Percepat Efisiensi, Danantara Gabungkan Hotel BUMN di Bawah HIN
Jakarta — Upaya pemerintah melakukan penataan dan efisiensi aset Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memasuki babak penting di sektor perhotelan. Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) mendorong konsolidasi seluruh hotel milik BUMN untuk berada dalam satu ekosistem pengelolaan di bawah PT Hotel Indonesia Natour (HIN) atau InJourney Hospitality, anak usaha PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney.
Langkah tersebut menjadi bagian dari agenda streamlining BUMN yang bertujuan menciptakan pengelolaan aset yang lebih efisien, terintegrasi, profesional, serta mampu memberikan nilai ekonomi yang lebih besar bagi negara.
Perkembangan konsolidasi ini semakin nyata pada 26 Juni 2026. Sebanyak 45 hotel yang tersebar di sejumlah BUMN menandatangani Conditional Sale and Purchase Agreement (CSPA) sebagai bagian dari proses penyatuan aset hotel ke dalam ekosistem InJourney. Pemerintah kemudian menargetkan portofolio konsolidasi tersebut berkembang hingga sekitar 120 hotel BUMN.
Catatan penting: angka 49 hotel yang muncul dalam sejumlah konteks sebelumnya tidak sesuai dengan angka resmi terbaru yang tersedia. Pada tahap CSPA 26 Juni 2026, angka yang dikonfirmasi adalah 45 hotel, sementara target konsolidasi keseluruhan mencapai sekitar 120 hotel. Karena itu, artikel ini menggunakan data terbaru agar tidak menyesatkan pembaca.
Konsolidasi Hotel BUMN untuk Meningkatkan Efisiensi
Konsolidasi hotel BUMN bukan sekadar penggabungan sejumlah aset ke dalam satu perusahaan. Pemerintah melihat langkah tersebut sebagai upaya membangun skala usaha yang lebih besar sehingga pengelolaan hotel dapat dilakukan secara lebih terkoordinasi.
Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara, Dony Oskaria, menyebut penyatuan seluruh hotel BUMN di bawah payung InJourney sebagai langkah besar untuk menata ulang sekaligus memperkuat nilai aset hospitality milik negara.
Selama ini, aset hotel BUMN tersebar di berbagai perusahaan dan kelompok usaha. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan duplikasi fungsi, perbedaan standar operasional, biaya pengelolaan yang tidak seragam, serta keterbatasan dalam melakukan pemasaran dan pengadaan secara terintegrasi.
Dengan konsolidasi, pemerintah berharap berbagai persoalan tersebut dapat ditekan melalui satu sistem pengelolaan yang lebih terstruktur. Efisiensi juga diharapkan muncul dari pengadaan, pemasaran, teknologi, sumber daya manusia, distribusi, hingga pengembangan produk. Hotel-hotel yang sebelumnya berjalan dengan strategi masing-masing dapat diarahkan untuk memanfaatkan kekuatan sebuah jaringan perhotelan nasional.
HIN Menjadi Pengelola Utama Aset Hotel
Dalam struktur konsolidasi tersebut, PT Hotel Indonesia Natour (HIN) memiliki posisi penting. HIN merupakan perusahaan yang bergerak di bidang perhotelan dan berada dalam ekosistem InJourney.
InJourney menjelaskan bahwa konsolidasi portofolio hotel BUMN dilakukan melalui anak usahanya, PT Hotel Indonesia Natour atau InJourney Hospitality. Proses tersebut merupakan bagian dari mandat pemegang saham untuk membangun sektor perhotelan nasional yang lebih kuat dan terintegrasi.
Dengan demikian, HIN bukan hanya diposisikan sebagai pengelola hotel secara individual, tetapi menjadi bagian dari upaya membangun platform hospitality BUMN dalam skala nasional.
Peran tersebut juga sejalan dengan sejarah HIN sebagai salah satu pemain utama dalam bisnis perhotelan BUMN. Dalam dokumen BUMN, HIN tercatat sebagai perusahaan di bidang jasa perhotelan yang telah berada dalam ekosistem InJourney.
Dari Puluhan Hotel Menjadi Portofolio Sekitar 120 Hotel
Salah satu dampak terbesar dari konsolidasi ini adalah skala bisnis yang akan terbentuk. Pada tahap awal, 45 hotel telah menandatangani CSPA. Namun, Danantara memperkirakan jumlah hotel yang nantinya berada dalam pengelolaan InJourney dapat mencapai sekitar 120 hotel.
Jumlah tersebut akan memberikan InJourney Hospitality posisi yang sangat signifikan di industri perhotelan Indonesia.
Pada Juli 2026, BP BUMN dan InJourney menyatakan bahwa 120 hotel BUMN telah bergabung ke dalam InJourney Group. Konsolidasi tersebut membuat InJourney Hospitality diproyeksikan menjadi operator hotel terbesar kedua di Indonesia.
Skala tersebut penting karena industri perhotelan sangat bergantung pada kemampuan membangun jaringan, memperoleh pelanggan secara konsisten, mengendalikan biaya, dan mengoptimalkan tingkat okupansi. Semakin besar portofolio yang dikelola secara terpadu, semakin besar pula peluang menciptakan efisiensi dan sinergi.
Bukan Sekadar Memindahkan Aset
Pemerintah menegaskan bahwa konsolidasi tidak berhenti pada perpindahan aset atau perubahan struktur kepemilikan. Tujuan utamanya adalah menciptakan value creation atau peningkatan nilai aset.
Hotel BUMN yang sebelumnya mungkin memiliki performa berbeda-beda akan diarahkan agar memiliki strategi pengelolaan yang lebih profesional. Hotel dengan potensi tinggi dapat dikembangkan lebih agresif, sementara properti yang membutuhkan perbaikan dapat memperoleh strategi revitalisasi dan pengelolaan yang lebih tepat.
Dengan pendekatan tersebut, aset negara tidak hanya dipertahankan, tetapi diharapkan mampu menghasilkan nilai ekonomi yang lebih besar. InJourney sendiri menyatakan bahwa konsolidasi ini ditujukan untuk membangun sektor perhotelan yang lebih efisien, terintegrasi, dan berorientasi pada penciptaan nilai jangka panjang.
Standar Operasional Bisa Lebih Seragam
Salah satu persoalan yang dapat diatasi melalui konsolidasi adalah perbedaan standar pengelolaan antarahotel. Dengan berada dalam satu jaringan, penerapan standar pelayanan, sistem reservasi, pemasaran, pelatihan karyawan, teknologi, hingga pengelolaan pelanggan dapat dilakukan secara lebih terkoordinasi.
Contoh penerapan model tersebut sudah terlihat dalam kerja sama antara PT IAS Property Indonesia dan HIN. Pada April 2026, keduanya menandatangani kerja sama operatorship hotel sebagai bagian dari program konsolidasi hotel BUMN. HIN diharapkan dapat membantu menghadirkan pengelolaan yang lebih terintegrasi, profesional, serta memiliki standar layanan yang lebih terstruktur.
Model seperti ini dapat menjadi fondasi bagi terbentuknya jaringan hotel BUMN dengan identitas dan standar layanan yang lebih konsisten.
Membuka Peluang Masuknya Investor Strategis
Konsolidasi dalam skala besar juga memiliki tujuan lain, yaitu menciptakan portofolio yang lebih menarik bagi investor. Danantara sebelumnya menyampaikan rencana mencari mitra strategis di sektor perhotelan setelah konsolidasi mencapai setidaknya 100 hotel. Dengan portofolio yang lebih besar, aset-aset hotel BUMN dapat ditawarkan kepada investor melalui berbagai skema kemitraan.
Strategi tersebut membuka kemungkinan adanya investasi baru untuk renovasi hotel, pembangunan properti, peningkatan teknologi, pengembangan merek, serta ekspansi ke pasar internasional.
Artinya, konsolidasi tidak semata-mata bertujuan mengurangi biaya, tetapi juga menciptakan platform bisnis yang mempunyai daya tawar lebih besar.
Menjawab Tantangan Hotel BUMN
Industri hotel sangat kompetitif. Hotel BUMN harus bersaing dengan jaringan hotel swasta nasional maupun internasional yang memiliki pengalaman panjang dalam mengembangkan merek, sistem pelayanan, pemasaran digital, dan program loyalitas pelanggan.
Sebagian hotel BUMN juga memiliki bangunan yang sudah berusia cukup lama sehingga membutuhkan investasi untuk renovasi dan peningkatan kualitas.
Konsolidasi memberikan kesempatan untuk menangani persoalan tersebut secara lebih strategis. Properti tidak lagi dilihat sebagai aset yang berdiri sendiri, melainkan sebagai bagian dari sebuah portofolio.
Hotel yang berada di destinasi wisata unggulan dapat menjadi flagship property, sementara hotel di kota-kota tertentu dapat diarahkan untuk memenuhi kebutuhan perjalanan bisnis, pemerintahan, MICE, maupun wisatawan domestik.
Memperkuat Ekosistem Pariwisata Indonesia
Dampak konsolidasi juga tidak terbatas pada bisnis hotel. Hotel merupakan bagian penting dari ekosistem pariwisata karena berkaitan langsung dengan penerbangan, destinasi wisata, pusat konvensi, restoran, transportasi, hingga ekonomi kreatif.
InJourney sebagai holding BUMN sektor aviasi dan pariwisata memiliki posisi strategis untuk menghubungkan berbagai sektor tersebut. Dengan demikian, hotel dapat menjadi salah satu instrumen untuk memperpanjang lama tinggal wisatawan dan meningkatkan belanja wisatawan di berbagai daerah.
Konsolidasi hotel juga dapat memperkuat promosi destinasi karena jaringan yang lebih luas memungkinkan kampanye pemasaran dilakukan secara terpadu.
Efisiensi Harus Diikuti Peningkatan Kualitas
Meski memiliki potensi besar, konsolidasi bukan tanpa tantangan. Penggabungan aset dalam jumlah besar membutuhkan proses integrasi yang kompleks. Perusahaan harus menyelaraskan sistem teknologi, sumber daya manusia, kontrak, standar pelayanan, struktur organisasi, merek, hingga sistem keuangan.
Karena itu, efisiensi tidak boleh hanya diukur berdasarkan pengurangan biaya. Indikator yang lebih penting adalah apakah konsolidasi mampu meningkatkan okupansi, pendapatan per kamar, kualitas layanan, produktivitas karyawan, kepuasan pelanggan, dan nilai aset.
Jika penggabungan hanya menghasilkan organisasi yang lebih besar tanpa peningkatan produktivitas, tujuan transformasi tidak akan tercapai secara maksimal. Danantara sendiri menekankan bahwa proses konsolidasi dilakukan dengan kehati-hatian serta tata kelola yang baik.
Potensi Menjadi Kekuatan Baru Perhotelan Nasional
Dengan portofolio sekitar 120 hotel, InJourney Hospitality memiliki peluang membangun jaringan hotel nasional yang memiliki jangkauan sangat luas. Keunggulan utamanya bukan hanya jumlah properti, tetapi kombinasi lokasi dan jenis pasar yang dapat dilayani.
Jaringan tersebut dapat mencakup destinasi wisata, kota bisnis, kawasan ekonomi khusus, hingga kota-kota yang menjadi pintu masuk wisatawan.
Jika dikelola dengan strategi yang tepat, konsolidasi dapat menciptakan efek skala yang sebelumnya sulit dicapai oleh hotel BUMN yang beroperasi secara terpisah.
Posisi sebagai operator hotel terbesar kedua di Indonesia juga memberikan peluang bagi InJourney Hospitality untuk memperkuat merek, menjalin kemitraan internasional, serta menarik investasi baru.
Momentum Transformasi Hotel Pelat Merah
Konsolidasi hotel BUMN merupakan bagian dari agenda yang lebih luas untuk memperbaiki struktur dan kinerja perusahaan milik negara. Bagi pemerintah, sektor perhotelan memiliki potensi besar karena asetnya tersebar di berbagai daerah dan bersinggungan langsung dengan pertumbuhan pariwisata.
Dengan menyatukan pengelolaan hotel di bawah InJourney Hospitality, pemerintah berupaya mengubah kumpulan aset yang tersebar menjadi sebuah portofolio bisnis yang memiliki skala, strategi, dan daya saing.
Ke depan, keberhasilan kebijakan tersebut akan sangat ditentukan oleh kemampuan InJourney Hospitality mengintegrasikan seluruh hotel, meningkatkan kualitas pelayanan, memperbaiki kinerja aset, dan menciptakan nilai ekonomi yang berkelanjutan.

Posting Komentar untuk " Percepat Efisiensi, Danantara Gabungkan Hotel BUMN di Bawah HIN"