12 Penerbangan di Bandara Juanda Dibatalkan Imbas Soetta Cs Ditutup
Surabaya — Dampak erupsi Gunung Anak Krakatau terus merembet ke jaringan penerbangan nasional. Sebanyak 12 penerbangan di Bandara Internasional Juanda, Sidoarjo, Jawa Timur, dibatalkan pada Senin, 7 September 2026, akibat efek berantai dari penutupan sejumlah bandara, termasuk Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) dan Halim Perdanakusuma.
Pembatalan tersebut bukan disebabkan Bandara Juanda ikut ditutup akibat abu vulkanik. Juanda masih beroperasi, tetapi gangguan pada sejumlah bandara utama membuat konektivitas dan rotasi pesawat terganggu. Kondisi itu kemudian berdampak pada penerbangan yang berangkat maupun tiba di Juanda.
12 Penerbangan Juanda Batal
General Manager Bandara Internasional Juanda Muhammad Tohir mengatakan, hingga Senin pagi terdapat 12 penerbangan yang mengalami pembatalan.
Data terbaru yang dilaporkan pada Senin, 7 September 2026, menunjukkan pembatalan tersebut terdiri dari lima penerbangan kedatangan dan tujuh penerbangan keberangkatan. Penerbangan yang terdampak terutama berkaitan dengan rute menuju dan dari Jakarta, baik melalui Bandara Soekarno-Hatta maupun Halim Perdanakusuma.
Sebelumnya, pada Minggu, 6 September, Bandara Juanda mencatat 16 penerbangan mengalami penyesuaian operasional. Dari jumlah tersebut, 12 penerbangan dibatalkan dan empat lainnya mengalami keterlambatan atau masih berstatus standby.
Perubahan jumlah dan komposisi penerbangan terdampak terjadi seiring dinamika operasional penerbangan dan penutupan sejumlah bandara.
Efek Domino Penutupan Soetta dan Bandara Lain
Gangguan penerbangan di Juanda merupakan efek domino dari penutupan bandara di wilayah lain. Pada Senin pagi, empat bandara yang masih mengalami penutupan operasional adalah Bandara Soekarno-Hatta, Bandara Halim Perdanakusuma, Bandara Radin Inten II Lampung, dan Bandara Husein Sastranegara Bandung.
Penutupan tersebut membuat pesawat dan awak yang seharusnya menjalankan penerbangan berikutnya tidak dapat melakukan rotasi sesuai jadwal. Akibatnya, penerbangan di bandara lain, termasuk Juanda, ikut mengalami perubahan.
Kondisi seperti ini dikenal sebagai cascading impact, ketika gangguan di satu simpul jaringan penerbangan menyebabkan keterlambatan dan pembatalan berantai di bandara lainnya.
Soetta Sempat Ditutup hingga Senin Pagi
Bandara Soekarno-Hatta menjadi salah satu bandara yang paling terdampak erupsi Anak Krakatau. Kementerian Perhubungan sebelumnya memperpanjang penutupan operasional Soetta hingga 7 September 2026 pukul 08.59 WIB melalui NOTAM A3368/26 NOTAMR A3355/26.
Kemenhub menyatakan keputusan tersebut diambil dengan mempertimbangkan keselamatan penerbangan karena sebaran abu vulkanik masih harus dipantau secara ketat.
Namun, perkembangan kondisi penerbangan masih sangat dinamis. Otoritas kemudian terus melakukan evaluasi berdasarkan hasil pemantauan abu vulkanik dan kondisi cuaca.
Delapan Bandara Sempat Ditutup
Sebelumnya, pemerintah memperpanjang penutupan sementara terhadap delapan bandara yang terdampak sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Selain Soekarno-Hatta dan Halim Perdanakusuma, bandara yang masuk dalam daftar penutupan tersebut antara lain:
- Bandara Radin Inten II, Lampung;
- Bandara Husein Sastranegara, Bandung;
- Bandara Budiarto, Curug, Tangerang;
- Bandara Pondok Cabe, Tangerang Selatan;
- Bandara Taufik Kiemas, Pesisir Barat, Lampung;
- Bandara Atung Bungsu, Pagar Alam, Sumatera Selatan.
Kemenhub menegaskan pembukaan kembali bandara hanya dilakukan setelah kondisi dinilai aman bagi penerbangan.
Juanda Justru Dibuka 24 Jam
Di tengah gangguan penerbangan tersebut, Bandara Internasional Juanda justru memperpanjang jam operasionalnya. Bandara Juanda beroperasi 24 jam pada 6-7 September 2026 untuk membantu menjaga rotasi pesawat dan konektivitas penerbangan nasional.
General Manager Bandara Juanda Muhammad Tohir menyebut Juanda menjadi salah satu bandara alternatif ketika sejumlah bandara lain terdampak abu vulkanik.
Dengan operasional yang diperpanjang, Juanda dapat menjadi salah satu titik penting untuk membantu mengurangi dampak gangguan penerbangan di jaringan udara nasional.
Penumpang Diminta Pantau Jadwal
Manajemen Bandara Juanda mengimbau calon penumpang untuk tidak hanya mengandalkan jadwal awal yang tertera pada tiket.
Penumpang diminta terus memantau status penerbangan melalui kanal resmi maskapai masing-masing. Mereka juga disarankan menghubungi maskapai apabila penerbangannya mengalami pembatalan, perubahan jadwal, atau pengalihan.
Bandara Juanda juga menyiagakan petugas dari berbagai lini, termasuk layanan pelanggan dan keamanan, untuk membantu penumpang yang terdampak.
Juanda Siapkan Makanan dan Minuman
Sebagai bagian dari penanganan penumpang terdampak, pengelola Bandara Juanda menyiapkan makanan dan minuman. Layanan tersebut merupakan bagian dari Service Recovery Activation, yang dilakukan untuk membantu pengguna jasa selama terjadi gangguan operasional.
Petugas juga disiagakan untuk memberikan informasi serta membantu penumpang memahami perubahan jadwal penerbangan.
Langkah ini penting karena pembatalan penerbangan dapat menyebabkan penumpukan penumpang di terminal, terutama ketika sejumlah rute Jakarta tidak dapat beroperasi.
Dampak Tidak Hanya di Juanda
Gangguan penerbangan akibat erupsi Anak Krakatau tidak hanya terjadi di Juanda. Pada Minggu, 6 September, lebih dari 1.500 penerbangan di sejumlah bandara Indonesia terdampak dan sekitar 170.000 penumpang terkena imbasnya. Delapan bandara sempat ditutup akibat kondisi ruang udara yang terdampak abu vulkanik.
Bandara Soekarno-Hatta menjadi salah satu titik dengan dampak terbesar karena merupakan pusat konektivitas penerbangan domestik dan internasional.
Ketika bandara utama tersebut berhenti beroperasi, dampaknya otomatis menjalar ke berbagai kota lain karena pesawat dan kru tidak dapat menjalankan jadwal rotasi berikutnya.
Abu Vulkanik Berbahaya bagi Pesawat
Penutupan bandara dilakukan bukan semata-mata karena abu mengganggu jarak pandang. Abu vulkanik dapat menjadi ancaman serius bagi pesawat, khususnya mesin jet. Partikel abu yang masuk ke mesin dapat meleleh akibat temperatur tinggi dan kemudian menempel pada komponen mesin.
Dalam kondisi tertentu, endapan tersebut dapat mengganggu aliran udara dan menyebabkan mesin kehilangan tenaga. Karena itu, Kemenhub menegaskan bahwa pesawat yang akan kembali beroperasi setelah kondisi bandara dinyatakan aman harus terlebih dahulu menjalani pemeriksaan.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengatakan maskapai perlu memastikan tidak ada debu atau abu vulkanik pada mesin sebelum pesawat diterbangkan kembali.
Pemeriksaan Abu Dilakukan Berkala
Untuk mengetahui perkembangan sebaran abu, Kemenhub melakukan pemantauan secara berkala di bandara-bandara terdampak. Menurut Kemenhub, paper test dilakukan setiap 30 menit untuk mengetahui apakah konsentrasi abu vulkanik di suatu bandara semakin melebar atau justru berkurang.
Data tersebut kemudian menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan apakah sebuah bandara dapat kembali dibuka.
Aktivitas Erupsi Menerus Anak Krakatau Berakhir
Di tengah gangguan penerbangan tersebut, Badan Geologi pada Senin, 7 September 2026, melaporkan bahwa episode erupsi menerus Gunung Anak Krakatau telah berakhir.
Episode tersebut berlangsung sekitar 25 jam, dimulai pada Jumat, 4 September pukul 23.07 WIB dan berakhir pada Minggu, 6 September pukul 00.04 WIB.
Setelah episode erupsi menerus berakhir, aktivitas Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan karakteristik erupsi strombolian. Badan Geologi juga mencatat sejumlah gempa erupsi, hembusan, low frequency, hybrid, tremor menerus, dan gempa vulkanik dangkal.
Meski episode erupsi menerus telah berakhir, Badan Geologi menilai probabilitas terjadinya letusan susulan masih tinggi. Status aktivitas Gunung Anak Krakatau juga masih berada pada Level III atau Siaga.
Abu Vulkanik Masih Jadi Perhatian
Berakhirnya fase erupsi menerus tidak serta-merta berarti gangguan penerbangan langsung berakhir. Abu yang sudah terlepas ke atmosfer dapat terbawa angin dan tetap berada di jalur penerbangan meskipun intensitas erupsi telah menurun. Selain itu, kondisi angin di berbagai lapisan atmosfer dapat berubah dengan cepat.
Kemenhub menyebut kondisi cuaca yang dinamis menjadi salah satu alasan pihaknya tidak bisa memastikan secara langsung kapan seluruh bandara terdampak dapat kembali normal.
Pemerintah Siapkan Bandara Alternatif
Untuk menjaga konektivitas selama sejumlah bandara ditutup, pemerintah mengoperasikan beberapa bandara alternatif selama 24 jam. Kebijakan tersebut bertujuan membantu memindahkan atau mengakomodasi sebagian pergerakan penerbangan yang tidak dapat dilakukan melalui bandara terdampak.
Bandara Juanda termasuk salah satu bandara yang mendapat peran penting dalam skema tersebut karena lokasinya relatif jauh dari pusat sebaran abu Anak Krakatau dan memiliki kapasitas untuk mendukung penerbangan tambahan.
Penumpang Berhak Mendapat Penanganan
Bagi penumpang yang penerbangannya dibatalkan akibat kondisi alam dan penutupan bandara, maskapai diminta memberikan penanganan sesuai ketentuan yang berlaku. Pilihan yang dapat diberikan kepada penumpang terdampak antara lain perubahan jadwal penerbangan, pengalihan penerbangan, atau pengembalian dana sesuai kebijakan dan ketentuan penerbangan yang berlaku.
Penumpang sebaiknya tidak langsung datang ke bandara tanpa memastikan status penerbangannya karena perubahan jadwal dapat terjadi sewaktu-waktu mengikuti perkembangan kondisi ruang udara.
Gangguan Masih Bisa Berubah
Kondisi penerbangan nasional akibat erupsi Anak Krakatau masih sangat dinamis. Jumlah penerbangan yang dibatalkan, ditunda, dialihkan, maupun kembali beroperasi dapat berubah mengikuti kondisi abu vulkanik, cuaca, serta keputusan otoritas penerbangan.
Karena itu, angka 12 penerbangan yang dibatalkan di Bandara Juanda merupakan kondisi terbaru yang dilaporkan pada Senin pagi dan bukan angka final untuk seluruh periode gangguan. Sebelumnya, jumlah penerbangan Juanda yang terdampak juga sempat berubah dari 12 menjadi puluhan penerbangan seiring meluasnya dampak penutupan bandara dan terganggunya rotasi armada.
Kesimpulan
Sebanyak 12 penerbangan di Bandara Internasional Juanda dibatalkan pada Senin, 7 September 2026, sebagai dampak berantai dari penutupan sejumlah bandara akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. Pembatalan tersebut terdiri dari lima penerbangan kedatangan dan tujuh penerbangan keberangkatan. Gangguan terutama berkaitan dengan konektivitas Jakarta melalui Soekarno-Hatta dan Halim Perdanakusuma.
Meski demikian, Bandara Juanda tetap beroperasi dan bahkan memperpanjang jam layanan menjadi 24 jam untuk membantu menjaga konektivitas penerbangan nasional. Pengelola juga menyiagakan petugas serta menyediakan makanan dan minuman bagi penumpang yang terdampak. Sementara itu, Badan Geologi menyatakan episode erupsi menerus Anak Krakatau telah berakhir, tetapi gunung tersebut masih berstatus Level III (Siaga) dan potensi letusan susulan masih dinilai tinggi.

Posting Komentar untuk " 12 Penerbangan di Bandara Juanda Dibatalkan Imbas Soetta Cs Ditutup"