RI Undang Imam Besar Masjidil Haram ke Konferensi Dunia IGIC

Jakarta, 21 Agustus 2026 — Indonesia mengundang Imam Besar Masjidil Haram, Syekh Abdurrahman bin Abdul Aziz As-Sudais, untuk menghadiri International Grand Imams Conference (IGIC) 2026. Konferensi internasional tersebut dipersiapkan sebagai forum yang mempertemukan para imam besar dan tokoh agama dari berbagai negara untuk membahas peran masjid dalam membangun harmoni, diplomasi keagamaan, dan perdamaian dunia.

IGIC 2026 menjadi salah satu agenda penting Indonesia dalam memperkuat diplomasi keagamaan di tingkat internasional. Forum ini mengangkat tema “Masjid Harmony, Religious Diplomacy and Global Peace”, dengan gagasan utama menjadikan masjid bukan hanya sebagai pusat ibadah, tetapi juga sebagai ruang pendidikan, pemberdayaan masyarakat, penguatan toleransi, dan perdamaian.

Imam Besar Masjidil Haram Diundang ke IGIC 2026

Syekh Abdurrahman As-Sudais menjadi salah satu tokoh utama yang ditargetkan hadir dalam konferensi tersebut. Nama Imam Besar Masjidil Haram itu tercantum dalam daftar tokoh yang diproyeksikan menjadi pembicara dalam IGIC 2026.

Selain As-Sudais, konferensi juga mengundang Grand Syekh Al-Azhar, Syekh Ahmad Al-Tayyeb, serta sejumlah imam dan cendekiawan Muslim dari berbagai kawasan dunia. Situs resmi IGIC mencantumkan As-Sudais dan Al-Tayyeb sebagai pembicara dalam salah satu sesi utama konferensi.

Kehadiran tokoh-tokoh tersebut diharapkan memperkuat posisi IGIC sebagai forum internasional untuk bertukar gagasan mengenai kepemimpinan keagamaan, pengelolaan masjid, toleransi, diplomasi agama, hingga perdamaian global.

Indonesia Ingin Perkuat Diplomasi Keagamaan

Menteri Agama sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar, sebelumnya menyampaikan bahwa IGIC dirancang untuk memperkuat konektivitas kepemimpinan keagamaan Indonesia dengan dunia internasional. Indonesia ingin menunjukkan pengalaman Islam yang damai, toleran, dan relevan dalam menghadapi tantangan zaman. Pemerintah juga berharap para imam Indonesia tidak hanya berperan sebagai pemimpin ibadah, tetapi dapat menjadi bagian dari diplomasi perdamaian Indonesia di tingkat global.

Menurut Nasaruddin, imam memiliki posisi strategis karena berinteraksi langsung dengan masyarakat. Peran tersebut membuat imam berpotensi menjadi penggerak berbagai agenda sosial, pendidikan, pemberdayaan ekonomi, dan penguatan harmoni di tengah masyarakat.

IGIC Targetkan Ratusan Imam dari Berbagai Negara

Konferensi ini ditargetkan menghadirkan sekitar 400 hingga 500 imam dan delegasi dari berbagai negara, tergantung perkembangan persiapan dan komposisi peserta. Mereka berasal dari berbagai kawasan dunia dan diharapkan membawa pengalaman pengelolaan masjid serta kehidupan keagamaan dari negara masing-masing.

Situs resmi IGIC menyebut konferensi dirancang melibatkan peserta dari lebih dari lima benua. Bahasa yang digunakan dalam forum mencakup bahasa Arab, Inggris, dan Indonesia.

Sejumlah tokoh yang masuk dalam daftar pembicara antara lain:

  • Syekh Abdurrahman As-Sudais dari Arab Saudi.

  • Grand Syekh Ahmad Al-Tayyeb dari Al-Azhar, Mesir.

  • Prof. KH. Nasaruddin Umar dari Indonesia.

  • Imam Hamzah Yusuf dari Amerika Serikat.

  • Imam Syaikh Rawil Gaynutdin dari Rusia.

  • Imam İshak Danış dari Turki.

Kehadiran tokoh lintas negara tersebut diharapkan membuka ruang dialog yang lebih luas mengenai tantangan umat Islam dan kontribusi lembaga keagamaan terhadap perdamaian dunia.

Bahas Harmoni Masjid dan Perdamaian Global

Salah satu fokus utama IGIC 2026 adalah memperkuat konsep masjid sebagai pusat harmoni. Masjid selama ini identik dengan tempat pelaksanaan ibadah. Namun, dalam konsep yang ditawarkan IGIC, fungsi masjid dapat diperluas menjadi pusat pembelajaran agama, pendidikan masyarakat, pemberdayaan ekonomi, penguatan solidaritas sosial, dan pembangunan karakter.

Gagasan tersebut sejalan dengan pandangan Kementerian Agama bahwa masjid harus mampu menjawab tantangan masyarakat modern. Masjid juga diharapkan dapat berperan dalam menangkal disinformasi, meningkatkan literasi keagamaan, serta memperkuat hubungan sosial antarwarga. Dengan demikian, imam tidak hanya dituntut memiliki kemampuan dalam memimpin ibadah, tetapi juga memiliki wawasan sosial, kebangsaan, teknologi, dan kemampuan komunikasi yang memadai.

Diplomasi Keagamaan Jadi Agenda Penting

IGIC juga membawa agenda religious diplomacy atau diplomasi keagamaan. Melalui pertemuan para imam dari berbagai negara, Indonesia ingin membangun jaringan kepemimpinan keagamaan yang dapat menjadi jembatan komunikasi antarmasyarakat dan antarnegara.

Diplomasi tersebut dinilai penting karena tokoh agama memiliki pengaruh langsung di tengah masyarakat. Pesan yang disampaikan imam melalui khutbah, kajian, maupun kegiatan sosial dapat ikut membentuk cara pandang umat terhadap isu perdamaian, toleransi, dan hubungan antar kelompok. Karena itu, forum yang menghadirkan Imam Besar Masjidil Haram, Grand Syekh Al-Azhar, dan tokoh-tokoh Muslim dunia memiliki nilai strategis bagi Indonesia.

Indonesia Jadi Tuan Rumah

Indonesia ditetapkan sebagai tuan rumah penyelenggaraan IGIC 2026. Forum tersebut merupakan salah satu agenda yang didorong oleh Ittihad Persaudaraan Imam Masjid (IPIM) bersama sejumlah institusi dan lembaga terkait.

Rangkaian menuju konferensi telah dilakukan melalui program “Bridging Road to IGIC 2026” di sejumlah daerah, termasuk Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Banten, dan Jawa Timur. Kegiatan pendahuluan tersebut bertujuan menyatukan visi para imam sekaligus memperkenalkan agenda konferensi kepada jaringan masjid di Indonesia.

Di Sulawesi Selatan, misalnya, kegiatan persiapan IGIC melibatkan ribuan imam dan tokoh agama. Agenda tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat pesan toleransi, persatuan, dan perdamaian menjelang konferensi internasional.

Masjid Istiqlal Jadi Salah Satu Lokasi Utama

Masjid Istiqlal di Jakarta menjadi salah satu lokasi utama agenda IGIC. Selain itu, rangkaian kegiatan juga dirancang melibatkan Hotel Borobudur Jakarta dan Masjid Agung Palembang. Masjid Istiqlal dipandang memiliki simbol penting bagi Indonesia. Sebagai masjid nasional, Istiqlal tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga kerap menjadi ruang pertemuan tokoh agama dan pemimpin dunia.

Pemilihan Istiqlal sebagai lokasi konferensi memperkuat pesan yang ingin dibawa Indonesia, yakni pengalaman Islam Indonesia yang mengedepankan moderasi, toleransi, dialog, dan kehidupan masyarakat yang majemuk.

Ada Agenda Deklarasi Perdamaian

Salah satu keluaran yang diharapkan dari IGIC adalah lahirnya kesepakatan atau deklarasi bersama mengenai peran imam dalam menciptakan perdamaian. Situs resmi IGIC menyebut salah satu agenda utama konferensi adalah “Istiqlal Understanding”, yang berfokus pada masjid, diplomasi keagamaan, dan perdamaian global.

Deklarasi tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai dokumen simbolis, tetapi dapat menjadi pijakan bersama bagi para imam dan lembaga keagamaan dalam mengembangkan program nyata di masyarakat.

Tantangan Imam di Era Modern

IGIC juga berangkat dari perubahan besar terhadap peran imam di tengah masyarakat modern. Perkembangan teknologi informasi membuat masyarakat mendapatkan informasi keagamaan dari berbagai sumber. Di satu sisi, kondisi ini membuka akses pengetahuan yang lebih luas. Namun di sisi lain, muncul tantangan berupa informasi palsu, ujaran kebencian, ekstremisme, dan pemahaman agama yang tidak selalu sesuai dengan konteks kehidupan masyarakat.

Karena itu, imam dituntut memiliki kemampuan untuk memberikan bimbingan keagamaan yang relevan dan bertanggung jawab. Selain isu keagamaan, IGIC juga menyoroti persoalan global seperti perubahan iklim, ketidakadilan sosial, degradasi moral, radikalisme, dan disintegrasi masyarakat.

Masjid Didorong Menjadi Pusat Pemberdayaan

Pemerintah Indonesia juga ingin mengembangkan peran masjid dalam pemberdayaan masyarakat. Nasaruddin Umar menyebut masjid dapat berfungsi sebagai pusat literasi keagamaan, pemberdayaan ekonomi melalui zakat dan infak, serta ruang untuk memperkuat harmoni sosial.

Gagasan tersebut memiliki basis yang kuat di Indonesia karena jumlah masjid dan musala sangat besar. Berdasarkan data Sistem Informasi Masjid Kementerian Agama yang dikutip ANTARA, terdapat lebih dari 740 ribu masjid dan musala di Indonesia. Besarnya jaringan tersebut membuat penguatan kapasitas imam dinilai memiliki dampak luas terhadap masyarakat.

Mengapa Kehadiran Imam Besar Masjidil Haram Penting?

Undangan kepada Syekh As-Sudais memiliki arti strategis karena Masjidil Haram merupakan salah satu pusat paling penting dalam kehidupan umat Islam dunia. Kehadiran Imam Besar Masjidil Haram dalam forum yang diselenggarakan di Indonesia dapat menjadi momentum untuk memperluas komunikasi antara ulama dan lembaga keagamaan Indonesia dengan Arab Saudi.

Lebih dari itu, pertemuan tersebut diharapkan dapat mempertemukan berbagai perspektif mengenai bagaimana masjid dan imam dapat berkontribusi dalam menghadapi persoalan global. Indonesia juga dapat memperkenalkan pengalaman pengelolaan kehidupan keagamaan dalam masyarakat yang plural kepada para peserta internasional.

Peran Indonesia dalam Islam Global

Penyelenggaraan IGIC menunjukkan upaya Indonesia untuk semakin aktif dalam percakapan mengenai Islam global. Dengan populasi Muslim yang besar dan tradisi keagamaan yang beragam, Indonesia memiliki pengalaman dalam membangun kehidupan sosial yang berdampingan dengan berbagai kelompok agama dan budaya.

Forum IGIC menjadi kesempatan untuk memperkenalkan pengalaman tersebut kepada jaringan imam dan ulama dari berbagai negara. Pada saat yang sama, Indonesia juga dapat mempelajari praktik pengelolaan masjid dan kehidupan keagamaan dari negara lain.

IGIC Diharapkan Tidak Berhenti pada Konferensi

Keberhasilan IGIC pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh jumlah tokoh yang hadir, tetapi juga oleh tindak lanjut setelah konferensi. Kerja sama antarimam, program pendidikan, pemberdayaan masjid, pertukaran pengetahuan, serta agenda perdamaian dapat menjadi hasil konkret dari forum tersebut. Dengan melibatkan tokoh-tokoh seperti Imam Besar Masjidil Haram dan Grand Syekh Al-Azhar, Indonesia memiliki peluang untuk menjadikan IGIC sebagai jaringan jangka panjang, bukan sekadar konferensi internasional satu kali.

Undangan kepada Imam Besar Masjidil Haram Syekh Abdurrahman As-Sudais menjadi salah satu bagian penting dari upaya tersebut. Jika kehadiran para tokoh utama dunia Islam dapat terealisasi, IGIC 2026 berpotensi menjadi salah satu forum penting bagi diplomasi keagamaan Indonesia sekaligus memperkuat pesan bahwa masjid dapat menjadi pusat harmoni, persatuan, dan perdamaian dunia.

Posting Komentar untuk " RI Undang Imam Besar Masjidil Haram ke Konferensi Dunia IGIC"