Genjot Bioavtur, Pertamina Siapkan Rp19,3 T Bangun Biorefinery Cilacap

Jakarta — PT Pertamina Patra Niaga menyiapkan investasi sekitar US$1,1 miliar atau Rp19,3 triliun untuk mengembangkan proyek Green Biorefinery Cilacap, Jawa Tengah. Fasilitas ini diproyeksikan menjadi salah satu proyek penting Pertamina dalam memperbesar produksi bahan bakar penerbangan berkelanjutan atau Sustainable Aviation Fuel (SAF) alias bioavtur.

Proyek tersebut akan memanfaatkan bahan baku nabati, terutama used cooking oil (UCO) atau minyak jelantah, untuk menghasilkan bahan bakar yang lebih rendah emisi dibandingkan bahan bakar penerbangan konvensional.

Executive General Manager Pertamina Patra Niaga Kilang Cilacap Hermawan Budiantoro mengatakan proyek tersebut masih berada dalam tahap pengembangan. Masterplan telah disusun sejak 2025, mencakup desain teknik, rencana pembangunan hingga proses tender. Pada 2026, Pertamina memasuki tahap Final Investment Decision (FID) sekaligus proses pencarian mitra proyek.

Investasi Capai Rp19,3 Triliun

Nilai investasi proyek biorefinery tersebut mencapai sekitar US$1,1 miliar. Dengan asumsi kurs Rp17.500 per dolar AS, nilainya setara sekitar Rp19,25 triliun atau dibulatkan menjadi Rp19,3 triliun. Besarnya investasi menunjukkan keseriusan Pertamina mengembangkan rantai industri bahan bakar nabati, khususnya untuk sektor penerbangan yang selama ini sangat bergantung pada bahan bakar fosil.

Proyek ini juga diharapkan tidak hanya menghasilkan bioavtur, tetapi dapat memperkuat ekosistem bahan baku nabati dari hulu hingga hilir.

Kapasitas 6.000 Barel per Hari

Green Biorefinery Cilacap Fase 2 dirancang memiliki kapasitas sekitar 6.000 barel per hari (KBPD). Fasilitas tersebut akan memproduksi SAF dan Hydrogenated Vegetable Oil (HVO) yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik maupun internasional.

Sebelumnya, Pertamina telah mengembangkan produksi bioavtur melalui fasilitas yang sudah ada di Kilang Cilacap. Pengembangan fase berikutnya diarahkan untuk meningkatkan kapasitas sekaligus membangun fasilitas green refinery yang lebih besar. Pertamina sebelumnya menyebut kapasitas proyek sekitar 6.000 barel per hari dapat menghasilkan sekitar 300.000 kiloliter SAF per tahun.

Target Mulai Berjalan pada 2027

Pertamina menargetkan proyek tersebut mulai masuk tahap pembangunan setelah proses investasi dan kemitraan dituntaskan. Hermawan menyebut proyek ditargetkan berjalan pada 2027, sementara fasilitas tersebut diproyeksikan mencapai tahap operasi pada 2029. Proyek ini dibangun di lahan sekitar 17,5 hektare yang berada di dekat Kilang Unit IV Cilacap. Dengan jadwal tersebut, pembangunan biorefinery akan menjadi proyek jangka menengah Pertamina dalam memperbesar kapasitas produksi bahan bakar penerbangan rendah emisi.

Manfaatkan Minyak Jelantah

Salah satu aspek penting dalam proyek ini adalah pemanfaatan minyak jelantah atau UCO sebagai bahan baku. Minyak jelantah yang selama ini menjadi limbah rumah tangga dan usaha makanan dapat dikumpulkan kemudian diolah menjadi bahan baku energi.

Pertamina sebelumnya telah membangun ekosistem pengumpulan UCO. Pada tahap pengembangan sebelumnya, perusahaan menyebut telah bermitra dengan sekitar 2.700 kepala keluarga untuk menyerap minyak jelantah. Pemanfaatan UCO juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat karena limbah yang sebelumnya kurang bernilai dapat dikumpulkan dan dijual melalui rantai pasok yang disiapkan.

Bukan Hanya Minyak Jelantah

Pengembangan bioavtur Pertamina tidak hanya mengandalkan satu jenis bahan baku. Dalam proyek yang telah dirancang sebelumnya, Pertamina menyebut bahan baku dapat berasal dari crude palm oil (CPO), used cooking oil (UCO), serta palm oil mill effluent (POME).

Diversifikasi bahan baku diperlukan untuk memastikan pasokan tetap tersedia ketika produksi SAF diperbesar. Namun, pemanfaatan bahan baku juga perlu memperhatikan aspek keberlanjutan dan sertifikasi internasional agar produk SAF Indonesia dapat diterima di pasar global.

Pertamina Sudah Uji Bioavtur

Pengembangan bioavtur di Cilacap sebenarnya bukan proyek yang baru dimulai. Pertamina telah melakukan berbagai tahapan pengembangan dan pengujian SAF selama beberapa tahun. Pada 2023, Pertamina melakukan uji produksi bioavtur J2.4 di TDHT RU IV Cilacap untuk kebutuhan uji terbang komersial menggunakan pesawat Garuda Indonesia.

Produk tersebut kemudian melewati serangkaian pengujian, termasuk uji statis, uji jalan, uji terbang dan penerbangan terjadwal menggunakan Boeing 737-800NG. Pada 2025, Pertamina juga menyebut berhasil memproduksi SAF berbahan minyak jelantah melalui proses co-processing dengan katalis hasil pengembangan dalam negeri. Produk tersebut telah digunakan dalam sejumlah pengujian penerbangan.

Pelita Air Jadi Salah Satu Calon Pembeli

Pengembangan fasilitas produksi akan lebih kuat jika diikuti kepastian pasar. Pertamina menyebut telah memperoleh komitmen pembelian atau offtaker dari sejumlah maskapai. Salah satunya adalah Pelita Air. Komitmen tersebut menjadi sinyal bahwa permintaan terhadap SAF mulai terbentuk di pasar penerbangan Indonesia. Pertamina menargetkan produksi SAF berbahan baku minyak jelantah mencapai 27 ribu kiloliter pada 2026 dari fasilitas yang sudah dikembangkan.

Dengan adanya fasilitas baru berkapasitas lebih besar, produksi SAF nasional diharapkan dapat meningkat secara signifikan.

Dorong Pengurangan Emisi Penerbangan

Sektor penerbangan menjadi salah satu sektor yang sulit melakukan elektrifikasi secara langsung karena pesawat membutuhkan bahan bakar dengan kepadatan energi tinggi. Karena itu, SAF menjadi salah satu opsi untuk menekan emisi dari industri penerbangan.

SAF pada prinsipnya digunakan sebagai alternatif bahan bakar penerbangan berbasis fosil dengan memanfaatkan bahan baku berkelanjutan. Penggunaannya memungkinkan sektor penerbangan mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil tanpa harus mengganti seluruh infrastruktur pesawat dan bandara. Pertamina sebelumnya memperkirakan proyek green refinery Cilacap dapat membantu mengurangi emisi karbon hingga sekitar 600.000 ton.

Berpotensi Beri Dampak Ekonomi Besar

Selain aspek energi dan lingkungan, proyek biorefinery juga diproyeksikan memberikan dampak ekonomi. Pertamina melalui Kilang Cilacap menyebut proyek tersebut berpotensi memberikan tambahan kontribusi terhadap produk domestik bruto atau PDB hingga Rp199 triliun per tahun.

Angka tersebut menunjukkan potensi dampak ekonomi yang jauh lebih luas dibandingkan sekadar nilai produksi bahan bakar. Pengembangan industri SAF dapat menciptakan permintaan terhadap bahan baku, jasa logistik, pengolahan, teknologi, hingga tenaga kerja.

Jadi Bagian Strategi Hilirisasi Energi

Pengembangan Green Biorefinery Cilacap juga sejalan dengan agenda hilirisasi pemerintah. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menyebut proyek-proyek hilirisasi yang telah melalui kajian pemerintah kemudian diarahkan masuk ke tahap implementasi sebagai proyek investasi strategis.

Kilang bioavtur Cilacap menjadi salah satu proyek yang mempertemukan agenda hilirisasi dengan transisi energi. Alih-alih hanya menjual bahan mentah seperti minyak nabati atau limbah minyak, bahan tersebut diolah lebih lanjut menjadi produk energi bernilai tambah tinggi.

Tantangan Pengembangan SAF

Meski prospeknya besar, pengembangan SAF bukan tanpa tantangan. Pertamina harus memastikan pasokan bahan baku tersedia secara berkelanjutan, memenuhi standar kualitas dan keberlanjutan internasional, serta memiliki biaya produksi yang kompetitif. Ketersediaan minyak jelantah juga harus dikelola dengan sistem pengumpulan yang luas dan efisien. Semakin besar kapasitas kilang, semakin besar pula kebutuhan bahan baku yang harus dipastikan tersedia.

Di sisi lain, pasar penerbangan juga membutuhkan kepastian mengenai harga dan ketersediaan SAF agar maskapai dapat memasukkannya ke dalam strategi operasional jangka panjang.

Langkah Menuju Industri Penerbangan Lebih Hijau

Investasi Rp19,3 triliun untuk Green Biorefinery Cilacap menunjukkan bahwa Pertamina mulai meningkatkan skala pengembangan biofuel dari tahap uji coba menuju produksi komersial dalam jumlah besar. Dengan kapasitas 6.000 barel per hari, proyek tersebut diharapkan mampu memperkuat pasokan SAF nasional sekaligus membuka peluang ekspor.

Jika target pembangunan dan operasi berjalan sesuai rencana, fasilitas ini akan menjadi salah satu fondasi penting Indonesia dalam membangun industri bahan bakar penerbangan berkelanjutan. Bagi Pertamina, tantangan berikutnya bukan hanya menyelesaikan pembangunan kilang, tetapi juga memastikan bahan baku, teknologi, sertifikasi, pembeli, dan ekosistem pengumpulan minyak jelantah dapat berkembang secara bersamaan.

Dengan begitu, investasi sekitar Rp19,3 triliun tersebut tidak hanya menghasilkan bioavtur, tetapi juga dapat menjadi penggerak baru industri energi hijau Indonesia.

Posting Komentar untuk "Genjot Bioavtur, Pertamina Siapkan Rp19,3 T Bangun Biorefinery Cilacap"