Polisi: Temuan Rompi Pelampung Bukan Milik Kapal Rombongan Jurnalis

Banten – Temuan sebuah rompi pelampung atau life jacket di perairan barat Anyer, Banten, sempat menimbulkan harapan dalam pencarian lima jurnalis dan tiga kru kapal yang hilang kontak saat hendak meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau. Namun, berdasarkan pemeriksaan awal, rompi tersebut dipastikan bukan bagian dari perlengkapan kapal Arupadhatu 1 yang membawa rombongan tersebut.

Kepastian itu disampaikan setelah pemilik kapal melakukan pengecekan terhadap perlengkapan keselamatan yang tersedia di Arupadhatu 1. Warna rompi yang ditemukan tim TNI Angkatan Laut juga berbeda dengan life jacket yang berada di kapal rombongan.

Meski demikian, aparat tetap melakukan pemeriksaan terhadap barang temuan dan meminta masyarakat tidak membuat kesimpulan sendiri mengenai kaitannya dengan delapan orang yang masih dalam pencarian.

Rompi Ditemukan Saat Pencarian Hari Ketiga

Rompi pelampung ditemukan oleh KAL Anyer I-3-64 Lanal Banten pada Kamis (10/9/2026) sekitar pukul 15.32 WIB. Lokasi penemuan berada di perairan Cikoneng-Labuan, dekat Anyer, atau sekitar 7,5 mil laut di sebelah barat Suar Tanjung Koneng Anyer. Lokasi tersebut berjarak sekitar 20 mil laut dari arah timur laut Gunung Anak Krakatau.

Temuan itu diperoleh ketika kapal TNI AL menyisir wilayah perairan untuk mencari rombongan yang hilang kontak setelah berangkat dari Carita menuju kawasan Gunung Anak Krakatau. Selain rompi pelampung, tim juga menemukan sebuah benda berbentuk tabung atau botol berwarna putih. Karena benda tersebut umum digunakan nelayan, TNI AL sejak awal tidak langsung menyimpulkan bahwa keduanya berkaitan dengan rombongan jurnalis.

TNI AL Sempat Belum Bisa Memastikan

Saat pertama kali ditemukan, TNI AL bersikap hati-hati. Kepala Dinas Penerangan TNI AL Laksamana Pertama TNI Tunggul mengatakan rompi tersebut belum dapat dipastikan sebagai milik salah satu jurnalis atau awak kapal.

Barang tersebut kemudian dibawa ke posko untuk diperiksa dan dibandingkan dengan perlengkapan keselamatan yang ada di kapal Arupadhatu 1. Langkah tersebut dilakukan untuk menghindari kesimpulan yang belum memiliki dasar. Danlanal Banten Letkol Laut (P) Wawan Subagyo Mardani juga meminta masyarakat dan media menunggu hasil pemeriksaan. Menurutnya, rompi yang ditemukan tidak memiliki identitas tertentu, sementara lokasi penemuannya cukup jauh dari titik terakhir rombongan diketahui.

Pemilik Kapal Pastikan Bukan Milik Arupadhatu 1

Pemilik Arupadhatu 1, Sandi Wiyasa, kemudian memberikan keterangan setelah melakukan konfirmasi dengan kapten kapal. Sandi memastikan life jacket yang ditemukan TNI AL bukan perlengkapan milik Arupadhatu 1. "Tadi konfirmasi ke kapten II, bukan punya Arupadhatu 1 katanya," ujar Sandi kepada wartawan pada Kamis (10/9/2026).

Perbedaan warna menjadi salah satu dasar identifikasi. Rompi yang ditemukan di laut berwarna jingga atau oranye. Sementara life jacket yang tersedia di Arupadhatu 1 disebut memiliki kombinasi warna merah dan hijau terang. Dengan adanya perbedaan tersebut, rompi temuan tidak dapat dijadikan petunjuk bahwa rombongan jurnalis telah menggunakan atau kehilangan perlengkapan keselamatan tersebut.

Delapan Orang Masih Dicari

Rombongan yang hilang terdiri atas lima jurnalis dan tiga kru kapal.

Lima jurnalis tersebut adalah:

  • M. Bagus Khoirunnas, jurnalis ANTARA;
  • Ari Basuki, jurnalis Merdeka.com;
  • Yudistiro Pranoto, jurnalis iNews;
  • Firman Daus, jurnalis Anadolu Agency;
  • Donal Husni, jurnalis lepas.

Sementara tiga orang lainnya adalah Warta sebagai kapten kapal, Surakman sebagai anak buah kapal, dan Heriyanto sebagai pemandu. Mereka berangkat menggunakan Arupadhatu 1 dari Dermaga Pagedongan, Carita, pada Senin (7/9/2026) sekitar pukul 14.00 WIB untuk melakukan peliputan aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Komunikasi terakhir diketahui sekitar pukul 14.42 WIB. Sekitar pukul 15.04 WIB, rombongan tidak lagi dapat dihubungi.

Kapal Sebelumnya Disebut Laik Jalan

Sebelum keberangkatan, pemilik kapal menyatakan Arupadhatu 1 dalam kondisi laik beroperasi. Kapal tersebut disebut memiliki panjang sekitar tujuh meter, lebar sekitar 2,2 meter, serta menggunakan dua mesin. Sandi juga mengatakan kapal memiliki perlengkapan keselamatan berupa jaket pelampung. Namun, kapal tidak dilengkapi radio komunikasi dan komunikasi selama perjalanan mengandalkan telepon seluler.

Informasi tersebut menjadi bagian dari pemeriksaan dan evaluasi dalam proses pencarian, meski tidak otomatis menunjukkan penyebab hilangnya kapal.

Pencarian Terus Diperluas

Tim SAR gabungan masih melakukan pencarian terhadap delapan orang tersebut. Operasi melibatkan unsur TNI AL, Basarnas, Polri, serta berbagai unsur lainnya. Area pencarian diperluas karena belum ditemukan kapal maupun tanda pasti keberadaan rombongan. Pencarian juga dilakukan melalui jalur laut dan udara untuk memperbesar kemungkinan menemukan korban atau bagian kapal yang dapat menjadi petunjuk.

Basarnas Banten menyatakan operasi pencarian akan terus dioptimalkan hingga satu pekan. Perluasan area menjadi penting karena posisi kapal dapat berubah akibat arus, angin, dan kondisi laut.

Rompi Bukan Milik Kapal Bukan Berarti Pencarian Berakhir

Tidak terkaitnya rompi dengan Arupadhatu 1 membuat barang tersebut tidak dapat dijadikan petunjuk langsung keberadaan delapan orang yang dicari. Namun, temuan itu tetap menjadi bagian dari proses pencarian. Setiap benda yang ditemukan di area operasi perlu diperiksa untuk memastikan asal-usul dan kemungkinan kaitannya dengan kapal atau korban.

TNI AL juga menegaskan pentingnya menghindari spekulasi karena informasi yang belum terverifikasi dapat menimbulkan kebingungan bagi keluarga maupun masyarakat.

Aktivitas Anak Krakatau Menambah Tantangan

Pencarian berlangsung ketika Gunung Anak Krakatau masih menunjukkan aktivitas erupsi. Kondisi tersebut membuat operasi di sekitar kawasan gunung api membutuhkan kehati-hatian ekstra. Petugas harus memperhitungkan kondisi cuaca, gelombang, arus laut, serta potensi material vulkanik ketika menentukan wilayah pencarian.

Karena itu, tim SAR tidak hanya berupaya memperluas area operasi, tetapi juga harus memastikan keselamatan personel yang melakukan pencarian.

Polisi dan Tim SAR Tetap Fokus Mencari

Temuan rompi pelampung sempat menjadi salah satu petunjuk yang diperiksa dalam operasi pencarian. Namun, setelah dilakukan pengecekan terhadap perlengkapan kapal, pemilik Arupadhatu 1 menyatakan rompi tersebut bukan milik kapal yang membawa rombongan jurnalis.

Keterangan tersebut mempersempit kemungkinan bahwa rompi itu merupakan perlengkapan yang digunakan delapan orang tersebut, meski pencarian tetap berlanjut. Hingga perkembangan terbaru, belum ada informasi yang memastikan keberadaan lima jurnalis dan tiga kru Arupadhatu 1. Tim SAR gabungan masih menyisir wilayah perairan Selat Sunda, sementara setiap benda yang ditemukan tetap diperiksa secara hati-hati sebelum dinyatakan berkaitan dengan rombongan yang hilang. 

Posting Komentar untuk "Polisi: Temuan Rompi Pelampung Bukan Milik Kapal Rombongan Jurnalis"