Asap Karhutla Makin Parah, Jam Masuk Sekolah di Banjarbaru Mundur

BANJARBARU — Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) semakin pekat di Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Kondisi tersebut mulai mengganggu aktivitas masyarakat, termasuk kegiatan belajar mengajar di sekolah.

Sebagai langkah untuk mengurangi paparan asap terhadap peserta didik, Dinas Pendidikan Kota Banjarbaru mengubah waktu mulai pembelajaran bagi sekolah yang terdampak. Mulai Kamis, 20 Agustus 2026, sekolah terdampak diperbolehkan memulai pembelajaran pada pukul 09.00 WITA. Kebijakan tersebut berlaku selama kondisi kabut asap belum mereda.

Jam Masuk Sekolah Diundur Jadi Pukul 09.00 WITA

Kebijakan penyesuaian jam sekolah dituangkan dalam Surat Edaran Nomor 400.35./1738/P.SMP/Disdik tertanggal 19 Agustus 2026 tentang proses pembelajaran saat terjadi karhutla di lingkungan Dinas Pendidikan Kota Banjarbaru.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Banjarbaru Abdul Basid menjelaskan bahwa satuan pendidikan yang terdampak dapat memulai pembelajaran pukul 09.00 WITA. Untuk wilayah dengan kondisi asap yang lebih parah, pelaksanaannya dapat disesuaikan secara situasional.

Aturan tersebut mencakup satuan pendidikan di bawah naungan Dinas Pendidikan Kota Banjarbaru, mulai dari PAUD dan TK hingga SD dan SMP. Sementara itu, guru dan tenaga kependidikan tetap diminta menjalankan tugas sesuai jam kerja yang telah ditetapkan. Dengan demikian, perubahan jam masuk terutama ditujukan untuk menyesuaikan waktu pembelajaran siswa dengan kondisi lingkungan.

Sekolah Diminta Menyesuaikan Kegiatan Luar Ruangan

Selain menggeser jam masuk, sekolah juga diminta mempertimbangkan kondisi kabut asap ketika melaksanakan kegiatan pembelajaran di luar ruangan. Kegiatan yang berpotensi membuat siswa terpapar asap secara langsung dapat ditunda atau disesuaikan dengan tingkat kepekatan kabut. Kepala sekolah juga diminta terus memantau kondisi kebakaran hutan dan lahan di sekitar sekolah.

Penyesuaian ini dilakukan agar proses pendidikan tetap berjalan tanpa mengabaikan keselamatan dan kesehatan peserta didik maupun tenaga pendidik. Di sejumlah sekolah, dampak kabut asap bahkan sudah terasa sejak Rabu, 19 Agustus. Beberapa kegiatan yang seharusnya dilaksanakan di luar ruangan terpaksa ditunda karena asap semakin tebal.

SDN 1 Syamsudin Noor, misalnya, menunda sejumlah perlombaan yang berkaitan dengan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Kegiatan yang dapat dilakukan di dalam ruangan tetap dilaksanakan, seperti storytelling dan mewarnai.

Jarak Pandang Pengendara Ikut Terganggu

Kabut asap tidak hanya berdampak pada sekolah. Kondisi udara yang memburuk juga mulai mengganggu aktivitas masyarakat di jalan raya. Sejumlah warga melaporkan jarak pandang menjadi terbatas ketika asap menyelimuti kawasan Banjarbaru. Dalam kondisi tertentu, kendaraan yang berada beberapa meter di depan bahkan sulit terlihat dengan jelas.

Situasi tersebut meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas sehingga masyarakat yang harus bepergian di tengah kabut asap diminta meningkatkan kewaspadaan. Pengendara sebaiknya mengurangi kecepatan, menjaga jarak aman, menggunakan lampu kendaraan sesuai kebutuhan, serta menghindari perjalanan yang tidak mendesak ketika jarak pandang sangat terbatas.

Asap Mulai Mengganggu Kesehatan Warga

Paparan kabut asap juga menimbulkan kekhawatiran terhadap kesehatan masyarakat. Asap karhutla mengandung partikel halus yang dapat masuk ke saluran pernapasan, terutama ketika konsentrasinya tinggi. Di Banjarbaru, masyarakat mulai mengeluhkan kondisi udara yang menyebabkan mata terasa perih dan munculnya gangguan pernapasan. Salah seorang orang tua siswa bahkan mengaku anaknya telah diwajibkan menggunakan masker sejak pekan sebelumnya dan dibatasi aktivitas di luar rumah.

Kondisi tersebut menjadi perhatian khusus karena anak-anak termasuk kelompok yang perlu mendapat perlindungan ketika kualitas udara memburuk. Masyarakat dianjurkan menggunakan masker ketika harus berada di luar ruangan, memperbanyak konsumsi air putih, menjaga pola makan, serta mengurangi aktivitas di luar rumah selama kabut asap masih pekat.

Kondisi Udara Banjarbaru Memburuk

Kabut asap di Banjarbaru dilaporkan semakin tebal dalam beberapa hari terakhir. Asap bahkan menyelimuti kawasan sekitar Bandara Syamsudin Noor dan mengganggu jarak pandang. Data yang dihimpun sejumlah laporan pada Rabu, 19 Agustus 2026, menunjukkan konsentrasi PM2.5 di Banjarbaru sempat mencapai 389,4 mikrogram per meter kubik, yang masuk kategori sangat berbahaya. Kondisi ini menggambarkan seriusnya dampak karhutla terhadap kualitas udara di wilayah tersebut.

Kabut asap juga dilaporkan mulai mengganggu aktivitas penerbangan. Sebanyak 12 penerbangan di Bandara Internasional Syamsudin Noor mengalami keterlambatan akibat kondisi asap dan jarak pandang. Dengan kondisi tersebut, persoalan karhutla tidak lagi hanya berkaitan dengan kebakaran lahan. Dampaknya telah meluas ke sektor pendidikan, transportasi, kesehatan, dan aktivitas ekonomi masyarakat.

Sekolah Diminta Berkoordinasi dengan Puskesmas dan BPBD

Dinas Pendidikan Banjarbaru meminta kepala sekolah melakukan koordinasi dengan instansi terkait untuk mengantisipasi dampak kabut asap. Koordinasi dapat dilakukan bersama Dinas Kesehatan melalui puskesmas, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), camat, serta lurah. Pengawas dan penilik pendidikan juga diminta membantu pemantauan kondisi sekolah. Langkah tersebut penting agar keputusan mengenai kegiatan belajar mengajar dapat disesuaikan dengan perkembangan kondisi udara dan karhutla di masing-masing wilayah.

Orang Tua Diminta Mengawasi Aktivitas Anak

Di tengah kondisi udara yang belum membaik, peran orang tua juga menjadi penting. Anak-anak sebaiknya tidak melakukan aktivitas di luar ruangan apabila kabut asap sedang pekat. Orang tua dapat memastikan anak menggunakan masker ketika harus keluar rumah dan segera memperhatikan apabila muncul keluhan seperti batuk, sesak napas, iritasi mata, atau gangguan kesehatan lainnya. Jika kondisi kesehatan memburuk, anak perlu mendapatkan pemeriksaan medis.

Jam Belajar Dapat Kembali Normal Jika Asap Mereda

Perubahan jam masuk sekolah bukan merupakan penutupan kegiatan belajar mengajar. Kebijakan tersebut merupakan bentuk penyesuaian agar pembelajaran tetap dapat berlangsung dengan mempertimbangkan kondisi lingkungan. Dinas Pendidikan Banjarbaru menetapkan penyesuaian tersebut berlangsung selama kabut asap belum mereda. Karena itu, waktu pembelajaran dapat kembali disesuaikan mengikuti perkembangan kondisi karhutla dan kualitas udara.

Untuk saat ini, keselamatan siswa, guru, dan seluruh warga sekolah menjadi pertimbangan utama. Pemerintah daerah juga diharapkan terus mempercepat penanganan karhutla agar sumber asap dapat segera dikendalikan.

Karhutla Mulai Mengganggu Aktivitas di Kalimantan

Kabut asap yang melanda Banjarbaru merupakan bagian dari kondisi karhutla yang terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan. Di Kalimantan Tengah, misalnya, BPBD mencatat 298 kejadian karhutla dengan luas lahan terbakar mencapai 261,41 hektare sepanjang 1 Juni hingga 19 Agustus 2026. Di Kalimantan Barat, kualitas udara di Pontianak pada Kamis pagi juga berada dalam kategori tidak sehat.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa musim kering dan kebakaran lahan memberikan dampak yang semakin luas. Asap tidak hanya mengganggu masyarakat di sekitar lokasi kebakaran, tetapi juga dapat terbawa angin ke wilayah lain.

Karena itu, penanganan karhutla membutuhkan upaya bersama, mulai dari pemadaman titik api, pencegahan pembakaran lahan, pemantauan kualitas udara, hingga perlindungan terhadap kelompok masyarakat yang rentan.

Posting Komentar untuk "Asap Karhutla Makin Parah, Jam Masuk Sekolah di Banjarbaru Mundur"