Ini Jurusan S1 dengan Lulusan Menganggur Paling Banyak di Indonesia

Jakarta — Gelar sarjana tidak selalu menjadi jaminan seseorang bisa langsung mendapatkan pekerjaan. Data terbaru menunjukkan sejumlah bidang studi yang selama ini populer justru memiliki kontribusi cukup besar terhadap jumlah pengangguran berpendidikan minimal S1 di Indonesia. Temuan tersebut berasal dari analisis Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) yang mengolah data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2025 milik Badan Pusat Statistik (BPS).

Dalam laporan Labor Market Brief Volume 7 berjudul “Ketika Akses Pendidikan Tinggi Bertambah, Apakah Pasar Kerja Siap?”, LPEM FEB UI menemukan sejumlah jurusan yang paling banyak muncul di kelompok penganggur berpendidikan minimal sarjana.

Manajemen Jadi Jurusan dengan Porsi Pengangguran Terbesar

Berdasarkan analisis tersebut, Manajemen menempati posisi pertama. Lulusan bidang studi ini menyumbang sekitar 10,3 persen dari keseluruhan penganggur berpendidikan minimal S1.

Berikut daftar enam bidang studi yang paling banyak ditemukan di kalangan penganggur sarjana:

  • Manajemen: 10,3 persen

  • Hukum: 9,0 persen

  • Ekonomi: 8,7 persen

  • Pendidikan: 7,1 persen

  • Akuntansi: 5,1 persen

  • Ilmu Komputer/Informatika: 4,6 persen

Lima bidang studi teratas—Manajemen, Hukum, Ekonomi, Pendidikan, dan Akuntansi—secara bersama-sama mencakup sekitar 40 persen dari penganggur berpendidikan minimal S1. Temuan ini menjadi perhatian karena sebagian besar jurusan tersebut justru termasuk program studi yang sangat populer dan tersedia di banyak perguruan tinggi di Indonesia.

1. Manajemen

Manajemen menjadi bidang studi dengan kontribusi terbesar, yakni 10,3 persen. Salah satu alasannya adalah jumlah lulusan Manajemen yang relatif besar. Program studi ini ditawarkan oleh banyak perguruan tinggi dan memiliki cakupan karier yang luas, mulai dari pemasaran, sumber daya manusia, keuangan, operasional, hingga pengelolaan bisnis.

Namun, luasnya pilihan pekerjaan juga berarti lulusan Manajemen harus berkompetisi dengan lulusan berbagai bidang lain untuk mendapatkan posisi entry-level. Lulusan Manajemen dapat bersaing dengan lulusan Ekonomi, Akuntansi, Hukum, Komunikasi, hingga bidang sosial lainnya untuk pekerjaan yang tidak selalu mensyaratkan satu jurusan tertentu.

Dengan demikian, angka 10,3 persen tidak berarti 10,3 persen lulusan Manajemen menganggur. Angka tersebut menunjukkan kontribusi lulusan Manajemen terhadap keseluruhan penganggur berpendidikan minimal S1.

2. Hukum

Di posisi kedua terdapat Hukum dengan kontribusi 9 persen. Lulusan Hukum memiliki peluang berkarier sebagai advokat, konsultan hukum, legal officer, notaris, peneliti, maupun berbagai pekerjaan di sektor pemerintahan dan perusahaan.

Akan tetapi, tidak semua lulusan bisa langsung memasuki profesi hukum tertentu. Beberapa profesi membutuhkan pendidikan lanjutan, sertifikasi, pengalaman, atau proses seleksi dan formasi yang terbatas. Persaingan juga semakin ketat karena lulusan Hukum tidak hanya berebut pekerjaan di sektor hukum, tetapi juga memasuki pasar kerja umum untuk berbagai posisi administrasi, bisnis, maupun manajemen.

3. Ekonomi

Bidang studi Ekonomi menyumbang 8,7 persen dari penganggur berpendidikan minimal S1. Seperti Manajemen, bidang Ekonomi memiliki cakupan pekerjaan yang luas. Lulusannya dapat bekerja di perusahaan, lembaga keuangan, pemerintahan, lembaga riset, maupun sektor lainnya.

Namun, banyaknya pilihan tersebut juga membuat lulusan Ekonomi berhadapan dengan persaingan dari berbagai bidang studi yang memiliki kompetensi serupa. Perkembangan teknologi dan perubahan kebutuhan perusahaan juga membuat kemampuan akademik saja semakin kurang memadai. Lulusan perlu mempunyai keterampilan tambahan, seperti analisis data, penguasaan perangkat digital, komunikasi, serta kemampuan memecahkan masalah.

4. Pendidikan

Bidang studi Pendidikan berada di posisi keempat dengan porsi 7,1 persen. Kondisi ini tidak berarti Indonesia tidak membutuhkan guru. Persoalannya lebih kompleks karena kebutuhan tenaga pendidik berbeda-beda di setiap daerah dan sangat dipengaruhi oleh jumlah sekolah, kebutuhan guru, sistem rekrutmen, serta formasi yang tersedia.

Seorang lulusan Pendidikan juga tidak selalu langsung memperoleh pekerjaan sebagai guru setelah wisuda. Karena itu, mahasiswa di bidang Pendidikan perlu memperkuat kompetensi yang dapat digunakan di luar jalur profesi guru, termasuk kemampuan teknologi pendidikan, pembuatan konten, administrasi, penelitian, dan keterampilan digital.

5. Akuntansi

Selanjutnya terdapat Akuntansi dengan kontribusi 5,1 persen. Akuntansi merupakan salah satu jurusan yang banyak tersedia di perguruan tinggi dan memiliki basis lulusan yang besar. Lulusannya dapat bekerja sebagai staf akuntansi, auditor, analis keuangan, perpajakan, maupun berbagai posisi di perusahaan dan lembaga pemerintahan.

Namun, persaingan membuat lulusan perlu mempunyai kemampuan tambahan. Penguasaan software akuntansi, analisis data, perpajakan, teknologi finansial, serta kemampuan menggunakan berbagai perangkat digital dapat menjadi nilai tambah ketika memasuki pasar kerja.

6. Ilmu Komputer atau Informatika

Hal yang cukup menarik adalah masuknya Ilmu Komputer/Informatika ke dalam daftar. Bidang tersebut menyumbang sekitar 4,6 persen dari penganggur berpendidikan minimal S1. Padahal, pekerjaan yang berhubungan dengan teknologi digital selama ini sering dianggap memiliki prospek yang sangat menjanjikan.

Temuan ini menunjukkan bahwa pertumbuhan industri teknologi tidak otomatis membuat seluruh lulusan Informatika langsung mendapatkan pekerjaan. Perusahaan teknologi biasanya membutuhkan keterampilan yang sangat spesifik dan terus berubah. Karena itu, mahasiswa Informatika perlu membangun kemampuan praktis, portofolio, pengalaman magang, serta mengikuti perkembangan teknologi yang dibutuhkan industri.

Jangan Salah Membaca Data Pengangguran Jurusan

Satu hal penting yang perlu digarisbawahi adalah data tersebut tidak menunjukkan jurusan mana yang memiliki tingkat pengangguran paling tinggi. Misalnya, Manajemen menyumbang 10,3 persen dari penganggur sarjana. Angka itu tidak bisa diartikan bahwa 10,3 persen lulusan Manajemen pasti menganggur.

Besarnya kontribusi suatu jurusan terhadap total pengangguran dapat dipengaruhi oleh jumlah mahasiswa dan lulusan dari jurusan tersebut. Jurusan yang sangat populer secara alami memiliki jumlah lulusan yang besar. Karena itu, ketika sebagian lulusan belum mendapatkan pekerjaan, jumlahnya juga bisa terlihat besar dibandingkan jurusan yang jumlah lulusannya jauh lebih sedikit.

Untuk mengetahui risiko pengangguran sebuah jurusan, diperlukan perbandingan antara jumlah penganggur dengan keseluruhan angkatan kerja dari bidang studi tersebut.

Pengangguran Sarjana Masih Menjadi Tantangan

Persoalan pengangguran lulusan perguruan tinggi juga terlihat dari perkembangan tingkat pengangguran terbuka. LPEM FEB UI mencatat TPT untuk penduduk dengan pendidikan minimal sarjana berada di 5,39 persen pada 2025, naik dari 5,25 persen pada 2024.

Sementara itu, BPS secara keseluruhan mencatat TPT Indonesia pada Februari 2025 sebesar 4,76 persen. Jumlah angkatan kerja ketika itu mencapai 153,05 juta orang, sedangkan penduduk yang bekerja mencapai 145,77 juta orang. Artinya, pendidikan tinggi tetap memberikan nilai penting bagi pasar kerja, tetapi gelar S1 saja tidak otomatis menjamin seseorang memperoleh pekerjaan.

Sekitar 8 Juta Sarjana Bekerja di Bawah Kualifikasinya

Masalah yang dihadapi lulusan perguruan tinggi ternyata bukan hanya pengangguran. LPEM FEB UI juga menyoroti fenomena overeducation, yaitu kondisi ketika seseorang memiliki tingkat pendidikan lebih tinggi daripada yang dibutuhkan oleh pekerjaannya.

Laporan tersebut memperkirakan terdapat sekitar 8 juta lulusan sarjana yang bekerja pada pekerjaan dengan tingkat kebutuhan pendidikan di bawah kualifikasi mereka. Fenomena tersebut menunjukkan adanya persoalan lain dalam pasar kerja Indonesia. Seseorang memang sudah bekerja, tetapi pekerjaan yang diperoleh belum tentu sesuai dengan pendidikan dan kompetensi yang dimilikinya.

Jika kondisi ini terus terjadi, pertumbuhan jumlah lulusan perguruan tinggi tidak otomatis menghasilkan peningkatan jumlah pekerjaan profesional.

Mengapa Jurusan Populer Justru Banyak Ditemukan pada Pengangguran?

Ada beberapa faktor yang dapat menjelaskan fenomena tersebut.

1. Jumlah lulusan sangat besar

Manajemen, Hukum, Ekonomi, Pendidikan, dan Akuntansi merupakan bidang studi yang tersedia di banyak kampus. Jumlah mahasiswa dan lulusan yang besar membuat kelompok tersebut secara statistik berpotensi memiliki jumlah penganggur lebih banyak.

2. Persaingan untuk pekerjaan entry-level

Banyak pekerjaan pada tahap awal karier terbuka untuk berbagai jurusan. Akibatnya, lulusan dari beberapa bidang studi harus bersaing untuk posisi yang sama.

3. Ketidaksesuaian keterampilan

Perusahaan tidak hanya melihat ijazah. Kemampuan teknis, komunikasi, pemecahan masalah, pengalaman kerja, kemampuan digital, dan portofolio semakin diperhitungkan.

4. Ekspektasi pekerjaan

Sebagian lulusan mungkin memilih menunggu pekerjaan yang dianggap sesuai dengan pendidikan, lokasi, gaji, atau jenjang karier yang diharapkan.

5. Pertumbuhan lapangan kerja profesional belum seimbang

Pertumbuhan jumlah tenaga kerja berpendidikan tinggi perlu diikuti pertumbuhan pekerjaan yang membutuhkan keterampilan tinggi. Jika tidak, sebagian sarjana akhirnya masuk ke pekerjaan yang berada di bawah tingkat pendidikannya.

Gelar S1 Tetap Penting, tetapi Bukan Satu-satunya Modal

Data ini tidak berarti calon mahasiswa harus menghindari Manajemen, Hukum, Ekonomi, Pendidikan, Akuntansi, atau Informatika. Justru, data tersebut menunjukkan bahwa memilih jurusan perlu diikuti strategi membangun kompetensi.

Mahasiswa Manajemen, misalnya, dapat memperkuat kemampuan analisis data, digital marketing, bisnis, atau keuangan. Mahasiswa Hukum bisa mengembangkan kemampuan legal technology dan riset hukum. Mahasiswa Akuntansi dapat memperdalam perpajakan, audit, maupun software akuntansi.

Sementara mahasiswa Informatika perlu membangun portofolio yang benar-benar menunjukkan kemampuan mereka, bukan hanya mengandalkan ijazah. Pengalaman magang, organisasi, proyek, sertifikasi, kemampuan bahasa, dan jejaring profesional juga dapat membantu lulusan menghadapi persaingan.

Kampus Juga Dituntut Lebih Responsif

Temuan LPEM FEB UI sekaligus menjadi tantangan bagi perguruan tinggi. Kampus tidak cukup hanya membuka program studi populer karena tingginya permintaan calon mahasiswa. Perguruan tinggi perlu memastikan kurikulum mengikuti perubahan dunia kerja dan memberikan pengalaman praktis kepada mahasiswa.

Hubungan antara kampus dan industri juga menjadi semakin penting. Program magang, proyek bersama perusahaan, sertifikasi kompetensi, hingga tracer study dapat membantu kampus mengetahui apakah lulusannya benar-benar terserap pasar kerja. Dengan cara tersebut, perguruan tinggi tidak sekadar menghasilkan lebih banyak sarjana, tetapi juga menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan industri.

Posting Komentar untuk "Ini Jurusan S1 dengan Lulusan Menganggur Paling Banyak di Indonesia"