Penumpang Bawa Jenazah Tertahan 2 Hari di Bandara Soetta

Jakarta — Duka keluarga almarhum Iwan Zebua bertambah setelah jenazah yang hendak dibawa pulang ke Nias tertahan selama dua hari di Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta), Tangerang, Banten. Rencana pemulangan jenazah terganggu akibat penutupan operasional penerbangan menyusul sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau.

Jenazah Iwan Zebua rencananya dibawa ke Desa Loloanaa, Kecamatan Botomuzoi, Nias, untuk menjalani prosesi pemakaman secara adat. Namun, gangguan penerbangan membuat keluarga harus menunggu lebih lama di bandara.

Kisah tersebut menjadi salah satu dampak langsung dari terganggunya konektivitas udara setelah abu vulkanik Gunung Anak Krakatau menyebar ke sejumlah wilayah dan memengaruhi aktivitas beberapa bandar udara.

Dua Hari Menunggu di Bandara

Frengki Lase, keponakan almarhum yang mengawal jenazah, mengungkapkan keluarga harus bertahan di Bandara Soetta selama sekitar dua hari. Penundaan tersebut membuat proses pemulangan jenazah ke kampung halaman menjadi tidak sesuai rencana.

Situasi itu tentu menjadi beban emosional bagi keluarga. Mereka bukan hanya menghadapi kehilangan anggota keluarga, tetapi juga harus menghadapi ketidakpastian perjalanan pada saat prosesi pemakaman sudah dinantikan.

Rencana penerbangan yang semula diharapkan dapat membawa jenazah menuju Nias mengalami penundaan. Bahkan setelah aktivitas bandara mulai dipulihkan secara bertahap, kepastian keberangkatan masih harus menunggu kondisi penerbangan dinyatakan aman.

Keluarga Sempat Cari Jalur Laut

Untuk mempercepat proses pemulangan, keluarga sempat mempertimbangkan jalur alternatif melalui transportasi laut. Namun, pilihan tersebut akhirnya tidak dilanjutkan. Keluarga mendapat informasi bahwa perjalanan laut menuju Nias juga berpotensi mengalami keterlambatan akibat kondisi cuaca dan dampak erupsi.

Dengan demikian, keluarga tetap menunggu kepastian penerbangan dari Bandara Soetta agar jenazah dapat segera dibawa menuju Nias.

Keluar Biaya Tambahan Rp1,5 Juta

Penundaan selama dua hari juga menimbulkan konsekuensi finansial bagi keluarga. Frengki menyebut pihaknya harus mengeluarkan biaya tambahan sekitar Rp1,5 juta untuk memenuhi kebutuhan selama berada di bandara.

Biaya tersebut muncul karena keluarga harus memperpanjang masa menunggu akibat jadwal perjalanan yang tidak berjalan sesuai rencana. Menurut laporan yang diterbitkan StartNews, keluarga belum memperoleh kompensasi dari maskapai atas biaya tambahan tersebut.

Soetta Ditutup Akibat Abu Vulkanik

Gangguan yang dialami keluarga Iwan Zebua tidak terlepas dari kondisi penerbangan nasional akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. AirNav Indonesia sebelumnya menyatakan Bandara Soekarno-Hatta ditutup sementara karena adanya sebaran abu vulkanik. Penutupan tersebut beberapa kali diperpanjang berdasarkan perkembangan kondisi ruang udara.

Pada Senin, 7 September 2026, AirNav memperbarui NOTAM dan menetapkan penutupan operasional Soetta hingga pukul 23.59 WIB. Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari mitigasi untuk menjaga keselamatan penerbangan.

Kementerian Perhubungan juga menjelaskan bahwa keputusan untuk memperpanjang penutupan dilakukan secara konservatif karena arah angin yang dinamis dapat membuat abu vulkanik kembali bergerak menuju wilayah bandara. Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengatakan pemerintah ingin memastikan abu vulkanik benar-benar menjauh sebelum operasional penerbangan kembali dijalankan secara normal.

Ratusan Penerbangan Terdampak

Dampak penutupan Soetta tidak hanya dirasakan oleh keluarga yang membawa jenazah. Ribuan calon penumpang lainnya juga menghadapi pembatalan maupun penundaan perjalanan. Pada 7 September 2026, tercatat 624 rencana penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta terdampak akibat kondisi abu vulkanik. Bandara juga mengaktifkan layanan penanganan penumpang terdampak atau Service Recovery Activation (SRA).

Maskapai kemudian diarahkan untuk memanfaatkan sejumlah bandara alternatif, di antaranya Kertajati, Ahmad Yani, Juanda, Yogyakarta International Airport (YIA), Adisutjipto, dan Adi Soemarmo guna mengurangi penumpukan penumpang.

Keselamatan Penerbangan Jadi Prioritas

Meskipun kondisi ini menyebabkan kerugian waktu dan biaya bagi penumpang, penutupan bandara dilakukan dengan pertimbangan keselamatan. Abu vulkanik dapat membahayakan penerbangan apabila masuk ke dalam mesin pesawat maupun mengganggu sistem dan visibilitas penerbangan. Karena itu, pemerintah dan otoritas penerbangan melakukan pemantauan secara berkala.

Menhub Dudy sebelumnya menyebut paper test dilakukan secara rutin untuk memantau keberadaan abu vulkanik di sejumlah bandara. Pemeriksaan dilakukan secara intensif seiring perkembangan arah dan sebaran abu.

Pada Senin, hasil empat kali paper test di Bandara Soetta dilaporkan negatif. Namun, hasil tersebut tidak serta-merta membuat bandara langsung dibuka karena pemerintah masih mempertimbangkan informasi sebaran abu vulkanik dan faktor keselamatan lainnya.

Harapan Jenazah Segera Sampai ke Nias

Bagi keluarga Iwan Zebua, persoalan utama bukan sekadar perjalanan yang tertunda. Mereka berharap jenazah dapat segera tiba di kampung halaman sehingga prosesi pemakaman sesuai adat dapat dilaksanakan.

Setelah dua hari menunggu di Soetta, keluarga hanya bisa berharap kondisi penerbangan segera kembali normal dan pesawat yang membawa jenazah dapat diberangkatkan ke Nias. Peristiwa ini sekaligus menunjukkan bagaimana gangguan penerbangan akibat fenomena alam dapat berdampak luas terhadap masyarakat, termasuk keluarga yang sedang menghadapi situasi duka dan membutuhkan kepastian perjalanan secepat mungkin.

Posting Komentar untuk "Penumpang Bawa Jenazah Tertahan 2 Hari di Bandara Soetta"