BRICS Inisiasi Bursa Gandum Bersama demi Ketahanan Pangan Global
Jakarta – Negara-negara BRICS mendorong pembentukan BRICS Grain Exchange, sebuah platform perdagangan biji-bijian bersama yang ditujukan untuk memperkuat ketahanan pangan, mengurangi dampak gejolak harga pangan, sekaligus memperkuat rantai pasok pertanian antarnegara anggota.
Gagasan tersebut kembali mendapat momentum dalam KTT BRICS di New Delhi, India, 12–13 September 2026. Dalam Deklarasi New Delhi, negara-negara BRICS mengakui pentingnya melanjutkan penyusunan inisiatif pembentukan platform perdagangan gandum dan komoditas biji-bijian di dalam BRICS. Namun, platform tersebut belum resmi beroperasi. BRICS masih membahas mekanisme, tata kelola, serta model perdagangan yang nantinya akan digunakan.
BRICS Dorong Pembentukan Bursa Gandum
Dalam Deklarasi New Delhi, negara-negara BRICS menegaskan bahwa mereka merupakan pemain penting dalam produksi pangan dunia. Karena itu, kerja sama pertanian dinilai memiliki peran strategis dalam meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga ketersediaan pangan global.
BRICS juga menyoroti ancaman terhadap ketahanan pangan, mulai dari volatilitas harga pangan, gangguan pasokan, kekurangan pupuk hingga dampak perubahan iklim. Dalam konteks tersebut, negara anggota mengakui pentingnya melanjutkan pengembangan inisiatif BRICS Grain Exchange. Negara-negara anggota sepakat membahas lebih lanjut mekanisme pengoperasian platform tersebut serta kemungkinan memperluas cakupannya ke produk pertanian dan komoditas lainnya.
Artinya, gagasan bursa gandum BRICS saat ini masih berada pada tahap penyusunan mekanisme dan belum dapat disamakan dengan bursa komoditas yang sudah beroperasi penuh.
Rusia Jadi Salah Satu Pengusung Utama
Gagasan pembentukan bursa gandum BRICS sebelumnya mendapat dorongan kuat dari Rusia. Proposal tersebut diarahkan untuk memungkinkan produsen dan pembeli dari negara-negara BRICS melakukan perdagangan secara lebih langsung.
Rencana tersebut juga dikaitkan dengan upaya mengurangi ketergantungan pada sejumlah bursa komoditas besar dunia dalam pembentukan harga dan transaksi perdagangan biji-bijian. Proposal Rusia diperkirakan menjadi salah satu topik penting dalam pembahasan BRICS sepanjang 2026.
Gagasan ini sejalan dengan pembahasan sebelumnya di tingkat menteri pertanian BRICS. Dalam pertemuan Menteri Pertanian BRICS di Indore pada Juni 2026, negara anggota telah memberikan momentum penting terhadap pembahasan aspek operasional BRICS Grain Exchange.
Mengapa Bursa Gandum Dinilai Penting?
Pembentukan platform perdagangan bersama dinilai strategis karena negara-negara BRICS mempunyai posisi besar dalam produksi dan konsumsi komoditas pertanian dunia. Salah satu tujuan utamanya adalah menciptakan rantai pasok yang lebih tangguh ketika terjadi gangguan perdagangan internasional.
Gangguan tersebut dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti:
- perang dan konflik geopolitik;
- pembatasan ekspor;
- sanksi ekonomi;
- perubahan iklim;
- gagal panen;
- gangguan logistik;
- kelangkaan pupuk;
- serta lonjakan harga komoditas pangan.
Deklarasi BRICS secara khusus menyoroti kebutuhan untuk mengurangi dampak volatilitas harga pangan dan krisis pasokan secara tiba-tiba. Negara anggota juga mendorong penguatan cadangan pangan nasional dan pengembangan benih yang lebih tahan terhadap kekeringan serta perubahan iklim.
Berpotensi Ciptakan Referensi Harga Baru
Salah satu aspek yang membuat BRICS Grain Exchange menarik adalah kemungkinan munculnya mekanisme penentuan harga yang lebih mencerminkan kondisi perdagangan negara-negara anggota.
Kajian mengenai ketahanan pangan BRICS menunjukkan bahwa besarnya produksi biji-bijian sejumlah negara anggota menciptakan kondisi yang mendukung pengembangan arsitektur harga alternatif. Platform perdagangan tersebut berpotensi membantu diversifikasi arus perdagangan dan mengurangi volatilitas, meski efektivitasnya akan sangat bergantung pada desain kelembagaan, infrastruktur logistik, serta partisipasi pasar.
Dengan demikian, bursa tersebut bukan hanya berkaitan dengan aktivitas jual-beli gandum. Dalam jangka panjang, BRICS dapat mengarahkannya menjadi bagian dari ekosistem perdagangan komoditas pertanian yang lebih luas.
Tidak Hanya Gandum
Meski disebut Grain Exchange, cakupan kerja sama yang dibahas BRICS berpotensi melampaui gandum. Dalam Deklarasi New Delhi, negara anggota membuka kemungkinan pengembangan platform tersebut untuk komoditas pertanian dan komoditas lainnya. BRICS juga mendorong peningkatan perdagangan intra-BRICS untuk produk pertanian serta berbagai input produksi pertanian.
Hal ini dapat mencakup penguatan perdagangan berbagai komoditas biji-bijian dan produk pangan lainnya, tergantung pada kesepakatan mengenai mekanisme operasionalnya.
BRICS Ingin Perkuat Rantai Pasok
Selain bursa komoditas, negara-negara BRICS mendorong terbentuknya rantai pasok pertanian yang lebih kuat dan tidak diskriminatif. Deklarasi New Delhi menekankan pentingnya meningkatkan perdagangan produk pertanian dan input produksi melalui rantai pasok yang tangguh. Negara anggota juga mendorong praktik pertanian berkelanjutan dan peningkatan nilai tambah produk pertanian.
Langkah tersebut penting karena gangguan terhadap satu bagian rantai pasok dapat berdampak pada harga pangan di berbagai negara. Sebagai contoh, gangguan produksi di negara eksportir utama dapat memicu kenaikan harga global. Sebaliknya, negara produsen yang mengalami kelebihan pasokan dapat membutuhkan akses pasar yang lebih luas agar harga di tingkat petani tetap terjaga.
BRICS Juga Soroti Dominasi Perdagangan Gandum
Pembentukan bursa bersama juga muncul bersamaan dengan meningkatnya perhatian BRICS terhadap struktur persaingan dalam perdagangan biji-bijian global.
Pada 2026, otoritas persaingan usaha negara-negara BRICS meluncurkan penyelidikan sektor bersama pertama terhadap perdagangan biji-bijian global. Kajian tersebut antara lain menyoroti posisi perusahaan perdagangan komoditas besar dan struktur pasar global. Langkah ini menunjukkan bahwa perhatian BRICS tidak hanya tertuju pada produksi dan perdagangan, tetapi juga pada bagaimana harga dan akses pasar terbentuk.
Indonesia Bisa Mendapat Manfaat
Indonesia sebagai anggota BRICS memiliki kepentingan langsung terhadap agenda ketahanan pangan tersebut. Indonesia merupakan salah satu negara dengan kebutuhan pangan yang besar, sementara sejumlah komoditas pangan masih bergantung pada perdagangan internasional.
Jika BRICS Grain Exchange nantinya benar-benar beroperasi dan Indonesia dapat berpartisipasi secara aktif, platform tersebut berpotensi menjadi salah satu alternatif dalam diversifikasi sumber pasokan.
Bagi Indonesia, manfaat potensialnya antara lain:
- Diversifikasi sumber impor pangan, sehingga tidak terlalu bergantung pada pasar atau negara tertentu.
- Akses terhadap jaringan perdagangan BRICS untuk komoditas pertanian.
- Potensi transaksi menggunakan mata uang lokal, sejalan dengan agenda BRICS memperluas perdagangan lintas negara menggunakan mata uang nasional.
- Penguatan ketahanan pasokan, terutama ketika terjadi gangguan perdagangan global.
- Peluang kerja sama teknologi pertanian, termasuk benih, digitalisasi dan pertanian tahan perubahan iklim.
Meski demikian, manfaat tersebut masih bergantung pada bentuk akhir dan mekanisme BRICS Grain Exchange.
Indonesia dan BRICS Perkuat Kerja Sama Pertanian
Agenda pertanian BRICS pada 2026 juga tidak berhenti pada perdagangan biji-bijian. Dalam pertemuan Menteri Pertanian BRICS di Indore, negara-negara anggota menyepakati berbagai kerja sama di bidang ketahanan pangan, perdagangan pertanian, pertanian berkelanjutan, inovasi serta investasi.
BRICS juga menyepakati penguatan BRICS Agricultural Research Platform (BARP) agar menjadi pusat yang menghubungkan hasil penelitian dengan penerapan nyata bagi petani. Selain itu, negara anggota menyepakati pembentukan BRICS AGRIN, jaringan kolaboratif yang berfokus pada input pertanian, sumber daya genetik dan informasi.
Kerja sama tersebut memperlihatkan bahwa strategi ketahanan pangan BRICS dirancang secara lebih luas, bukan sekadar membangun sebuah bursa komoditas.
Tantangan Membangun Bursa Gandum BRICS
Meski potensinya besar, pembentukan bursa gandum bersama bukan perkara sederhana. BRICS memiliki anggota dengan kondisi ekonomi, sistem perdagangan, kebijakan pertanian dan kepentingan geopolitik yang berbeda-beda.
Karena itu, beberapa persoalan yang harus diselesaikan antara lain:
Pertama, mekanisme harga.
BRICS perlu menentukan bagaimana harga komoditas akan dibentuk dan bagaimana memastikan harga tersebut transparan serta dipercaya pelaku pasar.
Kedua, sistem pembayaran.
Transaksi lintas negara membutuhkan sistem pembayaran yang efisien. BRICS saat ini juga mendorong interoperabilitas sistem pembayaran dan peningkatan penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan.
Ketiga, standar komoditas.
Gandum dan biji-bijian yang diperdagangkan harus memiliki standar kualitas yang jelas agar transaksi antarnegara berjalan lancar.
Keempat, logistik.
Bursa perdagangan tidak akan efektif tanpa dukungan pelabuhan, kapal, gudang, jalur kereta, serta sistem distribusi yang mampu mengirimkan komoditas dengan cepat dan murah.
Kelima, regulasi.
Setiap negara anggota memiliki aturan perdagangan dan kebijakan pangan yang berbeda. Harmonisasi atau setidaknya interoperabilitas regulasi menjadi tantangan tersendiri.
Bukan Sekadar Menandingi Bursa Barat
Munculnya BRICS Grain Exchange sering dipandang sebagai upaya membangun alternatif terhadap infrastruktur perdagangan komoditas yang selama ini didominasi pusat-pusat perdagangan besar dunia. Namun, keberhasilan inisiatif tersebut pada akhirnya akan ditentukan oleh kemampuan BRICS menyediakan pasar yang likuid, transparan dan kompetitif.
Jika platform hanya digunakan oleh sebagian kecil anggota, dampaknya terhadap pasar global kemungkinan terbatas. Sebaliknya, apabila produsen, eksportir, importir, bank, perusahaan logistik dan pelaku industri pangan ikut menggunakannya dalam skala besar, pengaruhnya terhadap perdagangan komoditas global bisa jauh lebih signifikan.
Fokus Utama Tetap Ketahanan Pangan
Deklarasi New Delhi menempatkan ketahanan pangan sebagai salah satu bagian penting kerja sama BRICS. Negara anggota mengakui pentingnya memastikan pangan tersedia, mudah diakses, aman dan terjangkau.
BRICS juga menekankan perlunya memperkuat kapasitas nasional menghadapi gangguan pasokan, termasuk melalui sistem cadangan pangan dan pengembangan sistem pertanian yang mampu beradaptasi dengan perubahan iklim. Dengan demikian, BRICS Grain Exchange harus dilihat sebagai salah satu bagian dari strategi yang lebih besar.
BRICS Grain Exchange Masih dalam Tahap Pengembangan
Hingga KTT BRICS di New Delhi, belum ada pengumuman bahwa bursa gandum tersebut telah resmi beroperasi sebagai pasar komoditas penuh. Deklarasi New Delhi justru menyebut negara-negara anggota akan melanjutkan penyusunan inisiatif, membahas mekanisme operasional, dan mengembangkan platform tersebut.
Artinya, tahapan berikutnya akan sangat menentukan apakah gagasan tersebut dapat berubah menjadi infrastruktur perdagangan yang benar-benar digunakan secara luas. Jika berhasil, BRICS Grain Exchange dapat menjadi instrumen baru dalam memperkuat ketahanan pangan negara-negara Global South sekaligus memperluas jalur perdagangan komoditas pertanian.
Bagi Indonesia, perkembangan ini patut dicermati karena keterlibatan aktif dalam platform tersebut dapat membuka peluang baru bagi diversifikasi perdagangan pangan, penguatan rantai pasok dan kerja sama pertanian dengan negara-negara anggota BRICS lainnya.

Posting Komentar untuk " BRICS Inisiasi Bursa Gandum Bersama demi Ketahanan Pangan Global"