Pakar Bedah Motif di Balik Foto AI Trump Bareng Eks Presiden AS

Washington, D.C. – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menjadi sorotan setelah mengunggah sejumlah gambar dan video berbasis kecerdasan buatan (AI) yang menampilkan dirinya bersama tokoh-tokoh penting dalam sejarah Amerika Serikat. Salah satu yang paling mencuri perhatian adalah gambar Trump bersama George Washington, presiden pertama AS yang telah meninggal lebih dari dua abad lalu.

Unggahan tersebut bukan foto dokumentasi peristiwa nyata. Gambar-gambar itu merupakan visual sintetis yang menggambarkan seolah-olah Trump sedang berinteraksi dengan Washington, termasuk dalam suasana Gedung Putih dan proyek ballroom yang tengah dibangun.

Di balik keanehan visual tersebut, pakar melihat adanya pesan politik dan upaya membangun citra sejarah Trump. Presiden Media Matters, Angelo Carusone, menilai penggunaan AI memungkinkan Trump memproyeksikan gambaran dirinya sebagai figur pendiri Amerika modern.

Trump dan George Washington dalam Dunia AI

Dalam beberapa pekan terakhir, Trump menggunakan platform Truth Social untuk membagikan rangkaian gambar hasil AI yang menempatkan dirinya bersama tokoh-tokoh bersejarah. Salah satu rangkaian gambar memperlihatkan Trump berdiri bersama George Washington di dalam ruangan yang digambarkan sebagai ballroom Gedung Putih yang telah selesai dibangun. Dalam gambar lainnya, Trump dan Washington tampak berdiri sambil memandang ke arah langit-langit.

Trump kemudian mengunggah visual lain yang menampilkan dirinya dan Washington duduk di meja bergaya kolonial sambil memegang pena bulu di atas sebuah peta. Ada pula gambar keduanya menunggang kuda, dengan Washington berada di atas kuda putih dan Trump di atas kuda hitam.

Pada unggahan berikutnya, Trump bahkan membagikan video hasil AI yang memperlihatkan dirinya dan Washington berjalan di dalam ballroom sambil menunjuk bagian-bagian bangunan. Karena Washington meninggal pada 1799, tentu saja pertemuan tersebut tidak mungkin benar-benar terjadi. Visual itu harus dipahami sebagai karya sintetis atau fantasi digital, bukan dokumentasi sejarah.

Bukan Sekadar Meme atau Konten Hiburan

Menurut Carusone, rangkaian gambar tersebut dapat dibaca lebih jauh daripada sekadar unggahan lucu atau meme politik. Ia menilai Trump berusaha menempatkan dirinya dalam satu bingkai simbolis dengan George Washington. Washington merupakan salah satu tokoh paling penting dalam sejarah Amerika dan dikenal sebagai presiden pertama sekaligus salah satu figur sentral dalam pembentukan negara AS.

Dengan menampilkan dirinya berdampingan dengan Washington, Trump seolah membangun narasi bahwa dirinya juga merupakan figur yang memiliki posisi historis besar. Carusone menyebut Trump tampaknya ingin memosisikan dirinya sebagai seorang "founder" atau pendiri. Teknologi AI kemudian memberikan kemampuan kepada Trump untuk mengubah imajinasi tersebut menjadi visual yang dapat langsung dikonsumsi publik.

AI Dipakai untuk Membentuk Warisan Politik

Motif lain yang terlihat adalah upaya membangun warisan politik Trump. Trump kini berada pada periode kedua kepresidenannya. Seiring masa jabatan berjalan, perhatian terhadap bagaimana seorang presiden akan dikenang dalam sejarah biasanya semakin besar.

Dalam kasus Trump, pembangunan ballroom baru di Gedung Putih menjadi salah satu proyek yang sangat ia soroti. Trump sendiri pernah menggambarkan proyek tersebut sebagai bagian dari warisannya. Karena itu, kemunculan Washington dalam gambar AI bersama Trump di ballroom memiliki simbolisme yang kuat. Visual tersebut seolah menghubungkan proyek fisik yang sedang dibangun Trump dengan sejarah panjang kepresidenan Amerika.

American Presidency Project juga mencatat bahwa penggunaan tokoh sejarah dalam gambar AI bukan fenomena yang baru muncul sekali. Pada awal Agustus, Trump mengunggah gambar bergaya lukisan yang menampilkan dirinya bersama George Washington dan Abraham Lincoln dalam sebuah meja bergaya historis.

Mengapa George Washington?

Pemilihan George Washington bukan tanpa alasan. Washington memiliki status khusus dalam sejarah Amerika. Ia bukan hanya presiden pertama, tetapi juga salah satu simbol utama lahirnya negara tersebut. Dalam komunikasi politik, menempatkan seorang tokoh modern bersama figur seperti Washington dapat menghasilkan asosiasi simbolis: kepemimpinan, pendirian negara, kekuatan, dan warisan sejarah.

Dengan teknologi AI, batas antara masa lalu dan masa kini dapat dihilangkan secara visual. Trump dapat ditempatkan di samping Washington tanpa harus menunggu adanya peristiwa nyata. Di sinilah AI menjadi alat komunikasi politik yang sangat kuat. Sebuah gambar dapat menyampaikan pesan mengenai "warisan" tanpa harus menjelaskannya melalui pidato panjang.

Trump Juga Menampilkan Dirinya Bersama Jenderal Perang

Bukan hanya Washington yang digunakan sebagai figur pembanding. Trump juga membagikan gambar AI yang memperlihatkan dirinya mengenakan seragam militer dan berada bersama jenderal Amerika Serikat pada Perang Dunia II, George Patton dan Douglas MacArthur.

Dalam gambar tersebut, Trump digambarkan berdiri di medan perang dengan sejumlah kendaraan militer dan tank yang terbakar di belakangnya. Visual itu memberikan kesan bahwa Trump sedang ditempatkan dalam narasi kepemimpinan militer Amerika. Bahkan, gambaran AI tersebut memberikan Trump tampilan yang jauh lebih heroik dengan deretan medali di seragamnya.

Rangkaian tersebut memperluas pesan yang dibangun: bukan hanya sebagai pemimpin politik, tetapi juga sebagai figur yang ingin dikenang dalam konteks sejarah dan kekuatan militer Amerika.

Muncul di Tengah Tekanan Politik

Waktu kemunculan unggahan-unggahan tersebut juga menjadi perhatian. Trump tengah menghadapi berbagai tekanan politik, termasuk persoalan terkait perang dengan Iran dan pertanyaan mengenai kondisi serta moral personel di kapal induk USS Abraham Lincoln setelah pengerahan yang panjang.

Di saat yang sama, laporan media menyebut tingkat persetujuan terhadap Trump berada pada titik rendah dalam periode keduanya. Dalam kondisi seperti itu, unggahan visual yang spektakuler dan kontroversial dapat mengubah fokus perhatian publik.

Alih-alih terus membicarakan persoalan kebijakan luar negeri, perang, atau tekanan politik domestik, publik dan media justru dapat terlibat dalam perdebatan mengenai gambar Trump bersama Washington. Dengan kata lain, konten AI tersebut berpotensi menjadi alat untuk mengendalikan agenda percakapan di media sosial.

"Living Mausoleum" untuk Trump?

Carusone menggunakan analogi yang cukup tajam ketika membahas cara Trump membangun citra dirinya di Washington. Menurutnya, berbagai perubahan yang membuat kota tersebut semakin memiliki jejak Trump dapat dianalogikan dengan monumen yang biasanya dibangun setelah seorang tokoh meninggal. Bedanya, Trump dianggap sedang membangun warisan tersebut ketika dirinya masih berkuasa.

Ia menggambarkan proses itu seperti sebuah "living mausoleum", atau semacam monumen hidup yang dibangun untuk mempertahankan nama dan citra seorang pemimpin. Analogi tersebut menunjukkan bagaimana proyek fisik, simbol sejarah, dan konten digital dapat saling melengkapi dalam upaya membangun warisan politik.

AI Mengubah Cara Politisi Membentuk Citra

Fenomena Trump juga menunjukkan perubahan besar dalam komunikasi politik. Sebelum teknologi generatif berkembang pesat, seorang politisi membutuhkan fotografer, ilustrator, studio, atau produksi video untuk menciptakan gambaran tertentu. Sekarang, gambar yang sebelumnya membutuhkan produksi mahal dapat dibuat dengan AI dalam waktu relatif singkat.

Politisi dapat digambarkan berada di tempat yang tidak pernah mereka kunjungi, bertemu orang yang tidak pernah mereka temui, atau melakukan tindakan yang tidak pernah terjadi. Masalahnya, visual semacam ini dapat terlihat sangat realistis bagi pengguna media sosial yang hanya melihatnya sekilas.

Risiko Foto AI Disalahpahami

Perkembangan tersebut membawa persoalan baru bagi publik. Jika gambar AI digunakan sebagai satire dan diberi label dengan jelas, masyarakat dapat memahami konteksnya. Namun, persoalan muncul ketika gambar sintetis dibagikan tanpa keterangan sehingga pengguna menganggapnya sebagai foto dokumentasi.

Kasus serupa juga telah terjadi pada berbagai foto yang melibatkan Trump dan Presiden Indonesia Prabowo Subianto. Salah satu foto viral yang mengklaim keduanya memamerkan produk daging babi ternyata merupakan hasil rekayasa AI. ANTARA mencatat hasil pemeriksaan menggunakan alat AI Detector Sightengine memberikan probabilitas 84 persen bahwa gambar tersebut merupakan gambar yang dibuat AI. Karena itu, kemampuan membedakan foto asli dengan gambar generatif semakin penting, terutama ketika konten tersebut menyangkut tokoh politik dan isu sensitif.

Gedung Putih Tidak Menjawab Secara Langsung

Ketika ditanya apakah Trump benar-benar menganggap gambar tersebut sebagai gambaran dirinya bertemu Washington, Gedung Putih tidak memberikan jawaban langsung. Juru bicara Gedung Putih justru menekankan Truth Social sebagai platform yang memungkinkan Trump berkomunikasi langsung dengan masyarakat tanpa melalui media yang dianggap bias oleh pemerintahannya.

Respons tersebut juga memperlihatkan pentingnya Truth Social dalam strategi komunikasi Trump. Platform tersebut memungkinkan Trump menentukan sendiri gambar, narasi, dan pesan yang ingin disampaikan kepada pengikutnya.

Foto AI sebagai Alat Membangun Narasi

Pada akhirnya, gambar Trump bersama George Washington tidak dapat dipahami sebagai foto biasa. Visual tersebut merupakan bagian dari komunikasi politik yang memanfaatkan teknologi AI untuk menciptakan simbol. Trump ditempatkan bersama tokoh pendiri Amerika, digambarkan berada di ballroom Gedung Putih, dan dalam unggahan lain ditampilkan bersama para jenderal legendaris.

Menurut analisis Carusone, semuanya mengarah pada satu tema besar: upaya Trump membangun citra dirinya sebagai figur historis yang setara dengan tokoh-tokoh besar Amerika. Teknologi AI kemudian menjadi alat yang memungkinkan gambaran tersebut diwujudkan secara instan. Bagi pendukungnya, unggahan semacam itu mungkin dilihat sebagai hiburan, patriotisme, atau cara Trump mengekspresikan dirinya. Namun bagi pengamat media, fenomena ini menunjukkan bagaimana batas antara kenyataan, propaganda, satire, dan fantasi digital semakin kabur.

Di era ketika satu gambar dapat dibuat dalam hitungan detik, tantangan terbesar bukan lagi sekadar apakah sebuah foto terlihat nyata, melainkan siapa yang membuatnya, mengapa dibuat, dan pesan apa yang ingin ditanamkan kepada publik.

Posting Komentar untuk " Pakar Bedah Motif di Balik Foto AI Trump Bareng Eks Presiden AS"