Tren 'Aura Farming' Mendunia, Jadi Kompetisi di Meksiko-Argentina
JAKARTA — Tren “aura farming” yang awalnya populer sebagai istilah di media sosial kini berkembang menjadi fenomena dunia nyata. Jika sebelumnya istilah tersebut hanya digunakan untuk menggambarkan seseorang yang terlihat keren, percaya diri, karismatik, atau memiliki “daya tarik” kuat, kini anak-anak muda mulai menjadikannya sebagai sebuah kompetisi.
Fenomena tersebut berkembang pesat di sejumlah negara Amerika Latin, terutama Meksiko dan Argentina. Para peserta berhadapan di ruang publik dan berusaha menunjukkan siapa yang memiliki “aura” paling kuat melalui pose, ekspresi, gerakan, gaya berpakaian, hingga kemampuan menggunakan referensi meme yang sedang viral. Fenomena serupa juga muncul di Brasil, Peru, Bolivia, Kosta Rika, Venezuela, Honduras, Ekuador, dan negara lainnya.
Menariknya, kompetisi ini tidak menggunakan aturan seperti olahraga konvensional. Tidak ada gol, catatan waktu, atau skor teknis yang baku. Reaksi penonton, kreativitas, kepercayaan diri, humor, dan kemampuan peserta membuat lawannya terlihat kalah menjadi faktor penting dalam menentukan pemenang.
Apa Itu “Aura Farming”?
Istilah aura farming berasal dari dua kata yang populer di internet. “Aura” dalam slang media sosial merujuk pada karisma, gaya, sikap, kepercayaan diri, atau kesan keren yang dipancarkan seseorang. Sementara “farming” diambil dari istilah dunia gim, yakni aktivitas berulang untuk mengumpulkan poin, sumber daya, atau keuntungan.
Jika digabungkan, “aura farming” dapat dipahami sebagai aktivitas yang dilakukan seseorang untuk mengumpulkan atau meningkatkan “poin aura” secara simbolis melalui penampilan, sikap, gestur, maupun tindakan yang dianggap keren atau menarik.
Di media sosial, seseorang dapat disebut memiliki “+1.000 aura” ketika melakukan sesuatu yang dianggap sangat keren. Sebaliknya, seseorang dapat kehilangan “aura” ketika melakukan sesuatu yang dianggap memalukan atau terlalu berusaha tampil keren. Konsep tersebut kemudian berkembang dari sekadar candaan di internet menjadi kompetisi secara langsung.
Dari TikTok ke Jalanan
Perkembangan aura farming menunjukkan bagaimana budaya internet dapat berpindah dengan cepat dari layar ponsel ke kehidupan sehari-hari. Video-video pendek di TikTok dan Instagram menjadi media utama penyebaran istilah tersebut. Anak-anak muda kemudian mulai meniru gaya, pose, meme, dan gerakan tertentu yang sudah dikenal luas di internet.
Pada tahap berikutnya, para pengguna media sosial tidak lagi hanya membuat video sendiri. Mereka mulai bertemu secara langsung dan membuat “battle” atau duel aura. Dalam kompetisi tersebut, dua peserta berdiri berhadapan di depan penonton. Masing-masing kemudian menunjukkan gaya terbaiknya. Mereka dapat menggunakan ekspresi wajah, gerakan tubuh, tarian, pose, maupun berbagai referensi budaya internet.
Penonton menjadi bagian penting karena sorakan dan respons mereka dapat menentukan siapa yang dianggap paling memiliki aura.
Kompetisi Aura Farming di Meksiko
Meksiko menjadi salah satu negara yang paling menonjol dalam perkembangan fenomena tersebut. Di Mexico City, kompetisi aura farming bahkan digelar di kawasan ikonik di depan Palacio de Bellas Artes. Para peserta yang sebagian besar merupakan remaja berhadapan di tengah kerumunan penonton.
Salah satu peserta, Carlos Irving Quintana yang masih berusia 14 tahun, mendapat perhatian setelah menampilkan selebrasi “Siuuu” yang identik dengan Cristiano Ronaldo. Ia kemudian mengombinasikannya dengan gerakan “mewing”, tren yang juga populer di TikTok.
Dalam pertandingan tersebut, lawannya membalas menggunakan gestur “6-7”, sebuah meme yang sudah dikenal luas di kalangan pengguna internet muda. Aksi tersebut menunjukkan bahwa kemenangan dalam aura battle bukan sekadar soal penampilan fisik. Peserta juga harus memahami bahasa meme dan budaya internet yang sedang berkembang. Semakin banyak referensi viral yang dapat dimasukkan ke dalam penampilan, semakin besar kemungkinan peserta mendapatkan reaksi positif dari penonton.
Ada Hadiah Uang
Kompetisi aura farming di Meksiko bahkan mulai menawarkan hadiah nyata. Dalam salah satu kompetisi di Mexico City, pemenang mendapatkan hadiah sebesar 3.000 peso Meksiko, atau sekitar US$177 berdasarkan laporan yang dikutip Euronews. Kaled Rosales Salazar menjadi salah satu pemenang yang menarik perhatian. Ia tampil dengan celana bergambar Lightning McQueen dari film Cars dan menggunakan sandal sebagai bagian dari aksinya.
Dalam salah satu duel, Kaled menggunakan sandal putih berukuran besar sebagai properti dan berpura-pura seperti sedang menangkap lawannya menggunakan laso. Aksi tersebut berhasil membuat penonton bereaksi dan akhirnya membawanya menjadi pemenang. Menariknya, hadiah tidak selalu berupa uang. Dalam beberapa kompetisi, kemenangan justru menghasilkan status simbolis seperti “infinite aura” atau “aura tak terbatas”.
Aura Farming Menyebar ke Argentina
Argentina juga menjadi salah satu pusat perkembangan aura battle. Di negara tersebut, anak-anak muda mulai menggelar kompetisi di ruang publik dengan format serupa. Peserta berhadapan dan berusaha mengalahkan lawannya melalui gaya, ekspresi, gestur, serta kemampuan membuat penonton terhibur.
Salah satu ciri khas kompetisi di Argentina adalah penghargaan simbolis berupa klaim memiliki “infinite aura”. Fenomena tersebut bahkan mendapat perhatian dari dunia sepak bola. Klub Argentina, Boca Juniors, ikut memanfaatkan istilah aura dalam unggahan media sosialnya dengan menampilkan gelandang Santiago Ascacibar dan bercanda mengenai “aura”-nya yang tidak terkalahkan.
Hal ini memperlihatkan bahwa istilah yang awalnya merupakan slang internet mulai masuk ke budaya populer yang lebih luas.
Tidak Hanya Meksiko dan Argentina
Walaupun Meksiko dan Argentina menjadi sorotan, aura farming sebenarnya telah menyebar jauh lebih luas. Kompetisi atau pertemuan serupa dilaporkan muncul di Brasil, Peru, Bolivia, Kosta Rika, Honduras, Venezuela, dan Ekuador. Fenomena tersebut bahkan mulai menjangkau Spanyol.
Di Morelia, Meksiko, misalnya, kompetisi aura farming digelar di ruang publik dan melibatkan anak muda yang berusaha menunjukkan kepercayaan diri, gestur, gaya, serta referensi meme mereka. Pemenang ditentukan berdasarkan reaksi penonton. Di beberapa tempat, kompetisi juga menawarkan hadiah berupa barang, kartu hadiah, perangkat audio, hingga hadiah uang.
Bagaimana Cara Menang?
Tidak ada standar internasional untuk menentukan siapa yang memiliki aura paling tinggi. Namun, sejumlah penyelenggara menyebut beberapa unsur yang biasanya diperhatikan, seperti:
- Kepercayaan diri
- Karismatik
- Gaya dan penampilan
- Kreativitas
- Kemampuan menghibur
- Gestur dan ekspresi
- Penguasaan meme internet
- Kemampuan membaca reaksi penonton
- Kemampuan tampil seolah-olah tidak berusaha terlalu keras
Aldhir Gonzalez, salah satu penyelenggara kompetisi di Mexico City, menjelaskan bahwa peserta yang terlihat lebih baik, mampu menunjukkan dirinya, membuat penonton tertawa, dan memiliki kepercayaan diri biasanya lebih berpeluang menang.
Dengan kata lain, paradoks terbesar dalam aura farming adalah semakin seseorang terlihat berusaha keras untuk terlihat keren, semakin besar kemungkinan auranya justru dianggap berkurang.
Meme Menjadi Bahasa Kompetisi
Salah satu aspek paling menarik dari aura battle adalah penggunaan meme sebagai bahasa bersama. Gerakan “Siuuu” Cristiano Ronaldo, “mewing”, gestur “6-7”, tarian viral, karakter film, hingga gaya yang hanya populer di komunitas internet tertentu dapat menjadi senjata dalam sebuah duel.
Peserta yang menguasai lebih banyak referensi internet memiliki keuntungan tersendiri karena dapat membuat penonton langsung memahami konteks aksinya. Karena itu, aura farming bukan hanya kompetisi fisik. Ada unsur literasi budaya digital di dalamnya. Peserta harus mengetahui apa yang sedang viral, memahami konteks sebuah meme, dan mengetahui bagaimana menggunakannya pada momen yang tepat.
Mengapa Anak Muda Menyukainya?
Fenomena ini menjadi menarik karena terjadi ketika generasi muda semakin sering berinteraksi melalui layar. Aura farming justru membawa budaya internet ke ruang publik. Anak-anak muda yang biasanya berkomunikasi melalui TikTok, Instagram, atau platform lainnya bertemu secara langsung untuk melakukan sesuatu yang mereka anggap menyenangkan.
Psikolog Venezuela Maria Eugenia Tovar melihat sisi positif dari fenomena tersebut. Menurutnya, pertemuan seperti ini dapat mendorong interaksi langsung antarremaja, terutama bagi generasi yang terbiasa berkomunikasi melalui media sosial. Dengan demikian, aura battle dapat dilihat bukan hanya sebagai tren aneh di internet, tetapi juga sebagai salah satu bentuk baru interaksi sosial generasi muda.
Dari Indonesia ke Dunia
Ada satu nama dari Indonesia yang tidak bisa dilepaskan dari pembahasan mengenai popularitas global istilah aura farming, yakni Rayyan Arkan Dikha. Bocah asal Indonesia tersebut menjadi viral setelah tampil di bagian depan perahu dalam tradisi Pacu Jalur di Riau. Gerakan tari dan gaya percaya dirinya saat berada di atas perahu membuatnya menjadi fenomena di media sosial internasional.
Aksi Rayyan kemudian sering dikaitkan dengan istilah “aura farming” karena dianggap menunjukkan karisma dan ketenangan yang luar biasa meski berada di atas perahu yang melaju dalam perlombaan. Popularitasnya ikut membantu membawa istilah aura farming kepada audiens yang lebih luas di luar komunitas internet tertentu.
Rayyan kemudian mendapatkan perhatian pemerintah daerah dan disebut sebagai salah satu figur budaya dan pariwisata dari Riau.
Fenomena Ini Juga Mengundang Kritik
Tidak semua orang menganggap aura farming sebagai sesuatu yang positif. Sebagian kalangan dewasa menganggap kompetisi tersebut sebagai bentuk hiburan yang tidak memiliki tujuan jelas. Ada pula yang mengkritiknya sebagai contoh budaya internet yang semakin jauh dari aktivitas tradisional.
Di Honduras, fenomena tersebut bahkan mendapat respons keras dari seorang wali kota yang mengkritik kompetisi aura dan mengaitkannya dengan perlunya menghidupkan kembali wajib militer. Kritik tersebut menunjukkan adanya kesenjangan budaya antara generasi muda yang memahami bahasa meme dengan generasi yang tidak tumbuh bersama TikTok dan media sosial. Bagi peserta, gerakan yang terlihat aneh bagi orang dewasa justru memiliki konteks yang sangat jelas.
Bukan Sekadar Mencari Popularitas
Meski berasal dari media sosial, aura farming tidak selalu bertujuan mendapatkan uang atau popularitas. Kaled Rosales Salazar, salah satu pemenang kompetisi di Mexico City, mengaku mengikuti pertandingan lebih karena ingin bersenang-senang dan keluar rumah daripada sekadar mengejar hadiah.
Hal tersebut menjadi salah satu alasan mengapa fenomena ini berkembang begitu cepat. Kompetisi aura tidak membutuhkan lapangan khusus, peralatan mahal, atau kemampuan olahraga tertentu. Selama ada ruang, peserta dan penonton, sebuah aura battle dapat digelar.
Berpotensi Menjadi Budaya Populer Baru
Perjalanan aura farming dari meme internet menjadi kompetisi jalanan menunjukkan perubahan besar dalam cara tren budaya berkembang. Sebuah istilah dapat muncul di media sosial, menjadi meme, ditiru pengguna lain, kemudian berubah menjadi aktivitas fisik dan akhirnya membentuk komunitas.
Perkembangan tersebut juga menunjukkan bahwa budaya digital tidak selalu membuat anak muda semakin terisolasi di depan layar. Dalam kasus aura farming, justru internet menjadi pemicu bagi mereka untuk berkumpul secara langsung.
Di sisi lain, keberadaan kamera ponsel tetap menjadi bagian penting. Hampir setiap pertandingan direkam dan diunggah kembali ke media sosial sehingga menciptakan siklus baru: kompetisi nyata menghasilkan video, video menjadi viral, dan viralitas melahirkan kompetisi baru.
Aura Farming Diprediksi Terus Berkembang
Dengan penyebaran yang sudah mencapai berbagai negara Amerika Latin dan mulai muncul di Eropa, aura farming berpotensi menjadi salah satu fenomena budaya internet terbesar di kalangan anak muda pada 2026. Namun, masa depan tren ini masih bergantung pada kemampuan komunitasnya mempertahankan unsur spontanitas dan kesenangan.
Jika terlalu dikomersialkan, aura farming bisa kehilangan karakter awalnya sebagai permainan dan ekspresi kreatif anak muda. Sebaliknya, jika tetap berkembang secara organik, kompetisi ini berpotensi menciptakan format hiburan baru yang menggabungkan meme, performa, komunitas, dan budaya jalanan.
Pada akhirnya, aura farming mungkin terlihat sederhana: dua orang berdiri berhadapan dan mencoba terlihat paling keren. Tetapi di balik kesederhanaan tersebut terdapat gambaran menarik mengenai bagaimana generasi muda membangun bahasa budaya mereka sendiri—bahasa yang lahir dari internet, kemudian keluar dari layar dan memenuhi ruang publik.

Posting Komentar untuk " Tren 'Aura Farming' Mendunia, Jadi Kompetisi di Meksiko-Argentina"