Bapanas Beber Biang Kerok Harga Rata-rata Cabai Rawit Tembus Rp81 Ribu

Jakarta – Harga cabai rawit kembali menjadi perhatian setelah rata-rata harga nasional komoditas tersebut berada di kisaran Rp81 ribu per kilogram. Kenaikan harga cabai terjadi di tengah pasokan yang tidak merata di sejumlah daerah dan kondisi cuaca yang memengaruhi produksi serta distribusi.

Berdasarkan pemantauan harga pangan, cabai rawit merah bahkan sempat tercatat sekitar Rp81.550 per kilogram pada 1 September 2026. Pada awal September, harga kemudian terus bergerak dan di sejumlah wilayah mencapai level yang lebih tinggi.

Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyebut kenaikan harga cabai tidak bisa dilepaskan dari persoalan pasokan. Faktor cuaca, produksi yang terganggu, hingga proses panen dan distribusi menjadi sejumlah penyebab yang perlu diperhatikan.

Harga Cabai Rawit Sudah di Atas Harga Acuan

Kenaikan harga cabai rawit membuat komoditas tersebut berada jauh di atas Harga Acuan Penjualan (HAP) tingkat konsumen yang ditetapkan pemerintah. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat harga cabai rawit secara nasional pada minggu pertama September 2026 berada di sekitar Rp73 ribu per kilogram. Angka tersebut sudah naik 22,3 persen dibandingkan rata-rata Agustus yang berada di level Rp59.760 per kilogram.

Pada saat yang sama, HAP cabai rawit tingkat konsumen berada di Rp57 ribu per kilogram. BPS juga mencatat sebanyak 251 kabupaten/kota mengalami kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) cabai rawit. Data PIHPS Bank Indonesia menunjukkan pergerakan harga bahkan lebih tinggi di tingkat pasar tradisional. Pada 7 September, harga cabai rawit merah tercatat sekitar Rp84 ribu per kilogram, sedangkan pada 8 September mencapai sekitar Rp91.300 per kilogram.

Perbedaan angka tersebut terjadi karena sumber data, waktu pemantauan, jenis pasar, dan cakupan wilayah yang berbeda.

Bapanas Ungkap Masalah di Tingkat Produksi

Bapanas sebelumnya menjelaskan bahwa tingginya harga cabai rawit tidak selalu berarti produksi nasional benar-benar anjlok. Persoalan dapat terjadi ketika cabai yang sudah diproduksi tidak bisa segera dipanen atau masuk ke pasar. Salah satu penyebabnya adalah kondisi cuaca. Hujan dengan intensitas tinggi dapat menghambat aktivitas petani saat melakukan pemetikan. Kondisi tersebut pada akhirnya mengurangi pasokan cabai yang masuk ke pasar dalam waktu tertentu.

Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa pernah menjelaskan bahwa produksi cabai secara nasional sebenarnya cukup, tetapi persoalannya terdapat pada proses pemetikan. Intensitas hujan yang tinggi membuat kegiatan panen terganggu.

Kondisi serupa juga pernah terjadi pada Maret 2026 ketika harga cabai rawit sempat menembus Rp120 ribu per kilogram. Saat itu, Bapanas menyebut hujan dan berkurangnya produksi menjadi pemicu utama kenaikan harga. Pasokan dari sentra produksi seperti Kediri kemudian mulai membaik sehingga harga berangsur turun.

Cuaca Jadi Faktor Penting

Cabai merupakan salah satu komoditas hortikultura yang sangat sensitif terhadap kondisi cuaca. Hujan berlebihan dapat mengganggu tanaman, menurunkan kualitas hasil panen, sekaligus menyulitkan petani melakukan pemetikan dan pengiriman.

Sebaliknya, periode kering juga dapat memberikan tekanan apabila ketersediaan air di sentra produksi terbatas. Pada awal September, sejumlah daerah memang melaporkan kenaikan harga cabai yang dikaitkan dengan kondisi kemarau dan terbatasnya pasokan. Di Magetan, misalnya, pedagang melaporkan harga cabai rawit berada di kisaran Rp68 ribu-Rp72 ribu per kilogram seiring dampak musim kemarau terhadap pasokan.

Artinya, kondisi cuaca yang tidak seragam antarwilayah dapat membuat pasokan cabai nasional berfluktuasi dengan cepat.

Distribusi Ikut Menentukan Harga

Selain produksi, distribusi menjadi faktor penting. Cabai yang diproduksi di sentra pertanian harus dikirim ke daerah dengan tingkat konsumsi tinggi. Ketika pasokan dari satu sentra produksi terganggu, daerah tujuan dapat mengalami kekurangan stok. Harga kemudian naik karena pedagang harus memperoleh cabai dari wilayah lain dengan biaya distribusi yang lebih tinggi.

Bapanas sebelumnya juga menyoroti pentingnya konektivitas antardaerah untuk menjaga stabilitas harga cabai. Pemerintah memiliki skema Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP) untuk membantu menghubungkan wilayah surplus dengan wilayah yang mengalami kekurangan pasokan.

Dengan karakter cabai yang mudah rusak, distribusi yang cepat menjadi semakin penting. Keterlambatan pengiriman bukan hanya berpotensi meningkatkan harga, tetapi juga dapat menyebabkan kualitas cabai menurun.

Harga di Daerah Bisa Lebih Tinggi

Harga rata-rata nasional tidak selalu menggambarkan kondisi di setiap daerah. Perbedaan harga antardaerah bisa sangat lebar karena dipengaruhi jarak dari sentra produksi, biaya transportasi, stok pedagang, serta kondisi permintaan.

Di Kota Padang, misalnya, harga cabai rawit merah pada 9 September 2026 tercatat Rp81.667 per kilogram. Sehari kemudian harga tersebut masih bertahan di level yang sama, sementara cabai rawit hijau justru naik menjadi Rp64.333 per kilogram.

Sementara itu, data pemantauan harga nasional per 9 September menunjukkan rata-rata cabai rawit sekitar Rp79.800 per kilogram, dengan cabai rawit merah berada sekitar Rp91 ribu per kilogram dan cabai rawit hijau sekitar Rp64.300 per kilogram. Data tersebut menunjukkan bahwa harga cabai rawit sangat dinamis dan dapat berubah hanya dalam hitungan hari.

Pemerintah Perlu Jaga Pasokan

Kenaikan harga cabai rawit menjadi perhatian karena komoditas tersebut merupakan salah satu bahan pangan yang cukup sering dikonsumsi masyarakat dan memiliki kontribusi terhadap inflasi pangan. Bapanas perlu memastikan pasokan dari sentra produksi tetap mengalir ke daerah yang mengalami kekurangan. Intervensi distribusi dapat dilakukan ketika terdapat kesenjangan harga yang terlalu besar antarwilayah.

Selain itu, koordinasi dengan pemerintah daerah penting untuk memantau kondisi produksi dan memperkirakan potensi kekurangan pasokan lebih awal. Pemerintah juga dapat mendorong penanaman cabai di wilayah tertentu sebagai langkah memperkuat pasokan lokal, terutama ketika daerah tersebut sangat bergantung pada pengiriman dari sentra produksi di luar wilayah.

Harga Cabai Masih Berpotensi Berubah

Dengan kondisi produksi dan distribusi yang masih dinamis, harga cabai rawit belum tentu bertahan pada level Rp81 ribu per kilogram. Harga dapat kembali turun apabila pasokan dari sentra produksi meningkat dan distribusi berjalan lancar.

Sebaliknya, harga bisa kembali melonjak apabila cuaca mengganggu panen, produksi menurun, atau terjadi hambatan distribusi. Karena itu, kenaikan harga cabai rawit kali ini tidak semata-mata disebabkan oleh tingginya permintaan. Bapanas melihat persoalan pasokan, kondisi cuaca, proses pemetikan, dan distribusi sebagai faktor penting di balik pergerakan harga.

Bagi konsumen, perbedaan harga antarpasar juga membuat masyarakat sebaiknya membandingkan harga sebelum membeli dalam jumlah besar. Sementara bagi pemerintah, menjaga kelancaran pasokan dari sentra produksi ke daerah konsumsi menjadi kunci agar lonjakan harga cabai tidak berlangsung terlalu lama.

Posting Komentar untuk " Bapanas Beber Biang Kerok Harga Rata-rata Cabai Rawit Tembus Rp81 Ribu"