Kenapa NTT Masih Diguncang Ribuan Gempa Susulan? Ini Kata Ahli
Jakarta – Aktivitas gempa bumi masih mengguncang sejumlah wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) setelah gempa utama berkekuatan magnitudo 7,7 melanda kawasan Flores pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Hingga Jumat, 21 Agustus 2026 pukul 05.00 WIB, BMKG mencatat 4.256 gempa susulan dengan magnitudo berkisar 1,1 hingga 6,2. Dari ribuan kejadian tersebut, 31 gempa memiliki magnitudo di atas 5 dan 118 gempa dirasakan masyarakat.
Jumlah tersebut memunculkan pertanyaan: mengapa gempa susulan di NTT bisa mencapai ribuan kali dan mengapa aktivitasnya belum sepenuhnya berhenti? Menurut ahli kebencanaan dan BMKG, fenomena tersebut merupakan bagian dari proses alamiah setelah terjadinya gempa bumi besar. Bumi membutuhkan waktu untuk menyesuaikan kembali kondisi tegangan di sekitar bidang patahan yang mengalami pergeseran.
Gempa Utama M7,7 Memicu Rangkaian Gempa Susulan
Gempa utama yang mengguncang Flores terjadi pada 15 Agustus 2026 sekitar pukul 04.58 WIB. BMKG memperbarui kekuatannya menjadi magnitudo 7,7. Gempa tersebut merupakan gempa dangkal yang berkaitan dengan aktivitas tektonik di Flores Back-Arc dengan mekanisme pergerakan naik atau thrust fault. Gempa utama ini juga memicu tsunami di wilayah sekitarnya.
Besarnya energi yang dilepaskan oleh gempa utama membuat wilayah di sekitar sumber gempa mengalami perubahan tekanan dan tegangan. Kondisi tersebut kemudian menghasilkan rangkaian gempa yang dikenal sebagai aftershock atau gempa susulan. Karena magnitudo gempa utama sangat besar, jumlah gempa susulan yang terjadi juga dapat mencapai ribuan.
Mengapa Bisa Sampai Ribuan Gempa?
Gempa susulan pada dasarnya merupakan bagian dari proses penyesuaian kerak bumi setelah gempa utama. Ketika patahan bumi bergerak akibat tekanan tektonik, energi yang tersimpan di dalam batuan dilepaskan secara tiba-tiba. Namun, pelepasan energi tersebut tidak selalu membuat seluruh sistem batuan langsung mencapai kondisi stabil.
Sebagian area di sekitar patahan masih mengalami perubahan tegangan. Perubahan tersebut dapat memicu pergeseran-pergeseran kecil di bagian kerak bumi lainnya. Setiap pergeseran dapat menghasilkan getaran yang tercatat sebagai gempa. Itulah sebabnya, setelah satu gempa besar, alat pemantau seismik dapat merekam ratusan bahkan ribuan kejadian gempa susulan.
Tidak Semua Gempa Susulan Dirasakan Manusia
Meski angka 4.256 terdengar sangat besar, masyarakat tidak merasakan seluruh gempa tersebut. BMKG mencatat hingga 21 Agustus terdapat 118 gempa susulan yang dirasakan. Sementara magnitudo gempa susulan berkisar dari 1,1 hingga 6,2. Gempa dengan magnitudo kecil umumnya hanya terdeteksi oleh instrumen seismograf dan tidak menimbulkan getaran yang cukup kuat untuk dirasakan manusia.
Dengan demikian, jumlah gempa yang tercatat BMKG tidak berarti masyarakat NTT mengalami ribuan guncangan kuat. Teknologi pemantauan gempa saat ini sangat sensitif. Getaran yang sangat kecil sekalipun dapat direkam dan kemudian dianalisis oleh ahli.
Aktivitas Gempa Mulai Menurun
Meski gempa susulan masih terus terjadi, pola aktivitasnya menunjukkan kecenderungan meluruh. Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), Daryono, menyebut grafik aktivitas gempa susulan secara statistik bergerak turun dan melambat. Hingga 21 Agustus pukul 05.00 WIB, tercatat 4.256 gempa susulan.
Kondisi tersebut merupakan pola yang umum terjadi setelah gempa besar. Pada fase awal setelah gempa utama, gempa susulan biasanya lebih sering terjadi. Seiring berjalannya waktu, frekuensinya secara bertahap berkurang. Namun, penurunan bukan berarti aktivitas langsung berhenti dalam hitungan hari.
BMKG Perkirakan Bisa Berlangsung 3-4 Minggu
BMKG memperkirakan aktivitas gempa susulan di wilayah Flores masih dapat berlangsung selama sekitar tiga hingga empat minggu setelah gempa utama. Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto menjelaskan bahwa gempa utama yang cukup besar membuat proses peluruhan aktivitas gempa membutuhkan waktu.
Artinya, masyarakat masih mungkin merasakan beberapa gempa dalam beberapa pekan ke depan. Namun, perkiraan tersebut bukan berarti setiap hari akan terjadi gempa dengan kekuatan besar. Justru, secara umum frekuensi gempa susulan diharapkan terus menurun seiring berjalannya waktu.
Kenapa Gempa Besar Memiliki Banyak Susulan?
Salah satu faktor penting adalah magnitudo gempa utama. Gempa M7,7 melepaskan energi yang jauh lebih besar dibandingkan gempa dengan magnitudo yang lebih kecil. Pelepasan energi tersebut memengaruhi area patahan yang luas sehingga proses penyesuaian kerak bumi juga dapat berlangsung lebih lama.
Semakin besar gempa utama, secara umum semakin banyak pula gempa susulan yang dapat terjadi. Dalam kasus Flores, karakter tektoniknya juga menjadi faktor penting. BMKG menyebut gempa utama berkaitan dengan Flores Back-Arc dan mekanisme sesar naik.
Apakah Gempa Susulan Berbahaya?
Gempa susulan tetap perlu diwaspadai, terutama di wilayah yang bangunannya sudah mengalami kerusakan akibat gempa utama. Bangunan yang terlihat masih berdiri belum tentu memiliki struktur yang benar-benar aman. Guncangan susulan, meskipun lebih kecil daripada gempa utama, dapat memperparah kerusakan yang sebelumnya sudah terjadi.
Karena itu, masyarakat yang rumahnya mengalami kerusakan sebaiknya tidak kembali masuk sebelum mendapatkan kepastian keamanan dari pihak berwenang atau tenaga yang kompeten. Risiko juga lebih besar bagi masyarakat yang berada di sekitar tebing, lereng, atau kawasan yang mengalami longsor akibat gempa.
Gempa Susulan Terbesar Mencapai M6,2
Dari ribuan gempa susulan yang tercatat, BMKG mencatat gempa terbesar mencapai magnitudo 6,2. Sementara itu, gempa terkecil yang terdeteksi berkekuatan M1,1. Angka tersebut menunjukkan bahwa meski sebagian besar gempa susulan berkekuatan kecil, masih terdapat kejadian yang cukup kuat untuk dirasakan masyarakat.
Sebelumnya, pada 17 Agustus BMKG mencatat 1.624 gempa susulan dengan rentang magnitudo 1,3 hingga 6,2. Dari jumlah tersebut, 23 gempa memiliki magnitudo lebih dari 5 dan 59 gempa dirasakan masyarakat. Data tersebut kemudian terus bertambah hingga mencapai 2.768 gempa pada 19 Agustus dan 4.256 gempa pada 21 Agustus.
Jumlah Gempa Terus Bertambah, Bukan Berarti Gempa Makin Parah
Pertambahan jumlah gempa yang tercatat setiap hari tidak boleh langsung diartikan bahwa kondisi tektonik NTT semakin buruk. Angka tersebut merupakan akumulasi kejadian gempa susulan sejak gempa utama. Sebagai contoh, BMKG mencatat 995 gempa susulan pada 16 Agustus, kemudian 1.624 pada 17 Agustus, 2.119 pada 18 Agustus, 2.768 pada 19 Agustus, dan 3.394 pada 20 Agustus. Pada 21 Agustus, jumlahnya mencapai 4.256 kejadian.
Dengan kata lain, angka yang meningkat merupakan konsekuensi dari terus bertambahnya rekaman gempa sejak kejadian utama. Yang lebih penting untuk diperhatikan adalah pola frekuensi dan kekuatan gempa, bukan hanya angka totalnya.
Masyarakat Diminta Tetap Tenang tetapi Waspada
BMKG mengimbau masyarakat agar tidak panik menghadapi aktivitas gempa susulan. Pada saat yang sama, kewaspadaan tetap diperlukan. Masyarakat perlu memperhatikan kondisi bangunan tempat tinggal dan fasilitas umum, terutama jika sebelumnya sudah mengalami kerusakan. Jika terjadi guncangan, prinsip keselamatan dasar tetap perlu diterapkan, seperti melindungi kepala, menjauh dari benda yang berpotensi jatuh, dan mencari tempat aman setelah guncangan berhenti.
Informasi mengenai gempa juga sebaiknya diperoleh dari kanal resmi BMKG dan pemerintah daerah untuk menghindari kepanikan akibat informasi yang belum terverifikasi.
Mengapa Gempa Susulan Tidak Bisa Diprediksi Satu Per Satu?
Salah satu hal yang penting dipahami adalah gempa bumi belum dapat diprediksi secara akurat kapan, di mana, dan berapa besar kekuatannya secara spesifik. Para ahli dapat mempelajari pola aktivitas gempa susulan berdasarkan statistik dan karakter gempa utama. Dari analisis tersebut, mereka dapat memperkirakan kecenderungan aktivitas akan menurun dalam periode tertentu.
Namun, perkiraan tersebut bukan ramalan pasti bahwa tidak akan ada gempa tertentu pada tanggal atau jam tertentu. Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak mudah percaya terhadap klaim yang menyebut gempa besar berikutnya sudah dapat dipastikan waktunya.
Apa yang Harus Dilakukan Warga?
Di tengah masih berlangsungnya aktivitas gempa susulan, warga NTT terutama di wilayah terdampak perlu memperhatikan beberapa hal. Pertama, hindari bangunan yang mengalami kerusakan sampai dinyatakan aman. Kedua, siapkan perlengkapan darurat yang mudah dibawa apabila sewaktu-waktu harus meninggalkan rumah.
Ketiga, masyarakat di wilayah pesisir perlu memahami informasi resmi mengenai peringatan tsunami jika terjadi gempa kuat yang berpotensi memicu tsunami. Keempat, selalu mengikuti informasi dari BMKG, BNPB, pemerintah daerah, dan petugas di lapangan. Yang tidak kalah penting, masyarakat tidak perlu menganggap setiap gempa susulan sebagai pertanda pasti akan terjadi gempa yang lebih besar. Dalam rangkaian gempa susulan, aktivitas umumnya justru mengalami penurunan secara bertahap.

Posting Komentar untuk " Kenapa NTT Masih Diguncang Ribuan Gempa Susulan? Ini Kata Ahli"