Gunung Saukang Maros Terbakar, Pendaki Dievakuasi

Maros — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda kawasan Gunung Bulu Saukang, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, pada Minggu malam, 6 September 2026. Kobaran api yang awalnya terlihat di sekitar Pos 5 kemudian meluas menuju Pos 3 hingga kawasan puncak, membuat puluhan pendaki terjebak dan harus dievakuasi tim SAR gabungan.

Kebakaran terjadi ketika ratusan pendaki masih berada di kawasan gunung. Basarnas Makassar mencatat terdapat 337 pendaki di lokasi saat kejadian, dengan 68 orang sempat terjebak akibat kobaran api dan kepulan asap. Seluruh pendaki yang terjebak akhirnya berhasil dievakuasi.

Api Muncul Sekitar Pukul 20.00 WITA

Kebakaran pertama kali dilaporkan sekitar pukul 20.00 WITA, Minggu malam. Titik awal api berada di kawasan Pos 5 jalur pendakian Gunung Bulu Saukang.

Api kemudian bergerak mengikuti vegetasi di kawasan gunung. Dalam waktu relatif singkat, kobaran dilaporkan merembet dari Pos 5 menuju Pos 3 hingga mendekati puncak.

Relawan SAR Pramuka Peduli, Ondong, mengatakan pendaki yang berada di puncak kemudian diarahkan turun menggunakan jalur alternatif untuk menghindari titik api. Pendaki yang masih berada di jalur umum juga diminta segera turun.

68 Pendaki Sempat Terjebak

Data terbaru Basarnas Makassar menunjukkan terdapat 68 pendaki yang sempat terjebak ketika kebakaran meluas.

Dantim Basarnas Makassar Dadang Tarkas mengatakan total pendaki yang berada di kawasan Gunung Bulu Saukang saat kejadian mencapai 337 orang. Dari jumlah tersebut, 68 orang berada dalam situasi yang membutuhkan proses evakuasi oleh tim SAR gabungan.

Seluruh pendaki yang sempat terjebak kemudian berhasil diturunkan dari kawasan berbahaya dan diserahkan kepada keluarga masing-masing.

Tiga Pendaki Mengalami Gangguan Kesehatan

Proses evakuasi tidak berjalan mudah karena medan gunung yang terjal serta kepulan asap akibat kebakaran. Tiga pendaki perempuan dilaporkan mengalami gangguan kesehatan selama proses evakuasi. Dua di antaranya, yakni Arum (24) dan Velia (22), mengalami sesak napas hingga pingsan.

Sementara seorang pendaki lainnya, Bunga (18), mengalami keseleo. Ketiganya kemudian mendapatkan bantuan untuk dievakuasi dari kawasan terdampak. Kondisi tersebut menunjukkan bahaya kebakaran di kawasan pendakian tidak hanya berasal dari api, tetapi juga asap tebal dan medan yang menyulitkan proses turun.

Empat Pendaki Dilaporkan Mengalami Gangguan Saat Evakuasi

Selain tiga pendaki yang mengalami gangguan kesehatan, relawan juga melaporkan empat pendaki mengalami kondisi yang disebut kesurupan ketika proses evakuasi berlangsung.

Relawan SAR Pramuka Peduli mengatakan kondisi tersebut terjadi di beberapa lokasi berbeda, baik ketika pendaki masih berada di jalur maupun setelah mencapai titik istirahat untuk penjemputan.

Keempat pendaki kemudian mendapatkan penanganan dari warga. Setelah kondisinya membaik, mereka telah meninggalkan lokasi dan kembali ke rumah masing-masing.

Pendaki Diminta Turun Melalui Jalur Alternatif

Ketika api mulai meluas, pengelola kawasan bersama tim SAR mengarahkan pendaki untuk segera meninggalkan jalur yang berada dekat dengan titik kebakaran. Pendaki yang berada di sekitar puncak diarahkan turun melalui jalur Alvath, sedangkan pendaki di jalur umum juga diminta bergerak menuju lokasi yang lebih aman.

Evakuasi dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan posisi api dan kondisi jalur. Tim SAR bersama pengelola dan aparat juga melakukan pendataan untuk memastikan tidak ada pendaki yang masih tertinggal di kawasan rawan.

Luasan Kebakaran Lebih dari 1 Kilometer

Saat kebakaran pertama kali dilaporkan, titik api berada di sekitar Pos 5. Namun, api kemudian bergerak menuju Pos 3 dan puncak.

Relawan memperkirakan kawasan yang terbakar telah mencapai lebih dari 1 kilometer. Jarak antara Pos 5 dan puncak diperkirakan sekitar 300 meter, sedangkan jarak Pos 5 menuju Pos 3 mencapai lebih dari 1 kilometer.

Besarnya area yang terdampak membuat penanganan kebakaran tidak bisa dilakukan seperti kebakaran biasa di kawasan permukiman.

Damkar dan Manggala Agni Dikerahkan

Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Maros langsung melakukan pemantauan setelah menerima laporan kebakaran. Petugas juga berkoordinasi dengan Manggala Agni, mengingat lokasi kebakaran berada di kawasan hutan dan gunung dengan medan yang sulit dijangkau kendaraan pemadam.

Pada tahap awal, Damkarmat Maros menyiagakan personel dan melakukan pemantauan perkembangan titik api. Penyebab kebakaran maupun luas area terdampak pada saat laporan awal masih belum dapat dipastikan.

Titik Api Masih Dipantau

Setelah seluruh pendaki yang terjebak berhasil dievakuasi, perhatian petugas beralih pada pemantauan titik api yang masih menyala.

Relawan SAR Pramuka Peduli menyebut sejumlah titik api masih dipantau oleh pihak kehutanan. Kondisi tersebut membuat kawasan Gunung Bulu Saukang tetap perlu diawasi meskipun situasi pendaki telah relatif aman.

Pemantauan diperlukan untuk mencegah api kembali meluas ke bagian kawasan lain yang masih memiliki vegetasi kering.

Penyebab Kebakaran Belum Diketahui

Hingga perkembangan terbaru, penyebab kebakaran Gunung Bulu Saukang belum diketahui secara pasti. Damkarmat Maros pada saat awal kejadian masih melakukan koordinasi dan pengumpulan informasi dari masyarakat maupun petugas di lapangan.

Dengan lokasi kebakaran yang berada di jalur pendakian dan banyaknya aktivitas manusia, penyebabnya perlu dipastikan melalui pemeriksaan lebih lanjut. Tidak tepat menyimpulkan kebakaran disebabkan kelalaian pendaki sebelum ada hasil penyelidikan.

Ratusan Pendaki Berada di Gunung Saat Kebakaran

Banyaknya pendaki pada saat kejadian menjadi salah satu tantangan utama dalam proses evakuasi. Laporan awal bahkan menyebut sekitar 400 pendaki berada di kawasan Gunung Bulu Saukang. Data yang kemudian disampaikan Basarnas Makassar mencatat 337 pendaki, dengan 68 orang sempat terjebak dan membutuhkan evakuasi.

Perbedaan angka tersebut dapat terjadi karena proses pendataan berlangsung ketika kondisi darurat dan pendaki bergerak turun dari kawasan gunung.

Asap Menjadi Ancaman Serius

Selain kobaran api, asap tebal menjadi ancaman bagi pendaki yang masih berada di jalur. Asap dapat mengurangi jarak pandang dan menyebabkan iritasi saluran pernapasan. Dalam kondisi tertentu, paparan asap juga dapat memicu sesak napas, terutama ketika seseorang harus berjalan atau berlari dalam kondisi medan berat.

Dua pendaki yang mengalami sesak hingga pingsan menjadi salah satu gambaran risiko tersebut. Mereka akhirnya berhasil dievakuasi bersama pendaki lain.

Jalur Pendakian Perlu Mendapat Perhatian

Kebakaran Gunung Bulu Saukang kembali menunjukkan pentingnya pengawasan terhadap aktivitas pendakian ketika kondisi vegetasi kering dan risiko kebakaran meningkat.

Pengelola kawasan perlu memastikan informasi mengenai kondisi cuaca, potensi kebakaran, titik rawan, serta larangan membuat api disampaikan kepada setiap pendaki sebelum keberangkatan.

Sistem pendataan pendaki juga menjadi sangat penting. Dalam keadaan darurat, daftar registrasi dapat membantu petugas memastikan jumlah orang yang sudah turun dan siapa yang kemungkinan masih berada di atas.

Dalam kejadian kali ini, pengelola dan Basarnas melakukan pengecekan data pendaki untuk mendukung proses evakuasi.

Seluruh Pendaki yang Terjebak Berhasil Dievakuasi

Kabar baik dari kejadian ini adalah seluruh 68 pendaki yang sempat terjebak berhasil dievakuasi. Basarnas memastikan para pendaki tersebut telah diturunkan dan diserahkan kepada keluarga. Dengan demikian, fokus petugas selanjutnya adalah memastikan kondisi kawasan aman dan mengendalikan titik api yang masih tersisa.

Belum ada laporan mengenai korban jiwa akibat kebakaran tersebut dalam laporan terbaru yang tersedia.

Pendakian Berisiko Saat Kebakaran

Kebakaran di Gunung Bulu Saukang juga menjadi pengingat bahwa aktivitas pendakian harus mempertimbangkan kondisi lingkungan. Ketika kebakaran mulai muncul, pendaki tidak disarankan mencoba menerobos titik api atau bertahan di lokasi hanya untuk menyelesaikan pendakian. Pergerakan menuju area aman harus menjadi prioritas.

Pendaki yang berada di kawasan gunung ketika terjadi kebakaran juga perlu mengikuti instruksi petugas, menghindari lembah atau jalur yang dipenuhi asap, serta tidak memisahkan diri dari kelompok apabila kondisi memungkinkan.

Kondisi Terakhir Gunung Bulu Saukang

Hingga Senin, 7 September 2026, kondisi Gunung Bulu Saukang masih dalam pemantauan. Sejumlah titik api dilaporkan masih menyala sehingga petugas kehutanan terus melakukan pengawasan.

Sementara itu, seluruh pendaki yang sempat terjebak telah berhasil keluar dari kawasan tersebut. Tiga pendaki yang mengalami gangguan kesehatan juga telah mendapatkan pertolongan, sedangkan empat pendaki yang dilaporkan mengalami gangguan saat proses evakuasi telah kembali ke rumah.

Penyebab kebakaran dan luas akhir kawasan yang terbakar masih menunggu hasil penanganan dan pendataan di lapangan.

Kesimpulan

Gunung Bulu Saukang di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, terbakar pada Minggu malam, 6 September 2026. Api yang pertama terlihat di Pos 5 kemudian meluas menuju Pos 3 hingga mendekati puncak.

Sebanyak 337 pendaki berada di kawasan gunung saat kejadian dan 68 orang sempat terjebak. Seluruhnya berhasil dievakuasi tim SAR gabungan dan diserahkan kepada keluarga. Tiga pendaki mengalami gangguan kesehatan, termasuk sesak napas hingga pingsan dan keseleo.

Sementara itu, empat pendaki lainnya dilaporkan mengalami gangguan saat proses evakuasi, tetapi telah mendapatkan penanganan dan kembali ke rumah. Petugas Damkarmat Maros, Basarnas, kepolisian, pengelola kawasan, serta unsur kehutanan masih memantau titik api. Hingga kini, penyebab kebakaran belum diketahui secara pasti.

Posting Komentar untuk " Gunung Saukang Maros Terbakar, Pendaki Dievakuasi"