BPH Migas Sebut Stok Pertalite Makassar Aman hingga 14 Hari
Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) memastikan stok bahan bakar minyak (BBM), khususnya Pertalite, di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, dalam kondisi aman. Kepastian tersebut disampaikan di tengah antrean panjang kendaraan di sejumlah SPBU yang terjadi selama sepekan terakhir.
Kepala BPH Migas Wahyudi Anas mengatakan ketersediaan BBM di Makassar dan wilayah Sulawesi Selatan secara umum tetap terkendali. Berdasarkan evaluasi terbaru, persediaan BBM berada pada level yang mampu memenuhi kebutuhan masyarakat hingga beberapa hari ke depan.
Stok Pertalite Aman 8-14 Hari
Wahyudi menjelaskan penguatan stok telah dilakukan sebagai salah satu langkah merespons antrean panjang yang terjadi di sejumlah SPBU. Saat ini, rata-rata stok BBM yang tersedia diperkirakan mampu memenuhi kebutuhan antara delapan hingga 14 hari, tergantung tingkat konsumsi. Untuk sejumlah jenis BBM, stok tersimpan berada di kisaran tujuh hingga 12 hari dan pasokannya terus dijaga.
"Rata-rata pemakaian terendah antara delapan hari sampai 14 hari," ujar Wahyudi saat meninjau salah satu SPBU di Makassar. Dengan kondisi tersebut, BPH Migas menegaskan antrean panjang yang terjadi tidak serta-merta menunjukkan adanya kelangkaan atau habisnya stok Pertalite.
Pasokan dari Kilang Terus Berjalan
Selain memperkuat stok yang sudah berada di fasilitas penyimpanan, distribusi BBM ke Makassar juga terus dilakukan secara terjadwal. BPH Migas menyebut pengiriman melalui kapal dilakukan secara kontinu. Pasokan berasal antara lain dari kilang di Tuban, Jawa Timur, serta Balikpapan, Kalimantan Timur.
Pengiriman tersebut dijadwalkan secara berkala setiap dua hingga tiga hari untuk memastikan ketersediaan BBM tetap terjaga. Langkah ini juga dilakukan untuk mengantisipasi peningkatan konsumsi di tengah tingginya permintaan masyarakat.
Antrean Panjang Bukan karena Stok Habis
Fenomena antrean panjang di Makassar menjadi perhatian karena terjadi di banyak SPBU, bahkan kendaraan mengular hingga ke jalan raya. BPH Migas sebelumnya menjelaskan bahwa salah satu pemicu utama kondisi tersebut adalah pergeseran konsumsi masyarakat setelah terjadi kenaikan harga BBM nonsubsidi. Sebagian konsumen yang sebelumnya menggunakan Pertamax dan produk nonsubsidi lainnya beralih ke BBM subsidi, terutama Pertalite.
Kenaikan permintaan itu membuat tekanan terhadap fasilitas pelayanan SPBU meningkat. Dengan kata lain, persoalan yang terjadi bukan semata-mata ketersediaan BBM di terminal atau tangki penyimpanan, melainkan tingginya permintaan dalam waktu bersamaan dan kapasitas pelayanan di lapangan.
Konsumsi Pertalite Meningkat
BPH Migas mencatat konsumsi Pertalite mengalami peningkatan setelah harga BBM nonsubsidi naik. Secara nasional, kenaikan permintaan Pertalite disebut telah mencapai sekitar 11 persen. Pergeseran konsumsi tersebut turut berkontribusi terhadap meningkatnya kepadatan di SPBU, termasuk di Sulawesi Selatan.
Kondisi ini kemudian membuat sejumlah SPBU tidak mampu melayani lonjakan kendaraan secepat biasanya. Antrean pun semakin panjang meskipun pasokan BBM secara keseluruhan masih tersedia.
BPH Migas dan Pertamina Perkuat Distribusi
Untuk mengurai antrean, BPH Migas bersama Pertamina melakukan sejumlah penyesuaian distribusi. Pasokan BBM ke Makassar diperkuat, sementara armada pengangkut dan jam pelayanan SPBU turut ditingkatkan. Jumlah SPBU yang beroperasi selama 24 jam di Makassar dilaporkan ditambah dari 11 menjadi 25 titik. Penambahan operator dan nosel juga dilakukan untuk mempercepat proses pengisian kendaraan.
Selain itu, armada distribusi juga diperkuat. Langkah tersebut diharapkan dapat memperpendek waktu tunggu konsumen dan mencegah antrean kembali mengular hingga mengganggu lalu lintas.
Sistem Ganjil-Genap Ikut Diterapkan
Pemerintah daerah bersama pihak terkait juga mengambil langkah pengaturan pembelian BBM subsidi melalui sistem ganjil-genap. Kebijakan tersebut diberlakukan untuk membantu mengendalikan kepadatan kendaraan di SPBU sekaligus memastikan penyaluran BBM subsidi berjalan lebih tertib. Langkah ini menjadi bagian dari upaya mengatasi lonjakan permintaan yang terjadi secara bersamaan di banyak titik pengisian BBM di Makassar.
Masyarakat Diminta Tidak Panic Buying
Dengan adanya kepastian stok hingga 14 hari dan suplai yang terus berjalan, masyarakat diimbau tidak melakukan pembelian BBM secara berlebihan. Panic buying justru berpotensi memperparah antrean karena membuat permintaan meningkat dalam waktu singkat. BPH Migas menekankan pentingnya menjaga pola konsumsi sesuai kebutuhan.
Pemerintah juga terus melakukan pengawasan agar BBM subsidi benar-benar diterima oleh masyarakat yang berhak serta mencegah praktik penyalahgunaan dalam distribusinya.
Antrean Diharapkan Segera Terurai
BPH Migas menegaskan kondisi stok Pertalite di Makassar saat ini aman dan distribusi terus dipantau. Pengiriman dari berbagai sumber pasokan akan dijaga secara berkelanjutan agar tidak terjadi kekosongan di SPBU.
Dengan tambahan pasokan, peningkatan armada distribusi, penambahan SPBU 24 jam, serta pengaturan pembelian melalui sistem ganjil-genap, antrean panjang diharapkan berangsur-angsur terurai. Situasi di Makassar menunjukkan bahwa ketersediaan stok BBM di tingkat penyimpanan tidak selalu berbanding lurus dengan kelancaran pelayanan di SPBU. Lonjakan konsumsi dalam waktu singkat dapat tetap menyebabkan antrean panjang apabila kapasitas fasilitas pengisian tidak mampu mengimbangi permintaan.
Karena itu, pemerintah bersama Pertamina dan BPH Migas tidak hanya perlu memastikan stok Pertalite tetap tersedia, tetapi juga menjaga kelancaran distribusi dan meningkatkan kapasitas pelayanan di SPBU agar masyarakat tidak kembali menghadapi antrean panjang.

Posting Komentar untuk "BPH Migas Sebut Stok Pertalite Makassar Aman hingga 14 Hari"