Alasan Karhutla Bisa Bikin Orangutan Alami Gagal Paru-Paru

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya mengancam manusia, tetapi juga menjadi bahaya serius bagi satwa liar, termasuk orangutan. Asap pekat yang menyelimuti habitat mereka dapat menyebabkan gangguan pernapasan berat, kekurangan oksigen, hingga kerusakan paru-paru yang berujung kematian.

Kasus terbaru terjadi di Ketapang, Kalimantan Barat. Seekor orangutan jantan sekitar 20 tahun yang kemudian diberi nama Sampurna ditemukan dalam kondisi sangat lemah di area perkebunan kelapa sawit yang berada dekat lokasi kebakaran. Saat ditemukan, satwa tersebut mengalami kesulitan bernapas dan akhirnya meninggal setelah sempat mendapatkan pertolongan medis.

Hasil pemeriksaan setelah kematiannya menunjukkan adanya kerusakan pada paru-paru. Paparan asap dalam waktu lama serta kekurangan oksigen akut diduga menjadi faktor penting yang menyebabkan kondisi Sampurna memburuk.

Mengapa Asap Karhutla Sangat Berbahaya bagi Orangutan?

Asap kebakaran hutan bukan sekadar udara yang berbau menyengat. Di dalamnya terdapat campuran partikel halus dan berbagai gas hasil pembakaran yang dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan.

Ketika orangutan menghirup asap dalam konsentrasi tinggi, partikel dan zat iritan tersebut dapat mengganggu saluran pernapasan serta pertukaran oksigen di paru-paru. Kondisi ini membuat tubuh kesulitan memperoleh oksigen yang cukup.

Pada kasus Sampurna, tim penyelamat menyebut orangutan tersebut mengalami hipoksia, yakni kondisi ketika jaringan tubuh kekurangan pasokan oksigen. Sebelum meninggal, Sampurna bahkan sempat diberikan oksigen dan cairan melalui infus.

1. Asap mengganggu saluran pernapasan

Partikel asap dapat mengiritasi saluran pernapasan. Dalam paparan berat, kondisi tersebut dapat menyebabkan peradangan dan membuat proses bernapas semakin sulit. Orangutan yang terpapar asap tebal juga dapat mengalami batuk, sesak napas, lemas hingga penurunan kesadaran.

2. Pertukaran oksigen terganggu

Paru-paru memiliki fungsi utama memasukkan oksigen ke dalam darah dan mengeluarkan karbon dioksida. Ketika paru-paru mengalami gangguan akibat asap, proses tersebut dapat menjadi tidak optimal. Akibatnya, kadar oksigen dalam tubuh dapat turun. Jika berlangsung berat dan tidak segera ditangani, hipoksia dapat menyebabkan gangguan pada berbagai organ vital.

3. Paparan asap dapat menyebabkan kerusakan paru-paru

Paparan asap dalam waktu lama dapat menimbulkan cedera pada jaringan paru-paru. Pada kasus Sampurna, pemeriksaan setelah kematian menemukan kerusakan paru yang dinilai berkaitan dengan paparan asap berkepanjangan dan kekurangan oksigen akut.

Karena itu, istilah "gagal paru-paru" dalam konteks kasus ini perlu dipahami sebagai konsekuensi dari gangguan pernapasan dan kerusakan paru berat, bukan semata-mata akibat orangutan terbakar api.

Orangutan Bisa Kehabisan Oksigen Meski Tidak Terbakar

Salah satu hal penting dari kasus Sampurna adalah satwa tersebut tidak ditemukan dengan luka bakar parah. Dokter hewan yang menanganinya justru menemukan persoalan utama pada sistem pernapasan. Ketika pertama kali ditemukan, Sampurna sangat lemah dan kemudian sempat kehilangan kesadaran. Tim penyelamat memberikan oksigen melalui selang kecil yang ditempatkan di hidungnya serta cairan melalui infus.

Hal ini menunjukkan bahwa bahaya karhutla terhadap satwa tidak selalu berbentuk luka akibat api. Asap dan penurunan kualitas udara dapat menjadi ancaman mematikan meskipun satwa tidak tersentuh langsung oleh kobaran api.

Karhutla Juga Menghancurkan Habitat Orangutan

Selain asap, kebakaran menyebabkan persoalan lain yang tidak kalah serius, yakni hilangnya habitat. Orangutan sangat bergantung pada hutan untuk mendapatkan makanan, tempat berlindung, dan membangun sarang. Ketika hutan terbakar, satwa dapat kehilangan sumber makanan dan terpaksa berpindah menuju kawasan perkebunan atau permukiman.

Pergerakan tersebut meningkatkan kemungkinan konflik dengan manusia sekaligus membuat orangutan semakin dekat dengan sumber asap dan api.

Pada Agustus 2026, kebakaran bahkan mengancam pusat rehabilitasi orangutan Yiari di Kalimantan Barat. Api sempat mendekati kawasan tersebut hingga sekitar 100 meter sehingga sekitar 60 orangutan yang berada di pusat rehabilitasi dipindahkan ke area yang lebih aman.

Sudah Ada Sejumlah Orangutan yang Diselamatkan

Kasus Sampurna bukan satu-satunya dampak karhutla terhadap orangutan tahun ini. Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) melaporkan telah menangani penyelamatan sejumlah orangutan yang terdampak kebakaran.

Ketika Sampurna ditemukan, tim penyelamat mendapati kondisinya sudah sangat lemah. Setelah mendapatkan pertolongan awal, satwa tersebut dibawa untuk menjalani perawatan, tetapi kondisinya memburuk dan akhirnya tidak tertolong.

Karhutla 2026 Berdampak Luas

Dampak kebakaran tahun ini juga terlihat dari luas area yang terbakar. Data yang dikutip Reuters menyebut sedikitnya 202.010 hektare lahan terbakar di Indonesia sepanjang Januari hingga Juli 2026. Angka tersebut meningkat dibandingkan sekitar 107.465 hektare pada Januari-Juni.

Kalimantan Barat menjadi salah satu wilayah yang mengalami dampak paling berat. Asap tebal tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga menurunkan kualitas udara dan meningkatkan risiko gangguan pernapasan.

Pada awal September, kualitas udara di Pontianak bahkan dilaporkan berada pada kategori sangat berbahaya, dengan konsentrasi PM2.5 mencapai 423,5 mikrogram per meter kubik. Jika manusia saja menghadapi risiko kesehatan akibat kondisi tersebut, satwa yang hidup langsung di tengah hutan terbakar juga menghadapi ancaman yang jauh lebih besar karena mereka tidak memiliki pilihan mudah untuk menghindari paparan asap.

Ancaman bagi Kelangsungan Hidup Orangutan

Orangutan merupakan salah satu satwa yang sangat bergantung pada keberadaan hutan Kalimantan dan Sumatra. Karena itu, karhutla memberikan dampak berlapis: habitat hilang, sumber makanan berkurang, satwa terdorong keluar dari hutan, dan kualitas udara memburuk.

Kondisi tersebut menjadi semakin berbahaya ketika kebakaran berlangsung lama. Satwa mungkin mampu menghindari api untuk sementara, tetapi tetap terpapar asap selama berjam-jam atau bahkan berhari-hari.

Kasus Sampurna menjadi gambaran nyata bahwa karhutla dapat menyebabkan kematian satwa bukan hanya melalui luka bakar, tetapi juga melalui gangguan pernapasan, hipoksia, kerusakan paru-paru dan kegagalan fungsi organ akibat kekurangan oksigen.

Karena itu, penanganan karhutla tidak cukup hanya memadamkan titik api. Perlindungan habitat satwa, pencegahan pembakaran lahan, penyelamatan satwa terdampak, serta pemulihan ekosistem menjadi bagian penting untuk mencegah kasus serupa kembali terjadi.

Posting Komentar untuk " Alasan Karhutla Bisa Bikin Orangutan Alami Gagal Paru-Paru"