar US$500 untuk membeli tiket konser Demon Hunter, tetapi kemudian meminta pengembalian uang karena mengira tiket tersebut berkaitan dengan pertunjukan KPop Demon Hunters.

Kasus tersebut digunakan untuk menunjukkan bahwa kemiripan nama bukan sekadar persoalan teoritis. Menurut band, kebingungan sudah dapat berdampak terhadap transaksi dan aktivitas bisnis mereka.

Demon Hunter juga mengklaim pernah terjadi kekeliruan di kalangan media. Salah satu produser acara televisi disebut menghubungi mereka karena mengira sedang berkomunikasi dengan pihak yang berkaitan dengan musik KPop Demon Hunters.

Demon Hunter Minta Nama Itu Tidak Dipakai untuk Musik dan Merchandise

Dalam gugatannya, Demon Hunter meminta pengadilan menghentikan penggunaan nama KPop Demon Hunters untuk sejumlah kegiatan yang berkaitan dengan musik dan hiburan langsung. Permintaan tersebut mencakup penggunaan nama dalam rekaman musik, pertunjukan langsung dan merchandise, selain tuntutan ganti rugi yang besarannya belum ditentukan.

Dengan demikian, perkara ini tidak semata-mata soal apakah Netflix boleh menayangkan film animasinya. Fokus pentingnya adalah apakah penggunaan nama tersebut untuk ekspansi komersial ke bidang musik, konser dan produk terkait dapat menimbulkan pelanggaran merek serta kebingungan konsumen.

Netflix Bantah Tuduhan Demon Hunter

Netflix menolak tuduhan yang diajukan Demon Hunter. Perusahaan tersebut menilai klaim band itu tidak berdasar dan menyatakan siap menghadapi proses hukum. Dengan gugatan yang sudah masuk pengadilan federal, persoalan selanjutnya akan bergantung pada proses hukum, termasuk bagaimana pengadilan menilai kekuatan merek "Demon Hunter", penggunaan "KPop Demon Hunters", serta apakah benar terdapat kemungkinan kebingungan konsumen yang signifikan.

Mengapa Gugatan Ini Bisa Berdampak Besar?

Perkara tersebut menarik perhatian karena KPop Demon Hunters bukan lagi sekadar film. Kesuksesan waralaba telah mendorong ekspansi ke musik, merchandise dan rencana pertunjukan langsung. Jika pengadilan menerima sebagian tuntutan Demon Hunter, Netflix berpotensi menghadapi pembatasan penggunaan nama KPop Demon Hunters pada aktivitas tertentu di luar film. Sebaliknya, jika Netflix berhasil mempertahankan argumennya, ekspansi waralaba dapat terus berjalan tanpa perubahan besar terkait nama tersebut.

Bagi Demon Hunter, perkara ini juga menyangkut keberlangsungan identitas merek yang telah mereka bangun selama puluhan tahun. Sementara bagi Netflix, persoalannya berkaitan dengan salah satu waralaba hiburan paling sukses yang mereka miliki. Untuk saat ini, belum ada keputusan final pengadilan mengenai siapa yang memenangkan perkara tersebut. Sengketa akan berlanjut melalui proses hukum di Amerika Serikat.

Inti Persoalan Netflix vs Demon Hunter

Singkatnya, ada beberapa alasan utama Demon Hunter menggugat Netflix:

  • Kemiripan nama antara "Demon Hunter" dan "KPop Demon Hunters".

  • Potensi kebingungan konsumen, termasuk dugaan salah pembelian tiket.

  • Ekspansi Netflix ke musik, konser dan merchandise yang dianggap bertumpang tindih dengan bisnis band.

  • Kekhawatiran terhadap reputasi dan identitas merek Demon Hunter yang telah dibangun sejak 2000.

  • Rencana tur live KPop Demon Hunters yang menurut band berpotensi memperbesar kebingungan publik.

  • Dugaan pelanggaran merek dagang dan persaingan tidak sehat, yang kini akan diuji melalui proses pengadilan.

Kasus ini pun menjadi contoh menarik tentang bagaimana kesuksesan sebuah film dapat memunculkan persoalan baru ketika sebuah waralaba berkembang ke berbagai sektor hiburan. Di satu sisi Netflix memiliki hak atas karya KPop Demon Hunters, tetapi di sisi lain Demon Hunter mempertahankan hak dan identitas merek yang telah mereka bangun jauh sebelum film tersebut dirilis.

Posting Komentar untuk "Alasan Netflix Digugat Band Metal gegara KPop Demon Hunters"