Zulhas Sebut Program PSEL Baru Sasar 22 Persen Masalah Sampah RI

Jakarta – Pemerintah terus mempercepat pembangunan Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) sebagai salah satu solusi mengatasi persoalan sampah nasional. Namun, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) mengakui bahwa program PSEL yang tengah dikembangkan belum mampu menyelesaikan seluruh masalah sampah di Indonesia.

Zulhas menyebut kapasitas PSEL yang akan dibangun di berbagai daerah diperkirakan baru dapat menangani sekitar 22 persen timbulan sampah nasional. Karena itu, pemerintah menyiapkan teknologi lain sebagai pelengkap agar penanganan sampah dapat dilakukan secara lebih menyeluruh.

Pemerintah Targetkan 13 Lokasi PSEL

Zulhas menjelaskan, implementasi Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 telah mempercepat pembangunan fasilitas PSEL di sejumlah wilayah Indonesia. Dalam waktu dekat, Indonesia ditargetkan memiliki 13 lokasi PSEL. Salah satu proyek yang menjadi perhatian adalah fasilitas PSEL di Kota Palembang yang ditargetkan mulai beroperasi pada Oktober 2026.

Pembangunan PSEL tersebut diharapkan menjadi bagian penting dari transformasi pengelolaan sampah di Indonesia, terutama di daerah yang menghadapi persoalan timbulan sampah dan keterbatasan kapasitas tempat pemrosesan akhir. Meski demikian, Zulhas mengingatkan bahwa keberadaan fasilitas PSEL tersebut belum cukup untuk menyelesaikan persoalan sampah secara nasional.

Baru Mampu Tangani 22 Persen

Menurut Zulhas, apabila seluruh fasilitas PSEL yang direncanakan terealisasi, kapasitasnya baru akan menangani sekitar 22 persen timbulan sampah nasional. Artinya, masih terdapat bagian terbesar persoalan sampah yang harus ditangani dengan metode lain.

Sebelumnya, ketika pemerintah meluncurkan pembangunan PSEL pertama di Pesanggaran, Denpasar, Bali, Zulhas mengatakan Indonesia ditargetkan memiliki 24 fasilitas PSEL dalam dua tahun. Namun, ia memperkirakan jaringan fasilitas tersebut baru mampu menyelesaikan sekitar 22 persen persoalan sampah nasional.

“Tapi ini akan menyelesaikan baru 22 persen, masih ada 77 persen lagi. Itu dengan berbagai teknologi,” ujar Zulhas dalam kesempatan tersebut. Pernyataan itu menunjukkan bahwa PSEL diposisikan pemerintah sebagai salah satu bagian dari strategi besar pengelolaan sampah, bukan sebagai satu-satunya solusi.

Teknologi Pirolisis Jadi Pelengkap

Untuk menangani sampah yang belum dapat diproses melalui PSEL, pemerintah kini mendorong penggunaan teknologi pirolisis. Zulhas mengatakan persoalan sampah tidak dapat lagi diselesaikan hanya dengan cara-cara konvensional. Intervensi teknologi diperlukan agar pengelolaan sampah dapat dilakukan lebih cepat sekaligus menghasilkan nilai tambah.

Teknologi pirolisis dapat digunakan untuk mengolah sampah yang telah menumpuk di tempat pemrosesan akhir atau TPA. Dalam skema yang tengah didorong pemerintah, sampah tersebut dapat diproses menjadi sumber energi atau bahan bakar terbarukan.

Pemerintah memperkirakan penerapan pirolisis secara luas berpotensi menangani sekitar 20 persen persoalan sampah nasional. Dengan demikian, teknologi ini diharapkan dapat melengkapi kapasitas PSEL yang diperkirakan menangani sekitar 22 persen timbulan sampah.

Lima Wilayah Jadi Proyek Percontohan Pirolisis

Pengembangan teknologi pirolisis tidak hanya dilakukan secara konseptual. Pemerintah juga mendorong proyek percontohan di sejumlah wilayah. Kolaborasi pengembangan teknologi tersebut dilakukan bersama TNI Angkatan Darat dan pemerintah daerah, dengan lima wilayah yang menjadi lokasi proyek percontohan, yakni:

  • Kota Bogor
  • Kabupaten Bogor
  • Kota Semarang
  • Kota Bekasi
  • DKI Jakarta

Proyek tersebut diarahkan untuk menguji penerapan teknologi pirolisis dalam mengolah sampah yang sudah menumpuk di TPA sekaligus menghasilkan produk energi.

PSEL Pertama Dibangun di Bali

Salah satu tonggak penting program pemerintah adalah pembangunan PSEL di Pesanggaran, Denpasar, Bali. Pembangunan fasilitas tersebut resmi dimulai pada 8 Juli 2026 dan menjadi proyek PSEL pertama yang dibangun dalam rangka percepatan program pemerintah. Saat peluncuran proyek, Zulhas menyebut persoalan sampah di sejumlah wilayah sudah berada dalam kondisi darurat sehingga membutuhkan solusi teknologi yang lebih maju.

Setelah proyek Bali, pemerintah menyatakan akan melanjutkan pembangunan PSEL di delapan lokasi lainnya. Dalam jangka lebih panjang, targetnya adalah membangun 24 fasilitas PSEL dalam dua tahun. Pemerintah berharap proyek PSEL Bali dapat rampung pada akhir 2027 sehingga dapat segera digunakan untuk mengurangi beban pengelolaan sampah di wilayah tersebut.

Mengapa PSEL Tidak Bisa Menjadi Satu-satunya Solusi?

Persoalan sampah Indonesia memiliki karakter yang sangat kompleks. Timbulan sampah berasal dari rumah tangga, kawasan komersial, industri, pasar hingga berbagai aktivitas masyarakat. Karena itu, pemerintah menilai penanganannya membutuhkan kombinasi teknologi dan kebijakan.

PSEL memiliki fungsi untuk mengolah sampah menjadi energi listrik, tetapi kapasitasnya tetap bergantung pada jumlah fasilitas, teknologi yang digunakan, pasokan sampah, sistem pengangkutan serta kesiapan infrastruktur pendukung.

Dengan proyeksi kontribusi sekitar 22 persen, pemerintah harus mencari metode lain untuk menangani sisa timbulan sampah. Di sinilah pirolisis, pengurangan sampah dari sumber, pemilahan, daur ulang, pengomposan, hingga pengelolaan TPA menjadi bagian penting dari strategi yang lebih luas.

Sampah Diharapkan Jadi Sumber Energi

Zulhas menekankan bahwa pemerintah tidak ingin persoalan sampah hanya dipandang sebagai masalah lingkungan. Sampah juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi dan memiliki nilai ekonomi apabila dikelola dengan teknologi yang tepat.

Melalui PSEL, sampah dapat diproses untuk menghasilkan listrik. Sementara melalui pirolisis, pemerintah mengembangkan metode yang dapat mengubah sampah tertentu menjadi produk energi dan bahan bakar terbarukan.

Pemerintah berharap pendekatan tersebut dapat mengubah paradigma pengelolaan sampah dari sekadar membuang dan menimbun menjadi mengolah dan memanfaatkan. “Persoalan sampah tidak bisa lagi ditangani dengan cara biasa. Kita membutuhkan percepatan melalui intervensi teknologi,” kata Zulhas.

Pemerintah Ingin Kurangi Ketergantungan pada TPA

Pengembangan PSEL dan pirolisis juga berkaitan dengan persoalan kapasitas TPA di berbagai daerah. Sejumlah tempat pembuangan akhir menghadapi persoalan kelebihan kapasitas, sementara praktik open dumping masih menjadi tantangan di sejumlah wilayah.

Pemerintah menargetkan penanganan sampah tidak lagi mengandalkan pola lama yang membuat sampah terus menumpuk di TPA. Teknologi pengolahan menjadi energi diharapkan dapat mengurangi volume sampah yang harus dibawa dan ditimbun di TPA.

Dengan demikian, pembangunan PSEL dan teknologi pirolisis bukan hanya ditujukan untuk menghasilkan energi, tetapi juga untuk memperpanjang usia fasilitas pengolahan akhir dan mengurangi risiko lingkungan.

Ada Tantangan Besar di Lapangan

Meski pemerintah optimistis, implementasi program tersebut tetap menghadapi berbagai tantangan. Pembangunan fasilitas pengolahan sampah membutuhkan investasi besar, lahan, teknologi, jaringan pengangkutan sampah, pasokan sampah yang konsisten serta sumber daya manusia yang mampu mengoperasikan fasilitas.

Selain itu, pemilahan sampah dari sumber juga menjadi faktor penting. Sampah yang tercampur dapat meningkatkan kompleksitas proses pengolahan. Karena itu, pembangunan fasilitas PSEL maupun pirolisis perlu berjalan beriringan dengan perubahan perilaku masyarakat dalam memilah sampah dari rumah.

Target Penyelesaian Sampah Lebih Luas

Pemerintah tidak menempatkan angka 22 persen sebagai target akhir. Angka tersebut merupakan perkiraan kontribusi dari fasilitas PSEL yang akan dibangun. Untuk menyelesaikan persoalan yang tersisa, pemerintah akan menggabungkan berbagai metode pengolahan sampah.

Sebelumnya Zulhas juga menyampaikan optimisme bahwa apabila pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat, dan berbagai elemen lainnya bekerja bersama, persoalan sampah dapat ditangani dalam skala yang jauh lebih besar. Di Jawa Barat, misalnya, ia menyebut target penyelesaian persoalan sampah hingga 80 persen pada 2029 dapat dicapai melalui kerja bersama.

PSEL, Pirolisis, dan Ekonomi Sirkular

Program pemerintah tersebut pada akhirnya diarahkan menuju sistem pengelolaan sampah yang lebih terintegrasi. Sampah yang sebelumnya hanya dianggap sebagai limbah diharapkan dapat menjadi bahan baku untuk menghasilkan energi atau produk bernilai ekonomi.

PSEL berperan dalam mengolah sampah menjadi listrik, sedangkan teknologi pirolisis dapat digunakan sebagai metode tambahan untuk jenis sampah tertentu, termasuk sampah yang telah menumpuk. Di sisi lain, masyarakat tetap memiliki peran penting melalui pengurangan sampah, pemilahan dari sumber, penggunaan kembali barang, dan daur ulang. Dengan kombinasi tersebut, pemerintah berharap persoalan sampah tidak hanya berkurang dari sisi volume, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi dan energi bagi masyarakat.

Posting Komentar untuk " Zulhas Sebut Program PSEL Baru Sasar 22 Persen Masalah Sampah RI"