Ili Lewotolok Erupsi 4 Kali dalam 48 Jam, Kolom Abu Capai 600 Meter

Lembata – Gunung Ili Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali menunjukkan aktivitas vulkanik. Dalam rentang 48 jam terakhir, gunung api tersebut tercatat mengalami empat kali erupsi dengan tinggi kolom abu mencapai sekitar 600 meter di atas puncak.

Aktivitas ini menjadi perhatian karena Ili Lewotolok merupakan salah satu gunung api aktif di NTT yang terus mengalami erupsi sepanjang 2026. Data pemantauan menunjukkan aktivitas letusan dan hembusan masih berlangsung, sementara status gunung berada pada Level II atau Waspada.

Masyarakat di sekitar gunung pun diminta tetap waspada dan mengikuti perkembangan informasi resmi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi.

Empat Kali Erupsi dalam 48 Jam

Rangkaian erupsi terbaru menunjukkan bahwa aktivitas Ili Lewotolok belum sepenuhnya mereda. Dalam 48 jam terakhir, empat erupsi tercatat terjadi dengan kolom abu yang dapat mencapai sekitar 600 meter dari atas puncak. Aktivitas tersebut memperlihatkan bahwa suplai energi dan material vulkanik di dalam sistem gunung api masih aktif.

Erupsi gunung api sendiri tidak selalu memiliki intensitas yang sama. Tinggi kolom abu dapat berubah-ubah tergantung kekuatan letusan, tekanan gas, kondisi kawah serta faktor meteorologi seperti arah dan kecepatan angin.

Karena itu, masyarakat di sekitar Ili Lewotolok tetap perlu memperhatikan setiap pembaruan dari petugas pengamatan.

Kolom Abu Mencapai 600 Meter

Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam erupsi terbaru adalah tinggi kolom abu yang mencapai sekitar 600 meter di atas puncak. Angka tersebut berarti material erupsi terdorong cukup tinggi ke atmosfer sebelum kemudian terbawa angin. Arah penyebaran abu dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti kondisi atmosfer. Abu vulkanik dapat mengganggu aktivitas masyarakat apabila mencapai permukiman. Partikel halus tersebut juga dapat menyebabkan iritasi mata dan gangguan saluran pernapasan, terutama bagi kelompok rentan.

Karena itu, masyarakat yang berada di sekitar wilayah terdampak dianjurkan menyiapkan masker pelindung hidung dan mulut serta perlengkapan untuk melindungi mata.

Status Ili Lewotolok Masih Level II

Meskipun kembali mengalami erupsi, status aktivitas Gunung Ili Lewotolok saat ini berada pada Level II atau Waspada. Status tersebut berbeda dengan Level III atau Siaga. Namun, status Waspada bukan berarti masyarakat dapat mengabaikan aktivitas gunung api.

PVMBG tetap menetapkan kawasan tertentu yang harus dihindari karena terdapat potensi bahaya langsung dari aktivitas erupsi, termasuk lontaran material vulkanik dan guguran lava. Masyarakat diminta tidak memasuki zona yang telah ditetapkan dalam rekomendasi keselamatan.

Radius Bahaya Harus Dipatuhi

Berdasarkan rekomendasi pengamatan sebelumnya, masyarakat dan pengunjung tidak diperbolehkan melakukan aktivitas dalam radius 2 kilometer dari pusat aktivitas serta radius 3 kilometer pada sektor selatan dan tenggara. Pembatasan tersebut dibuat untuk mengantisipasi bahaya material erupsi yang dapat terlontar atau guguran lava dari tubuh gunung.

Petugas juga mengingatkan adanya potensi guguran atau longsoran lava dan awan panas pada sejumlah sektor gunung. Radius rekomendasi dapat berubah apabila terjadi peningkatan aktivitas. Karena itu, masyarakat harus mengacu pada pengumuman resmi terbaru dan tidak hanya berpatokan pada informasi lama.

Aktivitas Vulkanik Sempat Sangat Tinggi

Erupsi terbaru sebenarnya merupakan bagian dari rangkaian aktivitas Ili Lewotolok yang sudah berlangsung dalam beberapa waktu terakhir. Pada Jumat (4/9/2026), misalnya, Pos Pengamatan Gunung Api mencatat 378 kali letusan dalam periode 00.00-24.00 WITA. Letusan tersebut menghasilkan kolom abu setinggi 200-600 meter dengan warna putih hingga kelabu.

Aktivitas pada hari itu juga disertai aliran lava baru sejauh sekitar 500 meter dari bibir kawah ke sektor timur laut. Selain itu, teramati guguran dengan jarak luncur mencapai sekitar 700 meter ke arah tenggara. Data tersebut menunjukkan bahwa aktivitas Ili Lewotolok tidak hanya berupa semburan abu, tetapi juga berkaitan dengan dinamika lava di sekitar kawah.

Lava Baru Mengalir 500 Meter

Munculnya aliran lava baru menjadi salah satu indikator penting dalam pemantauan aktivitas Ili Lewotolok. Petugas sebelumnya mengamati aliran lava baru menuju sektor timur laut dengan jarak sekitar 500 meter dari bibir kawah. Endapan lava lama di sektor tersebut mencapai sekitar 1.100 meter, sedangkan endapan lava di sektor selatan-tenggara mencapai sekitar 1.800 meter dari bibir kawah.

Aliran lava memang bergerak lebih lambat dibandingkan lontaran material erupsi, tetapi tetap dapat menjadi ancaman apabila memasuki wilayah yang dihuni atau digunakan masyarakat. Karena itu, warga tidak boleh mendekati aliran lava hanya untuk melihat atau merekam aktivitas gunung.

Ada Guguran dan Lontaran Material

Aktivitas Ili Lewotolok juga disertai guguran serta lontaran material. Pada pengamatan 4 September, material lontaran teramati bergerak ke arah selatan-tenggara dengan jarak sekitar 200-300 meter dari bibir kawah. Guguran mencapai jarak sekitar 700 meter ke arah tenggara.

Kondisi tersebut menjadi alasan mengapa radius bahaya tetap diberlakukan. Material vulkanik yang terlontar dapat memiliki temperatur tinggi dan berbahaya bagi siapa pun yang berada terlalu dekat dengan pusat erupsi.

Masyarakat Diminta Menggunakan Masker

Abu vulkanik menjadi salah satu dampak yang paling mungkin dirasakan masyarakat ketika terjadi erupsi. Petugas mengimbau warga menggunakan masker pelindung hidung dan mulut serta perlengkapan lain untuk melindungi mata dan kulit dari paparan abu vulkanik.

Masker sangat penting terutama ketika abu mulai turun di permukiman atau terbawa angin ke wilayah warga. Masyarakat juga dianjurkan tidak terlalu lama berada di luar rumah ketika terjadi hujan abu. Bagi warga yang memiliki gangguan pernapasan, paparan abu dapat meningkatkan risiko munculnya keluhan.

Tempat Penampungan Air Perlu Ditutup

Selain berdampak pada pernapasan, abu vulkanik juga dapat mencemari air yang digunakan masyarakat. Karena itu, warga disarankan menutup tempat penampungan air bersih untuk mencegah abu masuk ke dalamnya. Imbauan ini menjadi penting terutama bagi masyarakat yang mengandalkan bak penampungan air hujan atau sumber air terbuka.

Jika abu vulkanik telah masuk ke tempat penampungan, air sebaiknya tidak langsung digunakan untuk konsumsi sebelum dipastikan kebersihannya.

Bandara Gewayantana Sempat Ditutup

Aktivitas Ili Lewotolok juga sempat berdampak pada transportasi udara di wilayah NTT. Pada Sabtu (5/9/2026), Bandara Gewayantana Larantuka di Flores Timur ditutup sementara akibat dampak erupsi Ili Lewotolok. Status bandara ditetapkan sebagai aerodrome closed.

Akibat penutupan tersebut, penerbangan Kupang-Larantuka-Kupang dibatalkan. Sebanyak 57 penumpang terdampak, terdiri dari 27 penumpang rute Kupang-Larantuka dan 30 penumpang rute sebaliknya. Peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa dampak aktivitas gunung api dapat menjangkau sektor transportasi, meskipun pusat erupsi berada di pulau lain.

Mengapa Abu Vulkanik Berbahaya bagi Penerbangan?

Abu vulkanik menjadi ancaman serius bagi pesawat karena partikel halusnya dapat masuk ke mesin. Pada kondisi tertentu, abu dapat meleleh akibat temperatur tinggi di dalam mesin kemudian menempel pada komponen mesin. Hal ini berpotensi mengganggu kinerja mesin pesawat.

Selain itu, abu vulkanik dapat mengurangi jarak pandang dan memengaruhi keselamatan penerbangan. Karena itu, otoritas penerbangan harus mempertimbangkan kondisi ruang udara sebelum memutuskan apakah penerbangan dapat dilakukan.

Aktivitas Gunung Api Indonesia Dinamis

Erupsi Ili Lewotolok terjadi di tengah meningkatnya perhatian terhadap aktivitas sejumlah gunung api di Indonesia. Pada 31 Agustus 2026, enam gunung api di Indonesia tercatat mengalami erupsi dalam waktu yang hampir bersamaan. Gunung-gunung tersebut berada di beberapa wilayah, termasuk Sumatra, Jawa, NTT dan Maluku Utara.

PVMBG menegaskan bahwa kejadian tersebut merupakan dinamika vulkanik masing-masing gunung dan tidak menunjukkan adanya hubungan sistemik yang membuat satu gunung memicu gunung lainnya. Dengan demikian, aktivitas Ili Lewotolok perlu dipahami sebagai dinamika sistem vulkaniknya sendiri.

Tidak Perlu Panik, tetapi Jangan Lengah

Erupsi tidak selalu berarti bencana besar akan segera terjadi. Namun, masyarakat juga tidak boleh menganggap aktivitas gunung api sebagai sesuatu yang aman untuk didekati. Status Level II menunjukkan bahwa terdapat potensi bahaya yang harus diantisipasi. Kepatuhan terhadap radius larangan aktivitas merupakan salah satu bentuk mitigasi paling penting.

Masyarakat juga sebaiknya tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi di media sosial. Informasi mengenai perubahan status gunung, radius bahaya dan rekomendasi evakuasi sebaiknya diperoleh dari PVMBG, Badan Geologi, BNPB, BPBD dan pemerintah daerah.

Warga Perlu Bersiap Jika Abu Mengarah ke Permukiman

Jika abu vulkanik mulai turun, warga dapat melakukan sejumlah langkah sederhana untuk mengurangi dampaknya. Pertama, gunakan masker ketika berada di luar ruangan. Kedua, lindungi mata menggunakan kacamata yang sesuai. Ketiga, tutup pintu dan jendela apabila konsentrasi abu meningkat.

Warga juga perlu melindungi sumber air dan membersihkan abu secara hati-hati agar tidak kembali beterbangan. Untuk kendaraan, abu vulkanik juga dapat mengganggu mesin dan komponen tertentu. Karena itu, penggunaan kendaraan sebaiknya dibatasi apabila kondisi udara dipenuhi abu.

Pemantauan Harus Terus Dilakukan

Rangkaian erupsi dalam 48 jam terakhir menunjukkan pentingnya pemantauan berkelanjutan. Tinggi kolom abu, jumlah letusan, arah penyebaran material, aktivitas kegempaan, aliran lava dan guguran dapat berubah dengan cepat. Karena itu, satu kali pengamatan tidak dapat menjadi dasar untuk menyimpulkan bahwa aktivitas gunung telah sepenuhnya aman.

Petugas Pos Pengamatan Gunung Api terus menjadi salah satu sumber penting dalam memberikan data aktivitas terkini kepada pemerintah dan masyarakat.

Kesimpulan

Gunung Ili Lewotolok di Kabupaten Lembata, NTT, kembali menunjukkan aktivitas erupsi. Dalam rentang 48 jam terakhir, tercatat empat kali erupsi, dengan kolom abu mencapai sekitar 600 meter di atas puncak. Aktivitas tersebut terjadi setelah sebelumnya gunung mencatat ratusan letusan dalam sehari. Pada 4 September, misalnya, tercatat 378 kali letusan, disertai aliran lava baru sejauh sekitar 500 meter dan guguran hingga 700 meter.

Saat ini, status Ili Lewotolok berada pada Level II atau Waspada. Masyarakat diminta mematuhi radius larangan aktivitas, menggunakan masker ketika terjadi hujan abu, melindungi mata dan kulit, serta menutup tempat penampungan air bersih.

Dampak erupsi juga sempat terasa pada sektor penerbangan ketika Bandara Gewayantana Larantuka ditutup sementara dan 57 penumpang terdampak pembatalan penerbangan. Dengan aktivitas vulkanik yang masih dinamis, masyarakat di sekitar Ili Lewotolok diimbau tetap tenang tetapi tidak lengah, serta selalu mengikuti informasi resmi PVMBG dan pemerintah daerah sebelum melakukan aktivitas di sekitar kawasan gunung.

Posting Komentar untuk " Ili Lewotolok Erupsi 4 Kali dalam 48 Jam, Kolom Abu Capai 600 Meter"