Pencarian Kapal Jurnalis Hilang Kontak Dilakukan hingga ke Bengkulu
Operasi pencarian terhadap lima jurnalis dan tiga awak kapal yang hilang kontak saat meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda terus diperluas. Hingga Selasa, 15 September 2026, tim SAR gabungan belum menemukan keberadaan Kapal Arupadhatu 1 yang membawa rombongan tersebut.
Terbaru, area pencarian tidak lagi hanya berfokus di sekitar perairan Gunung Anak Krakatau dan pesisir Banten. Basarnas Bengkulu ikut dilibatkan dalam pencarian, sehingga penyisiran diperluas hingga wilayah perairan Bengkulu.
Lima Jurnalis dan Tiga Awak Kapal Masih Dicari
Rombongan tersebut dilaporkan hilang kontak ketika melakukan perjalanan menggunakan kapal cepat untuk meliput aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau pada Senin, 7 September 2026. Dalam perkembangannya, Basarnas memastikan jumlah orang yang hilang bukan tujuh seperti informasi awal, melainkan delapan orang, terdiri dari lima jurnalis dan tiga awak kapal.
Kapal yang digunakan rombongan adalah Arupadhatu 1. Hingga kini kapal tersebut belum ditemukan. Hilangnya kapal terjadi di tengah kondisi aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau yang saat itu meningkat. Badan Geologi sebelumnya menyatakan episode erupsi menerus Anak Krakatau berlangsung sekitar 25 jam, dari 4 hingga 6 September 2026. Setelah itu aktivitas erupsi masih terjadi dan tingkat aktivitas gunung berada pada Level III atau Siaga.
Area Pencarian Diperluas
Tim SAR sebelumnya melakukan penyisiran di sekitar perairan Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, Pulau Sertung, Pulau Panjang, hingga sejumlah wilayah di sekitar pesisir Banten dan Lampung. Pencarian kemudian diperluas berdasarkan kemungkinan kapal atau para korban terbawa arus dan kondisi gelombang. Kini operasi juga diarahkan hingga wilayah yang berada di bawah koordinasi Basarnas Bengkulu.
Keterlibatan unsur SAR Bengkulu menjadi bagian dari upaya memperbesar cakupan pencarian, mengingat lokasi hilangnya kapal berada di kawasan perairan terbuka dan posisi objek dapat berubah akibat arus laut, angin serta gelombang. CNN Indonesia melaporkan pencarian lima jurnalis dan tiga awak kapal tersebut kini diperluas dengan melibatkan Basarnas Bengkulu.
Tim SAR Temukan Sejumlah Benda
Dalam beberapa hari pencarian, tim SAR gabungan menemukan sejumlah benda di laut. Salah satunya adalah jeriken minyak berwarna biru yang ditemukan KN SAR Tetuka 247 pada hari kelima operasi. Benda tersebut ditemukan di Sektor X pada koordinat 06°02.7161' LS dan 105°31.5414' BT sekitar pukul 10.05 WIB.
Tim juga sempat menemukan sejumlah pelampung dan terpal ketika melakukan penyisiran. Namun, masyarakat diminta tidak langsung mengaitkan setiap benda yang ditemukan dengan kapal Arupadhatu 1.
Pelampung yang Ditemukan Bukan Milik Arupadhatu 1
Salah satu perkembangan penting dalam operasi pencarian adalah pemeriksaan terhadap pelampung yang ditemukan tim SAR. Kapolda Banten Irjen Pol Hengki memastikan life jacket berwarna oranye dan pelampung putih yang ditemukan dalam pencarian hari ketiga bukan perlengkapan keselamatan milik Kapal Arupadhatu 1.
Kesimpulan tersebut diperoleh setelah petugas memeriksa benda yang ditemukan dan meminta keterangan pemilik kapal, Sandi. Pemilik kapal juga memastikan benda tersebut bukan bagian dari perlengkapan keselamatan Arupadhatu 1. Karena itu, temuan benda di laut harus melalui pemeriksaan terlebih dahulu sebelum dapat dipastikan memiliki hubungan dengan rombongan jurnalis.
Pencarian Tidak Hanya Mengandalkan Kapal
Operasi SAR dilakukan menggunakan berbagai unsur, termasuk kapal, pemantauan udara dan personel yang menyisir wilayah-wilayah yang dinilai berpotensi menjadi lokasi keberadaan kapal atau korban. Perubahan sektor pencarian dilakukan berdasarkan evaluasi terhadap hasil penyisiran sebelumnya. Pada salah satu tahap operasi, tim mengalihkan fokus dari sisi selatan Gunung Anak Krakatau ke sisi utara setelah area tertentu disisir hingga sekitar 20 nautical mile.
Strategi tersebut penting karena lokasi terakhir kapal diketahui tidak serta-merta menjadi lokasi keberadaan kapal saat operasi pencarian berlangsung. Arus dan kondisi laut dapat menyebabkan kapal atau benda-benda dari kapal berpindah cukup jauh.
Kondisi Anak Krakatau Menjadi Tantangan
Operasi pencarian juga berlangsung dalam situasi yang tidak mudah karena dilakukan di kawasan yang masih dipengaruhi aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau. Badan Geologi sebelumnya mengingatkan adanya potensi bahaya berupa lontaran batu pijar dan hujan abu lebat, serta kemungkinan aliran lava apabila erupsi menerus kembali terjadi. Masyarakat juga dilarang melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Anak Krakatau.
Selain aktivitas gunung api, kondisi laut juga menjadi faktor yang harus diperhitungkan. Gelombang, angin, jarak pandang dan kondisi cuaca dapat memengaruhi efektivitas penyisiran sekaligus keselamatan personel SAR.
Solidaritas dari Dunia Jurnalistik
Hilangnya lima jurnalis dalam menjalankan tugas peliputan juga mendapat perhatian dari komunitas pers di dalam dan luar negeri. Kantor Berita Nasional Malaysia, Bernama, sebelumnya menyampaikan solidaritas kepada lima jurnalis Indonesia yang hilang saat menjalankan tugas jurnalistik di sekitar Gunung Anak Krakatau.
Dukungan tersebut muncul di tengah upaya tim gabungan mencari para jurnalis dan awak kapal yang hingga kini belum ditemukan.
Harapan Keluarga Masih Besar
Pencarian yang diperluas hingga Bengkulu menunjukkan bahwa tim SAR terus berupaya membuka kemungkinan baru dalam menemukan delapan orang tersebut. Setiap temuan di lapangan diperiksa untuk memastikan apakah memiliki hubungan dengan Arupadhatu 1. Tim juga terus memperbarui sektor pencarian berdasarkan perkembangan kondisi laut dan hasil penyisiran sebelumnya.
Hingga informasi terbaru pada 15 September 2026, belum ada laporan resmi mengenai ditemukannya lima jurnalis maupun tiga awak kapal tersebut. Operasi pencarian masih berlangsung.
Pencarian Terus Diperluas
Perluasan operasi hingga wilayah Bengkulu menjadi langkah penting setelah pencarian di sekitar Selat Sunda belum membuahkan hasil. Basarnas dan unsur SAR terkait kini memiliki cakupan wilayah yang lebih luas untuk menelusuri kemungkinan arah pergerakan kapal maupun korban. Di tengah ketidakpastian tersebut, tim SAR tetap menghadapi tantangan berupa luasnya wilayah laut, perubahan kondisi cuaca dan arus, serta aktivitas vulkanik Anak Krakatau.
Keluarga, rekan sesama jurnalis, dan masyarakat masih menunggu kabar mengenai keberadaan lima jurnalis dan tiga awak Arupadhatu 1. Operasi pencarian pun terus dilakukan dengan harapan seluruh korban dapat segera ditemukan.

Posting Komentar untuk " Pencarian Kapal Jurnalis Hilang Kontak Dilakukan hingga ke Bengkulu"