Pertamax Bisa Rp20 Ribu Imbas Harga Minyak Dunia, Ini Kata Pertamina
Harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi berpotensi kembali mengalami kenaikan apabila harga minyak mentah dunia terus bertahan di level tinggi. PT Pertamina Patra Niaga bahkan memperkirakan harga Pertamax dan produk BBM nonsubsidi lainnya dapat berada di kisaran Rp18.000 hingga Rp20.000 per liter.
Proyeksi tersebut disampaikan Direktur Pemasaran Ritel PT Pertamina Patra Niaga Eko Ricky Susanto di tengah gejolak pasar energi global yang dipengaruhi konflik di Timur Tengah. Eko mengatakan kondisi geopolitik saat ini membuat harga minyak dunia sulit diprediksi. Salah satu faktor utama yang menjadi perhatian adalah situasi di sekitar Selat Hormuz, jalur penting bagi distribusi minyak dunia.
"Harga Pertamax, Dex, dan lain-lain itu akan berkisaran antara di angka Rp18 ribu sampai Rp20 ribuan karena tidak ada, belum ada indikasi terjadi penurunan harga minyak dunia," kata Eko, Jumat (11/9/2026). Pernyataan tersebut merupakan gambaran potensi harga, bukan pengumuman bahwa harga Pertamax akan langsung naik menjadi Rp20.000 per liter. Harga aktual tetap bergantung pada perkembangan harga minyak dunia dan formula penetapan BBM nonsubsidi.
Harga Minyak Dunia Jadi Faktor Utama
Harga minyak mentah dunia merupakan salah satu komponen penting dalam menentukan keekonomian BBM nonsubsidi. Ketika harga minyak meningkat, biaya pengadaan bahan bakar juga ikut tertekan. Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot sebelumnya menjelaskan bahwa harga Pertamax pada prinsipnya mengikuti harga pasar. Perhitungan harga BBM nonsubsidi juga menggunakan formula yang memperhitungkan biaya pokok penyediaan serta margin.
Selain harga minyak mentah, terdapat faktor lain yang memengaruhi harga BBM, seperti nilai tukar rupiah, pajak dan kondisi daya beli masyarakat. Pertamina Patra Niaga sebelumnya juga menegaskan bahwa penyesuaian harga BBM nonsubsidi dilakukan berdasarkan formula yang ditetapkan pemerintah.
Konflik Timur Tengah Bikin Pasar Energi Bergejolak
Pertamina menilai situasi geopolitik saat ini memberikan tekanan besar terhadap pasar energi global. Konflik di Timur Tengah, terutama risiko gangguan distribusi minyak melalui Selat Hormuz, membuat harga minyak mentah bergerak tidak stabil. Kondisi tersebut berbeda dengan periode sebelum terjadinya krisis geopolitik.
Eko mengatakan harga minyak bahkan masih belum menunjukkan tanda-tanda penurunan signifikan. Ia berharap harga minyak dapat kembali ke level yang lebih rendah, sekitar US$60-US$70 per barel, sehingga tekanan terhadap harga BBM di dalam negeri dapat berkurang.
Harga Pertamax Saat Ini Belum Rp20 Ribu
Meski ada proyeksi harga Rp18.000-Rp20.000 per liter, harga Pertamax saat ini belum mencapai level tersebut. Untuk wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur dan Bali, harga Pertamax per September 2026 tercatat Rp15.950 per liter. Sementara itu, harga Pertamax Turbo mencapai Rp19.600 per liter.
Namun harga Pertamax berbeda antarwilayah karena dipengaruhi antara lain oleh komponen pajak daerah. Di Aceh, Sumatera Utara, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, Bangka Belitung dan Lampung, misalnya, harga Pertamax tercatat Rp16.300 per liter. Untuk Sumatera Barat, Riau dan Kepulauan Riau, harganya mencapai Rp16.650 per liter.
Artinya, angka Rp20.000 yang disebut Pertamina merupakan potensi kisaran harga jika tekanan harga minyak dunia terus berlangsung, bukan harga Pertamax yang otomatis berlaku di seluruh Indonesia.
Sejumlah BBM Pertamina Sudah Naik
Sebelum munculnya proyeksi Pertamax Rp18.000-Rp20.000 per liter, Pertamina telah melakukan penyesuaian terhadap sejumlah produk BBM nonsubsidi pada September 2026. Untuk wilayah dengan PBBKB 5 persen, harga Pertamax Turbo naik dari Rp18.300 menjadi Rp19.600 per liter. Kemudian Dexlite meningkat dari Rp19.700 menjadi Rp23.700 per liter.
Sementara Pertamina Dex naik dari Rp21.150 menjadi Rp25.200 per liter. Pertamax pada periode tersebut masih dipertahankan di Rp15.950 per liter. Kenaikan bahkan membuat Pertamax Turbo di sejumlah wilayah sudah menyentuh Rp20.000 per liter. Di Aceh dan sejumlah provinsi Sumatera, misalnya, Pertamax Turbo dibanderol Rp20.000 per liter, sedangkan di Sumatera Barat, Riau dan Kepulauan Riau mencapai Rp20.450 per liter.
Pertamina Masih Pertimbangkan Daya Beli Masyarakat
Meski harga minyak dunia menjadi salah satu acuan penting, penyesuaian harga BBM tidak semata-mata dilakukan dengan mengikuti pergerakan harga minyak mentah secara langsung. Pertamina menyatakan harga BBM nonsubsidi juga mempertimbangkan kondisi sosial dan daya beli masyarakat. Karena itu, tidak semua produk langsung mengalami perubahan harga ketika terjadi kenaikan harga minyak dunia.
Hal tersebut terlihat pada penyesuaian harga September 2026. Ketika Pertamax Turbo, Dexlite dan Pertamina Dex naik, harga Pertamax untuk wilayah tertentu tetap dipertahankan.
Bagaimana dengan Pertalite?
Berbeda dengan Pertamax yang merupakan BBM nonsubsidi, Pertalite dan Solar subsidi tidak mengalami perubahan harga dalam penyesuaian September 2026. Pertalite masih berada di angka Rp10.000 per liter, sedangkan Bio Solar subsidi tetap Rp6.800 per liter.
Dengan demikian, potensi Pertamax menuju Rp18.000-Rp20.000 per liter tidak berarti harga Pertalite otomatis ikut naik ke level tersebut.
Jika Minyak Dunia Turun, Harga BBM Bisa Berubah
Proyeksi harga Rp20.000 per liter sangat bergantung pada perkembangan pasar minyak dunia. Jika tekanan geopolitik mereda dan harga minyak mentah turun secara signifikan, tekanan terhadap harga BBM nonsubsidi juga berpotensi berkurang. Sebaliknya, apabila konflik berkepanjangan dan pasokan energi global terganggu, harga minyak dapat tetap tinggi sehingga keekonomian BBM nonsubsidi ikut terdorong.
Karena itu, Pertamina belum menyatakan bahwa Pertamax akan langsung dijual Rp20.000 per liter. Angka tersebut merupakan potensi kisaran harga apabila kondisi pasar energi global tidak membaik.
Dampaknya bagi Konsumen
Jika Pertamax benar-benar mendekati Rp20.000 per liter, dampaknya tentu akan terasa bagi konsumen kendaraan pribadi. Pengeluaran untuk bahan bakar akan meningkat, terutama bagi masyarakat yang menggunakan kendaraan dengan konsumsi BBM tinggi atau memiliki jarak tempuh harian yang panjang.
Kenaikan harga BBM juga berpotensi memberikan efek tidak langsung terhadap biaya transportasi dan distribusi barang. Namun besarnya dampak akan bergantung pada kebijakan harga yang akhirnya diterapkan serta perkembangan harga minyak dunia.
Untuk saat ini, masyarakat tidak perlu menganggap Rp20.000 sebagai harga Pertamax yang sudah berlaku. Harga tersebut masih berupa proyeksi Pertamina berdasarkan skenario ketika harga minyak dunia tetap tinggi.
Kesimpulan
Pertamina membuka kemungkinan harga Pertamax dan BBM nonsubsidi lainnya berada di kisaran Rp18.000-Rp20.000 per liter apabila harga minyak dunia terus tinggi dan belum menunjukkan tanda penurunan. Faktor geopolitik, khususnya konflik di Timur Tengah dan risiko gangguan distribusi minyak melalui Selat Hormuz, menjadi salah satu perhatian utama pasar energi.
Namun, Pertamax belum resmi naik menjadi Rp20.000 per liter. Harga yang berlaku saat ini masih mengikuti ketentuan dan formula pemerintah serta mempertimbangkan harga minyak mentah dunia, nilai tukar, pajak dan daya beli masyarakat.

Posting Komentar untuk " Pertamax Bisa Rp20 Ribu Imbas Harga Minyak Dunia, Ini Kata Pertamina"