Pakai Ginjal Babi, Pria Ini Tak Perlu Cuci Darah Selama 9 Bulan

Jakarta — Dunia kedokteran kembali mencatat terobosan besar dalam transplantasi organ. Seorang pria asal Amerika Serikat, Tim Andrews, berhasil hidup selama sekitar sembilan bulan dengan ginjal babi yang telah dimodifikasi secara genetik. Selama organ tersebut berfungsi, Andrews tidak perlu menjalani cuci darah atau dialisis.

Kasus Andrews menjadi perhatian karena untuk pertama kalinya ginjal dari hewan berhasil digunakan sebagai jembatan menuju transplantasi ginjal manusia. Setelah ginjal babi tersebut akhirnya mengalami penurunan fungsi, Andrews kemudian mendapatkan ginjal manusia dari donor yang telah meninggal dan hingga kini organ tersebut berfungsi dengan baik.

Ginjal Babi Berfungsi Selama 271 Hari

Andrews menjalani transplantasi pada 25 Januari 2025 di Massachusetts General Hospital, Boston, Amerika Serikat. Saat itu, ia berusia 66 tahun dan mengalami penyakit ginjal stadium akhir akibat diabetes tipe 2.

Sebelum transplantasi, Andrews telah menjalani hemodialisis selama sekitar dua tahun. Kondisinya membuat aktivitas sehari-hari sangat terbatas, sementara peluang mendapatkan donor ginjal manusia dalam waktu lima tahun diperkirakan hanya sekitar 9 persen.

Ginjal babi yang ditanamkan kemudian bekerja dan membantu tubuh Andrews membuang limbah serta menghasilkan urine. Organ tersebut bertahan selama 271 hari, atau hampir sembilan bulan. Durasi tersebut menjadi rekor terpanjang untuk ginjal babi yang berfungsi pada manusia dan memungkinkan Andrews terbebas dari dialisis selama periode tersebut.

Bukan Ginjal Babi Biasa

Ginjal yang digunakan bukan berasal dari babi biasa. Organ tersebut telah melalui rekayasa genetika untuk mengurangi risiko penolakan oleh sistem kekebalan tubuh manusia.

Ginjal tersebut dikembangkan oleh perusahaan bioteknologi eGenesis. Modifikasi yang dilakukan mencakup penghilangan sejumlah antigen gula pada babi yang dapat memicu reaksi imun, menonaktifkan retrovirus endogen babi, serta memasukkan tujuh gen manusia untuk membantu meningkatkan kompatibilitas organ. Secara keseluruhan, pendekatan tersebut melibatkan 69 modifikasi genetik.

Rekayasa tersebut sangat penting karena organ hewan pada dasarnya dikenali sebagai benda asing oleh tubuh manusia. Tanpa modifikasi, sistem imun dapat menyerang organ yang ditransplantasikan dan menyebabkan kegagalan dalam waktu singkat.

Mengapa Andrews Bisa Berhenti Cuci Darah?

Ginjal memiliki fungsi vital dalam menyaring darah, membuang produk limbah, mengatur cairan tubuh dan menghasilkan urine. Pada pasien gagal ginjal stadium akhir, fungsi tersebut tidak lagi berjalan dengan baik. Karena itu, pasien biasanya membutuhkan dialisis secara rutin atau transplantasi ginjal.

Dalam kasus Andrews, ginjal babi yang ditransplantasikan mampu menjalankan fungsi penyaringan tersebut secara terus-menerus.

Berbeda dengan dialisis yang dilakukan dalam sesi tertentu menggunakan mesin, ginjal yang berfungsi di dalam tubuh dapat bekerja sepanjang waktu. Dokter menyebut kemampuan tersebut memberikan Andrews kesempatan untuk menjalani kehidupan tanpa ketergantungan pada mesin dialisis selama berbulan-bulan.

Setelah 271 Hari, Ginjal Babi Mulai Gagal

Keberhasilan tersebut bukan berarti ginjal babi mampu menggantikan ginjal manusia secara permanen. Setelah berfungsi selama 271 hari, ginjal tersebut mulai mengalami penurunan fungsi. Dokter kemudian memutuskan untuk mengangkat organ tersebut pada Oktober 2025. Andrews sempat kembali menjalani dialisis sebelum mendapatkan ginjal manusia beberapa bulan kemudian.

Pada Januari 2026, Andrews akhirnya menerima ginjal dari donor manusia yang telah meninggal. Transplantasi tersebut berjalan dengan baik. Ginjal manusia baru langsung berfungsi dan tidak ditemukan masalah penolakan organ yang signifikan.

Untuk Pertama Kalinya Menjadi "Jembatan"

Inilah aspek paling penting dari kasus Andrews. Sebelumnya, penelitian transplantasi ginjal babi ke manusia memang telah menghasilkan beberapa keberhasilan, tetapi belum ada bukti bahwa organ tersebut dapat digunakan sebagai terapi sementara hingga pasien memperoleh donor manusia dalam jangka waktu selama itu.

Dalam laporan yang diterbitkan di jurnal The Lancet pada 3 September 2026, peneliti menyebut kasus Andrews sebagai keberhasilan pertama transplantasi ginjal babi yang kemudian dilanjutkan dengan transplantasi ginjal manusia. Konsep ini disebut bridge transplantation atau transplantasi sebagai jembatan.

Artinya, ginjal babi tidak harus langsung menjadi pengganti permanen. Organ tersebut dapat digunakan untuk menjaga pasien tetap hidup dan bebas dialisis sambil menunggu donor manusia yang cocok.

Tidak Ditemukan Penularan Virus dari Babi

Salah satu kekhawatiran terbesar dalam transplantasi lintas spesies adalah kemungkinan penularan penyakit dari hewan kepada manusia. Dalam kasus Andrews, para peneliti melaporkan tidak menemukan penularan patogen yang berasal dari babi selama periode pengamatan. Hal tersebut menjadi temuan penting karena keamanan terhadap infeksi zoonotik merupakan salah satu tantangan utama dalam pengembangan xenotransplantasi.

Peneliti juga tidak menemukan bukti bahwa transplantasi ginjal babi membuat tubuh Andrews menjadi tersensitisasi terhadap jaringan manusia sehingga menyulitkan transplantasi berikutnya.

Hal itu sangat penting karena salah satu pertanyaan sebelum penelitian adalah apakah tubuh pasien yang menerima organ babi akan mengalami perubahan imunologis yang membuat transplantasi ginjal manusia setelahnya menjadi lebih sulit.

Apa yang Menyebabkan Ginjal Babi Akhirnya Gagal?

Meski mampu bertahan hampir sembilan bulan, ginjal babi tersebut pada akhirnya mengalami kerusakan. Analisis terhadap jaringan menunjukkan adanya cedera pada pembuluh darah mikro yang berkaitan dengan aktivitas sel imun, termasuk makrofag dan sel natural killer. Kondisi tersebut berkontribusi terhadap trombotik mikroangiopati, yang akhirnya menyebabkan fungsi organ menurun.

Temuan ini memberikan petunjuk penting bagi ilmuwan mengenai bagaimana respons tubuh manusia terhadap organ babi berkembang dalam jangka panjang. Dengan memahami mekanisme tersebut, para peneliti berharap dapat memperbaiki desain organ hasil rekayasa genetika dan terapi imunosupresi sehingga organ dapat bertahan lebih lama.

Kekurangan Donor Menjadi Masalah Besar

Terobosan ini tidak terlepas dari persoalan klasik dalam dunia transplantasi, yaitu kekurangan organ donor. Banyak pasien gagal ginjal harus menunggu bertahun-tahun untuk mendapatkan donor manusia yang sesuai. Waktu tunggu bahkan dapat lebih panjang bagi pasien dengan golongan darah atau karakteristik jaringan tertentu.

Dalam kasus Andrews, dokter memperkirakan peluangnya mendapatkan ginjal manusia dalam lima tahun sangat kecil. Karena itu, transplantasi ginjal babi dipilih sebagai salah satu opsi untuk menjaga kondisi tubuhnya sambil menunggu donor yang cocok.

Apakah Ginjal Babi Bisa Menjadi Pengganti Permanen?

Para ilmuwan belum bisa memastikan. Kasus Andrews membuktikan bahwa ginjal babi yang telah direkayasa secara genetik dapat menjalankan fungsi ginjal manusia selama berbulan-bulan dan bahkan menjadi jembatan menuju transplantasi manusia.

Namun, satu kasus belum cukup untuk membuktikan bahwa teknologi tersebut aman dan efektif bagi populasi luas. Peneliti masih harus menjawab berbagai pertanyaan, termasuk berapa lama organ dapat bertahan, bagaimana mengendalikan respons imun dalam jangka panjang, bagaimana mencegah infeksi, serta bagaimana memastikan hasilnya konsisten pada pasien yang berbeda.

Harapan Baru bagi Pasien Gagal Ginjal

Meski masih berada pada tahap penelitian, pengalaman Andrews memberikan harapan besar. Selama bertahun-tahun, dialisis menjadi salah satu pilihan utama bagi pasien yang mengalami gagal ginjal stadium akhir dan belum mendapatkan donor. Prosedur tersebut dapat menyelamatkan nyawa, tetapi membutuhkan waktu dan tenaga pasien secara rutin.

Ginjal babi hasil rekayasa genetika berpotensi mengubah situasi tersebut. Jika teknologi ini nantinya terbukti aman dan dapat bertahan lebih lama, pasien mungkin tidak perlu menunggu dalam kondisi terus-menerus bergantung pada mesin dialisis.

Dokter Leonardo Riella, salah satu peneliti utama, melihat xenotransplantasi berpotensi menjadi solusi untuk mengatasi kesenjangan antara jumlah pasien yang membutuhkan ginjal dan jumlah organ donor yang tersedia.

Langkah Besar, tetapi Belum Menjadi Pengobatan Umum

Kasus Tim Andrews menjadi tonggak penting dalam sejarah transplantasi organ. Untuk pertama kalinya, sebuah ginjal babi hasil rekayasa genetika mampu menjaga seorang pasien tetap bebas dialisis selama 271 hari, sebelum pasien tersebut akhirnya memperoleh ginjal manusia.

Namun, masyarakat tidak boleh menganggap transplantasi ginjal babi sebagai prosedur yang sudah tersedia secara umum. Teknologi tersebut masih membutuhkan penelitian dan uji klinis lebih lanjut untuk memastikan keamanan serta efektivitasnya pada lebih banyak pasien.

Jika berbagai tantangan tersebut dapat diatasi, xenotransplantasi berpotensi menjadi salah satu terobosan terbesar dalam dunia kedokteran modern—bukan hanya sebagai "jembatan" menuju donor manusia, tetapi suatu hari mungkin juga sebagai alternatif jangka panjang bagi pasien yang tidak memiliki kesempatan mendapatkan organ donor tepat waktu.

Posting Komentar untuk "Pakai Ginjal Babi, Pria Ini Tak Perlu Cuci Darah Selama 9 Bulan"