China Desak AS Tak Ikut Campur Hubungannya dengan Iran
JAKARTA – China kembali menegaskan sikap kerasnya terhadap Amerika Serikat yang berupaya menekan negara-negara mitra Iran agar menghentikan hubungan ekonomi dengan Teheran. Beijing meminta Washington tidak mencampuri kerja sama China dengan Iran, terutama setelah Amerika Serikat memperluas sanksi terhadap Iran dan pihak-pihak yang masih melakukan transaksi dengan negara tersebut.
Pernyataan China muncul di tengah eskalasi tekanan ekonomi Washington terhadap Teheran. Menteri Keuangan AS Scott Bessent pada Senin (24/8/2026) mengumumkan gelombang baru sanksi terhadap hampir 60 individu, entitas, dan kapal yang terkait dengan Iran. Washington juga mengancam negara-negara yang tetap melakukan hubungan ekonomi dengan Iran dengan sanksi sekunder.
China menilai kebijakan tersebut tidak akan menyelesaikan persoalan dan justru berpotensi memperburuk ketegangan.
Beijing Tolak Sanksi Sepihak AS
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian menegaskan bahwa Beijing menolak sanksi sepihak yang tidak memiliki dasar dalam hukum internasional maupun mandat Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Pernyataan itu disampaikan ketika Lin dimintai tanggapan mengenai desakan Bessent agar China ikut memberikan tekanan ekonomi kepada Iran.
"China menentang sanksi sepihak ilegal yang tidak memiliki dasar dalam hukum internasional dan tidak mendapat mandat Dewan Keamanan PBB," kata Lin dalam konferensi pers, Jumat (21/8), seperti dikutip dari pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri China.
China juga meminta semua pihak mengambil langkah yang bertanggung jawab dan mengutamakan jalur politik serta diplomatik untuk menyelesaikan konflik. Sikap tersebut kembali ditegaskan Beijing setelah Washington mengumumkan paket sanksi terbaru pada 24 Agustus.
AS Tekan Mitra Dagang Iran
Pemerintahan Presiden Donald Trump kini mengandalkan tekanan ekonomi yang jauh lebih luas terhadap Iran setelah konflik dengan Teheran berlangsung berbulan-bulan. Bessent sebelumnya mengatakan Washington akan menerapkan sanksi yang disebut sebagai salah satu yang paling keras dalam sejarah. Pemerintah AS juga menginginkan negara-negara yang masih berhubungan dagang dengan Iran ikut memutuskan hubungan ekonomi dengan Teheran.
Pada paket terbaru, Washington menyasar jaringan yang berkaitan dengan program rudal balistik dan nuklir Iran, penjualan minyak, aktivitas siber, serta pengadaan teknologi. Sektor yang menjadi perhatian antara lain aset digital, teknologi, emas, penerbangan, dan pelayaran. Amerika Serikat juga memberi sinyal bahwa perusahaan atau negara yang membantu Iran dapat menghadapi konsekuensi finansial.
Langkah tersebut secara tidak langsung menempatkan China dalam posisi penting karena Beijing merupakan salah satu mitra ekonomi terbesar Teheran dan pembeli utama minyak Iran.
China Jadi Pembeli Utama Minyak Iran
Hubungan China-Iran menjadi sorotan terutama karena perdagangan energi. China selama bertahun-tahun menjadi pembeli terbesar minyak Iran. Reuters melaporkan bahwa pembelian minyak Iran oleh China tetap bertahan meski Washington berulang kali menerapkan sanksi terhadap jaringan perdagangan tersebut.
Namun, tekanan terbaru mulai berdampak terhadap arus perdagangan. Pengiriman minyak Iran ke China tercatat turun menjadi sekitar 534 ribu barel per hari pada Agustus 2026, dari sekitar 823 ribu barel per hari pada Juli. Sebelumnya, aliran minyak Iran ke China bahkan sempat mencapai sekitar 1,58 juta barel per hari pada awal 2026.
Sebagian besar minyak Iran dibeli oleh kilang independen China yang dikenal sebagai teapot refineries. Transaksi juga kerap menggunakan mekanisme pembayaran dan jalur perdagangan yang membuat minyak Iran lebih sulit dilacak oleh sistem sanksi Amerika Serikat.
Beijing Sebut Kerja Sama dengan Iran Sah
China memandang hubungan ekonominya dengan Iran sebagai kerja sama normal antaranegara. Beijing telah berulang kali menyatakan bahwa hubungan perdagangan dan ekonomi dengan Iran dilakukan sesuai dengan hukum internasional. Karena itu, China menolak upaya Washington menggunakan yurisdiksi domestiknya untuk mengatur perusahaan dan negara lain.
Posisi tersebut bukan hal baru. Pada April 2026, ketika Amerika Serikat menjatuhkan sanksi terhadap salah satu kilang minyak swasta besar China karena dugaan keterkaitannya dengan minyak Iran, Beijing kembali mengecam apa yang disebutnya sebagai sanksi sepihak ilegal dan yurisdiksi jangkauan jauh atau long-arm jurisdiction. China mengatakan akan melindungi hak dan kepentingan sah perusahaan-perusahaannya.
Beijing Tidak Mau Terlibat dalam Perang Ekonomi
China juga menolak pendekatan Washington yang mengandalkan tekanan ekonomi untuk memaksa Iran mengubah sikap. Dalam konferensi pers 21 Agustus, Lin Jian mengatakan sanksi dan tekanan bukanlah solusi bagi persoalan Iran. Menurut Beijing, tekanan ekonomi justru berpotensi meningkatkan ketegangan dan mempersempit ruang diplomasi.
"Militer, sanksi dan taktik tekanan tidak membantu menyelesaikan masalah, tetapi hanya akan memperburuk ketegangan dan meningkatkan eskalasi," demikian posisi Lin yang disampaikan dalam konferensi pers tersebut.
China mendorong penyelesaian melalui dialog dan negosiasi. Sikap itu sejalan dengan posisi Beijing sejak konflik Amerika Serikat-Israel dan Iran meningkat pada awal 2026. China sebelumnya menyerukan penghentian aksi militer, penghormatan terhadap kedaulatan Iran, serta dimulainya kembali dialog.
China Punya Kepentingan Besar di Timur Tengah
Sikap China tidak hanya berkaitan dengan hubungan politik dengan Iran. Beijing juga memiliki kepentingan ekonomi dan energi yang besar di Timur Tengah. China merupakan salah satu negara pengimpor energi terbesar di dunia. Stabilitas kawasan Teluk menjadi penting karena gangguan terhadap jalur perdagangan energi dapat memengaruhi harga minyak, biaya transportasi, industri, serta rantai pasok global.
Salah satu titik paling sensitif adalah Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi pintu keluar masuk sebagian besar energi dari kawasan Teluk. Ketegangan di sekitar selat tersebut telah menimbulkan kekhawatiran terhadap keamanan pelayaran dan pasokan energi global. Reuters melaporkan bahwa pengiriman minyak dan aktivitas kapal tanker tetap menghadapi risiko di tengah konflik Iran-Amerika Serikat.
Karena itu, China memiliki kepentingan untuk mendorong stabilitas kawasan sekaligus mempertahankan hubungan ekonominya dengan negara-negara Timur Tengah.
China Pilih Jalur Diplomasi
Di tengah konflik yang belum sepenuhnya berakhir, Beijing berusaha menempatkan dirinya sebagai pendukung penyelesaian diplomatik. China sebelumnya menyatakan siap menjaga komunikasi dengan negara-negara kawasan dan masyarakat internasional untuk membantu mengakhiri konflik serta memulihkan stabilitas di Timur Tengah.
Pada Juni 2026, Kementerian Luar Negeri China juga menyebut Beijing sebagai mitra strategis komprehensif Iran dan menyatakan kesiapan memperdalam kepercayaan politik serta kerja sama yang saling menguntungkan dengan Teheran. Artinya, Beijing tidak melihat hubungan dengan Iran semata-mata dari sisi perdagangan minyak. Hubungan tersebut juga memiliki dimensi diplomatik dan strategis.
Washington Ingin China Ikut Menekan Iran
Sementara itu, Amerika Serikat melihat peran China sebagai faktor penting dalam keberhasilan strategi ekonominya terhadap Iran. Bessent secara terbuka mendesak Beijing ikut memberikan tekanan kepada Teheran. Alasannya, China merupakan pembeli utama minyak Iran dan memiliki hubungan ekonomi yang dapat membantu Iran mempertahankan sumber pendapatan meski berada di bawah sanksi.
Jika China benar-benar menghentikan pembelian minyak Iran, tekanan terhadap perekonomian Teheran kemungkinan akan meningkat tajam. Namun, Beijing sejauh ini tidak menunjukkan tanda-tanda akan mengikuti strategi tersebut. China justru menegaskan bahwa sanksi sepihak tidak menyelesaikan masalah dan akan mempertahankan hak serta kepentingan sah perusahaan-perusahaannya.
AS Hati-hati Menyasar Bank Besar China
Menariknya, meskipun Washington memperluas sanksi terhadap Iran, pemerintah AS belum menjatuhkan sanksi langsung kepada lembaga keuangan besar China dalam paket terbaru. Reuters melaporkan bahwa langkah tersebut kemungkinan mencerminkan kehati-hatian Washington agar tidak memicu benturan yang lebih besar dengan Beijing, terutama menjelang rencana pertemuan Presiden Trump dan Presiden China Xi Jinping.
Situasi ini menunjukkan betapa rumitnya hubungan tiga pihak tersebut. Washington ingin memperlemah kemampuan Iran menghasilkan pendapatan, tetapi pada saat yang sama harus memperhitungkan China sebagai kekuatan ekonomi besar dan mitra dagang utama Teheran. Sementara itu, China ingin mempertahankan kepentingan ekonominya di Iran tanpa terseret lebih jauh ke dalam konflik terbuka dengan Amerika Serikat.
Risiko Perang Dagang Baru
Perselisihan mengenai Iran berpotensi menjadi persoalan baru dalam hubungan China-Amerika Serikat. Jika Washington benar-benar menerapkan sanksi sekunder terhadap perusahaan dan lembaga keuangan China yang melakukan transaksi dengan Iran, Beijing berpotensi mengambil langkah balasan.
China sebelumnya telah memiliki mekanisme hukum untuk menghadapi penerapan ekstrateritorial hukum asing yang dianggap tidak beralasan. Beijing juga berulang kali mengatakan akan melindungi hak dan kepentingan perusahaan China. Kondisi tersebut membuka kemungkinan munculnya sengketa baru di luar isu perdagangan, teknologi, tarif, dan rantai pasok yang selama ini menjadi sumber ketegangan Beijing-Washington.
Konflik Iran Jadi Ujian Hubungan China-AS
Persoalan Iran kini menjadi salah satu ujian baru bagi hubungan China dan Amerika Serikat. Washington ingin membangun tekanan ekonomi seluas mungkin untuk memaksa Iran menerima tuntutan Amerika. Namun, keberadaan China sebagai pembeli utama minyak Iran membuat strategi tersebut jauh lebih sulit diterapkan.
Di sisi lain, Beijing memiliki kepentingan mempertahankan akses energi sekaligus menjaga hubungan strategis dengan Teheran. China juga tidak ingin konflik Timur Tengah berkembang menjadi gangguan berkepanjangan terhadap perekonomian global. Karena itu, pesan Beijing kepada Washington cukup jelas: persoalan hubungan China dengan Iran tidak seharusnya ditentukan oleh tekanan Amerika Serikat.
China menolak sanksi sepihak, mempertahankan hak untuk melakukan kerja sama yang dianggap sah, dan tetap mendorong penyelesaian konflik melalui jalur diplomatik. Dengan meningkatnya tekanan ekonomi Washington terhadap Iran, hubungan China-Amerika Serikat kini menghadapi persoalan tambahan. Seberapa jauh Beijing akan mempertahankan hubungan ekonominya dengan Teheran dan seberapa keras Washington akan menerapkan sanksi sekunder akan menjadi salah satu perkembangan penting yang perlu dipantau dalam beberapa pekan mendatang.

Posting Komentar untuk "China Desak AS Tak Ikut Campur Hubungannya dengan Iran"