Aset Kakek Buyut Ha Young Disorot, Terancam Disita Korsel
Jakarta — Aktris Korea Selatan Ha Young tengah menghadapi sorotan besar setelah riwayat keluarganya kembali menjadi perbincangan publik. Kontroversi tersebut berpusat pada sosok Ahn Sang-ho, kakek buyut Ha Young, yang disebut memiliki keterkaitan dengan kelompok pro-Jepang pada masa pendudukan Jepang di Korea.
Kini, perhatian tidak hanya tertuju pada rekam jejak Ahn Sang-ho. Aset dan kekayaan yang pernah dimiliki keluarganya juga mulai dipertanyakan, terutama setelah pemerintah Korea Selatan berencana menghidupkan kembali komisi yang bertugas melacak dan mengambil alih aset yang diperoleh melalui aktivitas kolaborasi dengan Jepang.
Meski demikian, penting dicatat bahwa belum ada keputusan bahwa aset keluarga Ha Young akan disita. Sejumlah pakar hukum justru menilai kemungkinan penyitaan terhadap aset yang berkaitan dengan Ahn Sang-ho cukup rumit karena nama sang leluhur tidak tercantum dalam daftar resmi kolaborator pro-Jepang yang telah ditetapkan pemerintah Korea Selatan.
Kontroversi Berawal dari Riwayat Keluarga
Nama Ha Young mulai menjadi sorotan setelah ia menceritakan sejarah keluarganya dalam sebuah program televisi. Saat itu, Ha Young mengungkap bahwa keluarganya memiliki tradisi sebagai keluarga dokter selama beberapa generasi.
Namun, setelah informasi tersebut mendapat perhatian publik, muncul catatan sejarah mengenai Ahn Sang-ho yang menunjukkan keterlibatannya dalam organisasi yang dianggap pro-Jepang pada masa kolonial. Ahn Sang-ho disebut pernah menjadi anggota dewan Daejeong Chinmokhoe, sebuah kelompok sosial yang memiliki hubungan dengan kalangan pro-Jepang pada era pendudukan Jepang. Temuan tersebut kemudian memicu kritik keras dari publik Korea Selatan.
Bagi masyarakat Korea Selatan, isu mengenai kolaborator Jepang memiliki sensitivitas sejarah yang sangat tinggi. Jepang menduduki Korea pada periode 1910 hingga 1945, sehingga setiap dugaan keterlibatan leluhur dengan pemerintahan kolonial dapat memunculkan reaksi keras.
Ahn Sang-ho Disebut Memiliki Kekayaan Tanah
Sorotan terhadap keluarga Ha Young semakin melebar setelah muncul catatan mengenai aset yang pernah dimiliki Ahn Sang-ho. Dokumen yang baru terungkap menunjukkan bahwa Ahn Sang-ho pernah memiliki tanah dengan luas sekitar 2.700 pyeong di Gunpo. Catatan tersebut berasal dari dokumen era 1910-an dan kini kembali menjadi perhatian di tengah kontroversi mengenai sejarah keluarga Ha Young.
Selain itu, laporan surat kabar pada 1923 juga kembali beredar. Dalam pemberitaan tersebut, Ahn Sang-ho disebut pernah menghadapi gugatan terkait persoalan kepemilikan tanah di wilayah Paju. Menurut laporan SBS, sebuah artikel Dong-A Ilbo tertanggal 28 Desember 1923 memberitakan gugatan Park Seung-hak terhadap Ahn Sang-ho di Pengadilan Distrik Gyeongseong. Gugatan tersebut berkaitan dengan permintaan pembatalan sertifikat pembelian tanah.
Munculnya kembali dokumen-dokumen lama tersebut membuat publik mempertanyakan bagaimana kekayaan Ahn Sang-ho diperoleh dan apakah ada aset yang hingga kini masih berkaitan dengan keturunannya.
Korea Selatan Akan Mengusut Aset Kolaborator Pro-Jepang
Kontroversi Ha Young muncul bersamaan dengan rencana pemerintah Korea Selatan untuk kembali memperketat penelusuran aset milik atau yang berasal dari aktivitas kolaborator pro-Jepang. Pemerintah berencana membentuk kembali komisi yang memiliki mandat untuk menyelidiki dan memulihkan aset yang diperoleh secara tidak patut oleh mereka yang bekerja sama dengan pemerintahan kolonial Jepang.
Komisi baru tersebut dijadwalkan mulai bekerja pada Desember 2026, setelah lembaga serupa sebelumnya berhenti beroperasi sekitar 16 tahun lalu. Korea JoongAng Daily melaporkan pemerintah memperkirakan setidaknya 32,5 miliar won atau sekitar US$22,9 juta aset yang berkaitan dengan kolaborator pro-Jepang dapat menjadi sasaran pemulihan. Aset yang berhasil dikembalikan nantinya terutama akan digunakan untuk mendukung pejuang kemerdekaan dan keturunan mereka.
Presiden Lee Jae-myung Dorong Pengembalian Aset
Isu tersebut semakin kuat setelah Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung menyatakan pemerintah akan mengejar aset yang diperoleh secara tidak sah oleh kolaborator pro-Jepang. Dalam pidato Hari Pembebasan Korea, Lee menegaskan pentingnya mengusut kembali aset yang diperoleh melalui aktivitas yang merugikan perjuangan kemerdekaan Korea.
Pernyataan tersebut membuat kebijakan pengembalian aset kolaborator kembali menjadi agenda penting pemerintah. Namun, penerapannya tetap membutuhkan proses hukum dan pembuktian mengenai asal-usul aset.
Apakah Aset Keluarga Ha Young Benar-benar Bisa Disita?
Inilah bagian yang paling banyak dipertanyakan. Sejumlah pemberitaan menggunakan istilah aset keluarga Ha Young "terancam disita". Namun, secara hukum, tidak berarti seluruh harta keluarga Ha Young otomatis dapat diambil negara hanya karena Ahn Sang-ho diduga memiliki hubungan dengan kelompok pro-Jepang.
Lee Joon-sik, mantan kepala Independence Hall of Korea dan pernah menjadi anggota komisi generasi pertama yang menangani verifikasi serta pengembalian aset kolaborator pro-Jepang, menilai posisi hukum Ahn Sang-ho cukup berbeda. Menurutnya, Ahn Sang-ho tidak tercantum dalam daftar resmi kolaborator pro-Jepang yang telah dikonfirmasi negara. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor penting yang dapat memengaruhi kemungkinan penyitaan aset.
Dengan kata lain, dugaan hubungan dengan kelompok pro-Jepang saja belum otomatis menjadi dasar untuk menyita aset.
Ada Batasan Hukum dalam Penyitaan
Pengembalian aset kolaborator pro-Jepang di Korea Selatan memiliki dasar hukum dan prosedur tersendiri. Negara harus dapat menunjukkan bahwa aset tertentu memenuhi kriteria yang ditetapkan dalam aturan terkait aset kolaborator. Hubungan keluarga atau status sebagai keturunan seseorang yang diduga bekerja sama dengan Jepang tidak dengan sendirinya membuat seluruh harta keturunannya menjadi objek penyitaan.
Pengacara yang dikutip dalam pemberitaan Korea juga menilai kasus keluarga Ha Young akan menghadapi persoalan hukum yang kompleks. Aset yang diwariskan melalui beberapa generasi harus ditelusuri asal-usul dan status hukumnya terlebih dahulu. Karena itu, sampai saat ini belum tepat menyimpulkan bahwa pemerintah Korea Selatan akan langsung menyita kekayaan Ha Young atau keluarganya.
Mengapa Nama Ha Young Ikut Terseret?
Ha Young sendiri bukan pihak yang dituduh melakukan kolaborasi dengan Jepang. Ia lahir jauh setelah masa pendudukan Jepang berakhir. Kontroversi muncul karena hubungan genealogisnya dengan Ahn Sang-ho dan karena Ha Young sebelumnya menceritakan latar belakang keluarganya kepada publik.
Di Korea Selatan, isu mengenai "keturunan kolaborator" masih sangat sensitif. Sejumlah tokoh publik sebelumnya juga pernah menghadapi tekanan ketika hubungan leluhur mereka dengan pemerintahan kolonial Jepang terungkap. Kasus Ha Young kemudian berkembang menjadi perdebatan mengenai apakah generasi masa kini harus bertanggung jawab atas tindakan leluhur mereka.
Ha Young Sudah Menyampaikan Permintaan Maaf
Di tengah tekanan publik, Ha Young dan pihak agensinya kemudian memberikan penjelasan mengenai kontroversi tersebut. Agensi BISTUS Entertainment sebelumnya sempat membantah tuduhan mengenai keterlibatan Ahn Sang-ho dalam organisasi pro-Jepang. Namun, setelah dokumen dan informasi tambahan muncul, agensi menyampaikan permintaan maaf dan mengakui bahwa terdapat persoalan dalam informasi yang sebelumnya mereka sampaikan.
Ha Young juga disebut menyampaikan bahwa ia hanya mengenal kakek buyutnya melalui cerita yang diwariskan di dalam keluarga. Pernyataan tersebut menjadi bagian dari upaya untuk menjelaskan bahwa dirinya tidak mengetahui secara lengkap catatan sejarah Ahn Sang-ho.
Dampaknya Mulai Terasa pada Karier Ha Young
Kontroversi keluarga tersebut tidak berhenti di media sosial. Sejumlah aktivitas promosi yang melibatkan Ha Young dilaporkan ikut terdampak. Samsung Electronics, misalnya, membuat enam video promosi yang menampilkan Ha Young untuk lini Samsung Art TV menjadi privat di YouTube resminya. Sejumlah aktivitas wawancara dan promosi lainnya juga dilaporkan dibatalkan atau ditarik.
Episode program Problem Child in House yang menampilkan Ha Young juga dilaporkan tidak lagi tersedia di sejumlah platform. Situasi tersebut menunjukkan bahwa kontroversi mengenai leluhur dapat memberikan dampak langsung terhadap karier seorang figur publik, meskipun orang tersebut tidak hidup pada masa terjadinya dugaan kolaborasi.
Ha Young Tetap Melanjutkan Syuting Drama
Meski menghadapi kontroversi, aktivitas profesional Ha Young tidak sepenuhnya berhenti. Ha Young dilaporkan kembali menjalani syuting drama SBS The Long Shot Trial pada Agustus 2026. Agensinya juga memberikan informasi mengenai status produksi drama tersebut.
Dengan demikian, setidaknya untuk saat ini, kontroversi keluarga tersebut belum menghentikan seluruh aktivitas akting Ha Young. Namun, perkembangan isu mengenai Ahn Sang-ho dan kemungkinan penyelidikan aset tetap berpotensi memengaruhi citra publik sang aktris.
Pemerintah Belum Menetapkan Aset Ha Young sebagai Objek Sitaan
Poin penting lainnya adalah belum adanya informasi bahwa pemerintah Korea Selatan telah menetapkan aset Ha Young atau keluarganya sebagai objek penyitaan. Pemberitaan mengenai kemungkinan penyitaan muncul karena pemerintah sedang mempersiapkan mekanisme baru untuk mengusut aset kolaborator pro-Jepang. Sementara itu, hubungan Ahn Sang-ho dengan kelompok pro-Jepang menjadi perhatian karena namanya muncul dalam catatan sejarah.
Namun, pakar yang pernah terlibat dalam komisi sebelumnya menilai Ahn Sang-ho tidak masuk daftar resmi kolaborator yang telah ditetapkan negara. Artinya, kemungkinan penyitaan masih berada pada tahap spekulasi dan kajian hukum, bukan keputusan final pemerintah.
Apa yang Akan Terjadi Jika Ditemukan Aset yang Memenuhi Syarat?
Apabila penyelidikan pemerintah nantinya menemukan aset yang memenuhi kriteria hukum sebagai kekayaan hasil aktivitas kolaborasi dengan Jepang, aset tersebut dapat menjadi objek proses pengembalian kepada negara. Namun, pemerintah tetap harus membuktikan hubungan antara aset dan aktivitas kolaborasi yang dimaksud.
Penelusuran juga dapat menjadi semakin rumit apabila aset telah berpindah tangan melalui transaksi jual beli atau diwariskan selama beberapa generasi. Karena itu, tidak semua aset yang pernah dimiliki Ahn Sang-ho otomatis dapat dianggap sebagai aset kolaborator yang dapat disita.
Perdebatan tentang "Dosa Leluhur"
Kasus Ha Young juga memunculkan pertanyaan sosial yang lebih besar di Korea Selatan: sejauh mana keturunan harus bertanggung jawab atas tindakan leluhurnya? Sebagian masyarakat menilai aset yang diperoleh dari aktivitas kolaborasi dengan penjajah seharusnya dikembalikan kepada negara, meskipun sudah diwariskan kepada generasi berikutnya.
Di sisi lain, ada pandangan bahwa keturunan tidak seharusnya dihukum hanya karena memiliki hubungan darah dengan seseorang yang melakukan tindakan pada masa lalu. Perdebatan tersebut menjadi semakin kompleks ketika menyangkut aset yang telah berpindah tangan selama puluhan tahun.
Bukan Berarti Ha Young Akan Kehilangan Seluruh Kekayaan
Dengan kondisi hukum saat ini, terlalu dini menyimpulkan bahwa Ha Young akan kehilangan seluruh kekayaan keluarganya. Penyitaan, jika sampai dilakukan, harus berkaitan dengan aset yang memenuhi kriteria hukum dan dapat dibuktikan memiliki hubungan dengan aktivitas kolaborasi. Bahkan laporan yang membahas langsung kemungkinan penyitaan menyebut bahwa secara realistis persoalan tersebut cukup rumit. Karena itu, perkembangan berikutnya akan sangat bergantung pada hasil penyelidikan komisi baru dan bukti-bukti mengenai asal-usul aset Ahn Sang-ho.

Posting Komentar untuk " Aset Kakek Buyut Ha Young Disorot, Terancam Disita Korsel"