Jepang-Rusia Makin Panas Gara-gara Patung Perang Kontroversial

JAKARTA – Hubungan Jepang dan Rusia kembali memanas. Kali ini, perselisihan kedua negara dipicu sebuah monumen baru di Kota Khabarovsk, Rusia, yang dibuat untuk memperingati kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II.

Jepang memprotes keberadaan patung tersebut karena monumen menampilkan simbol kekaisaran Jepang, bunga krisan, dalam sebuah adegan yang menggambarkan kekalahan militer Jepang. Tokyo meminta Rusia menghapus simbol tersebut, tetapi Moskow menolak dan menyatakan bunga krisan akan tetap dipertahankan.

Perselisihan mengenai patung ini menambah panjang daftar persoalan yang membuat hubungan Tokyo dan Moskwa semakin tegang, mulai dari sengketa Kepulauan Kuril hingga perbedaan sikap terkait perang Rusia-Ukraina.

Monumen Baru Dibuka di Khabarovsk

Monumen kontroversial tersebut resmi dibuka pada Jumat, 4 September 2026, di Muravyov-Amursky Regional Park, Khabarovsk. Monumen itu disebut sebagai patung pertama di Rusia yang secara khusus didedikasikan untuk memperingati kekalahan Jepang yang dianggap sebagai kekuatan militeris pada akhir Perang Dunia II.

Desain monumen menggambarkan seorang prajurit Uni Soviet yang menghancurkan sebuah balok batu yang dihiasi lambang bunga krisan. Simbol tersebut merupakan simbol keluarga kekaisaran Jepang. Pembuatan monumen berkaitan dengan peristiwa Manchurian Strategic Offensive Operation, yang juga dikenal sebagai “August Storm”. Operasi Soviet dan Mongolia terhadap Tentara Kwantung Jepang dimulai pada 9 Agustus 1945 dan berlangsung hingga Jepang menyerah pada September tahun yang sama.

Jepang Minta Simbol Krisan Dihapus

Pemerintah Jepang tidak tinggal diam. Konsulat Jenderal Jepang di Khabarovsk dilaporkan meminta Rusia menghapus bunga krisan dari monumen tersebut. Bagi Tokyo, penggunaan lambang kekaisaran Jepang dalam sebuah monumen yang menggambarkan kekalahan Jepang memiliki muatan sejarah dan simbolis yang sensitif.

Permintaan tersebut disampaikan sehari sebelum monumen diresmikan. Namun, Rusia menolak permintaan itu. Nikolai Ovsyenko, wakil kepala departemen kebijakan negara di bidang kemanusiaan pada Administrasi Presiden Rusia sekaligus wakil ketua Russian Military Historical Society (RVIO), mengatakan bunga krisan akan tetap berada di monumen.

Rusia Sebut Krisan sebagai Simbol Militerisme Jepang

Rusia memiliki alasan sendiri mempertahankan desain tersebut. Ovsyenko mengatakan bunga krisan pada monumen dimaksudkan sebagai simbol militerisme Jepang yang menurut Moskwa telah melakukan kejahatan berat selama perang. Ia bahkan menyebut permintaan Jepang agar desain monumen diubah sebagai tindakan yang “sangat tidak tepat”.

Dengan demikian, Rusia tidak memandang bunga krisan sekadar sebagai lambang budaya atau keluarga kekaisaran Jepang. Dalam konteks monumen tersebut, simbol itu sengaja ditempatkan untuk merepresentasikan Jepang era perang dan kekuatan militer yang dikalahkan Uni Soviet.

Mengapa Bunga Krisan Sensitif bagi Jepang?

Bunga krisan memiliki posisi khusus dalam simbolisme Jepang. Varietas krisan tertentu dikenal sebagai lambang keluarga kekaisaran dan memiliki hubungan erat dengan institusi Kekaisaran Jepang. Karena itu, penggunaan simbol tersebut dalam monumen yang menggambarkan kehancuran atau kekalahan Jepang menimbulkan persoalan simbolis bagi Tokyo.

Kontroversi semakin sensitif karena monumen tersebut tidak sekadar mengenang berakhirnya perang, tetapi secara eksplisit menyoroti kekalahan Jepang yang disebut Rusia sebagai kekalahan Jepang yang “militeris”. Perbedaan cara memandang sejarah inilah yang membuat sebuah desain patung berubah menjadi persoalan diplomatik.

Khabarovsk Punya Peran Penting dalam Perang Dunia II

Pemilihan Khabarovsk sebagai lokasi monumen juga memiliki latar belakang sejarah. Kota tersebut menjadi salah satu pusat komando pasukan Soviet dan Mongolia dalam operasi militer terhadap Tentara Kwantung Jepang di Manchuria pada 1945. Operasi tersebut menjadi salah satu serangan terakhir Uni Soviet terhadap Jepang menjelang berakhirnya Perang Dunia II.

Menurut laporan mengenai monumen tersebut, lebih dari 700 ribu pasukan lawan dilaporkan menjadi korban dalam operasi tersebut, termasuk lebih dari 640 ribu orang yang ditawan. Sementara itu, kerugian pasukan Soviet yang tidak dapat dipulihkan diperkirakan sekitar 12 ribu personel. Bagi Rusia, kemenangan tersebut merupakan bagian penting dari sejarah militer negara. Karena itu, pembangunan monumen dapat dilihat sebagai upaya memperkuat narasi sejarah Rusia mengenai peran Uni Soviet dalam mengalahkan Jepang pada fase terakhir Perang Dunia II.

Sengketa Patung Terjadi di Tengah Hubungan yang Sudah Memburuk

Kontroversi monumen muncul ketika hubungan Jepang dan Rusia memang sudah berada dalam kondisi buruk. Salah satu sumber utama ketegangan adalah sengketa empat wilayah yang dikuasai Rusia tetapi diklaim Jepang, yakni Etorofu, Kunashiri, Shikotan, dan kelompok pulau Habomai. Jepang menyebut wilayah tersebut sebagai Northern Territories, sementara Rusia menyebutnya sebagai bagian dari Southern Kurils.

Sengketa tersebut telah berlangsung selama puluhan tahun dan menjadi salah satu alasan Jepang dan Rusia belum menandatangani perjanjian damai secara resmi yang mengakhiri status permusuhan Perang Dunia II.

Kunjungan Putin ke Pulau Sengketa Memanaskan Situasi

Ketegangan semakin meningkat setelah Presiden Rusia Vladimir Putin melakukan kunjungan ke Pulau Etorofu pada Agustus 2026. Etorofu merupakan pulau terbesar dari empat wilayah yang dikuasai Rusia tetapi diklaim Jepang.

Kunjungan tersebut menjadi perhatian besar karena selama bertahun-tahun Tokyo mempertahankan klaim bahwa wilayah tersebut merupakan bagian dari Jepang. Pemerintah Jepang kemudian menyampaikan protes keras. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menyebut kunjungan Putin ke wilayah yang disengketakan tersebut tidak dapat diterima.

Putin Balik Menyalahkan Jepang

Ketegangan diplomatik tidak berhenti pada sengketa wilayah. Pada awal September, Putin bahkan menyatakan bahwa memburuknya hubungan Rusia-Jepang sepenuhnya merupakan kesalahan Jepang. Putin mengatakan Moskwa selama ini berhati-hati dalam mengelola hubungan dengan Tokyo dan masih menyatakan kesiapan membahas sejumlah persoalan, termasuk isu perjanjian damai dan kunjungan keluarga mantan penduduk Jepang ke makam leluhur mereka di wilayah sengketa. Tokyo menolak pernyataan tersebut dan menilai sikap Rusia tidak dapat diterima.

Rusia Perkuat Kehadiran di Kepulauan Kuril

Selain kunjungan Putin, Moskwa juga terus memperkuat pembangunan dan aktivitas ekonomi di wilayah yang disengketakan. Pada 2022, Rusia menetapkan Kepulauan Kuril sebagai zona khusus dengan sejumlah insentif pajak bagi perusahaan. Pada 2026, aktivitas ekonomi di salah satu pulau yang diklaim Jepang, Kunashiri, juga terus dikembangkan.

Putin pada September mengatakan kebijakan insentif tersebut berhasil dan menekankan pentingnya menciptakan kondisi investasi yang menguntungkan di kawasan Timur Jauh Rusia. Langkah tersebut semakin memperkuat persepsi Jepang bahwa Rusia sedang berusaha memperkokoh kontrol de facto atas wilayah yang selama ini diklaim Tokyo.

Ketegangan Juga Merembet ke Bidang Militer

Hubungan kedua negara juga semakin rumit akibat kerja sama keamanan Jepang dengan Amerika Serikat dan Australia. Rusia pada awal September mengecam latihan militer gabungan Jepang, Amerika Serikat, dan Australia yang dijadwalkan berlangsung pada 8-24 September.

Latihan tersebut, yang dikenal sebagai Orient Shield, melibatkan sekitar 3.700 personel dan untuk pertama kalinya mencakup sistem rudal jarak menengah Typhon milik Amerika Serikat yang dapat meluncurkan rudal SM-6 dan Tomahawk. Moskwa menyebut pengerahan tersebut sebagai ancaman terhadap keamanan Rusia. Situasi ini menunjukkan bahwa perselisihan Jepang-Rusia tidak lagi hanya berkaitan dengan sejarah dan wilayah, tetapi mulai bersinggungan semakin kuat dengan persoalan keamanan regional.

Sengketa Sejarah Belum Selesai

Kontroversi monumen Khabarovsk memperlihatkan bagaimana sejarah Perang Dunia II masih memiliki pengaruh kuat terhadap hubungan diplomatik Jepang dan Rusia. Bagi Rusia, kemenangan atas Jepang pada 1945 merupakan bagian dari sejarah militer yang patut diperingati.

Namun, bagi Jepang, simbol yang menggambarkan kekalahan kekaisaran dan penggunaan lambang keluarga kekaisaran dalam konteks tersebut dapat dipandang sebagai tindakan yang merendahkan simbol nasional. Perbedaan perspektif tersebut membuat satu monumen memiliki dua makna yang sangat berbeda.

Patung Menjadi Simbol Ketegangan Baru

Kontroversi ini kemungkinan tidak akan berdiri sendiri. Jepang dan Rusia sudah menghadapi sejumlah masalah besar: sengketa wilayah, tidak adanya perjanjian damai, sanksi Jepang terhadap Rusia terkait perang Ukraina, aktivitas militer Rusia di Timur Jauh, serta meningkatnya kerja sama pertahanan Jepang dengan Amerika Serikat dan negara-negara sekutunya.

Dalam konteks tersebut, patung di Khabarovsk menjadi simbol terbaru dari perselisihan yang jauh lebih besar. Rusia memilih mempertahankan monumen sebagai bagian dari narasi sejarah kemenangan atas Jepang. Sementara Tokyo menilai penggunaan simbol kekaisaran Jepang dalam monumen tersebut tidak dapat diterima.

Hubungan Jepang-Rusia Berada di Titik Sulit

Dengan semakin banyaknya persoalan yang menumpuk, peluang terjadinya perbaikan hubungan Jepang-Rusia dalam waktu dekat terlihat semakin sulit. Sengketa Kepulauan Kuril belum menemukan penyelesaian. Program kunjungan mantan warga Jepang ke makam leluhur di pulau-pulau tersebut juga masih terganggu sejak hubungan memburuk setelah invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.

Kini, persoalan simbol sejarah ikut masuk ke dalam daftar perselisihan. Bagi kedua negara, perdebatan mengenai sebuah patung mungkin terlihat kecil dibandingkan sengketa wilayah dan persoalan keamanan. Namun, ketika simbol tersebut berkaitan dengan perang, kekaisaran, dan identitas nasional, dampaknya dapat menjadi jauh lebih besar.

Dari Patung ke Perselisihan Diplomatik

Perselisihan terbaru antara Jepang dan Rusia menunjukkan bahwa warisan Perang Dunia II masih jauh dari selesai. Rusia mempertahankan narasi bahwa Uni Soviet memainkan peran penting dalam mengalahkan Jepang dan mengakhiri perang di Asia. Jepang memiliki pandangan berbeda mengenai sejarah wilayahnya dan status Kepulauan Kuril.

Selama kedua negara belum menyelesaikan persoalan sejarah dan wilayah tersebut, simbol-simbol yang berkaitan dengan Perang Dunia II akan tetap berpotensi menjadi sumber ketegangan. Untuk saat ini, bunga krisan pada monumen Khabarovsk tetap dipertahankan Rusia meskipun Jepang telah meminta agar simbol tersebut dihapus. Keputusan itu menjadi gambaran terbaru betapa tajamnya perbedaan pandangan Tokyo dan Moskwa terhadap sejarah perang serta warisan politiknya hingga delapan dekade kemudian.

Posting Komentar untuk "Jepang-Rusia Makin Panas Gara-gara Patung Perang Kontroversial"