Houthi Kuasai Pulau Penting di Bab Al Mandab, Saudi Minta Bantuan AS

Jakarta – Situasi di Yaman dan kawasan Laut Merah semakin memanas setelah kelompok Houthi yang didukung Iran dilaporkan menguasai Pulau Perim atau Mayyun, pulau strategis yang berada di tengah Selat Bab al-Mandab.

Penguasaan pulau tersebut menjadi perkembangan penting dalam konflik Yaman karena Bab al-Mandab merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia. Selat ini menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan menjadi jalur penting bagi perdagangan antara Asia, Timur Tengah, dan Eropa.

Perkembangan tersebut juga membuat Arab Saudi semakin khawatir terhadap keamanan jalur ekspor minyaknya. Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman (MBS) bahkan dilaporkan meminta Presiden Amerika Serikat Donald Trump melakukan serangan militer terhadap Houthi.

Houthi Kuasai Pulau Perim

Kelompok Houthi dilaporkan mencapai Pulau Perim pada Jumat, 11 September 2026, setelah pasukan pemerintah Yaman yang didukung Saudi menarik diri dari wilayah tersebut. Pulau Perim, yang juga dikenal sebagai Mayyun, merupakan pulau vulkanik yang terletak di bagian tersempit Bab al-Mandab. Posisi geografisnya sangat strategis karena pulau tersebut membagi jalur pelayaran di selat menjadi dua bagian.

Reuters melaporkan bahwa empat sumber dari pemerintahan Yaman mengonfirmasi Houthi telah mencapai Perim. Dua sumber dari pemerintahan Yaman yang didukung Saudi sebelumnya menyebut pasukan mereka telah meninggalkan pulau tersebut. Houthi juga dilaporkan menguasai kota pesisir Dhubab yang berada di daratan dan berhadapan langsung dengan Perim.

Dengan posisi tersebut, Houthi memiliki peluang lebih besar untuk mengawasi atau mengancam lalu lintas kapal yang melintasi salah satu titik paling penting di Laut Merah.

Kota Pelabuhan Mokha Juga Direbut

Penguasaan Perim merupakan bagian dari serangkaian kemajuan militer Houthi di pesisir barat Yaman. Sebelumnya, Houthi berhasil merebut Mokha, kota pelabuhan penting di pesisir Laut Merah. Kota tersebut berada relatif dekat dengan Bab al-Mandab dan selama ini dikuasai pasukan yang berafiliasi dengan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.

Setelah merebut Mokha, pasukan Houthi bergerak semakin dekat menuju Bab al-Mandab. Mereka kemudian mengambil posisi di sejumlah wilayah pesisir dan pulau strategis. Laporan terbaru menyebut Houthi juga bergerak di sekitar Kepulauan Hanish dan wilayah Zuqar. Perkembangan tersebut membuat kelompok yang bersekutu dengan Iran itu semakin dekat dengan penguasaan efektif atas jalur strategis Laut Merah.

Saudi Minta Trump Serang Houthi

Kemajuan Houthi membuat Arab Saudi menghadapi dilema besar. Riyadh sebelumnya berusaha menghindari keterlibatan langsung dalam perang besar baru di Yaman, tetapi ancaman terhadap jalur perdagangan dan ekspor minyak membuat tekanan terhadap pemerintah Saudi meningkat.

Axios melaporkan Mohammed bin Salman melakukan dua kali panggilan telepon kepada Donald Trump pada Kamis dan meminta Amerika Serikat melakukan serangan terhadap Houthi. Permintaan tersebut muncul ketika pasukan Houthi semakin dekat dengan Bab al-Mandab dan setelah kelompok tersebut meningkatkan tekanan terhadap kepentingan Saudi.

Namun, Washington dilaporkan belum bersedia melakukan intervensi militer langsung. Amerika Serikat disebut lebih memilih memberikan dukungan berupa informasi intelijen dan bantuan penargetan, sembari berusaha memastikan jalur pelayaran Laut Merah tetap terbuka. Trump disebut berhati-hati untuk membuka front militer baru karena Amerika Serikat saat ini juga menghadapi konflik yang lebih luas dengan Iran.

Mengapa Bab al-Mandab Sangat Penting?

Bab al-Mandab merupakan salah satu titik sempit yang sangat menentukan bagi perdagangan dunia. Selat tersebut menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan selanjutnya menuju Samudra Hindia. Kapal yang berlayar dari Asia menuju Eropa atau sebaliknya dapat menggunakan jalur ini untuk menghindari perjalanan memutar mengelilingi Afrika.

Jika Bab al-Mandab terganggu atau ditutup, kapal-kapal harus menggunakan rute alternatif melalui Tanjung Harapan di Afrika Selatan. Rute tersebut jauh lebih panjang sehingga membutuhkan lebih banyak waktu dan bahan bakar. Karena itu, penguasaan wilayah di sekitar Bab al-Mandab tidak hanya menjadi persoalan perang Yaman, tetapi juga berpotensi berdampak langsung terhadap biaya logistik, harga energi, dan rantai pasok global.

The Washington Post melaporkan bahwa ancaman penutupan Bab al-Mandab telah ikut mendorong harga minyak dunia menembus lebih dari US$108 per barel.

Ancaman terhadap Ekspor Minyak Saudi

Situasi semakin rumit karena Arab Saudi juga menghadapi gangguan terhadap jalur ekspor minyaknya. Salah satu jalur penting yang digunakan Saudi untuk mengirim minyak menuju Laut Merah adalah jaringan pipa East-West sepanjang sekitar 1.200 kilometer. Jalur tersebut memungkinkan Saudi mengurangi ketergantungan terhadap rute yang melewati Selat Hormuz.

Namun, serangan drone yang dikaitkan dengan kelompok yang beroperasi dari Irak menyebabkan Saudi menghentikan sementara operasi pipa tersebut. Kondisi itu membuat tekanan terhadap jalur ekspor minyak Saudi semakin besar. Dengan Bab al-Mandab berada di bawah ancaman Houthi dan jalur pipa Saudi mengalami gangguan, pilihan Riyadh untuk mengirim minyak ke pasar internasional menjadi semakin terbatas.

Houthi Dapat Memperkuat Posisi Iran

Penguasaan Bab al-Mandab juga mempunyai dimensi geopolitik yang lebih luas. Houthi merupakan kelompok yang bersekutu dengan Iran. Karena itu, jika Houthi mampu mempertahankan kendali atas wilayah di sekitar selat tersebut, Iran secara tidak langsung akan mendapatkan tambahan pengaruh terhadap salah satu jalur energi dan perdagangan paling strategis di dunia.

Sebelumnya, Iran telah memiliki pengaruh besar terhadap Selat Hormuz, yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman. Kini, tekanan terhadap Bab al-Mandab membuat dua jalur strategis di kawasan tersebut menghadapi ancaman secara bersamaan.

Reuters menyebut penguasaan Bab al-Mandab oleh Houthi berpotensi memberikan Iran keuntungan strategis tambahan dalam konflik yang lebih luas dengan Amerika Serikat.

Amerika Serikat Berada dalam Posisi Sulit

Permintaan Saudi kepada Trump menempatkan Washington dalam posisi yang sulit. Di satu sisi, Amerika Serikat mempunyai kepentingan besar untuk memastikan kapal dagang tetap dapat melewati Laut Merah. Gangguan berkepanjangan terhadap Bab al-Mandab dapat meningkatkan biaya transportasi dan memperburuk tekanan harga energi.

Di sisi lain, serangan langsung terhadap Houthi berisiko memperluas perang di kawasan dan meningkatkan kemungkinan konfrontasi Amerika Serikat dengan Iran. Laporan terbaru menyebut Washington saat ini cenderung memilih dukungan intelijen dibandingkan melakukan operasi militer langsung. Kebijakan tersebut menunjukkan bahwa pemerintahan Trump masih mempertimbangkan risiko membuka front baru di Yaman.

Pemerintah Yaman Siapkan Serangan Balasan

Pemerintah Yaman yang didukung Saudi tidak tinggal diam. Pasukan pemerintah dilaporkan menyiapkan operasi balasan untuk merebut kembali wilayah yang jatuh ke tangan Houthi. Kemajuan cepat Houthi juga membuat ribuan warga sipil meninggalkan wilayah pesisir Yaman. Perserikatan Bangsa-Bangsa memperingatkan situasi kemanusiaan dapat memburuk apabila pertempuran terus meluas.

The Guardian melaporkan hampir 50 ribu warga Yaman telah mengungsi dari sejumlah wilayah akibat ofensif Houthi di sepanjang pesisir Laut Merah. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa gencatan senjata rapuh yang bertahan sejak 2022 dapat benar-benar runtuh dan Yaman kembali memasuki perang saudara berskala besar.

Aliansi Saudi Juga Diuji

Saudi sebenarnya baru memperkuat kerja sama pertahanan dengan Turki dan Pakistan melalui kesepakatan pertahanan bersama yang ditandatangani di Makkah pada Agustus 2026. Kesepakatan tersebut dipandang sebagai upaya Riyadh memperkuat kemampuan pertahanannya di tengah meningkatnya ancaman regional.

Namun, belum jelas apakah Turki atau Pakistan akan terlibat langsung apabila perang melawan Houthi kembali meningkat. Pakistan sendiri sebelumnya memberikan sinyal bahwa kesepakatan tersebut bersifat defensif dan belum ada pembicaraan mengenai keterlibatan langsung dalam konflik Yaman.

Apa Dampaknya bagi Dunia?

Jika Houthi benar-benar mampu mempertahankan kendali atas Bab al-Mandab, dampaknya dapat dirasakan jauh di luar Yaman.

Beberapa dampak yang berpotensi muncul antara lain:

  • Harga minyak semakin tinggi karena risiko gangguan terhadap jalur ekspor meningkat.
  • Biaya pengiriman barang naik akibat kapal harus mengambil rute lebih panjang.
  • Waktu pengiriman Asia-Eropa bertambah jika perusahaan pelayaran menghindari Laut Merah.
  • Premi asuransi kapal meningkat karena kawasan tersebut dianggap semakin berbahaya.
  • Rantai pasok global terganggu, terutama untuk komoditas yang mengandalkan jalur Laut Merah.
  • Tekanan inflasi meningkat jika kenaikan harga minyak dan biaya logistik diteruskan kepada konsumen.

Kekhawatiran tersebut semakin besar karena Selat Hormuz juga menghadapi gangguan dalam konflik regional. Dengan dua jalur strategis di sekitar Timur Tengah sama-sama terancam, pasar energi global menghadapi risiko gangguan pasokan yang lebih besar.

Babak Baru Perang Yaman

Penguasaan Perim dan wilayah sekitar Bab al-Mandab menandai babak baru dalam konflik Yaman. Selama bertahun-tahun, Houthi telah menguasai sebagian besar wilayah utara Yaman, termasuk ibu kota Sanaa. Pemerintah yang diakui secara internasional dan didukung Saudi mempertahankan wilayah lain di selatan dan timur.

Namun, ofensif terbaru menunjukkan Houthi mampu memperluas pengaruhnya ke wilayah pesisir Laut Merah dan mendekati salah satu jalur pelayaran paling penting di dunia. Bagi Arab Saudi, persoalannya kini bukan hanya konflik internal Yaman. Ancaman tersebut telah menyentuh langsung keamanan energi, perdagangan, dan posisi strategis Riyadh di kawasan.

Sementara itu, bagi Amerika Serikat, permintaan bantuan Saudi menjadi ujian baru: apakah Washington akan kembali menggunakan kekuatan militernya untuk mempertahankan kebebasan navigasi di Laut Merah atau memilih dukungan tidak langsung guna menghindari perang yang lebih luas. Untuk sementara, perkembangan di Bab al-Mandab masih bergerak cepat. Jika Houthi berhasil mempertahankan Pulau Perim dan wilayah pesisir di sekitarnya, kelompok tersebut akan memiliki posisi tawar yang jauh lebih kuat dalam konflik Yaman sekaligus dalam persaingan geopolitik antara Iran, Saudi Arabia, dan Amerika Serikat.

Posting Komentar untuk "Houthi Kuasai Pulau Penting di Bab Al Mandab, Saudi Minta Bantuan AS"