5 Kebiasaan Era 90-an Ini Tak Boleh Diwariskan ke Gen Alpha

Generasi yang tumbuh pada era 1990-an mungkin punya banyak kenangan sederhana yang kini terasa nostalgis. Bermain di luar sampai sore, menonton televisi bersama keluarga, membeli jajanan di warung, hingga menghabiskan waktu tanpa telepon pintar menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Namun, tidak semua kebiasaan masa lalu layak diwariskan kepada generasi berikutnya. Gen Alpha, yang umumnya merujuk pada anak-anak yang lahir sejak awal 2010-an hingga pertengahan 2020-an, tumbuh dalam lingkungan yang sangat berbeda. Mereka berhadapan dengan internet, media sosial, kecerdasan buatan (AI), perangkat digital, serta informasi yang bergerak jauh lebih cepat.

Karena itu, nostalgia terhadap era 90-an sebaiknya tidak membuat orang dewasa menganggap seluruh kebiasaan masa tersebut otomatis baik untuk diterapkan kembali. Berikut lima kebiasaan era 90-an yang sebaiknya tidak diwariskan begitu saja kepada Gen Alpha.

1. Menganggap Anak Harus Selalu Menuruti Orang Dewasa

Pola pengasuhan pada masa lalu sering menempatkan orang dewasa sebagai pihak yang selalu benar. Anak diharapkan menurut tanpa banyak bertanya. Kalimat seperti "jangan membantah orang tua" atau "anak tidak boleh ikut campur urusan orang dewasa" cukup umum ditemukan dalam pola pendidikan generasi sebelumnya.

Mengajarkan rasa hormat tentu tetap penting. Namun, rasa hormat berbeda dengan kepatuhan tanpa batas. Anak perlu mengetahui bahwa mereka boleh bertanya, menyampaikan ketidaksetujuan dengan sopan, dan membicarakan sesuatu yang membuat mereka merasa tidak nyaman.

Bagi Gen Alpha, kemampuan berkomunikasi dan berpikir kritis justru semakin penting karena mereka tumbuh di tengah banjir informasi. Orang tua dapat mengajarkan bahwa keputusan orang dewasa perlu dihormati, tetapi bukan berarti anak tidak boleh meminta penjelasan atau mengemukakan pendapat.

2. Menganggap Membentak atau Memukul sebagai Cara Mendidik

Kekerasan fisik maupun verbal pada anak dahulu sering dianggap sebagai bagian dari disiplin. Sebagian orang bahkan tumbuh dengan pengalaman dimarahi, dibentak, dipukul, atau dipermalukan ketika melakukan kesalahan.

Pengalaman tersebut kemudian terkadang dianggap sebagai alasan bahwa metode serupa harus diterapkan kepada anak generasi berikutnya. Padahal, disiplin tidak harus identik dengan hukuman fisik atau penghinaan. Anak perlu memahami konsekuensi dari perilakunya, tetapi konsekuensi tersebut dapat diberikan melalui aturan yang jelas, dialog, pembatasan hak tertentu secara proporsional, serta contoh perilaku dari orang dewasa. Membuat anak takut kepada orang tua juga berbeda dengan mengajarkan anak menghormati aturan.

3. Menganggap Masalah Kesehatan Mental sebagai Hal Sepele

Pada era 90-an, istilah seperti kesehatan mental, burnout, kecemasan, atau emotional regulation belum menjadi bagian dari percakapan sehari-hari seperti sekarang. Akibatnya, seseorang yang sedang mengalami masalah emosional terkadang hanya diminta untuk "jangan dipikirkan", "jangan cengeng", atau "harus kuat".

Kebiasaan tersebut tidak seharusnya diteruskan kepada Gen Alpha. Anak perlu mengetahui bahwa merasa sedih, kecewa, takut, marah, atau cemas merupakan bagian dari pengalaman manusia. Yang penting adalah membantu mereka mengenali emosi tersebut dan mencari cara yang sehat untuk mengelolanya. Orang tua juga perlu memperhatikan perubahan perilaku anak yang berlangsung lama dan mengganggu kehidupan sehari-hari.

Mengajarkan anak berbicara tentang perasaannya bukan berarti membuat anak menjadi lemah. Justru, kemampuan mengenali dan mengomunikasikan emosi merupakan bagian penting dari perkembangan sosial dan emosional.

4. Membiarkan Anak Mengakses Informasi Tanpa Pendampingan

Generasi 90-an tumbuh ketika akses informasi masih relatif terbatas. Untuk mencari informasi, anak harus membaca buku, bertanya kepada guru, pergi ke perpustakaan, atau menunggu acara tertentu di televisi. Gen Alpha menghadapi situasi yang sangat berbeda.

Dalam hitungan detik, anak dapat menemukan jutaan informasi melalui internet. Mereka juga dapat berinteraksi dengan orang asing, menemukan konten yang tidak sesuai usia, dan menggunakan teknologi AI untuk mencari jawaban. Karena itu, kebiasaan "biarkan anak mencari tahu sendiri" tidak bisa diterapkan dengan cara yang sama.

Anak membutuhkan literasi digital. Orang tua perlu mengajarkan cara membedakan fakta dan opini, mengenali penipuan daring, menjaga data pribadi, memahami jejak digital, serta bersikap kritis terhadap informasi yang muncul di layar.

Bukan berarti semua aktivitas digital anak harus diawasi secara berlebihan. Pendekatan yang lebih penting adalah membangun kebiasaan menggunakan teknologi secara aman dan bertanggung jawab.

5. Menganggap Anak Harus Mengikuti Jalur Hidup yang Sama

Generasi sebelumnya sering mengenal pola hidup yang relatif linear: sekolah, kuliah atau bekerja, kemudian menikah, memiliki rumah, dan membangun keluarga. Bagi sebagian orang, pola tersebut memang tetap menjadi pilihan. Namun, dunia yang dihadapi Gen Alpha kemungkinan jauh lebih fleksibel.

Perkembangan teknologi, otomatisasi, AI, ekonomi kreator, pekerjaan jarak jauh, dan perubahan jenis pekerjaan membuat pilihan pendidikan dan karier menjadi semakin beragam. Karena itu, orang tua sebaiknya tidak memaksakan standar kesuksesan yang hanya didasarkan pada pengalaman mereka sendiri.

Anak perlu diberi kesempatan mengenali minat, kemampuan, serta nilai-nilai yang ingin mereka bangun. Tugas orang tua bukan menentukan seluruh masa depan anak, melainkan membantu anak mempersiapkan diri untuk mengambil keputusan secara bertanggung jawab.

Nostalgia Boleh, Polanya Perlu Disesuaikan

Bukan berarti seluruh kebiasaan era 90-an buruk. Justru ada banyak hal positif dari masa tersebut yang tetap relevan. Anak-anak dahulu lebih sering bermain di luar rumah, berinteraksi langsung dengan teman, memiliki waktu tanpa layar, dan belajar menyelesaikan konflik secara tatap muka.

Kebiasaan-kebiasaan tersebut dapat menjadi inspirasi bagi pola pengasuhan modern. Yang perlu dihindari adalah mengambil kebiasaan lama tanpa mempertimbangkan perubahan zaman. Misalnya, bermain di luar tentu tetap baik, tetapi anak juga perlu memahami keamanan ketika berada di ruang publik. Demikian pula dengan kemandirian. Anak dapat diajarkan mandiri tanpa harus dibiarkan menghadapi masalah besar seorang diri.

Gen Alpha Membutuhkan Keseimbangan

Tantangan pengasuhan Gen Alpha bukan memilih antara cara lama atau cara baru. Yang lebih penting adalah mengambil nilai positif dari masa lalu sekaligus meninggalkan pola yang berpotensi merugikan anak. Nilai seperti sopan santun, kerja keras, tanggung jawab, kemandirian, kepedulian terhadap keluarga, dan kemampuan bersosialisasi tetap relevan.

Namun, nilai tersebut dapat diajarkan dengan metode yang lebih sesuai dengan perkembangan psikologis dan lingkungan anak saat ini. Misalnya, disiplin dapat dibangun melalui aturan yang konsisten, bukan ketakutan. Kemandirian dapat dibangun melalui pemberian tanggung jawab yang sesuai usia, bukan dengan membiarkan anak menghadapi semuanya sendirian.

Orang Tua Juga Perlu Beradaptasi

Perubahan generasi tidak hanya menuntut anak untuk belajar. Orang tua juga perlu beradaptasi. Anak Gen Alpha mungkin mengetahui teknologi tertentu lebih cepat dibandingkan orang tuanya. Dalam situasi tersebut, orang tua tidak harus selalu menjadi pihak yang paling tahu.

Orang tua dapat menjadi pendamping yang membantu anak memahami bagaimana teknologi digunakan dengan aman. Dialog dua arah juga dapat membuat anak lebih terbuka ketika menghadapi masalah. Ketika anak mengetahui bahwa kesalahan dapat dibicarakan tanpa langsung mendapatkan hukuman atau penghinaan, mereka cenderung memiliki ruang lebih aman untuk meminta bantuan.

Jangan Jadikan Masa Lalu sebagai Satu-Satunya Standar

Salah satu kesalahan yang sering terjadi dalam membicarakan generasi adalah membandingkan masa kecil sekarang dengan masa kecil dahulu. "Zaman dulu juga begitu dan baik-baik saja" bukan selalu ukuran yang tepat. Setiap generasi tumbuh dalam kondisi berbeda. Anak era 90-an menghadapi persoalan yang berbeda dengan anak Gen Alpha. Begitu pula tantangan yang akan dihadapi Gen Alpha saat dewasa kemungkinan berbeda dari generasi sebelumnya. Karena itu, pengalaman masa lalu sebaiknya digunakan sebagai pembelajaran, bukan sebagai aturan mutlak.

Kesimpulan

Ada banyak kenangan positif dari era 90-an yang layak dipertahankan, tetapi tidak semua kebiasaan masa tersebut cocok diwariskan kepada Gen Alpha. Lima kebiasaan yang perlu ditinggalkan atau setidaknya disesuaikan adalah mengharuskan anak selalu patuh tanpa bertanya, menggunakan kekerasan sebagai disiplin, menganggap masalah emosional sebagai hal sepele, membiarkan anak mengakses informasi digital tanpa pendampingan, serta memaksakan satu standar kesuksesan kepada anak.

Pada akhirnya, pengasuhan yang baik bukan tentang menjadi seperti orang tua pada masa lalu atau sepenuhnya mengikuti tren terbaru. Yang lebih penting adalah memahami kebutuhan anak, perkembangan zaman, dan memberikan batasan sekaligus ruang untuk tumbuh. Nostalgia era 90-an boleh tetap hidup. Namun, ketika berbicara tentang mendidik Gen Alpha, yang diwariskan sebaiknya adalah nilai baiknya, bukan seluruh kebiasaannya.

Posting Komentar untuk " 5 Kebiasaan Era 90-an Ini Tak Boleh Diwariskan ke Gen Alpha"