5 Poin Pidato Prabowo di KTT BRICS India, Apa Saja?
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan sejumlah pesan strategis saat menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-18 BRICS di Bharat Mandapam, New Delhi, India, pada 12-13 September 2026. Dalam forum tersebut, Prabowo tidak hanya membawa kepentingan Indonesia, tetapi juga menyuarakan penguatan posisi negara-negara berkembang atau Global South.
Pidato Prabowo menyoroti isu kemandirian nasional, ketahanan pangan, sumber daya alam, industrialisasi, rantai pasok global, hingga perlunya tata kelola dunia yang lebih adil. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya kemudian merangkum tiga pesan utama Prabowo, yakni kemandirian nasional, persatuan Global South, serta penguatan kerja sama BRICS. Berikut lima poin penting yang disampaikan Prabowo di KTT BRICS 2026.
1. Indonesia Tidak Ingin Didikte Kekuatan Mana Pun
Salah satu pesan paling tegas Prabowo adalah mengenai kemandirian Indonesia. Dalam sesi bertema Inclusive Global Governance and Strengthening Multilateralism, Prabowo menegaskan Indonesia tidak ingin bergantung atau didikte oleh satu maupun dua kekuatan tertentu.
"Kami tidak suka didikte oleh satu atau dua kekuatan tertentu." Menurut Prabowo, ketangguhan sebuah negara harus dimulai dari kemampuan memenuhi kebutuhan dasar rakyatnya sendiri, termasuk pangan, energi, pendidikan, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Ia menilai negara yang memiliki fondasi domestik kuat akan lebih mampu menentukan kepentingannya sendiri sekaligus berkontribusi terhadap perdamaian dan stabilitas global. Prabowo juga mencontohkan sektor energi sebagai salah satu bidang yang perlu diperkuat melalui konektivitas dan kerja sama antarnegara BRICS.
2. Ketahanan Pangan Jadi Modal Kemandirian
Poin kedua yang mendapat perhatian adalah ketahanan pangan. Prabowo menyampaikan bahwa Indonesia kini memiliki kapasitas yang semakin besar untuk berkontribusi terhadap ketahanan pangan dunia. Ia menyinggung perubahan posisi Indonesia dari negara yang sebelumnya mengimpor sejumlah komoditas pangan menjadi negara yang mulai mampu melakukan ekspor.
Presiden menyatakan Indonesia siap meningkatkan dukungan terhadap kebutuhan pangan dunia seiring dengan meningkatnya kapasitas produksi nasional. Pesan ini sekaligus memperlihatkan bahwa pangan tidak hanya dipandang sebagai persoalan domestik. Bagi Prabowo, kemampuan memproduksi pangan merupakan bagian dari ketahanan nasional sekaligus dapat menjadi kekuatan diplomasi ekonomi Indonesia.
Dengan populasi BRICS yang sangat besar dan kebutuhan pangan yang terus meningkat, Indonesia melihat peluang kerja sama di sektor pertanian, perdagangan pangan, teknologi produksi, hingga distribusi.
3. Sumber Daya Alam dan Mineral Kritis untuk "Abad Hijau"
Prabowo juga membawa isu perubahan iklim dan pemanfaatan sumber daya alam ke dalam pembahasan BRICS. Indonesia, kata Prabowo, memiliki berbagai sumber daya yang dapat menjadi modal pembangunan masa depan, mulai dari mineral kritis, logam tanah jarang, energi terbarukan, hingga hutan.
Di sisi lain, Indonesia juga menghadapi berbagai kerentanan akibat posisinya sebagai negara kepulauan di kawasan Cincin Api Pasifik. Kenaikan permukaan laut, cuaca ekstrem, dan aktivitas gunung berapi menjadi tantangan yang harus dihadapi. Prabowo menekankan bahwa ketangguhan menghadapi perubahan iklim harus berjalan seiring dengan pembangunan nasional. Ia juga menilai negara-negara BRICS secara kolektif memiliki sumber daya mineral kritis dan energi yang dapat menjadi fondasi pembangunan yang lebih berkelanjutan.
Karena itu, kerja sama BRICS tidak hanya diarahkan pada perdagangan komoditas mentah, tetapi juga pengembangan teknologi bersih dan penciptaan nilai tambah.
4. Ajak BRICS Melakukan Industrialisasi Bersama
Poin berikutnya adalah ajakan untuk memperkuat industrialisasi dan rantai pasok global. Prabowo bahkan menawarkan langkah konkret agar negara-negara BRICS tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah, tetapi bersama-sama mengembangkan industri dan kapasitas produksi.
"Mari kita melakukan industrialisasi bersama. Mari kita mengoptimalkan sumber daya dan kapasitas yang kita miliki bersama." Menurut Prabowo, negara-negara BRICS sebenarnya telah memiliki sumber daya, kapasitas produksi, teknologi, pasar, serta jaringan perdagangan yang saling melengkapi.
Tantangannya adalah menghubungkan seluruh kekuatan tersebut agar menghasilkan nilai ekonomi yang lebih besar. Kerja sama tersebut diharapkan mampu meningkatkan investasi, memperkuat industri, menciptakan lapangan kerja, serta membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat negara-negara berkembang.
Dengan demikian, BRICS diharapkan tidak hanya menjadi forum politik dan ekonomi, tetapi juga menjadi kekuatan produksi dan rantai nilai global.
5. Perkuat Suara Global South dan Reformasi Tata Kelola Dunia
Poin kelima berkaitan dengan posisi negara-negara berkembang dalam sistem global. Prabowo membawa kembali semangat Konferensi Asia-Afrika (KAA) 1955 sebagai pesan persatuan negara-negara Global South. Indonesia mendorong agar negara berkembang memiliki posisi yang lebih kuat dalam menentukan arah tata kelola dunia.
Dalam pandangan pemerintah Indonesia, BRICS dapat menjadi salah satu wadah untuk memperkuat kerja sama negara-negara berkembang sekaligus mendorong sistem internasional yang lebih adil dan inklusif.
Prabowo juga mendorong agar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tetap menjadi pusat sistem multilateral dunia, tetapi perlu diperkuat agar lebih representatif, responsif, dan mampu menghasilkan manfaat konkret bagi masyarakat internasional. Pesan tersebut menjadi penting karena BRICS kini memiliki cakupan ekonomi dan geopolitik yang semakin besar. Indonesia sendiri menjadi anggota penuh BRICS sejak Januari 2025 dan menjadi negara Asia Tenggara pertama yang bergabung sebagai anggota penuh.
BRICS Harus Menghasilkan Manfaat Nyata
Secara keseluruhan, pidato Prabowo di KTT BRICS 2026 menunjukkan tiga garis besar: kemandirian, solidaritas Global South, dan kerja sama ekonomi konkret. Prabowo tidak ingin BRICS berhenti sebagai forum pertemuan para pemimpin. Ia mendorong kekuatan kolektif negara-negara anggota diterjemahkan menjadi kerja sama yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, terutama melalui pangan, energi, investasi, industrialisasi, teknologi, dan penciptaan lapangan kerja.
KTT BRICS ke-18 sendiri mengangkat empat pilar utama, yakni ketahanan, inovasi, kerja sama, dan keberlanjutan. Agenda tersebut menjadi konteks bagi berbagai usulan Prabowo mengenai penguatan rantai pasok, industrialisasi, ketahanan pangan, energi, serta pemanfaatan sumber daya alam untuk menghadapi tantangan global.
Dengan demikian, lima poin utama pidato Prabowo dapat dirangkum sebagai berikut:
- Indonesia menegaskan kemandirian dan menolak didikte kekuatan tertentu.
- Ketahanan pangan menjadi fondasi kemandirian sekaligus kontribusi Indonesia bagi dunia.
- Mineral kritis, energi terbarukan, dan sumber daya alam didorong untuk mendukung pembangunan "abad hijau".
- BRICS diajak melakukan industrialisasi bersama dan memperkuat rantai pasok global.
- Negara-negara Global South didorong memiliki suara lebih kuat dalam tata kelola dunia dan reformasi sistem multilateral.
Melalui pesan tersebut, Indonesia berupaya menempatkan keanggotaannya di BRICS bukan sekadar sebagai status diplomatik, tetapi sebagai instrumen untuk memperkuat kepentingan ekonomi nasional sekaligus mendorong tatanan global yang lebih seimbang.

Posting Komentar untuk " 5 Poin Pidato Prabowo di KTT BRICS India, Apa Saja?"