Daftar Wilayah Sumatera, Banten, Jabar-Jateng Terancam Kekeringan

Jakarta – Sejumlah wilayah di Sumatera hingga Pulau Jawa masih menghadapi ancaman kekeringan seiring puncak musim kemarau 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai berkurangnya curah hujan, hari tanpa hujan yang panjang, serta meningkatnya kebutuhan air.

Peringatan ini menjadi perhatian karena September merupakan salah satu periode puncak musim kemarau di Indonesia. BMKG sebelumnya memprediksi puncak musim kemarau 2026 berlangsung pada Juli-September, dengan sebagian besar wilayah mengalami puncaknya pada Agustus.

Dalam pemutakhiran kondisi cuaca pada September, BMKG juga mencatat curah hujan rendah masih dominan di sejumlah wilayah. Pada Dasarian I-III September, curah hujan di Indonesia umumnya diprediksi berada pada kategori rendah hingga menengah, dengan curah hujan kurang dari 50 mm per dasarian berpotensi mendominasi Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan sebagian Papua.

Sumatera Bagian Selatan Jadi Salah Satu Wilayah yang Perlu Diwaspadai

Sumatera menjadi salah satu kawasan yang masih perlu mewaspadai kondisi kering, khususnya wilayah bagian selatan. BMKG mencatat curah hujan rendah diprediksi dominan di Sumatera bagian selatan. Wilayah seperti Sumatera Selatan, Jambi, Lampung hingga Kepulauan Bangka Belitung sebelumnya juga masuk dalam wilayah yang menghadapi risiko kekeringan meteorologis selama periode kemarau.

Kondisi kering juga berkaitan dengan fenomena El Nino yang masih aktif dengan kategori sangat kuat. BMKG menyebut kondisi tersebut mengurangi potensi pembentukan awan hujan, terutama di wilayah Indonesia bagian selatan. Sumatera Selatan menjadi salah satu daerah yang mendapat perhatian. Kondisi kemarau yang berlangsung panjang telah meningkatkan risiko kekeringan sekaligus kebakaran hutan dan lahan.

Namun, bukan berarti seluruh Sumatera akan mengalami kekeringan. BMKG masih memprakirakan peluang hujan di sejumlah wilayah Sumatera, terutama bagian utara dan barat. Pada 11-14 September, hujan dengan intensitas sedang masih berpeluang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi dan Sumatera Selatan. Artinya, kondisi cuaca sangat bergantung pada lokasi dan dinamika atmosfer setempat.

Banten Masuk Wilayah yang Harus Waspada

Banten juga menjadi salah satu wilayah yang menghadapi ancaman kekeringan pada periode kemarau tahun ini. Dalam peringatan dini BMKG sebelumnya, sejumlah wilayah Banten termasuk dalam daerah yang perlu mewaspadai kekeringan meteorologis. Kondisi tersebut muncul ketika curah hujan berada di bawah normal dalam periode tertentu sehingga berpotensi memengaruhi ketersediaan air.

Pemerintah Provinsi Banten juga telah memetakan wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan dan menyiapkan skema distribusi air bersih bagi masyarakat yang terdampak. Kondisi Banten menjadi semakin kompleks karena wilayah ini juga terdampak dinamika Gunung Anak Krakatau. Dalam sepekan sebelumnya, BMKG memantau sebaran abu vulkanik yang mencakup sebagian Banten, Jawa Barat, Lampung dan Bengkulu.

Jawa Barat Berpotensi Mengalami Kondisi Kering

Jawa Barat juga termasuk wilayah yang perlu memperhatikan ancaman kekeringan. Pada periode September, curah hujan rendah masih berpotensi terjadi di sebagian besar Pulau Jawa. Meski demikian, BMKG menegaskan peluang hujan lokal tetap ada, terutama di Jawa bagian barat.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ancaman kekeringan tidak berarti seluruh wilayah Jawa Barat akan mengalami kekeringan dalam waktu yang sama. Hujan lokal masih mungkin terjadi, tetapi distribusinya tidak merata. BMKG juga mengingatkan masyarakat di daerah yang mengalami kemarau untuk menghemat penggunaan air dan meningkatkan kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan lahan.

Jawa Tengah Menghadapi Ancaman Lebih Serius

Jawa Tengah menjadi salah satu wilayah yang cukup mendapat perhatian dalam peringatan kekeringan meteorologis. Salah satu indikator kondisi kering terlihat dari panjangnya periode tanpa hujan. BMKG mencatat Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) hingga 122 hari. Selain itu, suhu maksimum di atas 36 derajat Celsius juga tercatat di Jawa Tengah pada 4-6 September 2026.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sejumlah wilayah Jawa Tengah mengalami kombinasi cuaca panas dan minim hujan yang dapat memperbesar tekanan terhadap sumber air. Pada peringatan sebelumnya, Jawa Tengah bahkan masuk zona merah atau kategori awas kekeringan meteorologis untuk sejumlah wilayah.

Daerah Lain di Jawa Juga Terpengaruh

Ancaman kekeringan tidak hanya terjadi di Jawa Barat dan Jawa Tengah. BMKG sebelumnya memperkirakan puncak musim kemarau terjadi secara bertahap di berbagai wilayah Jawa, termasuk sebagian Jawa Timur dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Dalam prakiraan September, wilayah Jawa secara umum masih termasuk kawasan yang berpeluang mengalami curah hujan rendah.

Karena itu, pemerintah daerah perlu mengantisipasi dampak lanjutan, terutama terhadap kebutuhan air bersih, pertanian, peternakan dan potensi kebakaran lahan.

Daftar Wilayah yang Perlu Mewaspadai Kekeringan

Secara umum, berdasarkan rangkaian peringatan dan prakiraan BMKG selama periode kemarau 2026, wilayah yang perlu meningkatkan kewaspadaan antara lain:

  • Sumatera Selatan
  • Jambi
  • Lampung
  • Kepulauan Bangka Belitung
  • Bengkulu bagian tertentu
  • Banten
  • Jawa Barat
  • Jawa Tengah
  • DI Yogyakarta
  • Jawa Timur

Wilayah lain di Sumatera bagian selatan dan Pulau Jawa yang mengalami hari tanpa hujan panjang. Daftar tersebut tidak berarti seluruh kabupaten/kota di provinsi tersebut mengalami kekeringan pada tingkat yang sama. Status kekeringan meteorologis ditentukan berdasarkan kondisi curah hujan dan hari tanpa hujan di wilayah tertentu serta dapat berubah mengikuti perkembangan cuaca.

El Nino Perpanjang Ancaman Kekeringan

Salah satu faktor utama yang membuat musim kemarau 2026 perlu diwaspadai adalah aktivitas El Nino. BMKG menyebut El Nino masih aktif dengan kategori sangat kuat pada awal September. Fenomena ini dapat mengurangi pasokan uap air ke wilayah Indonesia sehingga pembentukan awan hujan menjadi lebih terbatas.

BMKG sebelumnya juga memperkirakan musim kemarau 2026 cenderung lebih panjang dibandingkan kondisi normal di banyak wilayah. Sebanyak 437 zona musim atau sekitar 48,77 persen luas daratan Indonesia diprediksi mengalami durasi musim kemarau lebih panjang dari normal.

Kekeringan dan Karhutla Saling Berkaitan

Kondisi kering juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla). BMKG mencatat asap karhutla masih terpantau di sejumlah wilayah, termasuk Sumatera Utara, Riau, Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan dan Lampung. Atmosfer yang relatif kering membuat vegetasi dan lahan lebih mudah terbakar.

Karena itu, masyarakat diminta tidak melakukan pembakaran sampah maupun membuka lahan dengan cara membakar, terutama di kawasan gambut, semak belukar dan hutan.

Masyarakat Diminta Hemat Air

BMKG mengimbau masyarakat yang berada di wilayah terdampak kemarau untuk mulai menghemat penggunaan air. Kebutuhan air sebaiknya diprioritaskan untuk keperluan pokok. Masyarakat juga diminta menjaga kondisi tubuh karena cuaca panas dapat meningkatkan risiko dehidrasi, terutama bagi mereka yang melakukan aktivitas di luar ruangan pada siang hari.

Pemerintah daerah di wilayah rawan juga perlu menyiapkan langkah antisipasi, termasuk pemantauan sumber air, distribusi air bersih apabila diperlukan, serta mitigasi kebakaran hutan dan lahan. Meski ancaman kekeringan masih tinggi, BMKG menegaskan bahwa hujan lokal tetap dapat terjadi. Pada periode 11-14 September, misalnya, sejumlah wilayah Sumatera masih berpeluang mendapatkan hujan. Karena itu, masyarakat perlu mengikuti pembaruan prakiraan cuaca dan peringatan dini, bukan hanya melihat kondisi cuaca dalam satu atau dua hari.

Dengan puncak musim kemarau yang masih berlangsung hingga September, wilayah Sumatera bagian selatan, Banten, Jawa Barat dan Jawa Tengah menjadi kawasan yang perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap kekeringan. Ancaman tersebut terutama perlu diperhatikan di daerah dengan hari tanpa hujan yang panjang, suhu tinggi dan sumber air yang mulai terbatas.

Posting Komentar untuk " Daftar Wilayah Sumatera, Banten, Jabar-Jateng Terancam Kekeringan"