DLH Tarakan Sebut Batubara Aktif Turut Picu Karhutla di Kalimantan
TARAKAN — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Tarakan, Kalimantan Utara, tidak seluruhnya disebabkan oleh aktivitas pembakaran lahan atau kelalaian manusia. Keberadaan lapisan batubara aktif di bawah permukaan tanah juga menjadi salah satu faktor yang dapat memicu dan mempertahankan kebakaran, terutama ketika cuaca panas dan curah hujan rendah.
Fenomena tersebut kembali menjadi perhatian di tengah meningkatnya karhutla di Tarakan sepanjang Agustus 2026. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tarakan mencatat terdapat 21 titik karhutla dengan total luas area terdampak mencapai 52,82 hektare selama Agustus. Titik-titik kebakaran tersebar di sejumlah kawasan rawan, antara lain Pantai Amal, Juwata Kerikil, Pasir Putih, serta kawasan perbukitan antara Kampung Empat dan Kampung Enam.
Batubara di Bawah Tanah Bisa Menjadi Sumber Api
Keberadaan batubara aktif menjadi persoalan tersendiri karena api tidak selalu terlihat jelas di permukaan. Batubara yang berada di bawah tanah dapat mengalami pembakaran secara perlahan dan bertahan dalam waktu lama. Ketika kondisi lingkungan semakin panas dan kering, bara tersebut dapat kembali memunculkan api dan merambat ke vegetasi di permukaan.
Kondisi serupa sebelumnya telah ditemukan di sejumlah wilayah Tarakan. BPBD Tarakan menyebut kawasan Kampung Bugis dan Pasir Putih sebagai contoh lokasi yang memiliki batubara aktif dan berpotensi menjadi sumber kebakaran. Bahkan, lapisan batubara yang sudah ditutup permukaannya masih dapat kembali terbakar apabila kondisi kering berlangsung cukup lama.
Dalam kasus yang lebih baru, BPBD Tarakan juga melaporkan adanya kebakaran lapisan batubara bawah tanah di sekitar Universitas Borneo Tarakan dengan luas kurang lebih satu hektare. Kondisi tersebut dipicu cuaca panas dan menjadi perhatian karena kebakaran bawah tanah dapat menimbulkan rongga di dalam tanah.
Mengapa Batubara Aktif Sulit Dipadamkan?
Karhutla yang sumber apinya berasal dari batubara bawah tanah memiliki karakteristik berbeda dibandingkan kebakaran vegetasi biasa. Api di permukaan dapat terlihat dan relatif lebih mudah dijangkau petugas. Sebaliknya, bara pada lapisan batubara dapat berada jauh di bawah permukaan.
BPBD Tarakan sebelumnya menjelaskan bahwa penyiraman air saja belum tentu mampu memadamkan bara yang berada di dalam tanah. Kebutuhan air juga dapat jauh lebih besar dibandingkan pemadaman kebakaran lahan biasa. Situasi tersebut membuat proses pemadaman membutuhkan penanganan yang lebih spesifik. Permukaan tanah dapat dikupas atau dikeruk untuk mencari sumber bara, kemudian area tersebut ditutup kembali dengan material yang sesuai agar suplai oksigen ke sumber api dapat dikurangi.
Karhutla Agustus Capai 52,82 Hektare
Persoalan batubara aktif muncul bersamaan dengan meningkatnya kejadian karhutla di Tarakan. BPBD mencatat 21 kejadian kebakaran sepanjang Agustus 2026 dengan luas area terdampak 52,82 hektare. Empat kawasan disebut menjadi lokasi yang cukup sering mengalami kebakaran, yakni Pantai Amal, Juwata Kerikil, Pasir Putih, dan kawasan perbukitan antara Kampung Empat dan Kampung Enam.
Dalam proses pemadaman, petugas menghadapi persoalan lain berupa keterbatasan sumber air baku. Tim gabungan yang terdiri atas BPBD, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), TNI, Polri, serta relawan bahkan harus membuat kolam tampungan air sementara untuk mendukung proses pemadaman menggunakan mesin portabel. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penanganan karhutla tidak hanya membutuhkan personel dan peralatan pemadam, tetapi juga dukungan sumber air yang memadai.
Ada Ancaman Tanah Ambles
Kebakaran batubara bawah tanah tidak hanya menghasilkan asap dan api. Rongga yang terbentuk akibat batubara terbakar dapat menyebabkan struktur tanah kehilangan penyangga. Jika lokasi tersebut berada dekat jalan atau permukiman, kondisi itu berpotensi menimbulkan tanah ambles maupun longsor.
BPBD Tarakan menyebut risiko tersebut menjadi perhatian khusus pada lokasi kebakaran batubara di sekitar Universitas Borneo Tarakan. Api berada cukup dekat dengan akses jalan sehingga pemerintah melakukan mitigasi untuk mencegah kerusakan lebih luas.
Langkah awal dilakukan dengan memutus lidah api. Sementara penanganan jangka panjang, seperti pengupasan dan penutupan lahan, akan dikoordinasikan dengan instansi terkait serta melibatkan akademisi untuk mengkaji kondisi struktur tanah.
Batubara Aktif Sudah Lama Menjadi Perhatian
Persoalan batubara aktif di Tarakan bukan fenomena baru. Pada 2024, BPBD Tarakan pernah menyatakan bahwa sejumlah titik panas berada di kawasan yang memiliki lapisan batubara aktif. Salah satunya berada di Kelurahan Karang Anyar dengan area sekitar dua hektare.
Saat itu, petugas telah mencoba melakukan penyiraman, tetapi sumber api tetap bertahan karena berada di lapisan batubara. Penanganan dilakukan dengan mengeruk atau mengupas permukaan tanah kemudian menutupnya kembali. Karakteristik tersebut membuat batubara aktif menjadi semacam sumber api tersembunyi yang dapat kembali memicu kebakaran ketika kondisi lingkungan mendukung.
Cuaca Panas Memperbesar Risiko
Faktor cuaca menjadi salah satu pemicu penting dalam meningkatnya potensi karhutla. Minimnya hujan membuat vegetasi menjadi kering dan lebih mudah terbakar. Pada saat bersamaan, suhu panas dapat mempercepat kondisi pengeringan lahan.
Di Tarakan, dampak cuaca kering juga terlihat dari meningkatnya konsentrasi partikulat di udara. DLH Tarakan pada pertengahan Agustus melaporkan adanya peningkatan PM2,5 disertai kabut dan penurunan jarak pandang. Pada 13 Agustus, parameter PM2,5 bahkan sempat berada di kisaran 60-68, lebih tinggi dibanding kondisi ideal yang berada di bawah 50 menurut penjelasan DLH Tarakan. Masyarakat, terutama kelompok yang sensitif terhadap gangguan pernapasan, kemudian dianjurkan menggunakan masker saat berada di luar ruangan.
Asap Karhutla Mulai Berdampak pada Kualitas Udara
Kondisi kualitas udara menjadi perhatian karena karhutla tidak hanya berdampak terhadap kawasan yang terbakar. Asap dapat menyebar ke wilayah permukiman dan ruang publik, terutama ketika angin tidak cukup kuat untuk mendispersikan polutan.
Pada Maret 2026, DLH Tarakan pernah mencatat konsentrasi PM2,5 mencapai 52 dan masuk kategori sedang. DLH menyebut kondisi tersebut dipengaruhi kombinasi anomali suhu panas, meningkatnya karhutla, serta minimnya curah hujan. Sementara pada Agustus 2026, kualitas udara kembali menjadi perhatian. DLH mengimbau masyarakat menggunakan masker ketika melakukan aktivitas di luar rumah seiring memburuknya kualitas udara akibat asap karhutla.
Dinkes Ingatkan Warga Kurangi Aktivitas di Luar
Dampak kesehatan akibat kabut asap juga menjadi perhatian pemerintah daerah. Dinas Kesehatan Tarakan menyatakan kasus ISPA pada pekan pemantauan terakhir justru mengalami penurunan, dari 515 kasus pada minggu ke-30 menjadi 247 kasus pada minggu ke-31. Meski demikian, pemerintah tetap meminta masyarakat waspada karena kondisi kualitas udara sedang kurang baik.
Warga disarankan mengurangi aktivitas di luar rumah apabila tidak mendesak. Jika harus keluar, penggunaan masker menjadi salah satu langkah perlindungan untuk mengurangi paparan asap dan partikulat. Kelompok rentan, termasuk anak-anak dan masyarakat yang memiliki sensitivitas terhadap gangguan pernapasan, perlu mendapatkan perhatian lebih.
Karhutla Tidak Semata karena Pembukaan Lahan
Keberadaan batubara aktif memperlihatkan bahwa penyebab karhutla di Kalimantan Utara dapat bersifat kompleks. BPBD Tarakan sebelumnya menyebut sebagian kebakaran tetap berkaitan dengan aktivitas pembukaan lahan menggunakan api. Di sisi lain, keberadaan lapisan batubara aktif membuat beberapa kawasan mempunyai risiko tambahan karena sumber panas dapat bertahan di bawah permukaan.
Karena itu, penanganan karhutla tidak cukup hanya dengan melarang masyarakat membakar lahan. Pemetaan kawasan yang memiliki potensi batubara aktif juga penting agar petugas mengetahui karakter tanah dan sumber risiko ketika terjadi kebakaran.
Penanganan Membutuhkan Kolaborasi
Pemerintah daerah perlu melibatkan berbagai pihak dalam menangani persoalan tersebut. BPBD berperan dalam penanganan kebakaran dan mitigasi bencana. DLH memiliki peran penting dalam aspek lingkungan serta kajian dampak. KPH berperan dalam pengelolaan kawasan hutan, sedangkan akademisi dapat membantu mengkaji karakteristik tanah dan kondisi bawah permukaan.
Pada lokasi yang berdekatan dengan jalan, permukiman, atau fasilitas publik, koordinasi dengan dinas teknis juga diperlukan. Hal ini karena penanganan kebakaran batubara tidak hanya bertujuan memadamkan api, tetapi juga memastikan struktur tanah tetap aman setelah sumber panas berhasil dikendalikan.
Perlu Teknologi dan Penanganan Jangka Panjang
Kebakaran batubara bawah tanah membutuhkan strategi berbeda dari karhutla biasa. Pemadaman permukaan dapat menjadi langkah awal, tetapi apabila bara masih berada di bawah tanah, potensi munculnya kembali api tetap ada.
BPBD Tarakan sebelumnya menyebut penanganan kebakaran akibat batubara aktif membutuhkan teknologi dan biaya lebih besar. Penutupan permukaan saja belum tentu menyelesaikan persoalan jika sumber api masih berada di bawah tanah. Karena itu, pemerintah perlu memastikan setiap titik yang diduga mengandung batubara aktif dipetakan dan ditangani berdasarkan kajian teknis.
Ancaman terhadap Infrastruktur dan Permukiman
Risiko terbesar bukan hanya meluasnya api. Apabila pembakaran batubara berlangsung di bawah permukaan, material yang terbakar dapat meninggalkan rongga. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut berpotensi memengaruhi kestabilan tanah.
Risiko menjadi semakin serius jika titik tersebut berada di sekitar jalan raya, bangunan, atau permukiman. Kondisi inilah yang membuat kebakaran batubara aktif di sekitar Universitas Borneo Tarakan mendapat perhatian khusus. BPBD mengkhawatirkan kemungkinan tanah ambles yang dapat mengganggu akses jalan.
Kalimantan dan Tantangan Karhutla
Persoalan karhutla merupakan tantangan besar di Pulau Kalimantan. Kondisi geografis, kawasan hutan dan lahan yang luas, musim kering, aktivitas pembukaan lahan, serta keberadaan lahan gambut maupun lapisan mineral tertentu dapat memengaruhi karakter kebakaran.
Di Kalimantan Utara sendiri, BPBD provinsi mencatat 701 kejadian karhutla dalam periode April 2015 hingga April 2025. Karhutla menjadi salah satu jenis bencana yang paling banyak tercatat dalam periode tersebut. Data itu memperlihatkan bahwa pencegahan perlu dilakukan jauh sebelum musim kering mencapai puncaknya.
Masyarakat Diminta Tidak Membakar Lahan Sembarangan
Terlepas dari adanya faktor batubara aktif, masyarakat tetap memiliki peran penting dalam mencegah karhutla. Pembukaan lahan dengan cara membakar dapat menjadi pemicu awal yang kemudian merambat ke vegetasi kering atau kawasan yang memiliki sumber panas di bawah tanah.
BPBD Tarakan mengimbau masyarakat agar tidak sembarangan membakar lahan. Jika kegiatan pembakaran untuk kebutuhan tertentu benar-benar dilakukan, masyarakat harus memastikan api terkendali dan tidak merembet ke kawasan lain. Pemerintah juga mendorong penguatan sosialisasi hingga tingkat kecamatan dan kelurahan serta meningkatkan koordinasi dengan kelompok Masyarakat Peduli Api.
Warga Perlu Cepat Melapor
Kecepatan laporan menjadi salah satu faktor penting dalam mencegah kebakaran kecil berubah menjadi karhutla besar. Semakin cepat titik api diketahui, semakin besar peluang petugas melakukan pemadaman sebelum api menyebar. BPBD Tarakan sebelumnya mengimbau masyarakat segera melaporkan kejadian kebakaran melalui layanan darurat pemerintah daerah.
Masyarakat juga perlu berhati-hati jika menemukan tanah yang mengeluarkan asap, panas, bau menyengat, atau munculnya titik api berulang di lokasi yang sebelumnya sudah dipadamkan. Kondisi semacam itu dapat menjadi tanda bahwa sumber panas masih berada di bawah permukaan dan membutuhkan pemeriksaan petugas.

Posting Komentar untuk " DLH Tarakan Sebut Batubara Aktif Turut Picu Karhutla di Kalimantan"