Benarkah Cat Rambut Picu Kanker Payudara? Ini Penjelasan Pakar
Jakarta – Kekhawatiran mengenai penggunaan cat rambut dan risiko kanker payudara kembali menjadi perhatian. Sejumlah penelitian memang menemukan adanya hubungan antara penggunaan produk pewarna rambut tertentu dengan peningkatan risiko kanker payudara. Namun, temuan tersebut belum berarti bahwa cat rambut terbukti secara langsung menyebabkan kanker payudara.
Para peneliti hingga kini masih mempelajari hubungan tersebut karena hasil berbagai penelitian belum sepenuhnya konsisten. Jenis produk, kandungan bahan kimia, frekuensi pemakaian, lama penggunaan, serta karakteristik penggunanya dapat memengaruhi hasil penelitian.
American Cancer Society (ACS) juga menyebut penelitian mengenai pewarna rambut permanen dan kanker payudara menghasilkan temuan yang beragam. Banyak studi tidak menemukan peningkatan risiko, sementara sebagian penelitian yang lebih baru menemukan adanya hubungan tertentu.
Penelitian Menemukan Ada Hubungan, Bukan Bukti Sebab-Akibat
Salah satu penelitian yang paling banyak dibahas berasal dari National Institutes of Health (NIH) dan diterbitkan pada 2019. Penelitian tersebut melibatkan 46.709 perempuan dalam Sister Study. Hasilnya menunjukkan bahwa penggunaan pewarna rambut permanen pada tahun sebelum penelitian berkaitan dengan peningkatan risiko kanker payudara secara keseluruhan sekitar 9 persen.
Namun, terdapat perbedaan berdasarkan kelompok peserta. Pada perempuan kulit hitam, penggunaan pewarna rambut permanen dikaitkan dengan peningkatan risiko sekitar 45 persen. Sementara pada perempuan kulit putih, peningkatannya sekitar 7 persen.
Pada kelompok perempuan kulit hitam yang menggunakan pewarna permanen setiap lima hingga delapan minggu atau lebih sering, penelitian tersebut menemukan hubungan dengan peningkatan risiko sekitar 60 persen. Sebaliknya, hubungan dengan penggunaan pewarna semi-permanen atau sementara jauh lebih kecil atau tidak terlihat dalam penelitian tersebut. Meski demikian, hasil penelitian seperti ini harus dibaca sebagai hubungan statistik atau asosiasi, bukan bukti bahwa pewarna rambut secara langsung menyebabkan kanker.
Mengapa Cat Rambut Bisa Dicurigai?
Pewarna rambut mengandung berbagai bahan kimia. Pada produk pewarna permanen, misalnya, terdapat senyawa yang bereaksi untuk menghasilkan perubahan warna pada batang rambut. Salah satu bahan yang umum dibahas adalah para-phenylenediamine (PPD). Dalam proses pewarnaan, sejumlah kecil bahan kimia dapat terserap melalui kulit atau terhirup dari udara.
Kekhawatiran para peneliti terutama berkaitan dengan kemungkinan paparan berulang terhadap bahan kimia tertentu, termasuk senyawa yang berpotensi memengaruhi sistem hormon atau memiliki sifat karsinogenik. Namun, kandungan produk rambut saat ini juga telah berubah dibandingkan formulasi yang digunakan beberapa dekade lalu. Sejumlah bahan yang dahulu digunakan telah dikurangi atau dihilangkan karena persoalan keamanan.
Karena itu, hasil penelitian terhadap produk rambut lama tidak selalu bisa langsung diterapkan pada produk yang digunakan saat ini.
Bukan Semua Cat Rambut Memiliki Risiko yang Sama
Jenis pewarna rambut menjadi salah satu faktor penting. Secara umum, pewarna rambut dapat dibedakan menjadi produk permanen, semi-permanen, dan sementara. Pewarna permanen memberikan perubahan warna yang lebih tahan lama karena terjadi reaksi kimia pada rambut.
ACS menyebut perhatian penelitian terhadap risiko kanker lebih banyak berfokus pada pewarna semi-permanen dan permanen. Pewarna berwarna lebih gelap juga dapat menggunakan lebih banyak zat pewarna tertentu sehingga menjadi salah satu aspek yang diperhatikan dalam penelitian.
Namun, hal ini tidak berarti seseorang yang menggunakan cat rambut hitam atau warna gelap otomatis memiliki risiko kanker. Hubungan antara warna rambut, kandungan bahan kimia, frekuensi penggunaan, dan risiko kanker masih perlu diteliti lebih lanjut.
Bagaimana dengan Cat Rambut yang Dipakai Sesekali?
Bagi orang yang hanya mengecat rambut sesekali, bukti ilmiah saat ini belum cukup untuk menyimpulkan bahwa penggunaan tersebut akan menyebabkan kanker payudara. National Cancer Institute (NCI) menjelaskan bahwa penelitian mengenai penggunaan pewarna rambut pribadi dan kanker secara keseluruhan memberikan hasil yang beragam. Untuk sejumlah jenis kanker, sebagian penelitian menemukan hubungan, sementara penelitian lain tidak menemukan peningkatan risiko.
Karena itu, tidak tepat jika setiap kasus kanker payudara langsung dikaitkan dengan kebiasaan mengecat rambut. Kanker payudara sendiri merupakan penyakit kompleks yang dipengaruhi banyak faktor, termasuk usia, faktor genetik, riwayat keluarga, paparan hormonal, gaya hidup, dan faktor lingkungan.
Pekerja Salon Perlu Lebih Memperhatikan Paparan
Risiko paparan bahan kimia dapat berbeda antara seseorang yang mengecat rambut beberapa kali dalam setahun dengan pekerja salon yang berinteraksi dengan produk tersebut setiap hari. Penata rambut dan pekerja salon dapat terpapar bahan kimia melalui kulit maupun udara secara berulang. Karena intensitas paparannya jauh lebih tinggi, kelompok pekerja tersebut menjadi perhatian khusus dalam penelitian.
International Agency for Research on Cancer (IARC) mengklasifikasikan paparan pekerjaan sebagai penata rambut atau barber sebagai “probably carcinogenic to humans”, berdasarkan bukti terutama terkait kanker kandung kemih. Sementara itu, bukti mengenai kanker lain, termasuk kanker payudara, dinilai masih terbatas atau tidak konsisten. Artinya, klasifikasi tersebut tidak dapat diterjemahkan sebagai pernyataan bahwa semua penggunaan cat rambut menyebabkan kanker payudara.
Bagaimana dengan Pelurus Rambut Kimia?
Yang perlu dibedakan adalah pewarna rambut dan pelurus rambut kimia. Penelitian NIH yang sama juga menemukan hubungan antara penggunaan pelurus rambut kimia secara sering dengan peningkatan risiko kanker payudara. Perempuan yang menggunakan pelurus rambut setiap lima hingga delapan minggu atau lebih sering memiliki risiko sekitar 30 persen lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak menggunakan produk tersebut dalam penelitian tersebut.
Namun, sekali lagi, angka tersebut merupakan hasil observasi epidemiologis. Penelitian tersebut tidak membuktikan bahwa pelurus rambut merupakan penyebab langsung kanker. Penelitian lain juga terus dilakukan untuk mengidentifikasi bahan kimia tertentu yang mungkin berperan.
Penelitian Terbaru Masih Menunjukkan Bukti yang Belum Konsisten
Kajian ilmiah mengenai hubungan pewarna rambut dengan kanker terus berkembang. Sebuah tinjauan yang diterbitkan dalam JAAD International pada 2025/2026 yang menelaah puluhan penelitian menyimpulkan terdapat indikasi kemungkinan peningkatan risiko kanker pada kelompok tertentu yang menggunakan pewarna rambut secara sering dan dalam jangka panjang. Namun, penulis juga menekankan perlunya penelitian lebih lanjut untuk memperjelas hubungan tersebut.
Sementara itu, NCI dan ACS tetap menekankan bahwa bukti mengenai hubungan antara penggunaan pewarna rambut pribadi dan berbagai jenis kanker belum memberikan kesimpulan yang seragam. Dengan demikian, informasi di media sosial yang menyebut “cat rambut pasti menyebabkan kanker payudara” merupakan penyederhanaan yang tidak sesuai dengan kesimpulan ilmiah saat ini.
Apa yang Bisa Dilakukan untuk Mengurangi Paparan?
Bagi masyarakat yang tetap ingin mewarnai rambut, beberapa langkah sederhana dapat dilakukan untuk mengurangi paparan bahan kimia. Pertama, gunakan produk sesuai petunjuk dan jangan membiarkannya lebih lama dari waktu yang direkomendasikan.
Kedua, hindari penggunaan jika kulit kepala sedang mengalami luka, iritasi, atau peradangan. Ketiga, lakukan uji alergi sesuai petunjuk produk sebelum penggunaan. Hal ini penting karena bahan seperti PPD dapat menyebabkan reaksi alergi pada sebagian orang. Keempat, gunakan sarung tangan ketika mengaplikasikan produk dan pastikan ruangan memiliki ventilasi yang baik.
Bagi pekerja salon, penggunaan alat pelindung dan pengelolaan ventilasi menjadi lebih penting karena tingkat paparannya lebih tinggi.
Jadi, Benarkah Cat Rambut Memicu Kanker Payudara?
Belum bisa dikatakan demikian secara pasti. Sejumlah penelitian memang menemukan adanya hubungan antara penggunaan pewarna rambut permanen, khususnya penggunaan yang lebih sering, dengan peningkatan risiko kanker payudara pada kelompok tertentu. Penelitian NIH terhadap 46.709 perempuan merupakan salah satu studi penting yang menemukan hubungan tersebut.
Namun, hasil berbagai penelitian masih bercampur dan belum membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung. Bahkan, organisasi seperti ACS menegaskan bahwa studi mengenai pewarna rambut permanen dan kanker payudara memberikan hasil yang tidak konsisten.
Karena itu, masyarakat tidak perlu langsung panik atau menganggap bahwa setiap penggunaan cat rambut akan menyebabkan kanker. Bagi yang ingin lebih berhati-hati, mengurangi frekuensi penggunaan produk permanen dan meminimalkan paparan bahan kimia dapat menjadi pilihan yang masuk akal sambil menunggu bukti ilmiah yang lebih kuat.
Yang tidak kalah penting, jangan mengabaikan faktor risiko kanker payudara yang sudah terbukti dan pemeriksaan kesehatan. Jika menemukan perubahan pada payudara seperti benjolan, perubahan bentuk, kulit, atau keluarnya cairan yang tidak biasa, pemeriksaan medis tetap menjadi langkah yang jauh lebih penting daripada sekadar mengkhawatirkan penggunaan cat rambut.

Posting Komentar untuk " Benarkah Cat Rambut Picu Kanker Payudara? Ini Penjelasan Pakar"