Amran soal Beras RI Kalah Murah dari Vietnam: Subsidi Kecil Banget

JAKARTA — Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengakui biaya produksi beras Indonesia masih kalah efisien dibandingkan Vietnam dan Thailand. Menurutnya, salah satu faktor utama yang membuat harga beras dari negara-negara tersebut lebih kompetitif adalah besarnya subsidi pertanian yang diberikan pemerintah.

Pernyataan tersebut disampaikan Amran saat ditemui di kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta Pusat, Senin (7/9/2026). Ia merespons pernyataan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Zulkifli Hasan atau Zulhas yang sebelumnya menyebut biaya produksi beras petani Indonesia jauh lebih mahal dibandingkan Vietnam dan Thailand.

Amran membenarkan bahwa perbedaan biaya yang dirasakan petani Indonesia tidak terlepas dari kebijakan subsidi di negara-negara pesaing. "Pernyataan Pak Menko itu benar. Di sana subsidinya besar."

Menurut Amran, persoalan tersebut tidak semata-mata menunjukkan bahwa petani Indonesia memiliki struktur biaya produksi yang jauh lebih tinggi. Ia menilai besarnya dukungan pemerintah terhadap sektor pertanian menjadi pembeda penting dalam menentukan biaya yang akhirnya ditanggung petani.

Subsidi Indonesia Disebut Jauh Lebih Kecil

Amran mengatakan pemerintah Indonesia memang memberikan berbagai bentuk dukungan kepada sektor pertanian. Namun, jika dibandingkan dengan sejumlah negara produsen pangan lainnya, besaran subsidi Indonesia masih relatif kecil.

"Sebenarnya sama saja kalau dibandingkan, tapi subsidi kita kan kecil banget dibanding negara lain," kata Amran. Menurut dia, dukungan pemerintah di negara lain dapat mencakup berbagai komponen produksi pertanian sehingga membantu menekan biaya yang harus ditanggung petani.

Amran bahkan menyebut dirinya telah mempelajari kebijakan subsidi pertanian di sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat dan China. Ia mengatakan dalam sejumlah kasus, subsidi pertanian di negara-negara tersebut dapat mencapai sekitar 70-80 persen.

Hal ini menunjukkan bahwa persaingan harga komoditas pangan tidak hanya ditentukan oleh produktivitas petani, tetapi juga kebijakan pemerintah dalam memberikan dukungan kepada sektor pertanian.

Beras Vietnam Lebih Murah Bukan Semata karena Biaya Produksi

Perdebatan mengenai harga beras Indonesia dan Vietnam muncul ketika biaya produksi petani domestik dibandingkan dengan petani di negara-negara produsen beras utama Asia Tenggara. Jika biaya produksi secara umum tidak terlalu jauh berbeda, maka dukungan subsidi dapat menjadi faktor yang membuat harga akhir produk lebih kompetitif.

Dalam konteks tersebut, harga beras Vietnam yang lebih murah tidak serta-merta berarti petani Vietnam memiliki seluruh keunggulan dari sisi efisiensi produksi.

Subsidi dapat mengurangi sebagian beban biaya yang harus ditanggung produsen. Dengan demikian, harga yang terbentuk di pasar dapat menjadi lebih rendah tanpa seluruh penurunan tersebut harus dibebankan kepada petani. Amran mengakui kondisi tersebut menjadi tantangan bagi Indonesia untuk meningkatkan daya saing beras nasional.

Pemerintah Belum Berencana Menaikkan Subsidi

Meski mengakui besarnya perbedaan subsidi, Amran belum memberikan sinyal bahwa pemerintah akan meningkatkan subsidi pertanian secara signifikan. Ketika ditanya mengenai kemungkinan penambahan subsidi untuk membuat beras Indonesia lebih kompetitif, Amran menyebut dukungan yang diberikan pemerintah saat ini masih cukup.

"Cukuplah dulu. Ini kan APBN juga," tegas Amran. Pernyataan tersebut menunjukkan pemerintah harus mempertimbangkan kemampuan fiskal negara sebelum memutuskan penambahan anggaran subsidi. Dengan demikian, strategi peningkatan daya saing pertanian Indonesia tidak hanya mengandalkan penambahan subsidi.

Kementan Pilih Dorong Teknologi dan Mekanisasi

Sebagai alternatif, Kementerian Pertanian mengarahkan perhatian pada peningkatan produktivitas dan efisiensi melalui penggunaan teknologi. Amran menyebut pemerintah akan terus mendorong mekanisasi pertanian serta memperbaiki efisiensi rantai pasok.

Strategi tersebut diharapkan dapat mengurangi biaya produksi sekaligus meningkatkan produktivitas petani. Mekanisasi menjadi salah satu instrumen penting karena biaya tenaga kerja dan proses produksi dapat ditekan ketika sebagian kegiatan pertanian dilakukan menggunakan mesin.

Selain itu, efisiensi rantai pasok juga menjadi perhatian karena biaya beras tidak berhenti pada proses produksi di tingkat petani. Setelah panen, gabah dan beras masih melalui berbagai tahapan seperti pengeringan, penggilingan, penyimpanan, transportasi, hingga distribusi ke konsumen. Semakin panjang dan tidak efisien rantai tersebut, semakin besar pula biaya yang berpotensi masuk ke harga akhir.

Indonesia Tetap Fokus pada Kedaulatan Pangan

Persoalan harga dan biaya produksi beras juga berkaitan erat dengan target pemerintah menjaga kedaulatan pangan. Pemerintah sebelumnya menegaskan komitmen untuk mengandalkan produksi dalam negeri dan menjaga ketersediaan beras nasional. Badan Pangan Nasional mencatat pemerintah menargetkan stabilisasi pasokan dan harga melalui berbagai instrumen, termasuk beras SPHP.

Pada 2026, pemerintah juga menegaskan kebijakan tidak melakukan impor beras konsumsi karena stok domestik dinilai mencukupi. Amran menyebut stok beras hasil produksi dalam negeri melimpah dan kebijakan tersebut bagian dari upaya menjaga kedaulatan pangan.

Kondisi tersebut membuat tantangan pemerintah bukan hanya memastikan beras tersedia, tetapi juga bagaimana menghasilkan beras dengan biaya yang kompetitif tanpa mengorbankan kesejahteraan petani.

Harga Beras Harus Tetap Terjangkau

Di sisi lain, pemerintah menghadapi dilema dalam menentukan harga beras. Harga yang terlalu tinggi dapat membebani konsumen dan meningkatkan tekanan inflasi. Namun, harga yang terlalu rendah juga dapat menekan pendapatan petani dan mengurangi insentif produksi.

Karena itu, pemerintah harus menjaga keseimbangan antara kepentingan konsumen dan produsen. Amran sebelumnya menegaskan harga beras harus terjangkau dan sesuai dengan ketentuan Harga Eceran Tertinggi (HET) di seluruh Indonesia. Pemerintah juga mendorong Bulog menjaga ketersediaan stok dan distribusi agar tidak terjadi lonjakan harga di daerah tertentu.

Kebijakan tersebut menjadi semakin penting karena kondisi geografis Indonesia membuat biaya distribusi antardaerah relatif kompleks.

Subsidi Bukan Satu-satunya Solusi

Pengakuan Amran mengenai kecilnya subsidi pertanian Indonesia dibandingkan Vietnam dan Thailand membuka kembali diskusi mengenai daya saing sektor pertanian nasional. Penambahan subsidi memang dapat membantu menekan biaya produksi. Namun, kebijakan tersebut juga membutuhkan ruang fiskal yang memadai dan harus dipastikan tepat sasaran.

Jika subsidi hanya diperbesar tanpa dibarengi peningkatan produktivitas, efisiensi produksi, teknologi, dan perbaikan distribusi, maka beban anggaran negara dapat meningkat tanpa memberikan peningkatan daya saing yang optimal. Karena itu, pemerintah memilih menggabungkan dukungan anggaran dengan peningkatan produktivitas.

Tantangan Petani Indonesia

Petani Indonesia menghadapi sejumlah komponen biaya, mulai dari benih, pupuk, pestisida, tenaga kerja, pengolahan lahan, irigasi, hingga biaya pascapanen dan distribusi.

Pemerintah telah memberikan dukungan melalui berbagai kebijakan, termasuk pupuk bersubsidi, pembangunan dan perbaikan irigasi, bantuan alat dan mesin pertanian, serta berbagai program peningkatan produksi.

Namun, perbedaan skala usaha dan kondisi geografis membuat tingkat efisiensi antarwilayah tidak selalu sama. Karena itu, peningkatan produktivitas di tingkat lahan harus berjalan beriringan dengan pembenahan setelah panen.

Pemerintah Hadapi Pilihan Sulit

Pernyataan Amran menunjukkan bahwa pemerintah menyadari adanya tantangan daya saing harga beras Indonesia terhadap negara-negara produsen utama di kawasan. Di satu sisi, pemerintah perlu memastikan harga beras tetap terjangkau bagi masyarakat. Di sisi lain, petani harus memperoleh harga yang cukup untuk menjaga keberlanjutan usaha mereka.

Penambahan subsidi bisa menjadi salah satu pilihan, tetapi saat ini Amran menilai kemampuan APBN perlu menjadi pertimbangan utama. Karena itu, pemerintah mengarahkan strategi pada teknologi, mekanisasi, produktivitas, dan efisiensi rantai pasok. Jika langkah tersebut berhasil menekan ongkos produksi dan distribusi, Indonesia diharapkan dapat meningkatkan daya saing beras tanpa harus sepenuhnya mengandalkan tambahan subsidi.

Persaingan Beras ASEAN Makin Ketat

Vietnam dan Thailand selama ini merupakan pemain penting dalam perdagangan beras dunia. Kemampuan kedua negara menjaga efisiensi produksi dan membangun sistem perdagangan pertanian menjadi salah satu faktor yang membuat beras mereka kompetitif.

Bagi Indonesia, kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri, terutama ketika pemerintah ingin mempertahankan produksi domestik sekaligus menjaga harga di tingkat konsumen.

Pernyataan Amran bahwa subsidi Indonesia "kecil banget" dibandingkan negara lain memperlihatkan bahwa kebijakan pertanian dan dukungan fiskal menjadi bagian penting dari persaingan harga beras. Namun, pemerintah tampaknya belum memilih jalan untuk berlomba memberikan subsidi dengan negara lain.

Amran menegaskan dukungan pemerintah saat ini dinilai cukup dan Kementerian Pertanian akan lebih fokus pada teknologi, mekanisasi, produktivitas, serta efisiensi rantai pasok. Dengan strategi tersebut, pemerintah berharap beras Indonesia dapat semakin efisien dan kompetitif, sekaligus tetap memberikan pendapatan yang layak bagi petani dan harga yang terjangkau bagi masyarakat.

Posting Komentar untuk " Amran soal Beras RI Kalah Murah dari Vietnam: Subsidi Kecil Banget"