AFC Serang Infantino, Qatar Counter Attack ke Konfederasi Asia
Krisis sepak bola dunia memasuki babak baru. Setelah Asian Football Confederation (AFC) bersama UEFA dan Concacaf secara terbuka menyerang kepemimpinan Presiden FIFA Gianni Infantino, Qatar justru melakukan serangan balik kepada konfederasi Asia. Qatar Football Association (QFA) mempertanyakan mengapa AFC mengeluarkan sikap atas nama kawasan Asia tanpa lebih dahulu berkonsultasi dengan seluruh asosiasi anggotanya.
Perkembangan terbaru ini membuat konflik yang semula berpusat pada rencana bisnis FIFA berubah menjadi pertarungan politik internal di tubuh sepak bola Asia dan perebutan pengaruh menjelang pemilihan Presiden FIFA 2027. Reuters melaporkan pada 14 Agustus bahwa Presiden QFA Sheikh Hamad bin Khalifa bin Ahmed Al Thani memprotes kepada Presiden AFC Sheikh Salman bin Ebrahim Al Khalifa karena Qatar tidak diajak berkonsultasi sebelum AFC ikut menandatangani surat terbuka yang menekan Infantino.
Awal Konflik: Rencana FIFA Forward Enterprise Infantino
Pangkal persoalan adalah proyek FIFA Forward Enterprise (FFE) yang diperkenalkan FIFA pada akhir Juli 2026. Infantino menawarkan pembentukan entitas baru yang akan menangani hak komersial dan operasional berbagai kompetisi FIFA. FIFA menjelaskan bahwa FFE dimaksudkan untuk membuka nilai komersial yang belum dimaksimalkan dan meningkatkan dana pembangunan sepak bola bagi 211 asosiasi anggota FIFA.
Dalam rancangan tersebut, FIFA berencana menawarkan hingga 20 persen kepemilikan FFE kepada investor eksternal. Nilai entitas baru itu diperkirakan sekitar US$20 miliar, sementara skema investasi ditargetkan menghasilkan sekitar US$4,2 miliar. Infantino menjanjikan peningkatan distribusi dana FIFA Forward bagi asosiasi anggota.
Namun, rencana itu langsung menimbulkan kontroversi. Masalah utamanya bukan hanya soal uang, tetapi cara proposal tersebut dibuat dan dikomunikasikan. AFC menyatakan kecewa karena tidak memperoleh kesempatan yang cukup untuk mempelajari proposal sebelum diumumkan ke publik. Konfederasi Asia menilai keputusan yang dapat mengubah masa depan finansial dan komersial sepak bola dunia harus melalui konsultasi yang lebih komprehensif.
Concacaf juga menyatakan bahwa pihaknya mengetahui proposal tersebut melalui pemberitaan media dan rilis FIFA, bukan melalui proses konsultasi sebelumnya.
AFC Berbalik Menentang Infantino
Sikap AFC menjadi sangat penting karena selama bertahun-tahun konfederasi Asia dikenal sebagai salah satu basis dukungan utama Infantino.
Pada awalnya, hubungan Infantino dengan AFC relatif erat. Bahkan sebelum Piala Dunia 2026, Infantino menegaskan komitmennya terhadap sepak bola Asia dan menyebut AFC sebagai bagian penting dari keluarga FIFA.
Tetapi proposal FFE mengubah situasi. Presiden AFC Sheikh Salman bin Ebrahim Al Khalifa kemudian mengambil posisi keras. AFC menilai proses yang dilakukan FIFA tidak memenuhi standar tata kelola, transparansi, dan konsultasi yang seharusnya berlaku untuk keputusan sebesar itu.
Pada 10 Agustus, AFC bahkan bergabung dengan UEFA dan Concacaf dalam sebuah surat terbuka yang jauh lebih keras. Ketiga konfederasi tersebut menilai masalah yang terjadi bukan sekadar kesalahan komunikasi, melainkan persoalan kepemimpinan dan kepercayaan.
Mereka meminta adanya pemeriksaan independen terhadap proses FFE dan mendesak perubahan kepemimpinan FIFA. Mereka juga membuka kemungkinan mengambil langkah lebih jauh apabila persoalan tata kelola tidak diselesaikan.
Dengan demikian, judul “AFC Serang Infantino” memang menggambarkan perkembangan penting, tetapi konteksnya perlu diperjelas: AFC tidak sendirian menyerang Infantino. UEFA dan Concacaf berada di barisan yang sama.
Infantino Akhirnya Membatalkan Proyek Kontroversial
Tekanan tersebut membuat Infantino mengambil langkah mundur. Pada 31 Juli 2026, FIFA mengumumkan bahwa proyek FIFA Forward Enterprise tidak akan dilanjutkan. Infantino mengatakan setelah mendengar berbagai pandangan, proyek tersebut justru telah menciptakan perpecahan yang tidak lagi sejalan dengan tujuan awalnya.
FIFA sebelumnya juga mengeluarkan klarifikasi bahwa FFE masih berada dalam tahap konsultasi dan bahwa proyek tersebut tidak dimaksudkan untuk menyerahkan kendali FIFA kepada investor swasta. FIFA tetap berpendapat bahwa skema tersebut dapat meningkatkan nilai komersial kompetisi dan dana pembangunan sepak bola.
Namun, pembatalan FFE ternyata tidak menyelesaikan masalah. Bagi UEFA, AFC, dan Concacaf, persoalannya sudah berkembang dari satu proposal bisnis menjadi masalah kepercayaan terhadap kepemimpinan FIFA.
Qatar Justru Membela Infantino
Di tengah serangan terhadap Infantino, Qatar mengambil posisi yang berbeda. Pada 13 Agustus, Qatar bersama Maroko, Mesir, Mauritania, Lebanon, dan Sudan mengeluarkan pernyataan yang menyatakan dukungan penuh dan kepercayaan terhadap kepemimpinan Infantino. Keenam federasi tersebut menilai Infantino tetap memiliki peran penting dalam pengembangan sepak bola dunia.
Qatar bahkan sebelumnya menyambut keputusan Infantino untuk membatalkan FFE. QFA menilai keputusan tersebut menunjukkan bahwa persatuan asosiasi anggota tetap harus menjadi prioritas.
Di sinilah konflik baru muncul. Qatar bukan sekadar berbeda pendapat dengan AFC mengenai Infantino. QFA mempertanyakan otoritas AFC untuk berbicara atas nama seluruh anggotanya tanpa konsultasi.
Qatar “Counter Attack” ke AFC
Presiden QFA Sheikh Hamad bin Khalifa bin Ahmed Al Thani, yang juga merupakan anggota Komite Eksekutif AFC dan anggota Dewan FIFA, menyampaikan keberatan langsung kepada Sheikh Salman. Intinya jelas: Qatar mengaku tidak pernah dimintai pendapat sebelum AFC ikut mengeluarkan surat terbuka yang menyerang Infantino.
QFA kemudian kembali menekan AFC agar lebih transparan dalam setiap pernyataan atau sikap kolektif yang diterbitkan atas nama asosiasi anggota Asia. Dalam perkembangan terbaru, QFA menyerukan agar AFC menerapkan prinsip transparansi dan konsultasi secara konsisten demi menjaga kredibilitas serta kepercayaan anggotanya.
Ini merupakan serangan balik yang cukup signifikan. Sebab, AFC sendiri sebelumnya mengkritik FIFA karena dianggap tidak melakukan konsultasi yang memadai. Kini Qatar menggunakan argumen yang sama untuk mempertanyakan proses pengambilan keputusan di AFC.
Dengan kata lain, Qatar seolah mengatakan: jika FIFA harus berkonsultasi dengan konfederasi, maka AFC juga harus berkonsultasi dengan asosiasi nasional sebelum mengatasnamakan Asia.
Retaknya Kesatuan Asia
Konflik ini memperlihatkan bahwa istilah “sikap AFC” tidak otomatis berarti seluruh anggota AFC memiliki pandangan yang sama. AFC memiliki 47 asosiasi anggota dan merupakan salah satu dari enam konfederasi di bawah FIFA.
Karena itu, dukungan atau penolakan terhadap Infantino tidak bisa dilihat hanya berdasarkan posisi AFC sebagai institusi. Saat AFC bersama UEFA dan Concacaf meminta pertanggungjawaban Infantino, sejumlah negara Asia justru tetap mendukungnya.
Qatar adalah contoh paling jelas. Negara tersebut bahkan berada di garis depan dukungan terhadap Infantino bersama sejumlah federasi Arab lainnya. Situasi ini menunjukkan bahwa pertarungan sebenarnya bukan sekadar AFC versus FIFA, melainkan juga perebutan pengaruh antara konfederasi dan asosiasi nasional.
Mengapa Qatar Penting?
Qatar mempunyai posisi strategis dalam politik sepak bola internasional. Negara tersebut menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022 dan memiliki hubungan erat dengan berbagai struktur sepak bola global. Presiden QFA juga duduk dalam struktur penting AFC dan FIFA.
Karena itu, keberanian Qatar mempertanyakan keputusan AFC memiliki bobot politik yang lebih besar dibanding sekadar perbedaan pendapat biasa.
Jika semakin banyak asosiasi anggota AFC mengambil sikap sendiri, maka posisi Sheikh Salman sebagai pemimpin konfederasi bisa menghadapi tantangan untuk mempertahankan kesatuan suara Asia.
Terlebih lagi, AFC selama ini memiliki nilai strategis besar dalam pemilihan Presiden FIFA. Dengan 46 suara dalam Kongres FIFA menurut perhitungan yang digunakan sejumlah media, blok Asia dapat menjadi faktor penting dalam menentukan siapa yang memperoleh mayoritas.
Perebutan Suara Menuju Pemilihan FIFA 2027
Konflik ini juga tidak bisa dipisahkan dari pemilihan Presiden FIFA yang dijadwalkan berlangsung pada Maret 2027 di Maroko. Infantino masih berusaha mempertahankan kekuasaannya. Untuk memenangkan pemilihan dengan dua kandidat, seorang calon membutuhkan mayoritas absolut dari 211 anggota FIFA, yakni 106 suara. Jika terdapat lebih dari dua kandidat dan pemungutan suara berkembang ke beberapa putaran, kalkulasinya dapat menjadi lebih rumit.
Sebelum krisis FFE, Infantino terlihat berada dalam posisi sangat kuat. Namun sekarang peta politik berubah. UEFA dan Concacaf menentangnya. AFC sebagai konfederasi juga ikut menekan. Sejumlah federasi nasional mulai mempertanyakan dukungan mereka. Di sisi lain, CAF dan sejumlah negara Asia, Amerika, serta Arab masih memberikan dukungan kepada Infantino.
Bahkan Selandia Baru pada 14 Agustus dilaporkan menarik dukungan sebelumnya terhadap pencalonan Infantino dan meminta adanya peninjauan independen terhadap proses FFE. Artinya, dukungan terhadap Infantino tidak lagi bisa dihitung hanya berdasarkan posisi resmi konfederasi.
FIFA Berusaha Meredam Krisis
FIFA sendiri telah mengakui adanya kesalahan dalam proses penanganan FFE. Dalam pertemuan krisis di Rabat, pimpinan FIFA berusaha mempertahankan dukungan terhadap Infantino sembari menghadapi tekanan dari berbagai konfederasi dan asosiasi nasional. FIFA juga menjanjikan evaluasi terhadap proses yang menyebabkan kontroversi tersebut.
Namun masalahnya sudah telanjur melebar. Proposal FFE memang sudah dibatalkan, tetapi pertanyaan mengenai tata kelola FIFA belum selesai. Bagi para pengkritik Infantino, pembatalan proposal bukan akhir persoalan. Mereka menginginkan transparansi lebih besar, pemeriksaan independen, serta perubahan cara FIFA mengambil keputusan.
AFC Kini Menghadapi Dilema Besar
AFC berada dalam posisi yang sangat sulit. Di satu sisi, konfederasi harus mempertahankan prinsip tata kelola yang sebelumnya digunakan untuk menolak proses FFE. Di sisi lain, AFC harus menjaga persatuan 47 anggotanya.
Masalahnya, Qatar dan beberapa federasi Arab tidak menerima sikap AFC terhadap Infantino. Jika AFC terlalu keras terhadap Infantino, konflik dengan anggota yang masih mendukung Presiden FIFA bisa semakin besar. Namun jika AFC melunak, konfederasi dapat dianggap tidak konsisten setelah sebelumnya menuntut transparansi dan konsultasi dari FIFA.
Inilah dilema terbesar Sheikh Salman. AFC menuntut FIFA mendengarkan konfederasi, tetapi Qatar sekarang menuntut AFC mendengarkan anggotanya.
Apakah AFC Akan Terpecah?
Belum ada indikasi bahwa AFC akan benar-benar terbelah secara formal. Namun secara politik, perbedaan pandangan sudah terlihat jelas. Konflik Qatar dengan AFC menjadi tanda bahwa dukungan Asia terhadap Infantino tidak seragam.
Lebih jauh lagi, perkembangan ini dapat mengubah strategi menuju pemilihan FIFA 2027. Jika asosiasi nasional lebih memilih menentukan posisi secara individual daripada mengikuti keputusan konfederasi, maka kekuatan blok regional akan berkurang.
Hal itu juga membuka ruang bagi kandidat penantang Infantino untuk melakukan pendekatan langsung kepada asosiasi nasional.
Babak Baru Perang Politik Sepak Bola Dunia
Krisis FFE awalnya terlihat seperti pertarungan mengenai 20 persen saham dan US$4,2 miliar. Kini persoalannya jauh lebih besar. Ini adalah pertarungan mengenai siapa yang berhak menentukan masa depan sepak bola dunia: FIFA, konfederasi, asosiasi nasional, klub, atau gabungan seluruh pemangku kepentingan.
AFC bersama UEFA dan Concacaf mengatakan bahwa kepemimpinan sepak bola harus didasarkan pada pelayanan, transparansi, dan kepercayaan. Qatar membalas dengan menggunakan prinsip yang sama untuk menuntut AFC agar tidak berbicara atas nama anggota tanpa konsultasi.
Di sisi lain, enam federasi Arab telah menunjukkan bahwa Infantino masih memiliki basis dukungan yang nyata. Karena itu, pembatalan FIFA Forward Enterprise bukan berarti perang selesai. Justru perang politik sepak bola dunia kini memasuki fase yang lebih menentukan.
AFC telah menantang Infantino. UEFA dan Concacaf berada di belakangnya. Qatar kemudian melakukan counter attack kepada AFC. Sejumlah federasi nasional mulai mengambil posisi masing-masing. Dan di ujung semua konflik tersebut terdapat satu pertanyaan besar:
Apakah Gianni Infantino masih mampu mempertahankan kursi Presiden FIFA pada Maret 2027, atau krisis FFE akan menjadi titik balik yang mengakhiri era kepemimpinannya? Untuk saat ini, jawabannya masih terbuka. Yang sudah pasti, Asia tidak lagi berbicara dengan satu suara—dan Qatar baru saja membuat perpecahan itu terlihat di depan publik.
Artikel ini diperbarui berdasarkan perkembangan yang tersedia hingga 16 Agustus 2026. Karena situasi politik FIFA masih bergerak cepat, posisi federasi dan konfederasi dapat berubah sewaktu-waktu.

Posting Komentar untuk " AFC Serang Infantino, Qatar Counter Attack ke Konfederasi Asia"