BYD Batal Bangun Pabrik Sendiri di Malaysia
Kuala Lumpur – BYD dikabarkan membatalkan rencana pembangunan pabrik perakitan kendaraan listrik (EV) milik sendiri di Tanjong Malim, Perak, Malaysia. Meski demikian, langkah tersebut bukan berarti BYD hengkang dari Malaysia. Produsen mobil listrik asal China itu tetap berkomitmen melakukan perakitan lokal atau Completely Knocked Down (CKD) dengan menggandeng mitra perakitan yang sudah memiliki fasilitas di Malaysia.
Keputusan ini menjadi perkembangan terbaru setelah selama berbulan-bulan status proyek pabrik BYD di Tanjong Malim tidak jelas. Pada Agustus 2026, pemerintah Malaysia bahkan mengakui belum menerima pemberitahuan resmi dari BYD mengenai apakah proyek tersebut akan dilanjutkan, ditunda, atau diubah.
Rencana Pabrik BYD di Tanjong Malim Dibatalkan
BYD sebelumnya mengumumkan rencana membangun fasilitas CKD sendiri di Tanjong Malim pada Agustus 2025. Pabrik tersebut direncanakan berdiri di area sekitar 600.000 meter persegi atau sekitar 60 hektare dan ditargetkan mulai beroperasi pada 2026. Pabrik itu merupakan bagian dari strategi BYD untuk memperkuat kehadirannya di pasar Malaysia sekaligus mengembangkan ekosistem kendaraan listrik lokal.
Namun, rencana tersebut kemudian menghadapi ketidakpastian setelah Malaysia menerapkan persyaratan baru bagi investasi perakitan kendaraan bermotor dalam jumlah besar. Pada Maret 2026, Kementerian Investasi, Perdagangan dan Industri Malaysia (MITI) menjelaskan bahwa persyaratan tersebut berlaku untuk seluruh proyek otomotif baru dan bukan hanya ditujukan kepada BYD. Pemerintah menyatakan kebijakan itu bertujuan mendorong kegiatan bernilai tambah tinggi, transfer teknologi, integrasi pemasok lokal, serta orientasi ekspor.
Perkembangan terbaru pada 11 September 2026 menunjukkan bahwa fasilitas Tanjong Malim tidak akan dilanjutkan. Sebagai gantinya, BYD tetap akan menjalankan strategi perakitan lokal melalui mitra yang telah memiliki fasilitas produksi.
BYD Tetap Ingin Produksi Mobil di Malaysia
Pembatalan pembangunan pabrik sendiri tidak berarti BYD membatalkan strategi lokalisasi di Malaysia. Sebelumnya, Wakil Presiden sekaligus General Manager BYD Asia-Pacific Auto Sales Division, Liu Xueliang, mengatakan perusahaan akan tetap mengeksplorasi kerja sama dengan mitra lokal untuk mendukung perkembangan industri kendaraan energi baru atau new energy vehicle (NEV) Malaysia.
Dalam pernyataannya pada 5 September 2026, Liu menyebut perkembangan BYD di Malaysia berjalan dengan baik. Ketika ditanya apakah BYD akan membangun fasilitas sendiri atau bekerja sama dengan perusahaan lokal, ia meminta media menunggu pengumuman perusahaan. Perkembangan terbaru menunjukkan arah tersebut kini semakin jelas: BYD memilih model kerja sama dengan fasilitas perakitan lokal ketimbang membangun pabrik baru dari nol.
Inokom Berpeluang Menjadi Mitra BYD
Salah satu kandidat terkuat adalah Inokom, perusahaan perakitan kendaraan yang berada di bawah Sime Motors dan berlokasi di Kulim, Kedah. Spekulasi mengenai kerja sama BYD dan Inokom menguat setelah Liu Xueliang beserta tim BYD mengunjungi fasilitas Inokom di Kulim pada Mei 2026. Inokom sendiri memiliki pengalaman merakit kendaraan listrik dan telah digunakan untuk produksi sejumlah merek global.
Tidak berhenti di sana, pada awal September 2026, jajaran pimpinan Sime Motors juga berkunjung ke kantor pusat BYD di Shenzhen, China. Sime Motors menyebut kunjungan tersebut bertujuan memperkuat kolaborasi, transfer pengetahuan, serta membahas prioritas strategis dan kepentingan bersama dalam pengembangan ekosistem otomotif Malaysia.
Meski rangkaian pertemuan tersebut memperkuat dugaan adanya kerja sama CKD, BYD dan Sime Motors sebelumnya belum mengonfirmasi secara resmi bahwa Inokom akan menjadi tempat perakitan mobil BYD. Dengan keputusan BYD membatalkan pabrik Tanjong Malim dan tetap mempertahankan rencana perakitan lokal, Inokom menjadi salah satu opsi yang paling masuk akal berdasarkan perkembangan yang telah terjadi.
Mengapa BYD Memilih Mitra Lokal?
Salah satu pertimbangannya adalah BYD tidak perlu membangun seluruh fasilitas produksi dari awal. Inokom sudah memiliki infrastruktur manufaktur kendaraan, tenaga kerja, rantai pemasok, serta pengalaman menangani proses produksi berbagai merek. Fasilitas tersebut juga telah memiliki kemampuan merakit kendaraan listrik.
Dengan menggunakan fasilitas yang sudah ada, BYD berpotensi mempercepat pelaksanaan CKD sekaligus mengurangi kebutuhan investasi untuk membangun pabrik baru. Pilihan tersebut juga sejalan dengan arah kebijakan pemerintah Malaysia yang mendorong produsen otomotif asing memanfaatkan kapasitas perakitan lokal yang sudah tersedia.
Ada Perubahan Aturan Kendaraan Impor di Malaysia
Keputusan BYD juga tidak dapat dilepaskan dari perubahan regulasi kendaraan listrik di Malaysia. Mulai 1 Juli 2026, kendaraan listrik impor utuh atau Completely Built Up (CBU) yang baru disetujui harus memenuhi persyaratan tertentu, termasuk nilai CIF minimum RM200.000 dan daya minimum 180 kW atau sekitar 245 PS. Perubahan tersebut membuat model EV yang diimpor utuh dengan harga lebih terjangkau menghadapi tantangan lebih besar di pasar Malaysia.
Kondisi ini membuat perakitan lokal semakin penting bagi BYD apabila ingin mempertahankan jajaran model EV dengan harga kompetitif di Malaysia. Dengan CKD, kendaraan dapat memenuhi persyaratan lokalisasi sekaligus memberikan peluang bagi BYD untuk memperluas penjualan tanpa harus bergantung sepenuhnya pada impor kendaraan jadi dari China.
Persyaratan Produksi Lokal Sempat Jadi Sorotan
Sebelumnya, muncul laporan mengenai persyaratan yang ditetapkan pemerintah Malaysia terhadap proyek BYD. MITI menyatakan BYD memperoleh lisensi manufaktur sementara pada 29 September 2025. Dalam skema tersebut, produksi diarahkan untuk berorientasi ekspor dan terdapat sejumlah ketentuan terkait kapasitas penjualan domestik, aktivitas produksi di dalam negeri, serta nilai tambah lokal.
MITI menjelaskan bahwa kapasitas penjualan domestik BYD ditetapkan sebesar 10.000 unit per tahun atau sekitar 20 persen dari total kapasitas produksi yang direncanakan. Dengan demikian, sebagian besar produksi diarahkan untuk pasar ekspor.
Pemerintah Malaysia menegaskan persyaratan itu bukan kebijakan khusus untuk BYD, melainkan bagian dari pendekatan yang berlaku terhadap proyek perakitan otomotif baru sejak September 2025, dengan pengecualian tertentu bagi perusahaan yang menggunakan fasilitas perakitan lokal yang sudah ada.
MITI Sebelumnya Belum Mendapat Kepastian
Ketidakpastian proyek Tanjong Malim sudah terlihat sejak beberapa bulan lalu. Pada 4 Agustus 2026, Menteri Investasi, Perdagangan dan Industri Malaysia Datuk Seri Johari Abdul Ghani mengatakan pemerintah belum menerima informasi resmi apakah BYD akan melanjutkan investasi di Tanjong Malim.
Johari menegaskan bahwa keputusan untuk melanjutkan, menunda, atau mengubah rencana investasi merupakan keputusan komersial BYD. Pernyataan tersebut menjadi indikasi kuat bahwa proyek yang sebelumnya ditargetkan mulai berproduksi pada 2026 tidak berjalan sesuai rencana awal.
Tetap Perkuat Pasar Malaysia
Walaupun membatalkan pabrik sendiri, BYD tetap menunjukkan ambisi besar di Malaysia. BYD Sime Motors menyebut BYD telah menjadi salah satu pemain utama pasar EV Malaysia. Hingga Juni 2026, perusahaan menyatakan telah menjual lebih dari 32.000 unit BYD di negara tersebut.
Artinya, Malaysia tetap menjadi pasar penting bagi BYD di kawasan Asia Tenggara. Strategi menggunakan fasilitas perakitan lokal memungkinkan BYD mempertahankan ekspansi tanpa harus menanggung seluruh biaya pembangunan fasilitas baru. Di sisi lain, Malaysia tetap memperoleh manfaat berupa aktivitas manufaktur, lapangan kerja, penggunaan pemasok lokal, dan pengembangan kompetensi industri EV.
Bukan Mundur dari Malaysia
Perubahan strategi ini penting untuk dipahami. BYD bukan membatalkan rencana produksi lokal secara keseluruhan, melainkan membatalkan rencana membangun fasilitas milik sendiri di Tanjong Malim. Produksi lokal tetap menjadi bagian dari strategi perusahaan, hanya saja pelaksanaannya akan dilakukan melalui fasilitas perakitan yang sudah tersedia.
Dengan demikian, perhatian selanjutnya akan tertuju pada pengumuman resmi mengenai siapa mitra CKD BYD dan model apa yang akan dirakit secara lokal. Jika kerja sama dengan Inokom benar-benar direalisasikan, BYD dapat memperoleh jalur yang lebih cepat untuk memenuhi kebutuhan lokalisasi di Malaysia. Bagi konsumen, langkah tersebut juga berpotensi membuka peluang hadirnya lebih banyak model BYD dengan harga yang lebih kompetitif dibandingkan kendaraan yang sepenuhnya diimpor dari China.
Perkembangan ini sekaligus menunjukkan perubahan strategi BYD di Malaysia: dari rencana membangun pabrik sendiri di Tanjong Malim menjadi memanfaatkan kapasitas manufaktur lokal yang sudah tersedia. Dengan pasar EV Malaysia yang terus berkembang dan aturan impor yang semakin ketat, perakitan lokal menjadi semakin penting bagi keberlanjutan ekspansi BYD di Negeri Jiran.

Posting Komentar untuk " BYD Batal Bangun Pabrik Sendiri di Malaysia"