Kompres Es di Ketiak Bisa Redakan Kecemasan? Ini Kata Psikiater
Tren kesehatan mental di media sosial kembali memunculkan cara sederhana yang disebut-sebut dapat membantu meredakan kecemasan dan overthinking: menempelkan kompres es di area ketiak. Metode ini menarik perhatian karena dianggap bisa membuat tubuh lebih cepat “tenang” ketika pikiran sedang dipenuhi kekhawatiran.
Namun, apakah kompres es di ketiak benar-benar efektif untuk mengatasi kecemasan? Atau hanya memberikan sensasi menenangkan untuk sementara? Psikiater sekaligus dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, dr. Riati Sri Hartini, SpKJ, MSc, memberikan penjelasan. Menurutnya, sensasi dingin memang dapat membantu menenangkan tubuh, tetapi belum dapat dianggap sebagai terapi untuk gangguan kecemasan.
Kompres Es di Ketiak Bisa Meredakan Cemas, tetapi Hanya Sementara
Menurut dr. Riati, paparan dingin dapat membantu menurunkan respons tubuh terhadap stres. Sensasi dingin juga dapat membuat seseorang mengalihkan perhatian dari pikiran yang terus berputar kepada sensasi fisik yang sedang dirasakan.
Dengan kata lain, kompres dingin bisa berfungsi sebagai bentuk grounding sederhana. Ketika seseorang mengalami kecemasan, perhatian sering kali tersedot pada berbagai kemungkinan buruk, kekhawatiran, atau sensasi tubuh yang tidak nyaman. Rangsangan fisik yang kuat seperti rasa dingin dapat membantu membawa perhatian kembali ke kondisi saat ini.
Namun, efek tersebut bersifat sementara. Kompres es tidak menghilangkan penyebab kecemasan dan tidak menggantikan terapi yang memang ditujukan untuk gangguan kecemasan. IPB University menegaskan bahwa sampai saat ini belum terdapat bukti ilmiah yang cukup untuk menjadikan kompres es di ketiak sebagai terapi gangguan kecemasan atau overthinking.
Mengapa Sensasi Dingin Bisa Terasa Menenangkan?
Tubuh memiliki sistem saraf otonom yang mengatur berbagai fungsi otomatis, termasuk detak jantung dan respons terhadap stres. Salah satu bagian pentingnya adalah sistem saraf parasimpatis, yang berperan dalam kondisi tubuh yang lebih rileks.
Paparan dingin pada kondisi tertentu dapat memengaruhi respons saraf otonom. Penelitian mengenai cold face test, misalnya, menemukan bahwa pendinginan wajah dapat meningkatkan aktivitas vagal dan menekan sebagian respons biologis terhadap stres akut.
Penelitian lain juga menemukan bahwa stimulasi dingin pada area tertentu, termasuk leher dan pipi, dapat meningkatkan indikator aktivitas kardiovagal. Akan tetapi, temuan tersebut tidak otomatis membuktikan bahwa menempelkan es di ketiak merupakan terapi kecemasan. Lokasi tubuh, intensitas dingin, durasi paparan, serta kondisi setiap orang dapat memengaruhi respons tubuh.
Karena itu, klaim di media sosial bahwa “kompres es di ketiak mengaktifkan saraf tertentu dan menyembuhkan kecemasan” sebaiknya tidak diterima begitu saja.
Ketiak Bukan Titik Khusus untuk Mengobati Anxiety
Salah satu hal yang perlu diluruskan adalah anggapan bahwa ketiak merupakan “titik khusus” yang dapat mematikan kecemasan. Menurut penjelasan dr. Riati, manfaat yang mungkin dirasakan lebih berkaitan dengan respons tubuh terhadap sensasi dingin dan efek grounding, bukan karena ketiak memiliki mekanisme khusus yang terbukti dapat mengatasi gangguan kecemasan.
Artinya, jangan menganggap semakin dingin atau semakin lama kompres dilakukan maka kecemasan akan semakin cepat hilang. Justru penggunaan es secara langsung dan terlalu lama dapat menyebabkan iritasi bahkan cold burn, yaitu cedera pada kulit akibat paparan suhu yang sangat dingin.
Kalau Ingin Mencoba Kompres Dingin, Bagaimana yang Lebih Aman?
Kompres dingin dapat dipandang sebagai salah satu cara sementara untuk membantu mengalihkan perhatian ketika tubuh sedang tegang. Namun, hindari menempelkan es batu langsung ke kulit dalam waktu lama. Yang lebih penting, jangan menjadikan rasa dingin sebagai satu-satunya strategi menghadapi kecemasan.
Pendekatan grounding yang lebih sederhana juga dapat dilakukan, misalnya dengan memperhatikan benda-benda di sekitar menggunakan pancaindra. Salah satu teknik yang umum digunakan adalah metode 5-4-3-2-1: menyebutkan lima benda yang terlihat, empat hal yang dapat disentuh, tiga suara yang terdengar, dua aroma yang tercium, dan satu hal yang dapat dirasakan melalui indera pengecap. Teknik semacam ini digunakan dalam berbagai panduan penanganan kecemasan.
Sensasi dingin sendiri juga dapat menjadi bagian dari grounding. Beberapa panduan layanan kesehatan mental NHS, misalnya, menggunakan rangsangan dingin pada wajah sebagai salah satu teknik untuk membantu seseorang melewati periode emosi yang sangat intens.
Namun, teknik tersebut ditujukan untuk membantu mengelola gejala pada saat itu, bukan sebagai pengganti penanganan gangguan kecemasan.
Lebih Baik Mana: Kompres Es atau Latihan Pernapasan?
Tidak perlu memilih salah satu secara mutlak. Jika seseorang merasa terbantu dengan sensasi dingin, teknik tersebut dapat digunakan sebagai pelengkap bersama strategi pengelolaan kecemasan lainnya.
Latihan pernapasan perlahan, misalnya, merupakan salah satu strategi yang banyak direkomendasikan untuk membantu seseorang menghadapi kecemasan atau serangan panik. NHS menyarankan untuk bernapas secara perlahan dan mengingatkan diri bahwa serangan panik akan berlalu. Grounding, relaksasi, mindfulness, aktivitas fisik, tidur yang cukup, serta membatasi faktor pemicu juga dapat menjadi bagian dari pengelolaan stres.
Dr. Riati juga menyarankan olahraga rutin, tidur yang cukup, mengurangi konsumsi kafein, serta membatasi paparan informasi yang dapat memicu kecemasan.
Bagaimana Jika Kecemasan Terus Berulang?
Ini bagian yang paling penting. Kecemasan sesekali merupakan pengalaman yang dapat dialami banyak orang. Namun, jika rasa cemas berlangsung terus-menerus dan mulai mengganggu tidur, pekerjaan, hubungan sosial, atau aktivitas sehari-hari, masalahnya tidak lagi cukup ditangani hanya dengan trik sederhana dari media sosial.
Dr. Riati menyarankan konsultasi dengan psikolog atau psikiater apabila kecemasan menetap selama beberapa minggu, mengganggu aktivitas sehari-hari, atau disertai serangan panik.
Gangguan kecemasan dapat ditangani dengan pendekatan yang sesuai kondisi masing-masing orang. Salah satunya adalah cognitive behavioral therapy (CBT), yang disebut dr. Riati sebagai salah satu pendekatan psikoterapi yang efektif untuk gangguan kecemasan. Pada kondisi tertentu, dokter juga dapat mempertimbangkan pemberian obat.
Jadi, Benarkah Kompres Es di Ketiak Bisa Redakan Kecemasan?
Bisa membantu memberikan rasa tenang untuk sementara pada sebagian orang, tetapi belum terbukti sebagai terapi untuk gangguan kecemasan.
Sensasi dingin kemungkinan membantu melalui perubahan respons fisiologis dan sebagai bentuk pengalihan perhatian atau grounding. Penelitian tentang paparan dingin memang menunjukkan adanya pengaruh terhadap aktivitas saraf otonom dan respons stres, tetapi bukti tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa kompres es di ketiak dapat mengobati anxiety.
Karena itu, kompres dingin sebaiknya ditempatkan sebagai strategi pertolongan sementara, bukan “obat” untuk kecemasan.
Jika kecemasan hanya muncul sesekali, seseorang dapat mencoba teknik grounding, pernapasan perlahan, relaksasi, atau aktivitas yang membantu menenangkan diri. Tetapi jika kecemasan semakin sering, menetap, memicu serangan panik, atau mengganggu kehidupan sehari-hari, langkah yang lebih tepat adalah mencari bantuan profesional.

Posting Komentar untuk " Kompres Es di Ketiak Bisa Redakan Kecemasan? Ini Kata Psikiater"