Gara-gara Karhutla, Emisi Karbon Indonesia Naik 429 Persen
JAKARTA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah Indonesia sepanjang musim kemarau 2026 kembali menimbulkan persoalan serius. Bukan hanya menyebabkan kerusakan hutan, lahan gambut, dan kualitas udara, kebakaran juga membuat emisi karbon Indonesia melonjak hingga 429 persen di atas rata-rata musiman.
Berdasarkan pemantauan Copernicus Atmosphere Monitoring Service (CAMS) melalui data Fire Emissions Watch, kebakaran di Indonesia diperkirakan melepaskan sekitar 17,1 juta ton karbon dalam periode tujuh hari hingga akhir Agustus 2026. Angka tersebut menempatkan Indonesia di posisi kedua secara global untuk emisi kebakaran pada periode tersebut, di bawah Rusia. Lonjakan ini menjadi perhatian karena terjadi ketika Indonesia tengah berupaya menekan emisi gas rumah kaca dan memenuhi target pengendalian perubahan iklim.
Emisi Karhutla Tembus 17,1 Juta Ton Karbon
Data terbaru menunjukkan besarnya karbon yang dilepaskan dari kebakaran Indonesia mencapai sekitar 17,1 juta ton hanya dalam waktu satu pekan. Angka tersebut tercatat 429 persen lebih tinggi dibandingkan rata-rata musiman untuk periode tujuh hari yang sama. Dengan kata lain, aktivitas kebakaran pada akhir Agustus 2026 menghasilkan emisi yang jauh di atas kondisi yang biasanya terjadi pada periode tersebut.
Namun, terdapat hal penting yang perlu diperhatikan dalam membaca data tersebut. Angka 17,1 juta ton merupakan estimasi karbon (C) yang dilepaskan akibat kebakaran, bukan berarti 17,1 juta ton CO₂ atau CO₂ ekuivalen. Demikian pula, angka kenaikan 429 persen bukan berarti total emisi karhutla Indonesia sepanjang 2026 meningkat 429 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Persentase tersebut merupakan perbandingan emisi dalam jangka waktu tujuh hari dengan rata-rata musiman pada jendela waktu yang sama.
Indonesia Nomor Dua Dunia dalam Emisi Kebakaran
Besarnya emisi tersebut membuat Indonesia berada di posisi kedua dunia untuk emisi kebakaran pada periode pengamatan tersebut. Rusia masih menghasilkan emisi kebakaran lebih besar secara absolut. Namun, jika dihitung berdasarkan luas wilayah, kondisi Indonesia justru terlihat jauh lebih mengkhawatirkan.
Intensitas emisi kebakaran Indonesia tercatat sekitar 1.302 kilogram karbon per kilometer persegi. Sementara Rusia berada di kisaran 185 kilogram per kilometer persegi. Dengan demikian, intensitas emisi kebakaran Indonesia mencapai sekitar tujuh kali lipat Rusia jika dibandingkan berdasarkan luas wilayah.
Perbedaan ini penting karena Rusia memiliki wilayah daratan yang jauh lebih luas. Total emisinya dapat besar karena faktor luas wilayah, sedangkan Indonesia menunjukkan konsentrasi emisi yang tinggi pada wilayah yang relatif jauh lebih kecil.
Karhutla Terjadi Saat Musim Kemarau
Lonjakan emisi tersebut tidak terlepas dari meningkatnya kejadian karhutla selama musim kemarau. Sejumlah wilayah di Sumatra, Kalimantan, hingga kawasan Nusa Tenggara menghadapi ancaman kebakaran. Kondisi cuaca yang lebih kering membuat vegetasi dan lahan menjadi lebih mudah terbakar.
Lahan gambut menjadi salah satu perhatian utama. Ketika gambut dalam kondisi basah, material organik tersebut relatif sulit terbakar. Namun, pengeringan akibat drainase dan kondisi kemarau dapat meningkatkan kerentanannya terhadap api. Ketika kebakaran terjadi di lahan gambut, api juga dapat menjalar di bawah permukaan sehingga lebih sulit dideteksi dan dipadamkan.
Luas Karhutla 2026 Juga Meningkat
Lonjakan emisi karbon berjalan seiring dengan meningkatnya luas wilayah yang terdampak kebakaran. Data yang dikutip dari pemantauan pemerintah menunjukkan sekitar 202.000 hektare hutan dan lahan terbakar sepanjang Januari-Juli 2026. Sekitar 57 persen di antaranya berada di kawasan hutan, sedangkan 43 persen berada di areal penggunaan lain.
Beberapa provinsi yang tercatat mengalami luasan kebakaran besar antara lain Kalimantan Barat, Papua Selatan, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Riau. Luas kebakaran pada periode Januari-Juni 2026 juga dilaporkan meningkat sekitar 366 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Data tersebut menunjukkan bahwa persoalan karhutla tahun ini bukan sekadar peningkatan titik panas, tetapi juga berdampak pada luas lahan yang terbakar dan jumlah karbon yang dilepaskan ke atmosfer.
El Niño Ikut Memperburuk Kondisi
Faktor cuaca juga menjadi salah satu perhatian pemerintah dalam menghadapi karhutla tahun ini. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni sebelumnya menyebut fenomena El Niño pada 2026 datang lebih cepat dari perkiraan awal dan telah mencapai intensitas yang kuat.
Menurut pemerintah, kondisi tersebut memiliki kemiripan dengan situasi pada 2015 yang dikenal sebagai salah satu periode karhutla besar di Indonesia. Cuaca yang lebih kering dan berkurangnya curah hujan dapat membuat vegetasi serta lahan semakin mudah terbakar. Dalam kondisi seperti ini, api yang awalnya kecil dapat berkembang menjadi kebakaran luas apabila tidak segera ditangani.
Mengapa Karhutla Menghasilkan Banyak Karbon?
Hutan dan lahan menyimpan karbon dalam jumlah besar, terutama pada vegetasi, pepohonan, serasah, serta tanah organik seperti gambut. Ketika terbakar, karbon yang selama bertahun-tahun atau bahkan ribuan tahun tersimpan di dalam ekosistem tersebut dilepaskan ke atmosfer dalam waktu singkat.
Karena itu, karhutla mempunyai dua dampak sekaligus terhadap iklim. Pertama, karbon yang tersimpan dilepaskan ke atmosfer. Kedua, kemampuan ekosistem yang terbakar untuk menyerap karbon pada masa mendatang ikut berkurang. Inilah yang membuat kebakaran hutan dan lahan menjadi persoalan lebih besar daripada sekadar hilangnya tutupan vegetasi.
Bukan Hanya Karbon, Polusi Udara Juga Meningkat
Dampak kebakaran juga tidak berhenti pada emisi karbon. Kebakaran hutan dan lahan menghasilkan berbagai polutan udara, termasuk partikulat dan gas seperti karbon monoksida. Asap dapat menyebar mengikuti arah angin dan memengaruhi kualitas udara di wilayah yang jauh dari lokasi kebakaran.
Pemantauan satelit dapat digunakan untuk melihat sebaran emisi dan polutan dari kebakaran dalam skala regional. Karena itu, karhutla berpotensi memberikan dampak terhadap kesehatan masyarakat, transportasi, aktivitas ekonomi, serta lingkungan di kawasan terdampak.
Pemerintah Kerahkan Berbagai Upaya
Pemerintah telah melakukan berbagai langkah untuk mengendalikan karhutla, termasuk pemadaman dari darat dan udara. Sejumlah pesawat pemadam disiagakan di wilayah yang mengalami kebakaran. Pemerintah juga menggunakan teknologi modifikasi cuaca (TMC) atau penyemaian awan untuk membantu meningkatkan peluang hujan di kawasan yang membutuhkan.
Langkah tersebut dilakukan bersamaan dengan patroli darat, pemantauan titik panas, pembuatan sekat kanal di kawasan gambut, serta upaya pemadaman di lokasi kebakaran. Namun, pengendalian karhutla tidak cukup hanya dilakukan setelah api muncul.
Pencegahan Jadi Kunci
Besarnya emisi karbon yang dilepaskan menunjukkan pentingnya pencegahan sebelum kebakaran terjadi. Upaya tersebut mencakup menjaga lahan gambut tetap basah, mengendalikan drainase, meningkatkan pengawasan wilayah rawan kebakaran, mencegah pembukaan lahan dengan cara membakar, serta memastikan penegakan hukum terhadap pihak yang terbukti melakukan pelanggaran. Langkah pencegahan juga penting karena pemadaman kebakaran besar membutuhkan biaya dan sumber daya yang jauh lebih besar dibandingkan mencegah api sejak awal.
Apa Dampaknya terhadap Target Iklim Indonesia?
Lonjakan emisi karhutla menjadi tantangan bagi agenda pengurangan emisi Indonesia. Pemerintah selama ini menjalankan berbagai kebijakan untuk mengurangi emisi melalui pengembangan energi terbarukan, efisiensi energi, perdagangan karbon, restorasi gambut, hingga pengelolaan sektor kehutanan.
Karhutla bergerak ke arah sebaliknya karena karbon dilepaskan secara cepat dalam jumlah besar. Meski demikian, angka 17,1 juta ton dari CAMS tidak dapat langsung dibandingkan dengan total inventarisasi emisi nasional tanpa memperhatikan perbedaan periode, metode penghitungan, dan satuan. Karena itu, angka tersebut tidak dapat langsung diartikan bahwa seluruh capaian penurunan emisi Indonesia telah terhapus. Yang jelas, karhutla memberikan tambahan beban terhadap upaya Indonesia mengendalikan emisi dan menjaga ekosistem penyerap karbon.
Fenomena yang Perlu Diwaspadai
Lonjakan 429 persen tersebut menjadi peringatan bahwa karhutla dapat berubah menjadi persoalan iklim yang serius ketika terjadi dalam skala besar. Kebakaran tidak hanya menghanguskan lahan dan hutan, tetapi juga mengubah karbon yang tersimpan dalam ekosistem menjadi emisi atmosfer dalam waktu sangat singkat.
Dengan kondisi kemarau dan ancaman El Niño, pengawasan terhadap wilayah rawan kebakaran menjadi semakin penting. Penanganan juga perlu dilakukan secara terpadu, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, aparat penegak hukum, pengelola konsesi, hingga masyarakat.
Kesimpulan
Karhutla membuat emisi karbon Indonesia melonjak 429 persen di atas rata-rata musiman, dengan estimasi sekitar 17,1 juta ton karbon dilepaskan dalam tujuh hari hingga akhir Agustus 2026. Pada periode tersebut, Indonesia menjadi negara dengan emisi kebakaran terbesar kedua di dunia setelah Rusia. Yang membuat situasi semakin mengkhawatirkan adalah intensitas emisi berdasarkan luas wilayah. Indonesia mencatat sekitar 1.302 kilogram karbon per kilometer persegi, sekitar tujuh kali intensitas Rusia yang berada di kisaran 185 kilogram per kilometer persegi.
Angka tersebut menjadi pengingat bahwa karhutla bukan semata persoalan kebakaran musiman. Di tengah upaya Indonesia mengurangi emisi dan menghadapi perubahan iklim, setiap kebakaran besar berarti pelepasan karbon dalam jumlah besar sekaligus hilangnya kemampuan ekosistem untuk menyerap karbon pada masa mendatang.

Posting Komentar untuk "Gara-gara Karhutla, Emisi Karbon Indonesia Naik 429 Persen"