Ramai Istilah 'In This Economy', Airlangga Bantah Ekonomi RI Lesu
JAKARTA — Istilah “in this economy” belakangan ramai digunakan masyarakat di media sosial Indonesia untuk menggambarkan kondisi ketika seseorang harus lebih berhati-hati mengeluarkan uang di tengah berbagai tekanan biaya hidup. Ungkapan tersebut banyak muncul dalam unggahan yang membahas harga kebutuhan, gaya hidup, kemampuan membeli barang, hingga rencana finansial anak muda.
Fenomena tersebut kemudian mendapat perhatian Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. Ia membantah anggapan bahwa perekonomian Indonesia sedang mengalami kelesuan hanya karena masyarakat ramai menggunakan istilah tersebut.
Pemerintah justru menunjuk sejumlah indikator makroekonomi sebagai bukti bahwa perekonomian nasional masih tumbuh positif. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 tumbuh 5,29 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), sedangkan pertumbuhan ekonomi sepanjang semester I 2026 mencapai 5,45 persen.
Apa Arti Istilah "In This Economy"?
Secara sederhana, “in this economy” berarti “dalam kondisi ekonomi seperti ini”. Di media sosial, frasa tersebut sering digunakan sebagai respons bernada humor, satire, atau keluhan ketika seseorang membicarakan pengeluaran yang dianggap terlalu mahal. Misalnya, seseorang dapat mengatakan “in this economy, masih mau beli barang semahal itu?” untuk menggambarkan pertimbangan masyarakat terhadap harga barang dan kemampuan daya beli.
Penggunaan istilah ini kemudian berkembang menjadi semacam meme yang menggambarkan bagaimana masyarakat menyesuaikan gaya hidup dengan kondisi ekonomi yang dirasakan. Dalam konteks Indonesia, istilah tersebut tidak selalu berarti masyarakat menganggap ekonomi nasional sedang mengalami resesi. Namun, popularitasnya menunjukkan adanya perhatian terhadap biaya hidup, harga barang, pendapatan, dan kemampuan konsumsi.
Airlangga Bantah Ekonomi RI Lesu
Airlangga menanggapi anggapan bahwa ekonomi Indonesia sedang lesu dengan menunjuk pada data pertumbuhan ekonomi. Pemerintah menilai indikator makro menunjukkan perekonomian Indonesia masih memiliki daya tahan.
BPS mencatat ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 tumbuh 5,29 persen yoy. Jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya, ekonomi tumbuh 3,73 persen secara kuartalan. Secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi semester I 2026 mencapai 5,45 persen, yang menurut pemerintah menjadi pertumbuhan semester pertama tertinggi dalam lima tahun terakhir.
Dengan angka tersebut, pemerintah menilai istilah “in this economy” yang ramai di media sosial tidak dapat digunakan sendirian untuk menyimpulkan bahwa ekonomi nasional sedang lesu.
Ekonomi Tumbuh di Atas 5 Persen
Pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen menjadi salah satu argumen utama pemerintah. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menyebut ekonomi Indonesia telah tumbuh di atas 5 persen selama lima kuartal berturut-turut. Airlangga mengatakan capaian tersebut menunjukkan fondasi ekonomi domestik masih cukup kuat meskipun perekonomian global menghadapi berbagai tekanan.
Pertumbuhan tersebut juga terjadi ketika dunia menghadapi ketidakpastian geopolitik dan tekanan ekonomi global. Karena itu, pemerintah melihat ketahanan ekonomi domestik sebagai salah satu kekuatan utama Indonesia.
Tapi Mengapa Masyarakat Merasa Berat?
Pertanyaan berikutnya adalah mengapa masyarakat tetap merasa kondisi ekonomi sulit jika angka pertumbuhan masih mencapai lebih dari 5 persen? Jawabannya karena pertumbuhan ekonomi makro tidak selalu dirasakan secara merata oleh setiap rumah tangga.
PDB menunjukkan nilai keseluruhan aktivitas ekonomi suatu negara. Sementara pengalaman masyarakat sangat dipengaruhi oleh pendapatan, harga kebutuhan, pekerjaan, utang, biaya pendidikan, biaya perumahan, transportasi, hingga kebutuhan sehari-hari. Seseorang dengan pendapatan yang tidak meningkat sementara pengeluaran naik dapat merasa kondisi ekonominya semakin berat meskipun ekonomi nasional tumbuh. Inilah salah satu alasan mengapa data makro dan persepsi masyarakat dapat terlihat berbeda.
Pertumbuhan Ekonomi Bukan Satu-satunya Ukuran
Pertumbuhan PDB memang penting, tetapi bukan satu-satunya indikator untuk menilai kesejahteraan masyarakat. Kondisi ekonomi rumah tangga juga dipengaruhi oleh inflasi, pertumbuhan upah, lapangan kerja, produktivitas, tingkat pengangguran, harga pangan, biaya perumahan, serta akses terhadap pembiayaan.
Dengan kata lain, ekonomi dapat tumbuh 5 persen, tetapi sebagian masyarakat tetap dapat merasa daya belinya tertekan. Fenomena “in this economy” dapat dibaca dari perspektif tersebut: bukan sebagai bukti otomatis bahwa ekonomi nasional mengalami krisis, melainkan sebagai ekspresi masyarakat terhadap kondisi finansial yang mereka alami sehari-hari.
Konsumsi Masyarakat Tetap Menjadi Kunci
Konsumsi rumah tangga merupakan salah satu komponen penting dalam perekonomian Indonesia. Sebagai negara dengan populasi besar, kekuatan konsumsi domestik menjadi salah satu penopang pertumbuhan. Ketika masyarakat meningkatkan konsumsi, aktivitas perdagangan, transportasi, jasa, restoran, pariwisata, dan berbagai sektor lainnya ikut bergerak.
Sebaliknya, apabila rumah tangga menahan belanja karena khawatir terhadap kondisi ekonomi, dampaknya dapat terasa pada dunia usaha. Karena itu, pemerintah perlu menjaga agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya terlihat dalam angka PDB, tetapi juga diterjemahkan menjadi peningkatan pendapatan dan daya beli masyarakat.
Pariwisata Ikut Mendorong Ekonomi
Data BPS menunjukkan sejumlah sektor mengalami pertumbuhan cukup kuat pada kuartal II 2026. Salah satunya adalah sektor penyediaan akomodasi dan makan minum, yang tumbuh 11,83 persen pada semester I 2026. Sementara itu, wilayah Bali dan Nusa Tenggara mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 6,10 persen pada kuartal II 2026, antara lain ditopang oleh pemulihan sektor pariwisata.
Pertumbuhan sektor pariwisata penting karena memiliki efek berantai terhadap hotel, restoran, transportasi, UMKM, perdagangan, dan sektor jasa lainnya.
Jawa Masih Menjadi Mesin Ekonomi
Pulau Jawa tetap menjadi pusat utama aktivitas ekonomi Indonesia. Pada kuartal II 2026, wilayah Jawa memberikan kontribusi sekitar 56,47 persen terhadap struktur ekonomi nasional dan mencatat pertumbuhan sebesar 5,65 persen yoy.
Besarnya kontribusi Jawa menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi di wilayah tersebut masih menjadi salah satu penentu utama kinerja nasional. Namun, dominasi tersebut juga menunjukkan pentingnya pemerataan pertumbuhan agar daerah lain mendapatkan manfaat ekonomi yang lebih besar.
Pemerintah Andalkan Investasi dan Belanja
Airlangga sebelumnya menyebut investasi dan berbagai insentif pemerintah menjadi salah satu faktor yang menopang pertumbuhan ekonomi kuartal II 2026. Ia juga memperkirakan pertumbuhan pada kuartal III dan IV akan mendapat dukungan dari percepatan belanja pemerintah dan investasi.
Strategi tersebut diharapkan dapat menjaga momentum pertumbuhan ekonomi hingga akhir tahun. Investasi diperlukan untuk menciptakan kapasitas produksi baru, membuka lapangan kerja, serta meningkatkan aktivitas ekonomi di berbagai daerah. Sementara percepatan belanja pemerintah diharapkan memberikan dorongan langsung terhadap permintaan dan aktivitas ekonomi.
Istilah Viral Tidak Bisa Menggantikan Data
Fenomena “in this economy” memang menarik sebagai gambaran sentimen masyarakat. Namun, istilah yang viral di media sosial tidak dapat menggantikan indikator ekonomi resmi. Untuk mengetahui apakah ekonomi Indonesia benar-benar mengalami perlambatan serius, perlu melihat berbagai indikator secara bersamaan.
Pertumbuhan PDB, inflasi, konsumsi, investasi, perdagangan, pengangguran, upah, kredit perbankan, hingga kondisi fiskal perlu dianalisis secara menyeluruh. Karena itu, satu tren media sosial sebaiknya tidak dijadikan satu-satunya dasar untuk menyimpulkan ekonomi sedang mengalami krisis.
Ada Jarak antara Data dan Persepsi
Meski demikian, pemerintah juga tidak bisa mengabaikan sentimen masyarakat. Jika istilah “in this economy” semakin sering digunakan untuk menggambarkan kesulitan membeli kebutuhan sehari-hari, hal tersebut dapat menjadi sinyal bahwa sebagian masyarakat merasakan tekanan ekonomi.
Pemerintah perlu memastikan manfaat pertumbuhan ekonomi semakin terasa di tingkat rumah tangga. Pertumbuhan yang tinggi akan lebih bermakna jika diikuti peningkatan kesempatan kerja, pendapatan, produktivitas, serta kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan dasar dan membangun tabungan.
Gen Z dan Gaya Hidup Ikut Berubah
Fenomena “in this economy” juga banyak dikaitkan dengan perilaku generasi muda. Anak muda kini semakin sering membahas budgeting, menunda pembelian barang mahal, mengurangi nongkrong, mencari pekerjaan tambahan, hingga memilih produk yang lebih murah. Perubahan perilaku tersebut menunjukkan bahwa masyarakat melakukan penyesuaian terhadap kondisi keuangan.
Fenomena ini tidak selalu negatif. Dalam kondisi tertentu, pengelolaan keuangan yang lebih disiplin justru dapat membantu rumah tangga menghadapi ketidakpastian. Namun, apabila pengetatan pengeluaran terjadi karena pendapatan yang stagnan dan biaya hidup yang terus meningkat, dampaknya terhadap konsumsi domestik perlu diperhatikan.
Ekonomi RI Masih Tumbuh, Tetapi Tantangan Tetap Ada
Data resmi memang menunjukkan ekonomi Indonesia masih tumbuh solid. Namun, pertumbuhan 5,29 persen pada kuartal II 2026 juga lebih rendah dibandingkan pertumbuhan kuartal I 2026 yang mencapai 5,61 persen yoy. Artinya, pemerintah tetap perlu menjaga momentum agar perlambatan tidak berlanjut.
Selain faktor domestik, Indonesia masih menghadapi berbagai risiko global, termasuk ketidakpastian geopolitik, perubahan kebijakan perdagangan internasional, fluktuasi nilai tukar, harga komoditas, dan kondisi ekonomi negara-negara mitra dagang.
Tantangan Pemerintah: Membuat Pertumbuhan Terasa
Polemik “in this economy” pada akhirnya bukan hanya soal apakah ekonomi Indonesia tumbuh atau tidak. Pertanyaan yang lebih penting adalah: seberapa jauh pertumbuhan tersebut dirasakan masyarakat? Jika PDB meningkat tetapi masyarakat masih kesulitan membeli rumah, memenuhi kebutuhan pendidikan, membayar biaya kesehatan, atau meningkatkan tabungan, maka persepsi ekonomi tetap dapat negatif.
Karena itu, tantangan pemerintah bukan sekadar mempertahankan pertumbuhan di atas 5 persen. Pemerintah juga harus memastikan pertumbuhan menciptakan pekerjaan berkualitas, meningkatkan pendapatan riil, menjaga stabilitas harga, dan memperluas kesempatan ekonomi.

Posting Komentar untuk " Ramai Istilah 'In This Economy', Airlangga Bantah Ekonomi RI Lesu"