Hujan Deras, Empat Kecamatan di Nias Barat Terendam Banjir

NIAS BARAT — Hujan dengan intensitas tinggi mengguyur Kabupaten Nias Barat, Sumatera Utara, sejak Minggu (6/9/2026) malam. Kondisi tersebut menyebabkan Sungai Lahomi dan Sungai Moro’o meluap hingga merendam permukiman warga di empat kecamatan.

Berdasarkan data sementara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Utara pada Senin (7/9/2026), wilayah terdampak meliputi Kecamatan Lahomi, Sirombu, Mandrehe, dan Mandrehe Barat. Banjir juga berdampak terhadap lahan pertanian, jaringan irigasi, jalan, serta sejumlah infrastruktur lainnya.

595 Kepala Keluarga Terdampak

Data kaji cepat BPBD Nias Barat mencatat sedikitnya 595 kepala keluarga (KK) terdampak banjir yang tersebar di 13 desa atau lokasi pada empat kecamatan.

Rinciannya, Kecamatan Lahomi menjadi wilayah dengan jumlah warga terdampak paling banyak, yakni sekitar 331 KK. Selanjutnya Kecamatan Sirombu sebanyak 110 KK, Mandrehe 100 KK, dan Mandrehe Barat 54 KK.

Air banjir dilaporkan merendam sejumlah rumah warga. Derasnya arus juga menyebabkan kerusakan pada berbagai fasilitas dan barang milik masyarakat. Meski dampaknya cukup luas, BPBD memastikan belum ada laporan korban jiwa maupun korban luka. Laporan BPBD Sumut juga menyebut belum terdapat warga yang harus mengungsi akibat kejadian tersebut.

Puluhan Rumah Rusak

Banjir tidak hanya menggenangi permukiman. Arus air turut merusak sejumlah bangunan dan infrastruktur. Data sementara yang dihimpun pemerintah daerah menyebut sedikitnya 36 unit rumah mengalami kerusakan. Selain itu, sejumlah jalan dan jembatan terdampak sehingga mengganggu mobilitas masyarakat.

Barang-barang milik warga, termasuk perabot rumah tangga, barang elektronik, dan barang dagangan, juga dilaporkan rusak akibat terendam air. Sejumlah ternak bahkan dilaporkan hanyut terbawa arus. Kerusakan tersebut masih dalam proses pendataan karena petugas BPBD terus melakukan asesmen untuk mengetahui tingkat kerusakan serta total kerugian yang ditimbulkan.

Sungai Lahomi dan Sungai Moro’o Meluap

Hujan deras menjadi pemicu utama banjir kali ini. Tingginya intensitas hujan meningkatkan debit air Sungai Lahomi dan Sungai Moro’o hingga melampaui kapasitas alirannya. Air kemudian meluap ke wilayah sekitar sungai dan menggenangi sejumlah permukiman serta lahan masyarakat. Kondisi tersebut diperparah dengan hujan yang masih berpotensi terjadi sehingga pemerintah daerah meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan.

BPBD Sumut menyebut hujan dengan intensitas tinggi masih dapat meningkatkan debit sungai dan menyebabkan banjir kembali meluas. Karena itu, pemantauan terus dilakukan di lokasi-lokasi yang berpotensi terdampak.

Lahan Pertanian dan Irigasi Ikut Rusak

Banjir juga memberikan dampak terhadap sektor pertanian masyarakat Nias Barat. Sejumlah lahan persawahan dan jaringan irigasi dilaporkan mengalami kerusakan. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu aktivitas pertanian warga, terutama jika kerusakan saluran irigasi membutuhkan waktu cukup lama untuk diperbaiki.

Selain itu, kerusakan jalan dan jembatan dapat menghambat mobilitas warga sekaligus menyulitkan proses distribusi kebutuhan pokok maupun bantuan ke wilayah terdampak. Pemerintah daerah kini melakukan pendataan untuk menentukan kebutuhan penanganan di masing-masing lokasi.

Pemkab Nias Barat Tetapkan Tanggap Darurat

Pemerintah Kabupaten Nias Barat kemudian menetapkan status tanggap darurat bencana banjir selama tujuh hari, mulai 7 hingga 13 September 2026. Penetapan status tersebut dilakukan untuk mempercepat mobilisasi sumber daya pemerintah dalam menangani dampak bencana.

Bupati Nias Barat Eliyunus Waruwu meminta seluruh perangkat daerah bergerak cepat untuk memastikan keselamatan masyarakat, memenuhi kebutuhan dasar, menyediakan layanan kesehatan, serta mempercepat penyaluran bantuan.

Pemerintah daerah juga berkoordinasi dengan BPBD, Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang, serta instansi terkait lainnya. Posko pelayanan darurat dan dapur umum disiapkan untuk mendukung penanganan masyarakat yang terdampak.

Pemerintah Fokus Pulihkan Akses Warga

Kerusakan jalan dan jembatan menjadi salah satu perhatian pemerintah karena akses transportasi sangat penting untuk memastikan mobilitas masyarakat tetap berjalan. Selain digunakan warga untuk beraktivitas sehari-hari, jalur tersebut dibutuhkan petugas untuk melakukan asesmen dan mendistribusikan bantuan.

Pemerintah daerah meminta proses pendataan dilakukan secara akurat agar bantuan dapat diberikan berdasarkan kebutuhan masing-masing wilayah. Bupati Eliyunus juga meminta jajaran pemerintah daerah tidak hanya fokus pada penanganan genangan, tetapi mulai mengantisipasi dampak lanjutan apabila hujan kembali turun dengan intensitas tinggi.

Tidak Ada Warga yang Mengungsi

Hingga laporan terbaru pada Senin (7/9/2026), BPBD menyatakan belum ada warga yang mengungsi. Kondisi ini berbeda dengan sejumlah kejadian banjir besar sebelumnya di wilayah Nias Barat yang pernah menyebabkan ribuan warga terdampak.

Meski demikian, tidak adanya pengungsi bukan berarti situasi sudah sepenuhnya aman. Pemerintah masih melakukan pemantauan karena hujan susulan dapat meningkatkan kembali debit sungai. Masyarakat yang tinggal di sekitar sungai maupun wilayah yang memiliki riwayat banjir diminta memperhatikan perkembangan kondisi cuaca dan mengikuti arahan petugas.

Banjir Jadi Ancaman Berulang

Nias Barat merupakan salah satu wilayah di Kepulauan Nias yang memiliki kerawanan terhadap banjir ketika hujan berintensitas tinggi berlangsung dalam waktu lama.

Kajian mengenai kerawanan banjir di Kepulauan Nias menunjukkan bahwa kondisi topografi dan karakteristik tanah turut memengaruhi potensi genangan. Kabupaten Nias Barat memiliki sejumlah kawasan dengan tingkat kerawanan banjir tinggi.

Catatan BNPB juga menunjukkan Nias Barat pernah mengalami banjir besar yang disertai longsor pada 2024. Ketika itu, sekitar 1.000 KK atau 4.000 jiwa terdampak dan sekitar 1.000 rumah terendam. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penguatan mitigasi dan infrastruktur pengendali banjir menjadi pekerjaan penting bagi pemerintah daerah maupun pemerintah pusat.

Warga Diminta Waspada Hujan Susulan

BPBD mengingatkan masyarakat agar tetap waspada terhadap kemungkinan hujan dengan intensitas tinggi kembali terjadi. Warga di daerah rawan banjir, khususnya yang berada di sekitar aliran sungai, perlu memperhatikan kenaikan debit air. Apabila kondisi memburuk, masyarakat diminta mengikuti arahan evakuasi dari petugas.

Pemerintah juga terus melakukan koordinasi antara BPBD Nias Barat dan BPBD Sumatera Utara untuk memperbarui informasi mengenai kondisi di lapangan. Hingga Senin, proses asesmen dan penanganan masih berlangsung. Pemerintah berupaya memastikan kebutuhan dasar warga terpenuhi sekaligus memperbaiki akses yang terdampak.

Banjir yang melanda empat kecamatan di Nias Barat menjadi pengingat bahwa hujan berintensitas tinggi dapat dengan cepat meningkatkan debit sungai dan mengganggu aktivitas masyarakat. Dengan 595 KK terdampak, puluhan rumah rusak, serta sejumlah infrastruktur terganggu, pemerintah kini memprioritaskan keselamatan warga, pemenuhan kebutuhan dasar, dan pemulihan akses transportasi sambil mengantisipasi kemungkinan banjir susulan.

Posting Komentar untuk " Hujan Deras, Empat Kecamatan di Nias Barat Terendam Banjir"