154 Ton Es di Everest Meleleh Tiap Musim Akibat Air Kencing Pendaki
Gunung Everest selama ini dikenal sebagai salah satu kawasan paling ekstrem di dunia. Namun, di balik aktivitas pendakian menuju puncak tertinggi bumi tersebut, muncul persoalan lingkungan yang tidak biasa. Air kencing para pendaki dan kru ekspedisi diperkirakan berkontribusi terhadap mencairnya sekitar 154 ton es dan salju di Gletser Khumbu setiap musim pendakian.
Temuan tersebut berasal dari penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Regional Environmental Change. Peneliti menganalisis dampak aktivitas manusia di Everest Base Camp, termasuk penggunaan bahan bakar dan pembuangan urine langsung ke permukaan gletser.
Meski terdengar mengejutkan, para peneliti menegaskan bahwa air kencing bukan penyebab utama mencairnya gletser Everest. Perubahan iklim tetap menjadi faktor terbesar. Urine merupakan salah satu tambahan tekanan lokal yang muncul akibat konsentrasi ribuan orang di kawasan yang sangat sensitif terhadap perubahan suhu.
Ribuan Pendaki Menghasilkan Lebih dari 6.000 Liter Urine per Hari
Salah satu faktor yang membuat dampak tersebut cukup besar adalah jumlah orang yang berkumpul di Everest Base Camp selama musim pendakian. Pada musim semi, ribuan pendaki, pemandu, pekerja, serta kru pendukung tinggal di kawasan base camp yang berada di ketinggian sekitar 5.364 meter di atas permukaan laut.
Para pendaki juga harus mengonsumsi banyak air untuk menghindari dehidrasi di lingkungan dengan udara sangat kering dan kadar oksigen rendah. Akibatnya, produksi urine meningkat. Penelitian memperkirakan orang-orang yang berada di Everest Base Camp menghasilkan lebih dari 6.000 liter urine setiap hari. Sebagian besar urine tersebut kemudian dibuang langsung ke permukaan Gletser Khumbu.
Bagaimana Air Kencing Bisa Membuat Es Mencair?
Dampaknya bukan karena urine memiliki kemampuan khusus untuk "membakar" es. Perhitungan penelitian terutama berkaitan dengan energi panas yang dibawa oleh urine ketika cairan tersebut dikeluarkan dan dibuang ke lingkungan bersalju atau bergletser.
Para peneliti menghitung volume urine yang dihasilkan selama musim pendakian sekitar 50 hari. Berdasarkan perhitungan tersebut, panas dari urine manusia diperkirakan cukup untuk menyebabkan pencairan sekitar 154 ton es dan salju dalam satu musim.
Dengan kata lain, angka 154 ton tersebut merupakan estimasi kontribusi panas urine terhadap pencairan, bukan berarti urine secara kimiawi langsung melarutkan 154 ton es.
Base Camp Berada di Atas Gletser
Persoalan menjadi lebih serius karena Everest Base Camp berada langsung di kawasan Gletser Khumbu. Gletser tersebut memang sudah mengalami tekanan akibat pemanasan global. Ketika ribuan orang tinggal selama berminggu-minggu di atas atau di sekitar gletser, berbagai aktivitas manusia menambahkan panas ke lingkungan.
Selain urine, para pendaki membutuhkan energi untuk memasak, menghangatkan tubuh, menghasilkan listrik, serta menjalankan berbagai fasilitas di base camp. Penelitian menunjukkan bahwa pada musim pendakian 2023, sekitar 1.600 tenda di base camp menggunakan 824 tabung LPG, 18.935 liter minyak tanah, dan 5.130 liter bensin selama sekitar 50 hari.
Bukan Cuma Urine, Bahan Bakar Juga Memicu Pencairan
Jika seluruh sumber panas dari aktivitas manusia diperhitungkan, dampaknya jauh lebih besar. Peneliti memperkirakan panas dari pembakaran bahan bakar dan urine secara keseluruhan berpotensi mencairkan sekitar 2.492 ton es dan salju selama musim tersebut. Jumlah itu setara dengan sekitar satu kolam renang ukuran Olimpiade.
Dari angka tersebut, kontribusi urine sekitar 154 ton. Artinya, sebagian besar dampak berasal dari penggunaan bahan bakar, sementara urine menjadi salah satu sumber tambahan yang sebelumnya kurang diperhatikan.
Penelitian tersebut bahkan belum memasukkan seluruh sumber panas dari aktivitas manusia. Dampak panas dari penerbangan helikopter, tubuh manusia, maupun yak yang digunakan untuk mengangkut berbagai kebutuhan belum sepenuhnya dimasukkan dalam perhitungan.
Suhu di Base Camp Naik Lebih Cepat
Penelitian juga menemukan perubahan suhu yang mencolok di sekitar Everest Base Camp. Dengan menggunakan data citra satelit Landsat, peneliti menganalisis perubahan suhu permukaan antara 1991 dan 2023. Hasilnya menunjukkan suhu permukaan di kawasan base camp meningkat rata-rata sekitar 0,28 derajat Celsius per tahun.
Angka tersebut sekitar dua kali lebih cepat dibandingkan peningkatan suhu di area Gletser Khumbu di sekitarnya. Temuan ini memperkuat dugaan bahwa konsentrasi aktivitas manusia di base camp menciptakan tekanan lokal tambahan terhadap gletser.
Perubahan Iklim Tetap Penyebab Utama
Meski judul tentang "air kencing pendaki yang mencairkan es Everest" terdengar mengejutkan, penting untuk menempatkannya dalam konteks yang benar. Perubahan iklim global tetap merupakan faktor utama di balik penyusutan gletser Himalaya. Kontribusi urine manusia relatif kecil jika dibandingkan dengan keseluruhan proses pencairan gletser.
Namun, penelitian tersebut menunjukkan bahwa aktivitas manusia di lokasi yang sangat sensitif dapat memperburuk tekanan lokal. Karena itu, persoalannya bukan semata-mata berapa ton es yang mencair akibat urine, melainkan bagaimana ribuan orang dapat memberikan dampak kumulatif terhadap ekosistem yang sudah tertekan oleh pemanasan global.
Everest Semakin Ramai, Sampah Juga Jadi Persoalan
Masalah lingkungan di Everest tidak berhenti pada urine. Kawasan tersebut juga menghadapi persoalan sampah dari aktivitas pendakian. Berbagai laporan menyebut lebih dari 50 ton sampah telah menumpuk di kawasan Everest, sehingga gunung tersebut bahkan pernah mendapat julukan sebagai salah satu tempat pembuangan sampah tertinggi di dunia.
Sementara itu, pemerintah Nepal dalam beberapa tahun terakhir berusaha memperketat aturan pengelolaan sampah dan limbah dari ekspedisi pendakian. Kotoran manusia sudah lebih banyak dikumpulkan menggunakan fasilitas penampungan dan dibawa turun dari kawasan base camp. Namun, urine masih menjadi tantangan karena volumenya sangat besar dan selama ini sebagian besar dibuang langsung ke lingkungan.
Base Camp Diusulkan Dipindahkan
Temuan mengenai pencairan es tersebut turut memperkuat wacana untuk memindahkan Everest Base Camp ke lokasi yang lebih stabil. Para peneliti menilai menempatkan ribuan orang di atas gletser yang terus mengalami pencairan bukanlah praktik yang berkelanjutan dalam jangka panjang. Karena itu, pemindahan base camp ke kawasan yang tidak berada langsung di atas es menjadi salah satu pilihan yang disarankan.
Langkah tersebut bukan hanya bertujuan mengurangi dampak aktivitas manusia, tetapi juga meningkatkan keselamatan pendaki. Kondisi gletser yang terus berubah dapat membuat medan di sekitar jalur pendakian semakin tidak stabil.
Ancaman bagi Masa Depan Gletser Khumbu
Gletser Khumbu merupakan bagian penting dari ekosistem Himalaya. Perubahan pada gletser tidak hanya berdampak terhadap para pendaki, tetapi juga terhadap lingkungan dan masyarakat yang bergantung pada sumber daya air dari kawasan pegunungan.
Ketika gletser kehilangan massa secara terus-menerus, perubahan tersebut dapat memengaruhi ketersediaan air serta meningkatkan berbagai risiko lingkungan di kawasan hilir. Karena itu, temuan 154 ton es per musim akibat panas dari urine sebaiknya dipandang sebagai peringatan mengenai besarnya jejak aktivitas manusia di lingkungan ekstrem.
Everest memang terbuka bagi pendaki dari berbagai penjuru dunia, tetapi semakin banyak orang yang datang berarti semakin besar pula kebutuhan energi, air, makanan, pengelolaan limbah, dan transportasi. Pada akhirnya, persoalan air kencing hanyalah satu bagian dari masalah yang lebih besar. Pemanasan global tetap menjadi ancaman terbesar bagi gletser Everest, sementara aktivitas manusia di base camp menambah tekanan lokal yang sebenarnya bisa dikurangi.
Posting Komentar untuk " 154 Ton Es di Everest Meleleh Tiap Musim Akibat Air Kencing Pendaki"