Amran Minta Tambahan Rp5 T ke Purbaya untuk Produksi Sawit Dkk
JAKARTA — Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengusulkan tambahan anggaran sebesar Rp5 triliun kepada Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa untuk memperkuat pengembangan sejumlah komoditas strategis pertanian dan perkebunan pada 2027.
Usulan tersebut disampaikan Amran dalam rapat kerja bersama Komisi IV DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (1/9/2026). Tambahan anggaran itu berada di luar pagu Kementerian Pertanian (Kementan) yang telah ditetapkan untuk tahun anggaran 2027 sebesar Rp28,02 triliun.
Amran mengatakan surat permintaan tambahan anggaran tersebut telah dikirimkan kepada Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa pada 18 Agustus 2026. "Anggaran belanja tambahan Rp5 triliun difokuskan untuk pengembangan komoditas strategis," kata Amran dalam rapat kerja tersebut.
Tujuh Komoditas Jadi Prioritas
Tambahan anggaran Rp5 triliun tersebut akan diarahkan untuk mengembangkan tujuh komoditas strategis, yakni:
- Kelapa
- Lada
- Pala
- Tebu
- Kopi
- Kakao
- Jambu mete
Program tersebut ditujukan untuk meningkatkan produksi sekaligus memperkuat posisi komoditas perkebunan Indonesia di pasar domestik dan internasional. Kementan juga menyiapkan dukungan alat dan sarana produksi. Salah satunya adalah pengadaan 1.250 unit traktor untuk komoditas tebu.
Selain meningkatkan produksi, tambahan anggaran tersebut diarahkan untuk mendukung agenda substitusi impor dan peningkatan daya saing ekspor.
Sawit Masuk Strategi Pengembangan Perkebunan
Meski daftar tujuh komoditas yang menjadi sasaran langsung tambahan Rp5 triliun tidak mencantumkan sawit, komoditas kelapa sawit tetap menjadi salah satu fokus besar Kementan dalam strategi pengembangan perkebunan 2027.
Pemerintah menargetkan peningkatan produktivitas sawit nasional dengan mengoptimalkan kebun yang sudah ada tanpa membuka lahan baru. Kementerian Pertanian sebelumnya menegaskan bahwa sawit memiliki peran strategis untuk memenuhi kebutuhan pangan, energi, sekaligus menghasilkan devisa dari ekspor.
Kebijakan tersebut menjadi semakin penting karena pemerintah tengah mendorong pemanfaatan minyak sawit untuk kebutuhan energi, termasuk program biodiesel.
Target Produksi Sawit 245 Juta Ton
Dalam rencana kerja 2027, Kementan menetapkan target produksi sejumlah komoditas pertanian dan perkebunan. Untuk kelapa sawit, target produksi yang dicantumkan mencapai 245 juta ton. Sementara itu, tebu ditargetkan mencapai 42 juta ton, kopi 791 ribu ton, kelapa 2,9 juta ton, dan kakao 633 ribu ton. Target tersebut menunjukkan besarnya ambisi pemerintah untuk meningkatkan produksi komoditas strategis sekaligus memperkuat sektor hilirisasi. Selain perkebunan, pemerintah juga menetapkan target produksi beras sebesar 34 juta ton dan jagung 18 juta ton pada 2027.
Pengembangan Lahan Jadi Bagian Program
Tambahan anggaran tersebut tidak hanya ditujukan untuk pembelian sarana produksi, tetapi juga mendukung pengembangan kawasan komoditas. Untuk kelapa, Kementan merencanakan pengembangan kawasan seluas sekitar 83.279 hektare. Sementara pengembangan kopi diarahkan pada area sekitar 54.355 hektare, sedangkan kakao mencapai sekitar 100.026 hektare.
Untuk jambu mete, pengembangan direncanakan mencapai 24.658 hektare. Lada dan pala masing-masing ditargetkan pada lahan sekitar 1.071 hektare dan 1.400 hektare. Khusus tebu, dukungan mekanisasi menjadi salah satu perhatian melalui rencana penyediaan 1.250 unit traktor.
Pagu Kementan 2027 Sudah Rp28,02 Triliun
Sebelum tambahan yang diajukan, pagu anggaran Kementan untuk 2027 telah ditetapkan sebesar Rp28,02 triliun. Angka tersebut meningkat dibandingkan pagu sebelumnya yang berada di level Rp23,23 triliun. Sebagian anggaran Kementan akan digunakan untuk berbagai program utama, antara lain:
- Tanaman pangan: Rp9,8 triliun
- Hilirisasi perkebunan: Rp2,3 triliun
- Peternakan: Rp798 miliar
- Penyuluhan dan pendidikan pertanian: Rp973 miliar
- Kesekretariatan dan pengawasan: Rp300 miliar
- Kegiatan pendukung lainnya: Rp232 miliar.
Jika permintaan tambahan Rp5 triliun disetujui, ruang fiskal Kementan untuk menjalankan program pengembangan komoditas strategis akan semakin besar.
Mengapa Sawit Penting bagi Indonesia?
Kelapa sawit merupakan salah satu komoditas utama Indonesia. Selain menghasilkan devisa melalui ekspor, sawit juga menjadi bahan baku industri pangan, oleokimia, dan energi. Pemerintah juga terus mendorong produktivitas kebun rakyat. Kementan pada 2026 menyatakan program penguatan sawit rakyat, termasuk Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) dan dukungan sarana-prasarana, diarahkan untuk meningkatkan produktivitas sekaligus kesejahteraan pekebun.
Dengan meningkatkan produktivitas kebun yang sudah ada, pemerintah ingin menghindari ketergantungan pada pembukaan lahan baru.
Produktivitas Jadi Kunci
Amran sebelumnya menekankan bahwa peningkatan produktivitas merupakan salah satu arah utama kebijakan pemerintah di sektor sawit. Menurut Kementan, peningkatan produktivitas diperlukan untuk memenuhi tiga kebutuhan sekaligus, yaitu pangan, energi, dan ekspor.
Kebutuhan energi menjadi semakin relevan seiring kebijakan peningkatan penggunaan biodiesel berbasis sawit. Amran sebelumnya menyebut produksi CPO Indonesia sekitar 52 juta ton per tahun, sementara kebutuhan CPO untuk program B50 diperkirakan sekitar 5,3 juta ton per tahun.
Pemerintah menilai peningkatan serapan CPO untuk biodiesel juga dapat memberikan efek terhadap harga dan insentif bagi petani untuk meningkatkan produktivitas kebunnya.
Pemerintah Juga Soroti Harga TBS
Persoalan sawit tidak hanya menyangkut produksi, tetapi juga harga yang diterima petani. Pada pertengahan 2026, Amran sempat menyoroti penurunan harga tandan buah segar (TBS) di tingkat petani. Pemerintah bahkan memeriksa ratusan perusahaan yang dinilai belum menyesuaikan harga pembelian TBS sesuai ketentuan daerah.
Setelah pemerintah melakukan intervensi dan evaluasi, harga TBS di sejumlah wilayah kemudian dilaporkan mulai membaik. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa peningkatan produksi perlu diikuti dengan tata kelola rantai pasok yang mampu memberikan harga yang wajar kepada pekebun.
Tambahan Anggaran untuk Perkuat Hilirisasi
Salah satu alasan penting di balik pengembangan komoditas strategis adalah memperbesar nilai tambah di dalam negeri. Selama ini Indonesia masih menghadapi tantangan untuk memastikan hasil perkebunan tidak hanya dijual sebagai bahan mentah. Karena itu, pemerintah memasukkan hilirisasi perkebunan sebagai salah satu komponen penting dalam anggaran Kementan 2027.
Pengembangan kelapa, kakao, kopi, tebu, sawit, rempah, dan komoditas lainnya diharapkan dapat menciptakan lebih banyak produk bernilai tambah sekaligus membuka peluang investasi dan lapangan kerja.
Substitusi Impor Jadi Target
Tambahan anggaran juga berkaitan dengan upaya mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor. Amran menyebut pemerintah ingin memperluas target swasembada pangan. Setelah beras, pemerintah mengarahkan perhatian pada sejumlah komoditas lain, termasuk bawang putih dan susu.
Di sektor perkebunan, peningkatan produksi komoditas seperti kelapa, kopi, kakao, tebu, lada, pala, dan jambu mete diharapkan dapat memperkuat pasokan dalam negeri sekaligus meningkatkan kapasitas ekspor.
Menunggu Keputusan Kementerian Keuangan
Permintaan tambahan Rp5 triliun tersebut kini bergantung pada pembahasan pemerintah dan kemampuan fiskal negara. Amran telah menyampaikan usulan kepada Purbaya melalui surat resmi. Kementan kemudian membawa kebutuhan tersebut dalam pembahasan bersama DPR.
Jika tambahan anggaran disetujui, Kementan dapat mempercepat sejumlah program pengembangan komoditas strategis yang telah direncanakan. Namun, penggunaan anggaran juga akan menjadi perhatian karena pemerintah harus memastikan tambahan dana benar-benar menghasilkan peningkatan produktivitas dan kesejahteraan petani.
Bukan Sekadar Mengejar Produksi
Tantangan terbesar program tersebut bukan hanya meningkatkan luas kawasan atau jumlah produksi. Pemerintah juga perlu memastikan kualitas bibit, akses pupuk, mekanisasi, infrastruktur, pendampingan petani, kepastian pasar, hingga harga komoditas berjalan secara beriringan. Untuk sawit, misalnya, peningkatan produksi harus tetap memperhatikan produktivitas kebun rakyat dan prinsip keberlanjutan.
Sedangkan untuk komoditas seperti kopi, kakao, kelapa, dan rempah, pengembangan harus diikuti dengan penguatan industri pengolahan agar nilai tambah tidak berhenti pada produk mentah.
Amran Kejar Produksi, Purbaya Pegang Anggaran
Permintaan tambahan Rp5 triliun memperlihatkan ambisi Kementan mempercepat pengembangan komoditas strategis pada 2027. Amran ingin memperbesar produksi sekaligus memperkuat hilirisasi, substitusi impor, dan ekspor. Di sisi lain, keputusan mengenai tambahan anggaran tetap harus mempertimbangkan ruang fiskal dan prioritas belanja pemerintah.
Dengan pagu awal Kementan sebesar Rp28,02 triliun, tambahan Rp5 triliun akan menjadi suntikan signifikan untuk menjalankan agenda pengembangan perkebunan.
Kini bola berada di tangan pemerintah dan Kementerian Keuangan. Jika usulan disetujui, tambahan anggaran tersebut akan diarahkan untuk memperkuat tujuh komoditas strategis—kelapa, lada, pala, tebu, kopi, kakao, dan jambu mete—sementara sawit tetap menjadi komoditas penting dalam strategi peningkatan produktivitas, ketahanan energi, pangan, dan ekspor Indonesia.

Posting Komentar untuk " Amran Minta Tambahan Rp5 T ke Purbaya untuk Produksi Sawit Dkk"