Jangan Panik, Ini Pertolongan Pertama Digigit Anjing
Gigitan anjing bisa terjadi secara tiba-tiba, baik saat seseorang berinteraksi dengan anjing peliharaan maupun ketika berhadapan dengan anjing liar. Meski luka terlihat kecil, gigitan anjing tidak boleh dianggap sepele karena dapat menyebabkan infeksi bakteri maupun menjadi jalur penularan rabies.
Hal terpenting setelah digigit adalah jangan panik dan segera lakukan pertolongan pertama. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sama-sama menekankan pentingnya mencuci luka dengan sabun atau deterjen dan air mengalir selama sekitar 15 menit. Berikut langkah yang perlu dilakukan jika Anda atau orang di sekitar mengalami gigitan anjing.
1. Segera Menjauh dari Anjing
Langkah pertama adalah memastikan korban berada di tempat yang aman. Jangan mencoba kembali mendekati atau menangkap anjing secara langsung, terutama jika hewan tersebut terlihat agresif, sakit, atau tidak dikenal.
Jika memungkinkan dan aman, catat ciri-ciri anjing, lokasi kejadian, serta informasi mengenai pemiliknya. Informasi tersebut nantinya dapat membantu petugas kesehatan dan kesehatan hewan melakukan penilaian risiko.
2. Cuci Luka Selama 15 Menit
Setelah berada di tempat aman, segera cuci bagian tubuh yang digigit menggunakan sabun atau deterjen dan air mengalir selama sekitar 15 menit. Usahakan seluruh bagian luka terkena aliran air dan sabun. Jangan hanya membilas luka sebentar karena pencucian menyeluruh merupakan salah satu langkah paling penting untuk mengurangi risiko masuknya virus rabies dan kuman penyebab infeksi.
Kemenkes juga secara khusus menganjurkan luka gigitan atau cakaran dari hewan penular rabies dicuci menggunakan sabun atau deterjen di bawah air mengalir selama 15 menit.
3. Gunakan Antiseptik Setelah Luka Dicuci
Setelah proses pencucian selesai, luka dapat diberikan antiseptik sesuai anjuran tenaga kesehatan. WHO menyebut preparat yang mengandung povidone-iodine atau bahan lain yang memiliki aktivitas terhadap virus rabies dapat digunakan setelah luka dicuci.
Hindari memasukkan bahan-bahan yang dapat mengiritasi luka, seperti bubuk, cabai, cairan asam atau bahan tradisional yang tidak terbukti aman. WHO secara khusus mengingatkan agar bahan iritan tidak digunakan pada luka yang berpotensi terpapar rabies.
4. Jika Berdarah, Kendalikan Perdarahan
Gigitan yang cukup dalam dapat menyebabkan perdarahan. Setelah luka dibersihkan, gunakan kain atau kasa bersih untuk memberikan tekanan lembut pada area yang berdarah. Jika perdarahan sangat banyak, tidak berhenti setelah diberikan tekanan, atau luka tampak dalam dan lebar, korban membutuhkan pertolongan medis segera.
Khusus untuk luka yang berisiko tinggi terinfeksi, dokter dapat menentukan apakah diperlukan perawatan lebih lanjut, termasuk antibiotik. WHO menyebut antibiotik profilaksis dapat diberikan pada luka gigitan berisiko tinggi atau kondisi tertentu.
5. Jangan Menunggu Muncul Gejala Rabies
Salah satu kesalahan yang perlu dihindari adalah menunggu sampai korban menunjukkan gejala rabies sebelum mencari pertolongan. Rabies merupakan penyakit yang menyerang sistem saraf dan dapat berakibat fatal setelah gejala klinis muncul. Namun, rabies sebenarnya dapat dicegah apabila paparan ditangani dengan tepat dan secepat mungkin.
WHO menyebut penanganan pascapaparan atau post-exposure prophylaxis (PEP) dapat mencakup pencucian luka, vaksin rabies, serta pemberian imunoglobulin rabies atau antibodi monoklonal pada kondisi tertentu. Karena itu, jangan menunggu muncul demam, kesulitan menelan, takut air, atau gejala lainnya untuk pergi ke fasilitas kesehatan.
6. Segera Datang ke Puskesmas atau Rumah Sakit
Setelah pertolongan pertama dilakukan, korban sebaiknya segera diperiksa di fasilitas kesehatan, terutama jika kulit sampai terluka, terdapat darah, luka berada di wajah atau leher, atau status vaksinasi rabies anjing tidak diketahui.
Kemenkes menganjurkan korban gigitan hewan penular rabies segera mendatangi Puskesmas, rumah sakit, atau Rabies Center untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Dokter atau tenaga kesehatan akan menentukan apakah korban membutuhkan Vaksin Anti Rabies (VAR), Serum Anti Rabies (SAR), atau tindakan lainnya. Jangan membeli atau menyuntikkan vaksin rabies sendiri tanpa penilaian tenaga kesehatan karena keputusan pemberian vaksin dan serum bergantung pada jenis serta tingkat paparan.
7. Bagaimana Menentukan Risiko Paparan Rabies?
Tidak semua kontak dengan anjing otomatis berarti seseorang terkena rabies. WHO membagi paparan berdasarkan tingkat risikonya. Kontak pada kulit yang masih utuh, misalnya menyentuh atau memberi makan hewan, umumnya tidak termasuk paparan rabies. Namun, gigitan atau cakaran yang menembus kulit merupakan paparan yang membutuhkan penilaian medis. Paparan berat, seperti gigitan yang menembus kulit atau air liur hewan mengenai luka terbuka maupun selaput lendir, dapat memerlukan vaksin sekaligus imunoglobulin atau antibodi monoklonal sesuai penilaian medis.
Karena tingkat risiko tidak selalu dapat ditentukan hanya dari tampilan luka, korban sebaiknya tetap berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
8. Perhatikan Status Vaksinasi Anjing
Jika anjing merupakan hewan peliharaan dan pemiliknya diketahui, informasi mengenai vaksinasi rabies dapat membantu tenaga kesehatan melakukan penilaian. Namun, adanya informasi bahwa anjing pernah divaksin bukan alasan untuk mengabaikan luka. Korban tetap perlu membersihkan luka dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Sebaliknya, apabila anjing tidak dikenal, tidak diketahui status vaksinasinya, atau menunjukkan perilaku yang mencurigakan, korban harus lebih waspada.
9. Jangan Membunuh atau Menangkap Anjing Sembarangan
Jika anjing yang menggigit dapat diamankan tanpa membahayakan orang lain, hewan tersebut dapat dilaporkan kepada petugas kesehatan hewan untuk dilakukan observasi. Kemenkes menyebut hewan yang menggigit dapat diamati selama 14 hari oleh pihak yang berwenang.
Namun, korban tidak perlu mempertaruhkan keselamatan dengan berusaha menangkap anjing agresif. Penanganan hewan sebaiknya dilakukan oleh petugas yang memiliki kewenangan dan perlengkapan yang sesuai.
10. Kenali Tanda Infeksi pada Luka
Selain rabies, gigitan anjing dapat menyebabkan infeksi bakteri.
Segera kembali ke fasilitas kesehatan apabila luka semakin:
- Merah dan membengkak.
- Terasa semakin nyeri.
- Mengeluarkan nanah.
- Terasa panas.
- Menimbulkan demam.
- Sulit digerakkan apabila gigitan berada di tangan atau kaki.
WHO menekankan bahwa penanganan gigitan hewan perlu mempertimbangkan risiko infeksi bakteri selain risiko rabies. Status imunisasi tetanus juga dapat menjadi pertimbangan dalam penanganan.
Jangan Lakukan Hal Ini Setelah Digigit Anjing
Ada beberapa tindakan yang sebaiknya dihindari setelah mengalami gigitan anjing. Pertama, jangan mengabaikan luka hanya karena ukurannya kecil. Luka tusukan akibat gigi dapat terlihat sederhana dari luar tetapi tetap memiliki risiko infeksi.
Kedua, jangan mengoleskan bahan iritan atau bahan tradisional yang tidak jelas ke dalam luka. WHO menyarankan menghindari bahan seperti bubuk, sari tanaman, asam, dan basa yang dapat mengiritasi jaringan. Ketiga, jangan menunda pemeriksaan hanya karena anjing terlihat sehat. Penilaian risiko rabies harus mempertimbangkan kondisi hewan, jenis kontak, lokasi kejadian, serta situasi rabies di wilayah tersebut.
Kapan Harus Segera ke IGD?
Korban sebaiknya mendapatkan pertolongan medis segera apabila:
- Perdarahan tidak berhenti.
- Luka sangat dalam atau lebar.
- Gigitan terjadi di wajah, kepala, leher, tangan, atau area genital.
- Korban adalah anak kecil atau lansia.
- Anjing tidak dikenal atau tidak dapat ditemukan.
- Status vaksinasi rabies anjing tidak diketahui.
- Anjing menunjukkan perilaku tidak normal.
- Air liur anjing mengenai luka terbuka atau mata, mulut, maupun hidung.
- Muncul tanda infeksi.
- Korban tidak mengetahui status vaksinasi tetanusnya.
Pada kondisi darurat dengan perdarahan berat atau cedera serius, prioritasnya adalah mendapatkan pertolongan medis segera.
Ingat Prinsip 3 Langkah Setelah Digigit
Untuk memudahkan masyarakat mengingatnya, Kemenkes menekankan tiga tindakan penting setelah terkena gigitan hewan penular rabies: cuci luka selama 15 menit, segera ke fasilitas kesehatan, dan laporkan atau koordinasikan penanganan hewan dengan petugas terkait.
Artinya, jangan panik, tetapi juga jangan menganggap remeh gigitan anjing. Cuci luka dengan sabun dan air mengalir selama 15 menit, berikan antiseptik, kemudian segera periksakan diri ke Puskesmas atau rumah sakit untuk menentukan kebutuhan vaksin rabies, serum, vaksin tetanus, atau pengobatan lain.
Penanganan yang cepat sangat penting karena pencegahan rabies harus dilakukan sebelum muncul gejala. Setelah gejala klinis rabies berkembang, penyakit ini hampir selalu berakibat fatal, sedangkan paparan dapat dicegah dengan penanganan pascapaparan yang tepat. Catatan: Artikel ini bersifat informasi umum dan tidak menggantikan pemeriksaan dokter atau tenaga kesehatan. Setiap korban gigitan anjing perlu dinilai berdasarkan kondisi luka dan risiko paparan rabies.

Posting Komentar untuk " Jangan Panik, Ini Pertolongan Pertama Digigit Anjing"