Daftar Daerah Terlama Tidak Hujan di Indonesia, Jogja Nomor 1

Musim kemarau 2026 membuat sejumlah wilayah Indonesia mengalami periode hari tanpa hujan (HTH) yang cukup panjang. Bahkan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat terdapat wilayah yang sudah tidak mengalami hujan selama lebih dari 100 hari berturut-turut. Berdasarkan pemutakhiran data hingga 10 September 2026, wilayah dengan catatan HTH terpanjang berada di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Salah satu titik pengamatan di Kabupaten Bantul tercatat mengalami 131 hari tanpa hujan.

Kondisi tersebut terjadi ketika sebagian besar wilayah Indonesia masih berada dalam periode musim kemarau. BMKG sebelumnya memperkirakan musim kemarau 2026 datang lebih awal dan cenderung lebih panjang serta lebih kering dibandingkan kondisi normal.

Jogja Jadi Wilayah dengan HTH Terpanjang

Berdasarkan monitoring BMKG, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, menjadi wilayah dengan deret hari tanpa hujan terpanjang yang terpantau hingga 10 September 2026. Wilayah tersebut mencatat 131 hari berturut-turut tanpa hujan. Data ini berasal dari pemantauan BBMKG Wilayah II dan menjadi angka HTH terpanjang yang tercatat dalam pemutakhiran tersebut.

Angka ini mengalami peningkatan dibandingkan pemantauan sebelumnya. Pada pembaruan 31 Agustus 2026, Kecamatan Pajangan tercatat telah mengalami 121 hari tanpa hujan. Pada periode yang sama, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, mencatat 122 hari. Dengan bertambahnya durasi hari tanpa hujan, Pajangan kemudian menjadi salah satu titik dengan periode kering terpanjang yang terpantau BMKG.

Daftar Wilayah dengan Hari Tanpa Hujan Terpanjang

Pemantauan BMKG hingga 10 September menunjukkan sejumlah provinsi memiliki wilayah dengan HTH ekstrem panjang. Secara provinsi, catatan terpanjang yang diberitakan berdasarkan pembaruan tersebut adalah:

Peringkat Provinsi HTH terpanjang

Daftar tersebut menggambarkan durasi HTH terpanjang yang terpantau di masing-masing wilayah, bukan berarti seluruh wilayah dalam provinsi tersebut tidak mengalami hujan selama jumlah hari yang sama.

Jawa Mendominasi Wilayah Paling Kering

Pulau Jawa menjadi salah satu kawasan yang paling menonjol dalam catatan HTH panjang tahun ini. Selain DIY, wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur juga memiliki titik pengamatan dengan periode tanpa hujan lebih dari 120 hari.

Kondisi ini sejalan dengan pemantauan BMKG yang menunjukkan bahwa wilayah selatan Indonesia, termasuk sebagian besar Jawa, mengalami periode atmosfer yang relatif kering. Dalam prakiraan BMKG periode 15–21 September 2026, sekitar 81 persen Zona Musim (ZOM) di Indonesia telah memasuki musim kemarau. BMKG juga mencatat 1.637 titik mengalami HTH kategori ekstrem, yakni lebih dari 60 hari berturut-turut tanpa hujan.

Apa Itu Hari Tanpa Hujan?

Hari Tanpa Hujan atau HTH merupakan indikator yang digunakan BMKG untuk melihat berapa lama suatu wilayah mengalami hari berturut-turut tanpa kejadian hujan yang memenuhi kriteria pengamatan. Data HTH digunakan untuk memantau perkembangan kondisi kekeringan meteorologis di Indonesia.

BMKG menyediakan pemantauan HTH secara berkala karena informasi tersebut penting untuk mengantisipasi dampak musim kemarau, termasuk potensi kekurangan air dan kekeringan. Semakin panjang deret hari tanpa hujan, semakin besar pula perhatian yang diperlukan terhadap ketersediaan air di wilayah yang terdampak.

131 Hari Tanpa Hujan Bukan Berarti Seluruh Jogja Kering

Angka 131 hari perlu dipahami secara tepat. Ketika BMKG mencatat HTH 131 hari di Pajangan, angka tersebut tidak berarti seluruh wilayah DIY sama sekali tidak mendapatkan hujan selama 131 hari. Data HTH merupakan hasil pengamatan pada lokasi tertentu. Hujan bersifat sangat lokal sehingga satu wilayah kecamatan dapat mengalami hujan sementara wilayah lain yang tidak terlalu jauh bisa tetap kering.

Karena itu, istilah yang lebih tepat adalah titik atau wilayah pengamatan dengan deret HTH terpanjang, bukan seluruh provinsi mengalami kekeringan dengan durasi yang sama.

Kemarau 2026 Datang Lebih Awal

Kondisi kering panjang tahun ini sebenarnya telah diperkirakan BMKG sejak awal 2026. Dalam prakiraan awal musim kemarau, BMKG menyebut sebagian besar wilayah Indonesia akan memasuki musim kemarau lebih awal dibandingkan rata-rata klimatologis.

Sebanyak 325 ZOM atau sekitar 46,5 persen diprediksi mengalami awal musim kemarau lebih cepat dari biasanya. BMKG juga memperkirakan sekitar 57,2 persen wilayah Indonesia akan mengalami durasi musim kemarau lebih panjang dibandingkan normalnya. Pada Juni 2026, BMKG memperkirakan puncak musim kemarau secara umum berlangsung pada periode Juli hingga September, dengan Agustus menjadi bulan puncak bagi wilayah terluas.

El Nino Ikut Memperkuat Kondisi Kering

Fenomena iklim global juga menjadi perhatian dalam perkembangan kemarau tahun ini. BMKG sebelumnya memperkirakan adanya peluang penguatan El Nino pada paruh kedua 2026. Kondisi tersebut berpotensi mengurangi pembentukan awan hujan di sejumlah wilayah Indonesia.

Bahkan, berdasarkan analisis BMKG, Juli 2026 menjadi bulan Juli terkering di Indonesia sejak 1991 berdasarkan rata-rata curah hujan nasional. Kondisi tersebut dikaitkan dengan menguatnya El Nino dan berkembangnya Indian Ocean Dipole (IOD) positif. Dampak fenomena tersebut tidak dirasakan secara merata di seluruh Indonesia. Sejumlah wilayah di Sumatra bagian utara, misalnya, masih berpotensi mendapatkan curah hujan lebih tinggi dibandingkan wilayah selatan Indonesia.

Risiko Kekeringan Semakin Perlu Diwaspadai

Periode tanpa hujan yang panjang dapat meningkatkan risiko kekeringan meteorologis. Dampaknya dapat merembet ke berbagai sektor, mulai dari ketersediaan air bersih, pertanian, perkebunan, peternakan, hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan.

BMKG dalam prakiraan September juga mengingatkan bahwa kondisi atmosfer kering dapat meningkatkan potensi karhutla dan penyebaran asap, khususnya di wilayah yang mengalami HTH panjang. Karena itu, masyarakat di daerah yang mengalami kekeringan panjang diimbau menggunakan air secara bijak dan mengikuti informasi dari pemerintah daerah serta BMKG.

Hujan Belum Tentu Turun Merata

Meski sebagian besar Indonesia masih berada dalam kondisi kemarau, bukan berarti hujan sama sekali tidak mungkin terjadi. BMKG tetap memprakirakan adanya hujan lokal di sejumlah wilayah pada periode 15–21 September 2026. Beberapa wilayah Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua masih berpotensi mendapatkan hujan dengan intensitas tertentu.

Hal tersebut menunjukkan bahwa musim kemarau tidak selalu identik dengan tidak adanya hujan sama sekali. Hujan dapat turun secara sporadis atau lokal, sementara daerah lain tetap mengalami kondisi kering.

Apa yang Harus Dilakukan Saat HTH Panjang?

Masyarakat di wilayah yang mengalami HTH ekstrem dapat melakukan sejumlah langkah untuk menghadapi kondisi kering.

1. Hemat penggunaan air

Gunakan air untuk kebutuhan prioritas dan hindari pemborosan.

2. Pantau ketersediaan air

Masyarakat dan pemerintah daerah perlu memantau sumber air, terutama apabila debit sungai, mata air, waduk, atau sumur mulai mengalami penurunan.

3. Waspadai kebakaran

Lingkungan yang kering lebih mudah terbakar. Hindari membakar sampah atau melakukan aktivitas yang dapat memicu api secara sembarangan.

4. Perhatikan sektor pertanian

Petani perlu menyesuaikan pola tanam dan pengelolaan irigasi dengan ketersediaan air serta rekomendasi pemerintah daerah.

5. Pantau informasi BMKG

Kondisi cuaca dan HTH dapat berubah apabila hujan mulai turun. Karena itu, masyarakat sebaiknya menggunakan informasi terbaru dari BMKG sebagai acuan.

Kapan Musim Hujan Datang?

Waktu datangnya musim hujan berbeda-beda di setiap wilayah Indonesia. Karakteristik geografis Indonesia membuat peralihan musim tidak terjadi secara serentak. Beberapa wilayah dapat lebih dahulu memasuki musim hujan, sementara daerah lain masih mengalami kemarau. Karena itu, masyarakat tidak dapat menggunakan satu tanggal sebagai patokan bahwa seluruh Indonesia akan memasuki musim hujan. BMKG terus memperbarui informasi musim dan curah hujan berdasarkan perkembangan atmosfer serta kondisi iklim terbaru.

Kesimpulan

DI Yogyakarta menjadi wilayah dengan catatan hari tanpa hujan terpanjang dalam pemutakhiran BMKG hingga 10 September 2026, yakni mencapai 131 hari. Titik tersebut berada di Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul.

Jawa Tengah dan Jawa Timur menyusul dengan catatan HTH terpanjang masing-masing mencapai 130 hari dan 129 hari, sedangkan Nusa Tenggara Timur mencapai 118 hari. Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah masing-masing mencatat hingga 89 hari.

Kondisi tersebut menjadi bagian dari musim kemarau 2026 yang diperkirakan BMKG berlangsung lebih panjang dan lebih kering di banyak wilayah Indonesia. Dengan sekitar 81 persen Zona Musim masih berada dalam musim kemarau pada awal September, masyarakat perlu mengantisipasi dampak kekeringan, terutama terkait ketersediaan air dan risiko kebakaran.

Posting Komentar untuk " Daftar Daerah Terlama Tidak Hujan di Indonesia, Jogja Nomor 1"