Gen Z Tak Lagi Ucap 'Halo' saat Angkat Telepon, Ini Alasannya
Kebiasaan menjawab telepon dengan mengucapkan kata “halo” perlahan mulai ditinggalkan sebagian anak muda, terutama Generasi Z. Bagi generasi yang tumbuh bersama smartphone, aplikasi pesan instan, dan fitur identifikasi penelepon, mengucapkan “halo” sebelum mengetahui siapa yang berada di ujung telepon dianggap tidak lagi selalu diperlukan.
Fenomena ini bahkan menjadi pembahasan baru mengenai etika bertelepon. Sebagian Gen Z memilih diam beberapa detik ketika menerima panggilan dari nomor yang tidak dikenal, menunggu penelepon berbicara terlebih dahulu. Perubahan kebiasaan tersebut bukan semata-mata soal gaya komunikasi, tetapi juga berkaitan dengan caller ID, rasa tidak nyaman terhadap panggilan telepon, serta kekhawatiran terhadap penipuan berbasis suara dan AI.
Mengapa Gen Z Tidak Lagi Mengatakan "Halo"?
Salah satu penyebab utamanya adalah perubahan cara manusia menggunakan telepon. Pada masa telepon rumah masih menjadi alat komunikasi utama, penerima tidak mengetahui siapa yang menelepon sebelum mengangkat gagang telepon. Kata “halo” berfungsi sebagai tanda bahwa sambungan telah tersambung sekaligus membuka percakapan.
Situasinya berbeda dengan smartphone. Nama atau nomor penelepon biasanya sudah muncul di layar sebelum panggilan dijawab. Karena identitas penelepon sudah diketahui, sebagian anak muda merasa tidak perlu lagi mengawali percakapan dengan “halo”.
The New York Times, sebagaimana dikutip sejumlah media, menyoroti perubahan etika tersebut dan mencatat bahwa sebagian Gen Z kini langsung menjawab sesuai konteks, misalnya dengan “hi”, “what’s up”, atau bahkan tidak mengatakan apa-apa dan menunggu penelepon berbicara.
Takut Panggilan Penipuan Jadi Salah Satu Faktor
Alasan lain yang semakin penting adalah meningkatnya kewaspadaan terhadap scam call. Panggilan dari nomor tidak dikenal kini bisa berasal dari telemarketing, spam, penipuan, atau sistem otomatis. Karena itu, sebagian anak muda memilih tidak langsung berbicara ketika menerima panggilan yang mencurigakan.
Ada pula kekhawatiran bahwa suara seseorang dapat direkam dan kemudian disalahgunakan dalam penipuan berbasis teknologi AI. Teknologi kloning suara memungkinkan suara seseorang ditiru untuk menciptakan percakapan atau pesan yang seolah-olah berasal dari orang tersebut.
The Guardian melaporkan bahwa kekhawatiran terhadap penipuan berbasis AI menjadi salah satu alasan orang mulai menghindari mengucapkan “hello” terlebih dahulu. Jika menerima panggilan dari nomor yang tidak dikenal, sejumlah pakar keamanan menyarankan penerima menunggu sampai mengetahui siapa peneleponnya sebelum memberikan informasi atau melanjutkan percakapan.
"Diam Dulu" Menjadi Kebiasaan Baru
Alih-alih mengatakan “halo”, pola yang semakin sering digunakan adalah mengangkat telepon dan diam sejenak. Jika penelepon memang seseorang yang dikenal, biasanya mereka akan langsung memperkenalkan diri atau menyebut tujuan menelepon.
Cara tersebut dianggap memberikan kontrol lebih besar kepada penerima telepon. Mereka tidak perlu memberikan informasi suara atau langsung terlibat dalam percakapan sebelum mengetahui siapa yang menelepon.
Kebiasaan ini juga muncul bersamaan dengan meningkatnya jumlah panggilan otomatis. Penelitian terbaru terhadap ribuan panggilan masuk menemukan adanya proporsi signifikan panggilan yang menggunakan suara otomatis atau sintetis, termasuk panggilan yang terhubung tetapi tidak langsung menghadirkan manusia di ujung sambungan.
Gen Z Memang Lebih Suka Pesan Teks
Perubahan kebiasaan tersebut tidak dapat dilepaskan dari cara Gen Z berkomunikasi sehari-hari. Bagi banyak anak muda, komunikasi melalui WhatsApp, DM media sosial, SMS, atau aplikasi pesan dianggap lebih fleksibel dibandingkan panggilan telepon. Pesan dapat dibaca dan dijawab ketika penerima memiliki waktu.
Survei yang dikutip Seoul Economic Daily menunjukkan bahwa dalam sebuah survei terhadap 765 anggota Gen Z Korea Selatan, 73,9 persen lebih memilih pesan teks atau aplikasi pesan, sementara hanya 11,4 persen yang memilih panggilan telepon sebagai bentuk komunikasi yang disukai. Pola tersebut membuat panggilan telepon dianggap lebih "mendesak". Ketika seseorang menelepon tanpa pemberitahuan, penerima bisa bertanya-tanya apakah ada masalah penting.
Fenomena "Phone Phobia" di Kalangan Anak Muda
Tidak semua Gen Z takut menggunakan telepon. Namun, sebagian memang mengalami apa yang sering disebut sebagai phone phobia atau kecemasan terhadap panggilan telepon. Dalam survei yang dilakukan portal pekerjaan Albachung terhadap 765 anggota Gen Z Korea Selatan, 40,8 persen responden mengatakan pernah mengalami gejala phone phobia. Angka tersebut meningkat dari 30 persen pada 2022 menjadi 35,7 persen pada 2023 sebelum mencapai 40,8 persen dalam survei berikutnya.
Gejala yang paling banyak dilaporkan adalah merasa tegang atau cemas sebelum menjawab telepon, yang disebut oleh 68,3 persen responden. Sebanyak 54,2 persen mengatakan mereka menghindari atau tidak menjawab panggilan, sementara 48,7 persen mengkhawatirkan kemungkinan salah bicara saat bertelepon.
Panggilan dari Orang Tak Dikenal Lebih Membuat Cemas
Menariknya, ketidaknyamanan tersebut tidak selalu berlaku untuk semua jenis panggilan. Penelitian YouGov yang dikutip BGR menunjukkan bahwa Gen Z justru cukup nyaman melakukan panggilan kepada teman atau anggota keluarga. Hampir separuh responden Gen Z mengatakan mereka sangat nyaman menelepon teman atau keluarga, sementara sekitar sepertiga lainnya cukup nyaman.
Masalahnya lebih terlihat ketika mereka harus menelepon orang yang tidak dikenal. Sekitar 36 persen Gen Z menyatakan cukup tidak nyaman menelepon orang asing, sedangkan 29 persen merasa sangat tidak nyaman.
Artinya, stereotip bahwa Gen Z sama sekali tidak mau berbicara lewat telepon sebenarnya terlalu sederhana. Mereka tetap menggunakan panggilan suara ketika komunikasi tersebut dianggap perlu, tetapi lebih selektif mengenai siapa yang menelepon dan dalam konteks apa.
Kata "Halo" Sebenarnya Punya Sejarah Panjang
Menariknya, kebiasaan mengucapkan “halo” saat menjawab telepon ternyata bukan sesuatu yang setua telepon itu sendiri. Ketika telepon mulai berkembang pada akhir abad ke-19, Alexander Graham Bell disebut lebih menyukai sapaan “ahoy-hoy” untuk menjawab panggilan. Namun, Thomas Edison kemudian ikut mempopulerkan “hello” sebagai sapaan melalui telepon.
Seiring waktu, “hello” menjadi standar komunikasi telepon di banyak negara berbahasa Inggris. Kini, lebih dari satu abad kemudian, kebiasaan tersebut mulai mengalami perubahan seiring transformasi teknologi komunikasi.
Apakah Mengatakan "Halo" Kini Berbahaya?
Tidak tepat jika menyimpulkan bahwa setiap orang yang mengatakan “halo” ketika menerima telepon otomatis berisiko menjadi korban penipuan. Kekhawatiran utamanya adalah memberikan informasi kepada penelepon yang tidak dikenal dan berinteraksi dengan panggilan mencurigakan. Teknologi AI memang membuat pemalsuan suara semakin mudah, tetapi bukan berarti satu kata “halo” saja otomatis membuat identitas seseorang dapat dicuri.
Penelitian terhadap lebih dari 10 ribu panggilan scam dan spam pada 2026 menunjukkan bahwa pelaku penipuan umumnya menggunakan pola percakapan tertentu untuk mendapatkan informasi pribadi. Data yang diburu dapat berupa alamat, tanggal lahir, hingga informasi sensitif lainnya.
Karena itu, langkah keamanan yang lebih penting adalah tidak memberikan data pribadi, kode OTP, PIN, password, informasi rekening, atau mengikuti instruksi mencurigakan dari penelepon yang identitasnya tidak jelas.
Perubahan Etika Telepon Antar-Generasi
Perbedaan kebiasaan tersebut akhirnya menciptakan semacam kesenjangan etika komunikasi. Bagi generasi yang tumbuh dengan telepon rumah, tidak mengatakan “halo” ketika mengangkat telepon bisa dianggap tidak sopan. Sementara bagi sebagian Gen Z, diam beberapa detik justru dianggap sebagai cara normal untuk memastikan siapa yang menelepon.
Perbedaan ini sebenarnya mirip dengan perubahan etika komunikasi lainnya. Dulu, seseorang mungkin dianggap tidak sopan jika tidak membalas telepon. Kini, mengirim pesan terlebih dahulu untuk menanyakan apakah seseorang bisa berbicara justru dianggap lebih menghargai waktu penerima.
Teknologi tidak hanya mengubah perangkat komunikasi, tetapi juga mengubah aturan sosial mengenai kapan dan bagaimana seseorang seharusnya berkomunikasi.
Bukan Berarti "Halo" Akan Hilang Sepenuhnya
Meski penggunaannya mulai berkurang di kalangan tertentu, “halo” kemungkinan belum akan menghilang dalam waktu dekat. Sapaan tersebut masih lazim digunakan oleh banyak generasi dan tetap menjadi bentuk pembuka percakapan yang sederhana. Bahkan di kalangan Gen Z sendiri, kebiasaan dapat berbeda berdasarkan situasi.
Seseorang mungkin tidak mengatakan “halo” ketika menerima panggilan dari nomor asing, tetapi langsung berkata “halo” ketika ibunya, teman dekat, atau rekan kerja menelepon. Dengan kata lain, yang berubah bukan hanya kata sapaan, tetapi konteks penggunaannya.
Kesimpulan
Fenomena Gen Z yang tidak lagi selalu mengucapkan “halo” saat mengangkat telepon merupakan bagian dari perubahan budaya komunikasi di era smartphone. Caller ID membuat identitas penelepon bisa diketahui sebelum panggilan dijawab. Kebiasaan menggunakan pesan teks juga membuat telepon suara terasa lebih formal atau mendesak. Di saat yang sama, maraknya spam call, penipuan telepon, dan teknologi kloning suara berbasis AI membuat sebagian anak muda memilih menunggu penelepon berbicara terlebih dahulu.
Jadi, bukan berarti Gen Z tidak tahu sopan santun. Mereka hanya tumbuh dalam lingkungan komunikasi yang berbeda, sehingga aturan sederhana seperti mengucapkan “halo” kini tidak lagi dianggap wajib dalam setiap panggilan.

Posting Komentar untuk " Gen Z Tak Lagi Ucap 'Halo' saat Angkat Telepon, Ini Alasannya"