Korban Tewas Akibat Gempa NTT Bertambah Jadi 51 Orang
NTT — Korban meninggal dunia akibat gempa bumi kuat yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) terus bertambah. Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) mencatat hingga Minggu, 16 Agustus 2026 pukul 09.00 WITA, sebanyak 51 orang meninggal dunia, sementara 64 warga mengalami luka-luka, termasuk korban dengan luka berat.
Jumlah tersebut bertambah setelah tim SAR mengevakuasi tiga korban meninggal di Kabupaten Manggarai Timur dan satu korban di wilayah Manggarai atau Reo. Sebelumnya, data Basarnas mencatat 48 korban meninggal dunia.
Perkembangan terbaru ini menunjukkan bahwa proses pencarian dan evakuasi masih berlangsung. Tim gabungan terus menyisir wilayah yang terdampak, terutama daerah yang mengalami kerusakan berat dan sulit dijangkau akibat longsor maupun gangguan infrastruktur.
Gempa M 7,7 Mengguncang Flores
Gempa utama terjadi pada Sabtu, 15 Agustus 2026 pukul 04.58 WIB atau 05.58 WITA. Berdasarkan data BMKG, gempa tersebut memiliki magnitudo 7,7, kedalaman sekitar 15 kilometer, dengan episentrum sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, NTT.
BMKG menyebut gempa tersebut berkaitan dengan aktivitas tektonik di kawasan Flores. Guncangan dirasakan kuat di berbagai wilayah Flores dan sejumlah daerah di sekitarnya.
Pada awal kejadian, BMKG juga mengeluarkan peringatan dini tsunami untuk sejumlah wilayah di NTT, NTB, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara berdasarkan pemodelan potensi tsunami. BNPB kemudian menyatakan bahwa pusat gempa M7,7 berada di darat dan tidak berpotensi menimbulkan tsunami.
Korban Terbanyak Berada di Manggarai dan Manggarai Timur
Sebelum pembaruan Basarnas menjadi 51 korban, BNPB mencatat korban meninggal tersebar di sejumlah kabupaten di Flores. Data BNPB pada tahap sebelumnya mencatat korban terbanyak berada di Manggarai dan Manggarai Timur.
Tambahan empat korban yang ditemukan dalam operasi SAR kemudian menaikkan total korban menjadi 51 orang. Tiga korban ditemukan di Manggarai Timur, sedangkan satu korban tambahan ditemukan di wilayah Manggarai/Reo.
Perbedaan angka dalam sejumlah laporan pada Minggu pagi terjadi karena data korban masih terus diperbarui seiring proses evakuasi dan verifikasi di lapangan. Karena itu, angka 51 korban merupakan data Basarnas terbaru yang tersedia hingga pukul 09.00 WITA pada 16 Agustus 2026.
Lebih dari 5.000 Warga Mengungsi
Selain korban jiwa, gempa menyebabkan ribuan warga meninggalkan rumah mereka untuk mencari tempat yang lebih aman.
BNPB mencatat berdasarkan pembaruan hingga 16 Agustus 2026 pukul 00.00 WIB, lebih dari 5.000 warga mengungsi. Kabupaten Sikka menjadi salah satu wilayah dengan konsentrasi pengungsi terbesar, yakni 3.356 orang. Sebanyak 1.356 orang berada di GOR Samador, sementara sekitar 2.000 lainnya mengungsi secara mandiri di 10 titik.
Di Kabupaten Manggarai tercatat sekitar 2.078 pengungsi, sedangkan sekitar 500 warga mengungsi di Nagekeo. Dampak gempa juga membuat warga di Bima dan Kepulauan Selayar ikut membutuhkan penanganan.
Ribuan Rumah Mengalami Kerusakan
Gempa juga menyebabkan kerusakan besar pada permukiman dan fasilitas umum.
Data sementara yang dihimpun BNPB mencatat:
- 914 rumah rusak berat
- 126 rumah rusak sedang
- 317 rumah rusak ringan
- 93 fasilitas pendidikan terdampak
- 36 fasilitas kesehatan terdampak
- 38 kantor pemerintahan mengalami kerusakan
Dengan demikian, sedikitnya 1.357 rumah tercatat mengalami kerusakan dengan tingkat keparahan berbeda. Kerusakan tidak hanya terjadi di kawasan sekitar pusat gempa. Sejumlah fasilitas publik dan bangunan di wilayah lain di Flores juga terdampak kuatnya guncangan.
Operasi SAR Terus Diperluas
Memasuki hari kedua setelah gempa, operasi pencarian dan pertolongan difokuskan terutama di Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur. SAR Maumere mengerahkan personel dan peralatan sejak pagi. Tim bergerak melalui jalur darat dan laut, termasuk menggunakan kapal KN SAR 250 Punta Dewa untuk menjangkau wilayah terdampak.
Akses menuju sejumlah lokasi sempat terganggu akibat longsor. Namun, pada Minggu pagi tim Basarnas berhasil membuka kembali akses darat menuju wilayah Reo yang sebelumnya terputus akibat material longsor sehingga pencarian dapat diperluas.
Kepala Basarnas Mohammad Syafii menyebut sejumlah wilayah, khususnya Manggarai Timur dan Nagekeo, masih mengalami gangguan listrik dan komunikasi. Untuk menjaga koordinasi operasi, tim SAR memanfaatkan koneksi Starlink.
Helikopter Disiapkan untuk Evakuasi dan Logistik
Basarnas juga memperkuat operasi dengan dukungan udara. Helikopter yang bergerak dari Bima menuju Labuan Bajo disiapkan untuk membantu evakuasi korban maupun mengangkut kebutuhan logistik ketika tidak digunakan untuk misi penyelamatan.
Penggunaan jalur udara menjadi penting karena beberapa akses darat masih terganggu. Kondisi geografis Flores dan kerusakan akibat gempa membuat distribusi bantuan ke sejumlah titik menjadi tantangan tersendiri.
Bantuan Pemerintah Mulai Didistribusikan
Pemerintah pusat juga mempercepat pengiriman bantuan untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat terdampak. Pada Minggu, 1.725 paket sembako yang diangkut menggunakan pesawat Hercules tiba di Maumere. Sebanyak 1.000 paket dialokasikan untuk Kabupaten Sikka dan 725 paket untuk Kabupaten Ende. Sebelumnya, 3.200 paket sembako telah dikirim ke Labuan Bajo.
Secara keseluruhan, pemerintah menyiapkan 50.000 paket sembako untuk mendukung penanganan korban gempa di NTT. Sisa bantuan akan dikirimkan secara bertahap berdasarkan kebutuhan di lapangan.
Di sejumlah lokasi pengungsian, kebutuhan mendesak meliputi tenda darurat, beras, obat-obatan, selimut, tempat tidur lapangan, tikar, air bersih, dan genset.
Ratusan Gempa Susulan Masih Terjadi
Setelah gempa utama, aktivitas seismik masih berlangsung. Laporan pada Minggu pagi menunjukkan sejumlah gempa susulan terjadi di kawasan Flores.
Dalam satu periode sekitar 20 menit pada Minggu pagi, BMKG mencatat setidaknya 10 gempa susulan dengan magnitudo sekitar M2,3 hingga M4,3 di kawasan sekitar Ruteng, Manggarai, Nagekeo, dan Ngada.
Sebelumnya, laporan penanganan bencana mencatat ratusan aktivitas gempa susulan setelah gempa utama. Kondisi tersebut membuat masyarakat diminta tetap waspada dan tidak langsung kembali ke bangunan yang mengalami kerusakan.
Jaringan Listrik dan Telekomunikasi Terdampak
Gempa juga mengganggu infrastruktur dasar. Sejumlah wilayah Manggarai Timur dan Nagekeo masih mengalami gangguan listrik, sementara beberapa ruas jalan terhambat longsor.
Di sektor telekomunikasi, pemantauan Kementerian Komunikasi dan Digital menunjukkan sekitar 200 BTS di 10 kabupaten/kota di NTT mengalami gangguan. Tiga operator, yakni Telkomsel, XLsmart, dan Indosat, dilaporkan terdampak di sejumlah wilayah.
Pemulihan jaringan menjadi bagian penting dari respons darurat karena komunikasi sangat dibutuhkan untuk koordinasi evakuasi, pencarian korban, distribusi bantuan, dan pelayanan masyarakat.
Pemerintah Prioritaskan Evakuasi dan Kebutuhan Dasar
Penanganan pascagempa saat ini berfokus pada beberapa hal utama, yaitu pencarian dan penyelamatan korban, pendataan kerusakan, pemenuhan kebutuhan pengungsi, pemulihan listrik dan telekomunikasi, serta pembukaan kembali akses transportasi.
Pemerintah juga telah meminta seluruh jajaran bergerak cepat menangani dampak gempa dan memastikan masyarakat terdampak mendapatkan bantuan yang diperlukan.
Warga Diminta Waspada terhadap Gempa Susulan
Dengan masih berlangsungnya aktivitas gempa susulan, masyarakat di wilayah terdampak perlu tetap mengikuti informasi resmi dari BMKG, BNPB, Basarnas, BPBD, dan pemerintah daerah.
Warga yang rumahnya mengalami kerusakan sebaiknya tidak kembali ke dalam bangunan sebelum dinyatakan aman. Saat terjadi guncangan susulan, masyarakat dianjurkan menjauh dari bangunan yang retak atau berpotensi roboh dan mengikuti arahan petugas di lapangan.
Perkembangan Terbaru
- Hingga Minggu, 16 Agustus 2026, perkembangan paling mutakhir menunjukkan:
- 51 orang meninggal dunia, berdasarkan pembaruan Basarnas pukul 09.00 WITA.
- 64 orang mengalami luka-luka, termasuk korban luka berat.
- Lebih dari 5.000 warga mengungsi berdasarkan data BNPB hingga pukul 00.00 WIB.
- 1.357 rumah tercatat rusak dengan tingkat kerusakan berbeda.
- Puluhan fasilitas pendidikan, kesehatan, dan kantor pemerintahan ikut terdampak.
- Tim SAR masih melakukan pencarian, terutama di Manggarai dan Manggarai Timur.
- Sejumlah akses jalan, jaringan listrik, dan telekomunikasi masih mengalami gangguan.
- Bantuan logistik pemerintah mulai tiba dan didistribusikan ke sejumlah kabupaten terdampak.
- Gempa susulan masih terjadi sehingga warga diminta tetap waspada.

Posting Komentar untuk " Korban Tewas Akibat Gempa NTT Bertambah Jadi 51 Orang"