Mengenal NAZA, Dokumenter Soal Gaza Pemecah Rekor di Venice 2026

Jakarta – Festival Film Venice 2026 menjadi panggung bagi sebuah film dokumenter yang langsung menyita perhatian dunia. Film berjudul “NAZA” mencatat rekor standing ovation setelah pemutaran perdananya di Festival Film Venice ke-83 pada 10 September 2026. Dokumenter berdurasi 80 menit tersebut mengangkat isu perang Gaza dan berupaya mengungkap sistem di balik operasi militer Israel yang disebut menyebabkan kematian warga sipil Palestina dalam jumlah besar. Film ini disutradarai dua sineas Israel, Yuval Abraham dan Rachel Szor, yang sebelumnya merupakan bagian dari tim dokumenter pemenang Oscar No Other Land.

Yang membuat NAZA semakin menjadi sorotan adalah respons penonton. Seusai pemutaran, penonton memberikan tepuk tangan berdiri selama sekitar 24,5 hingga 25 menit, menjadi standing ovation terpanjang yang tercatat dalam sejarah Festival Film Venice.

Apa Itu Film NAZA?

NAZA merupakan film dokumenter yang diproduksi oleh The Guardian bersama James Wilson dari JW Films. Jonathan Glazer, sutradara film pemenang Oscar The Zone of Interest, bertindak sebagai produser eksekutif. Film tersebut diproduksi secara rahasia selama sekitar tiga tahun. Sebagian besar wawancara dilakukan pada malam hari di atap-atap gedung di Tel Aviv.

Menurut sinopsis resmi Festival Film Venice, film ini berusaha memperlihatkan sistem yang berada di balik apa yang disebut pembuatnya sebagai pembunuhan massal warga sipil Palestina di Gaza. Berbeda dari dokumenter perang yang mengandalkan rekaman langsung dari medan tempur, NAZA banyak menggunakan kesaksian orang-orang yang pernah berada di dalam sistem militer dan intelijen Israel.

Mengapa Judulnya NAZA?

Nama NAZA berasal dari istilah atau akronim militer Israel yang digunakan untuk memperkirakan jumlah warga sipil yang diperkirakan akan tewas dalam sebuah serangan udara. Dalam konteks film, istilah tersebut menggambarkan bagaimana potensi kematian warga sipil dapat dihitung dalam proses penentuan target militer. Euronews menjelaskan bahwa istilah itu digunakan untuk menyebut collateral damage atau korban sipil yang diperkirakan muncul akibat sebuah serangan.

Istilah tersebut menjadi salah satu inti kritik film terhadap cara korban sipil diposisikan dalam pengambilan keputusan militer.

Kesaksian 24 Tentara dan Pejabat Intelijen Israel

Salah satu materi utama NAZA adalah wawancara dengan 24 personel intelijen militer, tentara, dan whistleblower Israel. Para sumber tersebut identitasnya disamarkan. Mereka menceritakan pengalaman dan pengetahuan mengenai operasi militer Israel di Gaza setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.

Menurut laporan Reuters, sejumlah narasumber dalam film menggambarkan kondisi ketika kematian warga sipil dalam jumlah besar dipandang sebagai konsekuensi yang dapat diterima dalam operasi tertentu. Mereka juga membahas penggunaan sistem berbasis teknologi untuk menentukan sasaran.

Kesaksian tersebut menjadi kontroversial karena berhadapan dengan narasi resmi Israel bahwa operasi militernya diarahkan terhadap Hamas dan berupaya meminimalkan korban sipil.

Bahas Teknologi dan Kecerdasan Buatan

NAZA juga mengangkat penggunaan teknologi dalam operasi militer. Film tersebut membahas sistem pengawasan dan penargetan berbasis data, termasuk pemanfaatan kecerdasan buatan untuk membantu menentukan sasaran. Reuters melaporkan bahwa sejumlah mantan personel intelijen yang diwawancarai mengungkap penggunaan data dari telepon seluler yang diretas dan sistem otomatis dalam proses identifikasi target.

Dengan memasukkan aspek teknologi, film ini tidak hanya membicarakan keputusan individual seorang tentara di medan perang, tetapi juga mempertanyakan bagaimana sistem digital dan algoritma dapat berperan dalam keputusan yang berujung pada kematian manusia.

Dibuat dari Investigasi Jurnalistik

NAZA bukan sepenuhnya proyek yang berdiri sendiri. Film tersebut dikembangkan dari hasil investigasi yang sebelumnya dipublikasikan oleh The Guardian, +972 Magazine, dan Local Call sepanjang 2023 hingga 2025.

Para pembuat film kemudian mencoba membawa hasil investigasi tersebut ke medium sinema dengan menampilkan kesaksian personal dan konteks yang lebih luas mengenai sistem militer. Yuval Abraham sendiri merupakan jurnalis dan pembuat film Israel yang sebelumnya terlibat dalam proyek No Other Land.

Kaitan dengan No Other Land

Nama Yuval Abraham dan Rachel Szor sudah dikenal di dunia perfilman dokumenter internasional. Keduanya merupakan dua dari empat sutradara No Other Land, film dokumenter yang meraih Academy Award untuk kategori Film Dokumenter Terbaik pada 2025.

No Other Land mendokumentasikan perjuangan masyarakat Palestina menghadapi penggusuran dan penghancuran rumah di wilayah Masafer Yatta, Tepi Barat. Lewat NAZA, Abraham dan Szor kembali menggunakan perspektif orang Israel untuk mengkritik kebijakan dan praktik militer negaranya sendiri.

Hanya Dokumenter di Kompetisi Utama Venice 2026

Keberadaan NAZA di Venice juga tergolong istimewa. Film tersebut menjadi satu-satunya film dokumenter dari 21 film yang masuk kompetisi utama untuk memperebutkan Golden Lion, penghargaan tertinggi Festival Film Venice tahun ini.

Festival Film Venice 2026 berlangsung pada 2-12 September. NAZA menjalani pemutaran perdana dunianya pada 10 September di Sala Grande. Posisi tersebut membuat film yang mengangkat isu Gaza itu bersaing langsung dengan karya-karya fiksi dari sejumlah sineas ternama dunia.

Pecahkan Rekor Standing Ovation

Respons penonton menjadi salah satu cerita terbesar dari pemutaran NAZA. Setelah film selesai diputar, penonton memberikan tepuk tangan berdiri selama sekitar 24,5 menit. Sejumlah laporan menyebut durasinya mendekati 25 menit. Rekor sebelumnya dipegang “The Voice of Hind Rajab”, film karya sutradara Tunisia Kaouther Ben Hania yang mendapatkan standing ovation sekitar 22 menit ketika ditayangkan di Venice pada 2025. Dengan demikian, NAZA berhasil mencatat salah satu momen paling mencolok dalam sejarah Festival Film Venice.

Penonton Bawa Bendera Palestina

Respons terhadap film tidak hanya berupa tepuk tangan. Laporan dari Venice menyebut sejumlah penonton menunjukkan dukungan terhadap Palestina setelah pemutaran film. Momen tersebut semakin memperlihatkan kuatnya respons emosional terhadap karya yang secara langsung membicarakan perang Gaza dan korban sipil.

Bagi penyelenggara festival, kehadiran NAZA juga menunjukkan bahwa isu politik dan kemanusiaan kembali menjadi bagian penting dalam kompetisi tahun ini.

Mengapa Film Ini Kontroversial?

Kontroversi NAZA terutama muncul karena film tersebut menyampaikan tuduhan serius mengenai cara operasi militer Israel dilakukan di Gaza. Film ini menghadirkan kesaksian anonim dari orang-orang yang mengaku pernah bekerja dalam sistem militer atau intelijen Israel. Kesaksian tersebut digunakan pembuat film untuk mempertanyakan apakah tingginya korban sipil merupakan serangkaian kesalahan individual atau bagian dari sistem yang lebih luas.

Di sisi lain, pemerintah Israel selama perang menegaskan bahwa target operasi militernya adalah Hamas dan bahwa pihaknya berupaya menghindari korban sipil. Karena itu, sejumlah klaim yang muncul dalam film perlu dipahami sebagai kesaksian dan temuan investigatif yang disajikan pembuat dokumenter, bukan otomatis sebagai fakta hukum yang telah diputuskan oleh pengadilan internasional.

Berkaitan dengan Perang Gaza

Latar belakang NAZA adalah perang Gaza yang berlangsung setelah serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023. Konflik tersebut kemudian berkembang menjadi perang berkepanjangan dengan korban jiwa dan kehancuran besar di Gaza. Data korban yang dikutip media internasional dalam laporan terbaru menunjukkan jumlah korban Palestina telah mencapai puluhan ribu.

Film tersebut berusaha melihat konflik bukan hanya dari sisi kehancuran yang terlihat, tetapi dari mekanisme pengambilan keputusan yang berada di balik serangan.

Digarap dengan Pendekatan Berbeda

Salah satu karakteristik NAZA adalah minimnya penggunaan gambar kekerasan eksplisit. Sebaliknya, film mengandalkan wawancara, suara, informasi, serta visual malam hari dari Tel Aviv untuk membangun narasinya. Pendekatan tersebut membuat perhatian penonton diarahkan pada kesaksian para narasumber dan sistem yang mereka gambarkan.

Kontras antara kehidupan normal di Tel Aviv dan cerita mengenai operasi militer di Gaza juga menjadi bagian dari pendekatan sinematik film.

Belum Tentu Menjadi Pemenang Golden Lion

Meski mendapat respons luar biasa, standing ovation panjang tidak otomatis membuat NAZA menjadi pemenang Golden Lion. Juri Festival Film Venice tetap menentukan pemenang berdasarkan penilaian artistik dan keseluruhan karya. Namun, reaksi publik membuat film ini masuk dalam daftar karya yang paling banyak diperbincangkan menjelang pengumuman penghargaan.

Pada 12 September 2026, ketika festival memasuki hari terakhir, NAZA masih disebut sebagai salah satu kandidat kuat dalam perebutan penghargaan utama Venice.

Bukan Sekadar Film Perang

Bagi pembuatnya, NAZA bukan sekadar dokumenter tentang peperangan. Film tersebut berusaha mempertanyakan bagaimana sebuah sistem dapat membuat kekerasan terhadap warga sipil menjadi bagian dari prosedur yang dianggap normal.

Dalam pernyataan sutradara yang dimuat Festival Film Venice, Abraham dan Szor mengatakan mereka membuat film tersebut karena merasa memiliki tanggung jawab sebagai warga Israel untuk memeriksa sistem di balik pembunuhan massal warga Palestina. Itulah yang membuat NAZA menjadi salah satu film paling kontroversial sekaligus paling banyak dibicarakan di Venice 2026.

Dengan durasi 80 menit, kesaksian 24 sumber dari lingkungan militer dan intelijen Israel, serta rekor standing ovation hampir 25 menit, NAZA telah membawa isu Gaza kembali menjadi pusat perhatian festival film internasional. Lebih dari sekadar rekor tepuk tangan, film ini memperlihatkan bagaimana sinema dokumenter dapat menjadi medium untuk mempertanyakan keputusan militer, penggunaan teknologi dalam perang, dan konsekuensi kemanusiaan yang ditanggung warga sipil.

Posting Komentar untuk " Mengenal NAZA, Dokumenter Soal Gaza Pemecah Rekor di Venice 2026"