256 Siswa SMPN di Jombang Keracunan Diduga Usai Makan MBG
Jombang – Sebanyak 256 siswa dan guru SMPN 1 Kabuh, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, mengalami gangguan kesehatan yang diduga berkaitan dengan konsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG). Mereka mengalami sejumlah gejala seperti sakit perut, diare, mual, muntah, pusing hingga lemas setelah menyantap menu MBG pada Rabu (2/9/2026).
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Jombang kini melakukan penyelidikan untuk mengetahui penyebab pasti kejadian tersebut. Sampel makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Mangunan, yang memasok makanan ke sekolah, telah diambil dan akan diperiksa di laboratorium.
Berawal dari Keluhan Sakit Perut
Kasus tersebut bermula setelah siswa dan guru SMPN 1 Kabuh menyantap menu MBG pada Rabu siang. Saat itu, makanan yang dibagikan terdiri atas nasi putih, udang saus Padang, tahu susu, pepaya, serta tumis wortel, sawi putih dan brokoli. Menurut pihak sekolah, sejumlah siswa mulai mengalami keluhan setelah pulang dari sekolah. Gejala awal yang banyak dirasakan adalah sakit perut dan buang air besar berulang atau diare.
Karena sebagian siswa mengalami gejala setelah berada di rumah, kejadian tersebut pada awalnya tidak langsung teridentifikasi sebagai keracunan massal. Kasus baru semakin terlihat ketika jumlah siswa yang mengeluhkan gangguan pencernaan bertambah.
Total Korban Mencapai 256 Orang
Kepala Dinkes Jombang, dr Hexawan Tjahja Widada, menyebut total warga sekolah yang mengalami keluhan mencapai 256 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 81 siswa sempat mendapatkan penanganan di sejumlah fasilitas kesehatan. Mereka terdiri dari siswa yang dibawa ke Puskesmas Kabuh serta dua klinik mitra di wilayah Ploso.
Sementara itu, 175 siswa dan guru lainnya memilih menjalani pengobatan secara mandiri. Kondisi sebagian besar korban disebut membaik sehingga mereka tidak membutuhkan perawatan inap. Hingga Jumat (4/9), tujuh siswa masih menjalani rawat inap di Puskesmas Kabuh. Mereka mendapatkan penanganan medis, termasuk pemberian cairan infus karena mengalami keluhan yang lebih berat.
Dokter Puskesmas Kabuh menyebut keluhan yang dominan berupa perut melilit dan diare cair. Kondisi para siswa yang masih dirawat dilaporkan stabil dan terus dipantau petugas medis.
Udang Saus Padang Diduga Jadi Penyebab
Dari keterangan sejumlah siswa, menu udang saus Padang menjadi salah satu makanan yang dicurigai berkaitan dengan munculnya gangguan kesehatan. Beberapa siswa mengaku mencium aroma yang tidak biasa pada udang tersebut. Ada pula yang melaporkan rasa makanan yang dianggap berbeda. Namun, dugaan tersebut belum dapat dipastikan sebagai penyebab keracunan.
Pihak Puskesmas Kabuh sebelumnya melakukan penelusuran melalui wawancara dengan para korban. Mayoritas keluhan mengarah pada makanan yang dikonsumsi secara bersama-sama pada hari tersebut. Kepala SPPG Mangunan, Cakra Rizky Fortuna, juga mengatakan udang menjadi salah satu bahan yang dicurigai. Namun, ia menegaskan bahwa ketika diterima oleh pihak dapur, udang tersebut dalam kondisi segar.
Menurut pihak SPPG, proses pengolahan makanan telah dilakukan sesuai petunjuk teknis dan prosedur operasional yang berlaku. Karena itu, mereka masih menunggu hasil pemeriksaan untuk mengetahui sumber masalah sebenarnya.
Sampel Makanan Diperiksa di Laboratorium
Untuk memastikan penyebab kejadian, Dinkes Jombang telah mengambil sampel makanan dari SPPG Mangunan. Sampel tersebut meliputi nasi putih, udang saus Padang, tahu susu, pepaya, tumis wortel, sawi putih dan brokoli. Selain makanan, petugas juga mengambil sampel air yang digunakan dalam proses memasak.
Seluruh sampel akan dikirim ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BBLKM) Surabaya untuk menjalani pemeriksaan. Hasil uji laboratorium nantinya diharapkan dapat menunjukkan apakah terdapat kontaminasi atau faktor lain yang menyebabkan gangguan kesehatan para siswa dan guru. Dinkes Jombang sebelumnya memprioritaskan penanganan para korban sebelum melakukan pemeriksaan langsung terhadap dapur penyedia MBG. Setelah kondisi korban tertangani, petugas kemudian turun untuk mengecek SPPG Mangunan dan mengambil sampel.
SPPG Mangunan Layani 19 Sekolah
Kasus ini juga menjadi perhatian karena SPPG Mangunan diketahui mendistribusikan MBG ke sejumlah sekolah. Menurut keterangan pihak SPPG, dapur tersebut menyalurkan sekitar 2.899 porsi makanan ke 19 sekolah. Namun, keluhan massal kali ini dilaporkan terjadi di SMPN 1 Kabuh.
Kondisi tersebut menjadi salah satu hal yang sedang dicermati. Pihak SPPG mempertanyakan mengapa gangguan kesehatan hanya dilaporkan terjadi pada satu sekolah meskipun makanan berasal dari dapur yang sama. Karena itu, pemeriksaan tidak hanya diarahkan pada bahan makanan, tetapi juga pada proses pengolahan, penyimpanan, pengemasan dan distribusi makanan hingga sampai ke sekolah.
Polisi Turut Menelusuri Distribusi MBG
Selain Dinkes, aparat kepolisian juga melakukan penelusuran terkait kasus tersebut. Pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui rangkaian distribusi makanan, mulai dari bahan baku diterima SPPG hingga makanan dikonsumsi siswa dan guru.
Langkah tersebut penting untuk menentukan titik yang kemungkinan menyebabkan terjadinya gangguan kesehatan. Apalagi penyebab pasti belum dapat ditetapkan hanya berdasarkan gejala atau dugaan terhadap salah satu menu. Hasil pemeriksaan laboratorium akan menjadi salah satu dasar penting dalam menentukan langkah selanjutnya.
Distribusi MBG ke Sekolah Sempat Dihentikan
Insiden ini juga berdampak terhadap pembagian MBG di SMPN 1 Kabuh. Pada Kamis (3/9), makanan yang kembali dikirim ke sekolah tidak dibagikan kepada para siswa karena muncul kekhawatiran setelah kejadian sebelumnya. Langkah tersebut dilakukan untuk mencegah risiko tambahan sembari menunggu kejelasan mengenai penyebab gangguan kesehatan yang dialami para siswa dan guru.
Penyebab Belum Bisa Dipastikan
Meski udang saus Padang menjadi salah satu dugaan awal, hingga kini belum ada kesimpulan resmi bahwa makanan tersebut merupakan penyebab keracunan. Pemeriksaan laboratorium diperlukan untuk membuktikan ada atau tidaknya kontaminasi pada makanan maupun air. Selain itu, faktor lain seperti proses penyimpanan, suhu makanan, waktu distribusi hingga kebersihan dalam pengolahan juga perlu ditelusuri. Dengan demikian, istilah “diduga keracunan akibat MBG” masih tepat digunakan sampai hasil pemeriksaan resmi keluar.
Jadi Evaluasi Pelaksanaan Program MBG
Kasus di Jombang menjadi perhatian di tengah pelaksanaan program MBG yang terus diperluas. Keamanan pangan menjadi salah satu faktor penting karena makanan diproduksi dalam jumlah besar dan didistribusikan kepada banyak penerima dalam waktu relatif singkat. Peristiwa seperti ini menunjukkan pentingnya pengawasan menyeluruh, bukan hanya terhadap kualitas bahan baku, tetapi juga sanitasi dapur, proses memasak, penyimpanan, pengemasan dan distribusi.
Bagi sekolah, koordinasi dengan penyedia makanan dan fasilitas kesehatan juga menjadi penting agar keluhan siswa dapat segera terdeteksi apabila terjadi kejadian serupa. Untuk saat ini, kondisi sebagian besar korban telah membaik, sementara tujuh siswa masih mendapatkan perawatan. Pemerintah daerah bersama instansi terkait masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk memastikan penyebab pasti gangguan kesehatan yang menimpa 256 siswa dan guru SMPN 1 Kabuh tersebut.

Posting Komentar untuk " 256 Siswa SMPN di Jombang Keracunan Diduga Usai Makan MBG"