Inggris & Sekutu Eropa Beri Sanksi Israel, Respons AS di Luar Dugaan

Jakarta – Sikap sejumlah negara Barat terhadap Israel memasuki babak baru. Inggris bersama Prancis, Kanada, dan sejumlah negara lainnya menjatuhkan langkah pembatasan perdagangan terhadap produk yang berasal dari permukiman Israel di Tepi Barat yang diduduki.

Keputusan tersebut menjadi sorotan karena Inggris selama bertahun-tahun merupakan salah satu sekutu penting Israel di Eropa. Yang tak kalah menarik adalah respons Amerika Serikat (AS) di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump yang dinilai tidak seperti perkiraan banyak pihak.

Alih-alih langsung mengecam atau menggagalkan langkah sekutunya, pemerintahan Trump memilih tidak secara terbuka menentang kebijakan sanksi tersebut. Sikap yang relatif menahan diri itu dinilai menjadi perkembangan tidak biasa mengingat pemerintahan Trump dikenal memiliki hubungan sangat dekat dengan Israel.

Inggris Larang Perdagangan dari Permukiman Israel

Pemerintah Inggris pada 8 September 2026 mengumumkan larangan perdagangan terhadap barang yang diproduksi di permukiman Israel di Tepi Barat. Menteri Luar Negeri Inggris Ed Miliband menyebut kebijakan tersebut sebagai bagian dari perubahan besar dalam pendekatan London terhadap konflik Israel-Palestina. Pemerintah Inggris menegaskan bahwa sasaran kebijakan adalah aktivitas permukiman dan ekspansi permukiman, bukan masyarakat Israel secara keseluruhan.

Langkah itu juga mencakup sanksi terhadap individu dan entitas yang dinilai terlibat dalam pembangunan atau pengembangan permukiman Israel di wilayah pendudukan. Pemerintah Inggris mengatakan kebijakan tersebut berkaitan erat dengan upaya mempertahankan peluang terbentuknya solusi dua negara.

London menilai ekspansi permukiman Israel, terutama di wilayah strategis Tepi Barat, semakin mengancam kemungkinan terbentuknya negara Palestina yang berdampingan dengan Israel.

Prancis dan Kanada Ikut Bergabung

Langkah Inggris tidak berdiri sendiri. Prancis dan Kanada juga mengumumkan pembatasan terhadap produk yang berasal dari permukiman Israel. Bersama sembilan negara lainnya, ketiga negara tersebut menyatakan dukungan terhadap langkah untuk memberikan tekanan terhadap aktivitas permukiman di Tepi Barat.

Kebijakan tersebut terutama menyasar produk pertanian dan industri yang diproduksi di permukiman Israel. Barang-barang yang berasal dari Israel di luar wilayah permukiman tidak menjadi sasaran larangan tersebut. Karena itu, kebijakan ini lebih tepat dipahami sebagai sanksi terhadap aktivitas permukiman Israel, bukan embargo menyeluruh terhadap Israel.

Perbedaan tersebut penting karena Inggris, Prancis, dan Kanada masih mempertahankan hubungan diplomatik dengan Israel.

Mengapa Tepi Barat Jadi Sasaran?

Permukiman Israel di Tepi Barat menjadi salah satu isu paling kontroversial dalam konflik Israel-Palestina. Pemerintah Inggris dan negara-negara pendukung sanksi menilai pembangunan permukiman di wilayah pendudukan bertentangan dengan hukum internasional dan dapat menghambat pembentukan negara Palestina.

Kekhawatiran meningkat setelah Israel terus mendorong pembangunan permukiman, termasuk proyek kontroversial di kawasan E1 yang berada di dekat Yerusalem. Negara-negara yang mendukung sanksi menilai perluasan permukiman dapat memutus kontinuitas wilayah Palestina dan membuat solusi dua negara semakin sulit diwujudkan.

Israel Balas dengan Langkah Diplomatik

Keputusan Inggris dan sekutunya langsung mendapat respons keras dari Israel. Pemerintah Israel mengumumkan rencana menutup konsulat Inggris di Yerusalem Timur. Israel juga melarang sejumlah tokoh politik Inggris memasuki negara tersebut dan mengambil sejumlah tindakan terhadap personel Inggris yang terlibat dalam kegiatan terkait Palestina.

Menteri Luar Negeri Israel Gideon Sa'ar menuduh Inggris melakukan campur tangan terhadap urusan dalam negeri Israel. Pemerintah Israel juga mengecam kebijakan sanksi tersebut sebagai bentuk tekanan politik. London kemudian menghadapi konsekuensi diplomatik yang cukup serius karena hubungan kedua negara semakin renggang.

Respons AS Justru Mengejutkan

Perhatian terbesar kemudian tertuju kepada Washington. AS selama ini dikenal sebagai salah satu pendukung paling kuat Israel. Pemerintahan Trump bahkan sering disebut sebagai salah satu pemerintahan AS paling pro-Israel. Namun, ketika Inggris dan sejumlah sekutu Barat mengumumkan sanksi terhadap permukiman Israel, pemerintahan Trump tidak langsung mengecam kebijakan tersebut secara resmi sebagai sebuah blok.

Laporan Axios menyebut pemerintahan Trump tidak menentang secara terbuka inisiatif yang dipimpin Inggris tersebut. Sikap ini dianggap berbeda dari ekspektasi bahwa Washington akan segera memberikan dukungan penuh kepada Israel untuk menekan sekutunya agar membatalkan kebijakan tersebut. Sikap relatif diam tersebut menjadi sorotan karena Washington selama ini memiliki pengaruh besar terhadap kebijakan negara-negara Barat terkait Israel.

Tapi AS Tetap Memberi Peringatan

Meski tidak langsung menggagalkan kebijakan Inggris, bukan berarti Washington sepenuhnya mendukung sanksi tersebut. Duta Besar AS untuk Israel Mike Huckabee memberikan peringatan bahwa Inggris dapat menghadapi konsekuensi jika menerapkan kebijakan tersebut.

Huckabee mempertanyakan apakah pemerintah Inggris telah mempertimbangkan seluruh dampak kebijakan sanksi terhadap hubungan dengan AS dan Israel. Ia juga memperingatkan adanya kemungkinan konsekuensi bagi Inggris. Dengan demikian, posisi AS dapat dikatakan lebih berhati-hati daripada penolakan langsung, tetapi tetap menunjukkan ketidaksetujuan terhadap kebijakan tersebut.

Mengapa Sikap Trump Dianggap Berbeda?

Perubahan nada Washington menjadi menarik karena Trump selama ini mempunyai hubungan politik yang sangat dekat dengan pemerintahan Israel. Namun, terdapat kemungkinan bahwa pemerintahan AS sedang berusaha menjaga ruang diplomasi dengan sekutu Eropa.

Jika Washington secara langsung mengancam Inggris, Prancis, dan Kanada karena kebijakan terhadap permukiman Israel, persoalan tersebut berpotensi berubah menjadi konflik diplomatik yang lebih besar antara AS dan sekutu-sekutunya sendiri. Karena itu, pendekatan yang lebih hati-hati memungkinkan AS tetap mendukung Israel tetapi tidak harus melakukan konfrontasi terbuka dengan seluruh negara Barat yang mengambil langkah berbeda.

Sanksi Ini Berdampak Ekonomi, tetapi Terbatas

Secara ekonomi, dampak langsung sanksi tersebut diperkirakan relatif terbatas karena permukiman Israel bukan bagian terbesar dari keseluruhan perekonomian Israel. Namun, nilai strategisnya jauh lebih besar daripada dampak perdagangan langsung. Sanksi tersebut memberikan sinyal bahwa sejumlah negara yang selama ini merupakan mitra dekat Israel mulai bersedia menggunakan instrumen ekonomi untuk menekan kebijakan pemerintah Israel.

Langkah ini juga dapat meningkatkan risiko bagi perusahaan yang beroperasi di permukiman Tepi Barat. Pemilik usaha di permukiman Israel bahkan telah memperingatkan kemungkinan kerugian dan gangguan bisnis jika semakin banyak negara menerapkan pembatasan serupa.

Israel Makin Menghadapi Tekanan Internasional

Sanksi dari Inggris dan sekutunya menjadi bagian dari tren yang lebih luas berupa meningkatnya tekanan diplomatik terhadap Israel. Sejumlah negara Eropa sebelumnya telah mengakui Palestina, memberlakukan pembatasan terhadap individu tertentu, meninjau kerja sama dengan Israel, atau memperketat ekspor senjata.

Di tingkat Uni Eropa, perdebatan mengenai hubungan perdagangan dengan Israel juga semakin intensif. Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen bahkan mendorong langkah untuk menangguhkan perjanjian perdagangan Uni Eropa-Israel serta mempertimbangkan sanksi terhadap menteri Israel yang dinilai ekstrem dan pemukim yang melakukan kekerasan. Meski demikian, negara-negara Eropa belum sepenuhnya memiliki posisi yang sama.

Sejumlah negara seperti Jerman dan Hungaria masih mengambil sikap berbeda terhadap sejumlah proposal pembatasan terhadap Israel. Perbedaan ini membuat kebijakan Uni Eropa terhadap Israel tetap kompleks.

Inggris Ingin Tekanan Tetap Terarah

Pemerintah Inggris berusaha menekankan bahwa sanksi tersebut bukanlah embargo total terhadap Israel. Miliband menyatakan sasaran kebijakan adalah permukiman ilegal dan ekspansi permukiman, bukan Israel sebagai negara atau masyarakat Yahudi.

Pemerintah Inggris juga menegaskan komitmennya untuk memerangi antisemitisme dan menjaga hubungan dengan komunitas Yahudi di Inggris. Posisi tersebut menunjukkan bahwa London berusaha membedakan antara kritik terhadap kebijakan pemerintah Israel dan sentimen terhadap kelompok etnis atau agama tertentu.

Apakah Sanksi Akan Efektif?

Efektivitas sanksi masih menjadi pertanyaan. Secara ekonomi, perdagangan produk dari permukiman Israel ke negara-negara tersebut tidak cukup besar untuk secara langsung mengguncang perekonomian Israel. Namun, efek politik dan diplomatiknya bisa jauh lebih besar. Jika negara-negara lain mengikuti langkah Inggris, Prancis, dan Kanada, perusahaan internasional dapat menghadapi risiko lebih besar ketika berinvestasi atau melakukan bisnis dengan entitas yang terlibat dalam pembangunan permukiman. Tekanan tersebut berpotensi meningkatkan biaya ekonomi dan reputasi bagi aktivitas permukiman.

Bisa Menjadi Titik Balik Hubungan Barat-Israel

Perkembangan terbaru ini menunjukkan adanya perubahan dalam hubungan Israel dengan sejumlah negara Barat. Inggris, yang secara historis memiliki hubungan erat dengan Israel, kini mengambil langkah yang jauh lebih keras terhadap kebijakan permukiman.

Prancis dan Kanada ikut mengambil tindakan, sementara negara-negara lain menyatakan dukungan. Pada saat yang sama, AS tidak memilih konfrontasi terbuka dengan Inggris meskipun pejabatnya tetap memberikan peringatan. Kombinasi tersebut menjadi sinyal bahwa dukungan terhadap Israel di antara negara-negara Barat tidak lagi sepenuhnya seragam.

Respons AS Masih Akan Jadi Faktor Penting

Perkembangan selanjutnya sangat bergantung pada sikap Washington. Jika pemerintahan Trump akhirnya memilih membiarkan sekutu Eropa menerapkan sanksi tanpa tekanan lebih lanjut, kebijakan tersebut dapat menjadi preseden baru dalam hubungan AS-Israel.

Sebaliknya, apabila Washington memberikan tekanan ekonomi atau diplomatik terhadap Inggris dan negara-negara pendukung sanksi, konflik mengenai permukiman Israel berpotensi berkembang menjadi perselisihan lebih luas antara AS dan sekutu Eropanya. Untuk saat ini, posisi Washington masih berada di antara dua kepentingan: mempertahankan dukungan terhadap Israel sekaligus menghindari benturan langsung dengan sekutu Barat yang semakin kritis terhadap kebijakan permukiman.

Yang jelas, sanksi terbaru Inggris dan sekutunya menandai meningkatnya tekanan internasional terhadap Israel dan memperlihatkan bahwa isu permukiman di Tepi Barat semakin menjadi salah satu titik utama perselisihan antara Israel dan negara-negara Barat.

Posting Komentar untuk " Inggris & Sekutu Eropa Beri Sanksi Israel, Respons AS di Luar Dugaan"