PKB: Kritik Cak Imin Terkait NU Bukan Serangan kepada HMI
Jakarta – Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menegaskan bahwa pernyataan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar alias Cak Imin mengenai kondisi Nahdlatul Ulama (NU) tidak dimaksudkan sebagai serangan terhadap Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). PKB menyebut pernyataan tersebut harus dipahami sebagai kritik terhadap kepemimpinan dan evaluasi terhadap kondisi internal NU.
Penegasan itu disampaikan Ketua Harian DPP PKB Najmi Mumtaza Rabbany atau Gus Najmi setelah pernyataan Cak Imin mengenai NU dan latar belakang HMI salah satu tokoh NU menuai polemik. Gus Najmi meminta pernyataan tersebut dilihat secara utuh dan proporsional agar tidak berkembang menjadi pertentangan antarkelompok organisasi.
PKB Sebut Kritik Cak Imin Bukan Serangan ke HMI
Gus Najmi mengatakan substansi pernyataan Cak Imin bukanlah menyerang HMI sebagai organisasi ataupun seluruh alumninya. Menurut dia, Cak Imin sedang menyampaikan kritik terhadap kepemimpinan NU sekaligus mengajak melakukan evaluasi atas kondisi organisasi dalam beberapa tahun terakhir.
“Beliau sedang mengkritik sebuah kepemimpinan dan mengevaluasi kondisi NU, bukan menyerang HMI sebagai organisasi ataupun seluruh alumninya,” kata Gus Najmi dalam keterangannya pada Minggu, 30 Agustus 2026.
Gus Najmi menilai latar belakang HMI seseorang merupakan bagian dari identitas personal. Karena itu, menurutnya, kritik terhadap seorang figur tidak otomatis dapat dimaknai sebagai kritik terhadap organisasi tempat figur tersebut pernah berproses. Ia meminta publik tidak mencampuradukkan identitas organisasi dengan substansi kritik terhadap seorang pemimpin.
Latar Belakang HMI Disebut Identitas Personal
Gus Najmi menjelaskan, penyebutan latar belakang HMI dalam pernyataan Cak Imin merupakan fakta biografis mengenai sosok yang menjadi objek kritik. Namun, fakta tersebut menurutnya tidak dapat ditarik menjadi kesimpulan bahwa Cak Imin sedang menyerang HMI.
“Jika setiap kritik terhadap seorang figur otomatis dianggap kritik terhadap organisasinya, maka kita sedang terjebak dalam fallacy berpikir,” ujar Gus Najmi. Ia menegaskan bahwa fokus utama kritik Cak Imin adalah persoalan kapabilitas dan hasil kepemimpinan, bukan organisasi kemahasiswaan yang pernah menjadi tempat seseorang berproses.
Dengan demikian, PKB berusaha memisahkan antara kritik terhadap figur dan penilaian terhadap organisasi HMI secara keseluruhan.
Cak Imin Sebelumnya Soroti Kondisi NU
Polemik bermula dari pernyataan Cak Imin saat menghadiri acara bedah buku Dari Pergerakan Menuju Kepemimpinan: Jejak Langkah Alumni PMII di Panggung Politik, Akademik, dan Kemasyarakatan di Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif, Jombang, Jawa Timur, Sabtu, 29 Agustus 2026.
Dalam kesempatan tersebut, Cak Imin menyoroti kondisi NU selama lima tahun terakhir. Ia menilai organisasi tersebut mengalami keterpurukan dan mengajak kader PMII serta warga NU melakukan evaluasi. Cak Imin kemudian mengaitkan kondisi tersebut dengan kepemimpinan NU yang disebutnya berasal dari kalangan alumni HMI. Pernyataan tersebut disampaikan dalam suasana acara yang juga diwarnai nada bercanda.
Pernyataan itu kemudian menyebar luas dan memunculkan perdebatan di ruang publik, terutama di antara kalangan yang memiliki latar belakang HMI maupun PMII.
Anas Urbaningrum Ikut Merespons
Pernyataan Cak Imin turut mendapat respons dari Anas Urbaningrum, mantan Ketua Umum PB HMI periode 1997-1999 yang kini menjabat Ketua Umum Partai Kebangkitan Nusantara (PKN). Anas merespons pernyataan tersebut melalui akun X miliknya pada Minggu, 30 Agustus 2026. Ia bahkan menandai langsung akun Cak Imin dalam unggahannya.
Anas mempertanyakan pilihan kata yang digunakan Cak Imin. Namun, responsnya disampaikan dengan nada yang relatif santai dan ditutup dengan pesan persahabatan. Anas tetap menyampaikan apresiasi terhadap Cak Imin sebagai seorang politisi, aktivis, dan pemimpin. Ia kemudian mengakhiri unggahannya dengan doa agar Cak Imin tetap sehat dan sukses.
Respons tersebut memperlihatkan bahwa polemik mengenai pernyataan Cak Imin tidak hanya mendapatkan perhatian dari kalangan internal NU, tetapi juga dari sejumlah tokoh yang memiliki latar belakang HMI.
Kritik terhadap NU Dinilai Tidak Boleh Berujung Konflik Organisasi
Gus Najmi mengingatkan agar perdebatan mengenai pernyataan Cak Imin tidak berkembang menjadi konflik identitas antara HMI dan PMII. Menurut dia, perbedaan pandangan mengenai kepemimpinan organisasi merupakan hal yang wajar. Namun, perbedaan tersebut tidak seharusnya dijadikan alasan untuk mempertentangkan organisasi kemahasiswaan.
Ia meminta masyarakat melihat persoalan secara lebih substansial, yakni mengenai kondisi dan arah kepemimpinan NU. “Jangan sampai narasi evaluasi kepemimpinan ini dipelintir menjadi adu domba antar-organisasi pergerakan,” kata Gus Najmi.
Ia menilai perbedaan analisis merupakan sesuatu yang sehat dalam kehidupan organisasi dan demokrasi. Namun, persatuan antarkelompok mahasiswa dan pemuda tetap harus dijaga.
Arief Rosyid Soroti Pernyataan Cak Imin
Di sisi lain, mantan Ketua Umum DPP HMI periode 2013-2015 M. Arief Rosyid Hasan juga memberikan respons terhadap pernyataan Cak Imin. Arief menegaskan bahwa NU bukan milik Cak Imin, HMI, PMII, maupun kelompok politik tertentu. Menurut dia, NU merupakan organisasi keagamaan dengan sejarah panjang serta kontribusi besar bagi bangsa Indonesia.
Arief tidak mempersoalkan kritik terhadap NU sebagai organisasi. Namun, ia mempertanyakan ketika identitas HMI ditempatkan sebagai salah satu alasan keterpurukan NU. Menurut Arief, apabila terdapat persoalan dalam tubuh NU, pembahasannya seharusnya diarahkan pada persoalan tersebut, bukan menjadikan identitas organisasi mahasiswa sebagai kambing hitam.
NU dan HMI Memiliki Sejarah Panjang
Polemik tersebut tidak dapat dilepaskan dari sejarah panjang hubungan berbagai organisasi kemahasiswaan dan organisasi keagamaan di Indonesia. HMI merupakan salah satu organisasi mahasiswa Islam terbesar di Indonesia. Sementara PMII memiliki hubungan historis yang sangat dekat dengan tradisi Nahdlatul Ulama.
Keduanya telah melahirkan banyak tokoh yang kemudian berkiprah di berbagai bidang, mulai dari politik, pemerintahan, akademik, bisnis hingga organisasi masyarakat. Karena itu, latar belakang seseorang dalam organisasi mahasiswa tidak serta-merta menentukan seluruh sikap, kapasitas, atau kinerja orang tersebut ketika telah menduduki posisi kepemimpinan.
Hal inilah yang menjadi salah satu dasar argumen PKB bahwa kritik terhadap seorang figur tidak seharusnya dipersepsikan sebagai serangan terhadap organisasi asal figur tersebut.
PKB: Cak Imin Bagian dari Tradisi NU
Gus Najmi juga menegaskan posisi Cak Imin sebagai bagian dari NU dan tradisi pesantren. Karena itu, menurut dia, kritik yang disampaikan Cak Imin seharusnya dipahami sebagai bentuk tanggung jawab moral untuk mendorong perbaikan di lingkungan NU.
“Gus Muhaimin adalah bagian tak terpisahkan dari NU dan tradisi pesantren. Kritik yang beliau lontarkan lahir dari rasa tanggung jawab moral untuk perbaikan rumahnya sendiri,” ujar Gus Najmi. Pernyataan tersebut sekaligus menjadi penjelasan PKB bahwa kritik Cak Imin bukan dimaksudkan untuk mempertentangkan kelompok-kelompok yang memiliki sejarah panjang dalam gerakan Islam dan kebangsaan.
Polemik Muncul di Tengah Muktamar NU ke-35
Pernyataan Cak Imin mengenai kondisi NU juga muncul ketika Muktamar NU ke-35 tengah berlangsung di Jombang. Muktamar menjadi momentum penting bagi NU untuk mengevaluasi perjalanan organisasi sekaligus menentukan kepemimpinan untuk periode mendatang.
Dalam konteks tersebut, kritik mengenai kondisi NU selama lima tahun terakhir menjadi bagian dari perdebatan yang lebih luas mengenai arah organisasi. PKB menilai evaluasi terhadap NU seharusnya menjadi ruang untuk mencari solusi, bukan menjadi pemicu pertentangan antara kelompok-kelompok yang memiliki latar belakang organisasi berbeda.
Pentingnya Memisahkan Kritik dan Identitas Organisasi
Polemik Cak Imin-HMI juga menunjukkan bagaimana pernyataan mengenai seorang tokoh dapat berkembang menjadi perdebatan mengenai identitas organisasi. Dalam kehidupan politik dan organisasi, seseorang dapat memiliki banyak identitas sekaligus: sebagai kader organisasi mahasiswa, tokoh politik, anggota organisasi masyarakat, akademisi, atau pemimpin.
Karena itu, penilaian terhadap kinerja seseorang idealnya didasarkan pada kebijakan, kapasitas, keputusan, dan hasil kepemimpinannya. Pandangan inilah yang ditekankan PKB dalam merespons polemik tersebut.
PKB Ajak Persatuan Tetap Dijaga
Gus Najmi mengajak seluruh pihak untuk tidak terjebak dalam pertentangan antarkelompok. Menurut dia, HMI dan PMII memiliki kontribusi masing-masing dalam perjalanan bangsa. Perbedaan latar belakang organisasi seharusnya tidak menjadi alasan untuk membangun konflik baru.
Ia juga mengingatkan agar pernyataan Cak Imin tidak dipelintir menjadi narasi yang mempertentangkan organisasi mahasiswa dan pemuda. “Perbedaan analisis itu sehat, namun persatuan gerakan mahasiswa dan pemuda harus tetap yang utama,” ujarnya.
Polemik Berlanjut, Substansi Kritik Jadi Perhatian
Pernyataan Cak Imin mengenai NU dan alumni HMI kini menjadi perbincangan luas. Di satu sisi, sejumlah pihak mempertanyakan penyebutan identitas HMI dalam kritik terhadap kondisi NU. Di sisi lain, PKB menegaskan bahwa substansi pernyataan tersebut adalah evaluasi terhadap kepemimpinan, bukan serangan terhadap HMI.
Perdebatan tersebut juga memperlihatkan pentingnya menjaga diskursus agar tetap berfokus pada substansi persoalan. Bagi PKB, kritik terhadap kepemimpinan NU merupakan bagian dari dinamika internal dan tidak semestinya diarahkan menjadi konflik antarkelompok.
Dengan demikian, PKB menegaskan bahwa pernyataan Cak Imin mengenai NU harus dipahami dalam konteks evaluasi kepemimpinan. Latar belakang HMI dari seorang tokoh disebut sebagai identitas personal, bukan alasan untuk menyerang HMI sebagai organisasi. PKB juga mengingatkan agar polemik tersebut tidak berkembang menjadi pertentangan antara HMI dan PMII, terutama ketika NU tengah menjalani momentum penting Muktamar ke-35.

Posting Komentar untuk " PKB: Kritik Cak Imin Terkait NU Bukan Serangan kepada HMI"