Gudang Militer Israel di Gaza Kebobolan, Senjata sampai Roket Dicuri

Jakarta – Persoalan keamanan di lingkungan militer Israel kembali menjadi sorotan setelah sejumlah laporan mengungkap adanya pencurian senjata dan amunisi dari gudang serta pangkalan militer selama periode perang di Gaza. Senjata yang hilang disebut kemudian masuk ke pasar gelap dan sebagian ditemukan digunakan oleh kelompok kriminal di Israel.

Di antara persenjataan yang dilaporkan dicuri terdapat roket antiranjau atau antirudal jenis LAW, mortir, granat, serta drone yang dapat membawa bahan peledak. Otoritas Israel bahkan disebut belum mengetahui secara pasti berapa banyak senjata dan amunisi yang telah keluar dari fasilitas militer mereka. Kasus ini memunculkan kekhawatiran karena senjata yang awalnya disimpan untuk kebutuhan militer kini berpotensi digunakan untuk aktivitas kriminal atau kekerasan lainnya di dalam Israel.

Senjata Dicuri Saat Gudang Darurat Dibuka

Menurut laporan media Israel yang dikutip Al Jazeera dan Anadolu, skala pencurian diduga meningkat setelah gudang-gudang darurat militer dibuka selama perang. Kondisi tersebut membuat jumlah persenjataan yang keluar-masuk fasilitas militer menjadi sangat besar. Dalam situasi seperti itu, sebagian amunisi yang hilang disebut dapat tercatat sebagai amunisi yang digunakan dalam operasi militer sehingga sulit menentukan berapa banyak yang sebenarnya dicuri.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa investigasi polisi militer Israel sebelumnya telah menemukan sekitar 200 kasus pencurian besar dari pangkalan militer dalam dua tahun terakhir. Jumlah tersebut mencakup berbagai jenis senjata dan amunisi yang kemudian beredar di luar sistem militer.

Roket LAW Muncul dalam Kasus Kriminal

Salah satu perkembangan yang paling mendapat perhatian adalah ditemukannya roket antiranjau LAW dalam dua insiden kriminal di Israel. Menurut laporan KAN yang dikutip sejumlah media, roket jenis tersebut digunakan dalam insiden di Sajur dan Jaljulia pada pekan ini.

LAW merupakan senjata antiranjau portabel yang dirancang untuk menghadapi sasaran lapis baja. Kemunculannya dalam kasus kriminal menunjukkan bahwa sebagian persenjataan militer telah berpindah dari penyimpanan resmi ke tangan pihak di luar militer. Polisi Israel kini berupaya menelusuri asal senjata tersebut dan bagaimana persenjataan militer bisa sampai ke tangan kelompok kriminal.

Lebih dari 100 Ribu Peluru Dilaporkan Hilang

Pencurian tidak hanya menyangkut senjata berat. Data dari penyelidikan polisi militer Israel yang diberitakan sebelumnya menunjukkan bahwa puluhan ribu peluru telah dicuri dari sejumlah pangkalan. Salah satu kasus yang disebut adalah pencurian sekitar 30.000 peluru dari pangkalan Sde Teiman di wilayah selatan Israel. Dalam kasus lainnya, sekitar 70.000 peluru dilaporkan hilang dari pangkalan di wilayah utara dan Dataran Tinggi Golan.

Jika angka tersebut digabungkan, lebih dari 100.000 butir amunisi dilaporkan hilang dari fasilitas militer dalam kasus-kasus yang diselidiki.

Drone Juga Masuk ke Peredaran

Selain senjata konvensional, aparat Israel juga menghadapi persoalan meningkatnya penggunaan drone oleh kelompok kriminal. Menurut laporan KAN yang dikutip iNews, terjadi peningkatan tajam kasus kriminal yang melibatkan granat dan drone. Salah satu insiden terbaru terjadi di Nazareth, ketika sebuah granat disebut dijatuhkan menggunakan drone.

Penyelidikan unit kepolisian Lahav 433 juga menemukan adanya perusahaan-perusahaan di komunitas Badui yang diduga membeli ratusan drone pengangkut berukuran besar menggunakan faktur palsu. Keberadaan seluruh drone tersebut belum berhasil dipetakan oleh aparat.

Khawatir Senjata Dipakai untuk Serangan yang Lebih Besar

Peredaran senjata militer di pasar gelap menimbulkan persoalan tersendiri bagi aparat keamanan Israel. Laporan media Israel menyebut kepolisian khawatir persenjataan yang awalnya digunakan dalam aktivitas kriminal dapat beralih menjadi alat untuk serangan dengan motif keamanan atau politik.

Ancaman yang menjadi perhatian mencakup penggunaan drone yang membawa bahan peledak, granat, hingga senjata antiranjau. Namun, laporan tersebut tidak menyatakan bahwa seluruh senjata yang dicuri telah digunakan dalam serangan semacam itu.

Angka Kejahatan Menggunakan Granat Meningkat

Data yang dikutip iNews dari KAN menunjukkan peningkatan besar kasus kriminal yang melibatkan granat tangan. Pada 2023, tercatat sekitar 75 kasus kriminal yang melibatkan granat. Jumlah tersebut meningkat menjadi 988 kasus pada 2024.

Angka tersebut menjadi salah satu indikator yang digunakan aparat Israel untuk melihat berkembangnya penggunaan persenjataan militer dalam aktivitas kriminal. Peningkatan tersebut juga mendorong kepolisian, militer, Shin Bet, serta lembaga keamanan lainnya untuk melakukan penilaian mengenai skala ancaman.

Kasus Pencurian Senjata Terus Terjadi

Persoalan pencurian persenjataan dari fasilitas militer Israel bukan hanya terjadi pada masa perang Gaza. Pada September 2026, militer Israel juga mengonfirmasi kasus pencurian tiga senapan M4 dari unit pasukan khusus Angkatan Laut Israel, Shayetet 13.

Seorang tentara IDF diduga mencuri senjata tersebut. Polisi militer dan Kepolisian Israel kemudian melakukan penyelidikan bersama. Dalam kasus lain pada bulan yang sama, dua orang ditangkap karena diduga mencuri rudal MATADOR dari IDF selama operasi di wilayah utara Israel.

Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa pencurian senjata masih menjadi persoalan yang harus dihadapi militer dan kepolisian Israel.

Bagaimana Senjata Bisa Keluar dari Pangkalan?

Salah satu persoalan utama yang sedang ditelusuri adalah mekanisme pencurian dari fasilitas militer. Ketika persenjataan digunakan dalam jumlah besar selama operasi perang, pencatatan inventaris menjadi lebih kompleks. Dalam kondisi tersebut, senjata atau amunisi yang hilang dapat lebih sulit dibedakan antara yang benar-benar digunakan dalam operasi dan yang dicuri.

Laporan Al Jazeera menyebut adanya kekhawatiran bahwa sebagian pencurian berlangsung dengan bantuan atau koordinasi dari orang yang memiliki akses ke pangkalan militer. Hal ini menjadi salah satu aspek yang sedang diperiksa oleh aparat Israel.

Polisi dan Militer Israel Selidiki Jaringan Peredaran

Penyelidikan tidak hanya diarahkan kepada orang yang mengambil senjata dari pangkalan. Aparat juga perlu menelusuri jalur setelah senjata keluar dari fasilitas militer, termasuk pihak yang membeli, menjual kembali, menyimpan, ataupun menggunakan persenjataan tersebut.

Keterlibatan pasar gelap membuat satu senjata dapat berpindah tangan beberapa kali sebelum ditemukan oleh aparat. Karena itu, pengungkapan sumber dan jaringan distribusi menjadi bagian penting dalam penyidikan.

Gudang Militer Menjadi Sorotan

Kasus pencurian ini pada akhirnya kembali menempatkan sistem keamanan gudang dan pangkalan militer Israel dalam sorotan. Selama dua tahun terakhir, ratusan kasus pencurian besar dilaporkan telah diselidiki. Persenjataan yang hilang memiliki jenis dan fungsi beragam, mulai dari peluru, senapan, granat, mortir, hingga senjata antiranjau dan drone.

Bagi aparat keamanan, tantangannya bukan hanya menghitung jumlah senjata yang hilang, tetapi juga memastikan senjata tersebut tidak digunakan untuk melakukan kejahatan baru.

Dampaknya bagi Keamanan Israel

Peredaran senjata militer di luar kendali negara dapat menciptakan masalah keamanan jangka panjang. Senjata seperti LAW dan MATADOR memiliki kemampuan yang jauh berbeda dibandingkan senjata api biasa. Jika jatuh ke tangan kelompok yang tidak memiliki otorisasi, penggunaannya dapat menimbulkan risiko bagi masyarakat maupun aparat keamanan.

Hal serupa berlaku pada drone yang dapat membawa muatan. Penggunaan teknologi tersebut dalam aktivitas kriminal membuat polisi harus mengembangkan metode baru untuk mendeteksi dan menghentikannya.

Investigasi Masih Berjalan

Hingga 18 September 2026, penyelidikan mengenai pencurian senjata dari fasilitas militer Israel masih berlangsung. Belum seluruh jumlah senjata yang diduga hilang dapat dipastikan. Yang telah terungkap adalah adanya senjata dan amunisi yang berasal dari fasilitas militer Israel dan kemudian muncul dalam kasus kriminal. Di antaranya terdapat roket LAW, granat, amunisi dalam jumlah besar, serta drone.

Pihak keamanan Israel kini menghadapi dua persoalan sekaligus: mengungkap bagaimana senjata tersebut bisa dicuri dari pangkalan dan memutus jalur peredarannya setelah keluar dari gudang militer. Kasus ini juga menunjukkan bahwa dampak keamanan dari perang tidak hanya terjadi di medan konflik. Ketika persenjataan dalam jumlah besar masuk ke luar sistem pengawasan militer, senjata tersebut berpotensi menciptakan persoalan keamanan baru di dalam negeri.

Posting Komentar untuk " Gudang Militer Israel di Gaza Kebobolan, Senjata sampai Roket Dicuri"